Testimoni Buku Memoar Aisha Pisarzewska


10468050_745203038894047_7458849975359598192_o

………………………………………………

Mbak Ruru ( Sahabat blogger )
Memoar Aisha Pisarzweska.

Bismillah

Saya janji akan share pengalaman saya membaca buku ini dengan penerbit Fitrah Rabbani, tetapi baru sempat posting maafkan atas keterlambatan saya .

Karya dari seorang yang saya temui tanpa sengaja saat saya blogwalking berlanjut pertemanan di Facebook yang disambutnya dengan tangan terbuka, meskipun tak pernah bertemu muka hanya melalui dunia maya. Saya bersyukur karena saya belajar banyak dari ukhti Raidah Athirah. Usianya masih terbilang muda tapi wawasan dan ilmunya banyak sekali. Entah kapan saya akan tahu kisah muslim Polandia Tatar jika bukan karena mampir di blog penulis yang again tanpa sengaja saya temukan.

I don’t want to spoil readers, but what im going to tell you here is how I feel after reading this book plus akan ada sedikit curcol juga kayaknya tulisan saya ini .

Cerita perjalanan penulis 240 halaman tidak termasuk catatan kaki dengan buku ber-hardcover warna pink cantik. Membacanya dan membayangkan kisahnya sering bikin saya terharu. Sisipan Ayat Allah atau hadist didalamnya mengingatkan saya sebagai pembaca bahwa dalam setiap kejadian adalah atas kuasa Allah.

Saya merasa selalu diingatkan bahwa apa yang tampak indah tak selalu baik, pengalaman bagaimana penulis merasakan summer di Polandia, bahwa tinggal diluar negeri tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang macam “tinggal di luarnegeri itu nyaman santai enak-enakan aja jalan-jalan kesana kesini”, karena tinggal di luar negeri berumah tangga memiliki anak tanpa asisten rumah tangga jauh dari keluarga atau kerabat itu tidak mudah bahkan musti dituntut ekstra mandiri, musti ekstra sabar, semuanya musti ekstra, kemudian juga homesick kangen tak tertahan tapi apadaya…. itu kesimpulan saya aja sih.

Bukan hanya haru yang ditulis penulis dalam buku ini , tapi juga cerita tentang keluguannya,yang bikin saya tersenyum. Kali pertama penulis menginjakkan kaki di sisi bumi Allah yang lain, yang berbeda dengan tanah air namun tetap menjaga kesopanan dan keramahan, saat penulis menawarkan bros kepada petugas airport, ohh… how nice pikir saya. Tentang keteguhan pendirian, saya kagum dengan pendirian penulis kalau saya mungkin akan nyerah aja.

Saya sadar sebagai manusia yang tak mampu apa-apa harusnya saya lebih banyak bersyukur, tapi saya lebih sering abai dan lalai, dalam buku ini saya diingatkan lagi untuk terus-terus dan terus mensyukuri ciptaan Allah (karena saya teramat sering lengah).

Sebagai pembaca, penulis mengajak saya berpikir dan bersyukur tanpa bermaksud preachy (khotbah). Boleh ya saya kutip hadist yang saya baca dari buku ini dan nancep di otak saya “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah. Apabila kau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata “seandainya aku dulu berbuat begini dan begitu niscaya akan menjadi begini dan begitu” akan tetapi katakanlah “qaddal allahu wa maa syaa’a fa’ala, allah telah menakdirkan, terserah apa yang diputuskanNYA. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan (H.R. Muslim)

Saya mencatat typo dalam buku ini, niat banget ya .Salah tulis salah eja, terganggu? iya, bukan masalah besar sih, dan itu tidak menyurutkan saya menyelesaikan membacanya (biasanya saya tidak akan menghabiskan membaca jika tidak sesuai dengan harapan saya). Bukan….bukan karena saya mengenal penulis meski di dumay and trying to please her, no.. absolutely not, saya kagum atas cerita yang dirangkai dan kekaguman saya pada cara menulis dengan pilihan setiap kata per kata-nya yang indah, saya selalu iri dan bertanya-tanya berapa banyak kosakata bahasa Indonesia yang dimilikinya? Apakah penulis baca kamus Besar Bahasa Indonesia ? Hehehe.

Saya tidak pandai berkata-kata, jadi ya itulah yang saya rasa setelah baca bukunya. Selamat ya Ukhti, saya tunggu buku keduanya, inshaa allah yang dicita-citakan bisa terwujud, halaman 199 membuat saya terharu dan kita punya cita-cita yang sama . Inshaa allah.

……………………………………………………..

2.Caca Fitri Sella ( sahabat dari Maluku imageFitri Sella ( sahabat dari Maluku )

Alhamdulillah buku Memoar Aisha Pisarzewska karya Raidah Athirah yg ditrbitkan oleh Fitrah Rabbani telah landing dengan selamat di rumah ane, hehehe syukron mbak Shabrina Sumayyah yg telah mmberi ksemptan ane untuk yang pertama membacanya di Ambon (wuizzzz bangga temen :-))

One word that could describe whole part of this book is EXTRAORDINARY….. very ordinary cause Ummu Aisha mampu menggambarkn perjuangan hidupnya yag jauh dari tanah kelahiran and berjuang dalam mlahirkan Aisha , gadis kecil muslimah pertama klan asli Polandia .Bukun ini jg mengjarkn kita ttg manisnya buah kesabaran… tentang bgaimana pentingnya menjaga izzah yg ttp beliau pegang erat wlau berada dlm ttik akhir kemampuan untuk berjuang….

Bukunini adalah perpaduan yg apik dari sebuah memoar perjalanan hidup yg dberi sentuhan historical views yg sangat baik…. membaca buku ini bak menyelami kehidupan sang penulis… saya seperti berada di Jahlonna ketika membacanya … anda tidak akn menemukan jalan cerita rekaan yg terlalu dilebay-lebay khan dalam buku ini buku … tapi anda akan mendapati pelajaran dari kehidupan yang mampu memunculkan emosi anda untk menyelami dan ikut merasakan apa itu ukhuwah dlam lingkup persaudaraan yg terbatas.. anda akan tahu apa itu rsa rindu pada kampung halaman…

Dan akan mensyukuri nikmat karena masih dilingkupi orang -orang terkasih… kok mewek gini sehhhh,, melankolis bangat yeahhhh 😀 k Raidah Athirah harus tanggung jawab ding…. hehehe intinya BURUAN BELI SEBELUM KEHABISAN!!!!!!! hehehe DONT MISS IT YAH!!!

…………………………………………………….

Sis Erna Setyowati ( Finance Manager BMT Harapan Umat , Pati jawa Tengah )

Masya Allah…membaca Memoar Aisha Pisarzewska seolah ikut melihat keindahan Eropa dengan mata sendiri, dengan sisi yang berbeda penulis mampu menggali keindahan dibarengi misi menggugah rasa kebanggaan ber-Islam. Karena based on true story, emosi serasa ikut hanyut. Kejujuran dan keberanian bertutur Penulis dalam berbagi kisah sungguh luar biasa. Berani menunjukkan kerapuhan dan kekurangan, serta kegigihan untuk bangkit dari ujian menjadi salah satu pelajaran terpenting yang bisa diambil .Semoga buku ini mampu menjadi inspirasi. Terima kasih ukhti Raidah sudah berbagi kisah.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: