Posts Tagged With: raidah athirah

Berbagi Sampai Ke Negeri Sang Paulus,Polandia


hum-lomba-blog-1 (1)
Allah Ta’ala berfirman : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji,. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui”. (Q.S.Al Baqarah: 261)
 
 
****
 

          SHARING BRINGS HAPPINESS 

 
Saya, Raidah Athirah .Ini kisah perjalanan hidup  yang ingin saya bagi kepada saudara di tanah air.Kaki saya menapak disini tapi semangat menjadi relawan terlahir pertama kali di ibu pertiwi .Hari ini saya bergabung dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tujuan, berbagi .Ada kegiatan setiap hari minggu untuk membagikan makanan atau pakaian layak pakai di sekitaran Warsawa , ibu kota Polandia.Banyak diantara wajah-wajah itu orang-orang yang mengungsi dari negara tetangga Ukraina akibat kemelut perang,para homeless dan juga  pengemis.
1513409753404
Saya adalah salah satu kaki diantara relawan ini.Bersama teman-teman dari India dan beberapa sahabat orang Polandia setiap hari minggu kami berkumpul di sini , di pusat kota Warsawa.Inilah jalan #MembentangKebaikan .Bagi kami setiap bulan adalah #BulanKemanusiaan.Setiap diri bisa menjadi #HeroJamanNow
1513409552654.jpg
Tiga belas tahun yang lalu  awal takdir mempertemukan saya dengan kaki ringkih yang tumbuh di keramaian jalanan kota kembang, Bandung .Lebih tepatnya anak-anak kuat yang hidup di sepanjang jalan Asia-Afrika ,di bawah jembatan yang menghubungkan sungai Citarum ke Masjid Raya .
Di tahun yang sama ,saya juga bekerja sebagai guru TK dengan bayaran dari mulai Rp 75.000 sampai meningkat menjadi Rp 150.000 .Semua saya niatkan untuk belajar dan menimbah pengalaman.
Sebagai seorang yang pernah hidup dalam pengungsian saya diajarkan akan satu prinsip bahwa berbagi menjadikan hati  kaya dan berarti .Saya percaya hanya orang-orang yang berhati kaya yang mengerti makna berbagi.
Sekalipun hidup serba pas-pasan niat yang ada dalam  diri hanya ingin belajar arti kehidupan dengan  tersambung bersama anak-anak yang besar di keramaian perjalanan.
Saya tinggal di Cimahi ,mengajar TK dari jam tujuh sampai jam sepuluh pagi .Pada pukul satu siang saya akan menaiki kereta ekonomi yang padat menuju Bandung kota .Tak ada yang meminta saya.Tak ada yang menyuruh saya .Saya bergerak karena saya tahu ada hal yang bisa saya berikan bukan hanya  tentang uang  tetapi tentang peradaban yakni mengajarkan mereka baca tulis.
Saya mendudukkan diri saya diantara mereka sebagai seorang kakak.Saya tidak bisa memberi mereka uang karena mereka sendiri telah terbiasa mendapatkan uang di jalanan.
Bukankah berbagi tidak selamanya tentang uang ?
Saya berharap setidaknya dengan  mengajarkan mereka baca tulis ada setitik harapan kepada mereka  memandang dunia dan segala pernak-perniknya.
Setiap datang gajian ,saya akan mampir ke tempat kumuh dengan bau pesing yang menyengat.Memang apa yang saya berikan tak begitu berharga.Hanya buku tulis murah , pulpen,dan pensil disertai buku buku menggambar sisa yang saya bawa dari TK yang sudah dibuang.
Saya berharap kepada Allah ,Tuhan Yang Maha Rahman meridhoi apa yang saya lakukan.Saya merelakan diri sendirian kemudian seorang sahabat saya ikut bergabung untuk mengajar mereka.
Dalam masa kuliah di Pasundan pun saya meluangkan waktu mengunjungi mereka selepas mata kuliah selesai.Tak ada yang mengetahui aktivitas yang saya lakukan . Berbagi tanpa  nama,tanpa dukungan dan tanpa keramaian.Begitu terus sampai nadi saya menyatu dengan kehidupan jalanan yang keras tapi penuh ketulusan.
Di jalanan pula saya belajar banyak hal termasuk membeli buku-buku bekas yang bisa saya baca dan pada akhirnya saya memberanikan diri mengajar bahasa Inggris kepada adik kelas agar bisa menunjang  kehidupan ekonomi saya yang pas-pasan.
” Teteh…,nggak apa-apa beliin kami buku tulis ? Teteh jangan repot-repot ! Teteh ngajarin kami aja udah Alhamdulillah ,” ucap anak jalanan bernama Ima yang sudah memasuki usia SMP.
Saya merindukan mereka ,merindukan adik-adik yang telah menjadi jalan bagi saya  hari ini menjejak di negeri Sang Paulus,Polandia.
Ingatan saya belumlah kering.Pernah datang masa kepada saya dimana seorang adik asuh yatim ingin sekali kembali ke desa menengok neneknya yang sudah sepuh .Ia ingin meminjam uang sebesar seratus ribu rupiah.Bagi saya di masa itu, uang   itu adalah angka yang sangat besar.Saya ingin mewujudkan mimpi itu tapi saya juga sangat terbatas untuk membantu.Saya benar-benar tak memiliki daya.
Dalam gerimis di sepanjang jalan Braga ,hati  mengadu kepada Allah ,Tuhan Yang Maha Kaya. Saya ingin sekali mewujudkan mimpi itu.Air dari langit menjadi saksi doa dalam sunyi yang penuh harap.
Saya menceritakan ini bukan untuk siapa-siapa.Bukan pula dipandang bak pahlawan.Kisah  ini saya  ceritakan  kembali untuk mengingat hati  yang rapuh . Mengingatkan hati saya bahwa betapa banyak nikmat yang saya dapatkan ketika saya berbagi.Sedikit sekali yang saya bagi.Demi Allah, sedikit sekali !
Bulan demi bulan berlalu.Ikhtiar ini biarlah langit yang menilai .Amat  sangat keras. Dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas karena saya juga bekerja untuk membiayai kuliah jadilah saya mencari donatur dengan menggunakan kemampuan saya dalam membuat laporan keuangan .
Saya pernah membuat proposal dan mengajukan ke beberapa instansi kota tapi kenyataan tak semudah dikata ,ada prosedur ,ada masa menunggu tanpa kepastian.Bulan berlalu dan tak ada dana yang cair.
Saya menghapus air mata dalam masa menunggu kereta api saat kembali ke  Cimahi . Bening-bening tanda  ketidak berdayaan . Adik-adik saya tidaklah menuntut tapi saya selalu memegang apa yang saya pernah janjikan.
Berselancarlah saya ke dunia maya.Mengirim random proposal keuangan kepada beberapa email yang saya dapatkan di internet.Hanya berbekal niat berikhtiar .Kepasrahan sudah tertanam dalam hati,harapan ini saya gantungkan ke langit.
Ketika bulan suci Ramadhan tiba ,saya semakin dilanda gelisah.Tidak mudah meyakinkan siapa saja untuk ikut berbagi.Segala puji bagi Allah , satu keluarga Pakistan mengirimkan uang dalam jumlah yang sangat besar untuk ukuran saya saat itu yakni satu juta rupiah .
Ketika saya menerima uang itu saya tersedu-sedu.Saya bergegas menuju alun-alun kota Bandung, memberikan kepada mereka rezeki yang saya dapatkan.Saya semakin yakin bahwa Allah Maha Melihat ,Dia Tuhan Yang Maha Kuasa .Terkadang sebagian teman-teman kuliah  heran dengan langkah saya yang selalu menuju  alun-alun kota.
Tahun berlalu , keadaan ekonomi saya semakin membaik dengan banyaknya panggilan mengajar privat .Tawa adik-adik di jalanan menjadi semangat luar biasa bagi saya untuk belajar dan bekerja.Saya bahkan lupa dengan masalah saya sendiri.
Waktu berqurban datang dan jaminan Allah bahwa  Dia akan menolong orang-orang yang sabar dan yakin, benar adanya.Sebuah email datang kepada saya dari seorang yang sangat jauh.Jauh sekali .Jauh dari angan-angan masa kecil dan mimpi .
Seseorang dari tanah Eropa menghubungi saya .Beliau bersedia menjadi donatur  untuk program Qurban dan berlanjut untuk anak -anak Yatim di Cimahi .
Proposal yang saya kirimkan satu minggu yang lalu ternyata telah sampai kepada beliau.Dalam email balasan itu beliau menginformasikan perihal uang untuk anak-anak jalanan,uang Qurban dan anak-anak yatim.
Sempat muncul rasa khawatir ,mungkin saja ini hanya penipuan..Allah Tala pertemukan dengan jalan kebaikan.
Ketika saya mengecek akun saya di Bank BNI ada perasaan tak percaya ada yang berani mengirimkan uang dalam jumlah yang banyak hanya berdasarkan kepercayaan.Saya mengirimkan email balasan dengan melampirkan laporan keuangan penggunaan dana yang beliau berikan.
Janji saya kepada adik asuh tertunaikan.Saya dengan ikhtiar sederhana mempertemukannya dengan keluarga yang sudah lama tak jumpa.Neneknya yang tinggal di pelosok desa Jawa Barat akhirnya bisa bertemu dengan cucu yang beliau ingat masih berwajah bayi baru lahir.Bahagia apa yang bisa seperti ini ?
****
Dengan jalan demikianlah Allah Yang Maha Memasangkan memperjalankan takdir . Setelah acara Qurban selesai saya dilamar oleh Sang Donatur , seorang mualaf dari keluarga Katolik dan Yahudi di Polandia.Betapa Allah Maha Besar membolak-balikkan keadaan.Di negeri ini pula saya masih menyimpan cita-cita bahwa suatu hari kelak hidup ini berarti bagi negeri .
Hari ini kaki saya menjejak bukanlah atas kebaikan saya melainkan  yakin Allah Ta’ala menjawab doa-doa orang yang tulus.
Apa yang hendak saya ceritakan lagi? Tidak ada ! Saudara harus menyadari ini dan menanamkan dalam diri bahwa berbagilah niscaya hati akan merasakan bahagia.Berbagi tidak perlu menunggu kaya .Berbagi tidak perlu menunggu .Lakukan saja ,niatkan bersama langit bahwa hidup ingin merasakan bahagia.
FB_IMG_1513435351559.jpg
Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Mualaf ,Sepenggal Kisah Pencarian Kebenaran


Mualaf ,Sepenggal Kisah Pencarian Kebenaran

Oleh : Raidah Athirah

****

Semenjak tinggal di Polandia saya banyak dipertemukan dengan mualaf.Alhamdulillah sebuah nikmat menguatkan hati yang rapuh manakala gelombang fitnah terus menyebar di semua sisi hidup.Allah jua Tuhan Yang Maha Menjaga.

Abu Aisha sendiri adalah seorang mualaf .Terlahir dari sebuah keluarga Katolik di Legionowo ,Polandia di bulan Juni atau jatuh pada bulan Syaban dalam penanggalan hijriyah .

Menyelesaikan pendidikan tehnik di ibukota Warsawa telah membuka pikirannya tentang orang -orang Muslim yang kelak pandangan ini membawanya pada hidayah di negeri Viking ,Norwegia.

Menceritakan sepenggal perjalanan beliau bermaksud agar kita memahami bahwa hidayah Islam itu harus dijaga dengan ilmu dan doa .Gelombang fitnah akhir zaman semakin keras .Bila tak ada pegangan ,perlahan iman bisa terhempas atau bahkan hancur .Naudzubillahmindzalik.

Saya jadi mengingat cerita yang dulu menyebar bahwa karena sayalah beliau menjadi Muslim.Ini adalah kebohongan yang luar biasa .Diawal pernikahan banyak bahkan terlampau melebar menyangsikan keIslaman beliau .Diawal pernikahan pula saya begitu tertekan mendengar ocehan sana sini tentang rupa beliau yang begitu Eropa yang dianggap karena faktor pernikahanlah Islam itu di hati .

Jauh bahkan beberapa tahun sebelum Allah mempertemukan kami ,beliau telah menjadi Muslim .Memilih dipanggil Abdullah dengan tetap mengikat nama keluarganya ,Pisarzewski .

Saya yang perempuan asing ini hanya dikenal kurang lebih tiga bulan .Secepat itukah orang berpindah keyakinan ? Dengan jawaban ini pula kita bisa menjawab .

Ketika hidayah itu datang ,beliau menceritakan dengan penuh rasa haru bagaimana hari ,bulan dan tahun mulai berubah penuh kegembiraan seakan kalimat yang ingin keluar adalah hidayah Islam membuat beliau terlahir sebagai manusia yang mengerti tujuan hidup .

Norwegia .Ya , di tanah Viking ini hidayah ini bermula .Interaksi beliau dengan orang-orang Palestina ,Jordan ,Somalia membawa pengaruh dalam pandangan beliau terhadap orang-orang Muslim.Di waktu yang sama fitnah terhadap rupa Islam begitu memuakkan di Eropa.Meskipun demikian tak ada keraguan meniti jalan hidayah .

Menjawab semua tanya di hati ,tentang tujuan hidup dan konsep tauhid yang benar akhirnya bermuara pada keputusan final kembali kepada Islam .Keputusan ini mendatangkan tanggung jawab yang besar namun hati yang telah dibimbing tak sedikitpun ragu walau kesendirian dan keterasingan datang bertubi-tubi.

Tak pernah terpikir bahwa dari darah Pisarzewski ,Allah memberi hidayah kepada beliau .Dari Serock sampai ke Legionowo tak pernah beliau mengenal Islam .Tak tahu bagaimana rupa orang -orang Muslim .Semuanya tentang Islam tak pernah ada cerita.

Dan ketika beliau menjadi Muslim cerita tentang Islam di keluarga Pisarzewski dimulai .Beliau menceritkan ketika Islamphobia begitu marak bahkan sampai ke sekolah -sekolah .Seorang keponakan laki-laki yang duduk di sekolah setingkat SMU memberikan pembelaan ketika sang guru mengatakan tentang orang -orang Muslim yang barbar dan tidak mengenal peradaban.

Pemuda ini berdiri dan memberikan pembelaan
( semoga Allah menunjukkan jalan kebenaran padanya )

” Apa yang guru katakan tentang orang-orang Muslim adalah karangan kebencian .Paman saya seorang Muslim dan saya pastikan dalam keluarga kami dia seorang yang baik dan penuh sopan santun .”

” Apakah ia seorang Polish ( orang Polandia ) ?

” Ya ,ia berdarah 100 % Polandia .”

Pemuda ini menceritakan peristiwa ini saat kami semua berkumpul di Serock .

Peristiwa-peristiwa yang saya dengar dan saksikan di perjalanan semakin membuat saya berfikir bahwa sungguh Allah Maha Memberi Petunjuk bagi siapa yang Dia kehendaki.

Kisah tentang Ramadhan pertama bagi seorang mualaf selalu mengingatkan saya pada penuturan Abu Aisha .

Beliau bertutur bahwa di tahun pertama beliau menjadi Muslim dan beberapa bulan setelah peristiwa syahadat ,datanglah bulan suci ini .Di Norwegia , dengan waktu puasa paling terpanjang yakni kurang lebih 22 jam ,beliau berteguh hati berpuasa dan tetap bekerja .

Di hari pertama puasa beliau merasakan sakit kepala yang bertubi-tubi .Semacam tubuh memulai perjalanan keikhlasan mengenal Rabb .Saya jadi membuka memori betapa bersyukurnya sebagian kita yang terlahir sebagai Muslim dan kemudian telah dilatih sejak kecil untuk berpuasa .

Ketika hari raya tiba ,kebanyakan dari kita berkumpul dengan keluarga .Beliau memutuskan bersilahtuhrahmi ke satu keluarga Palestina yang sudah lama akrab semenjak beliau menjadi Muslim .Ada kesendirian yang terobati.

Bacaan Qur’an beliau waktu itu belum juga lancar .Beliau bercerita bagaimana cara beliau bisa membaca huruf -huruf Arab itu .Setiap hari di waktu-waktu senggang setelah bekerja yang menguras tenaga ,duduklah beliau berselancar di internet dan Alhamdulillah menemukan cara belajar membaca Al-Quran seperti metode iqra yang biasa kita kenal .Seperti anak -anak, beliau mengeja dan menghapal setiap hari ,menulis dibuku ,mengulang -ngulang video.

Ikhtiar ini membawa hasil .Alhamdulillah beliau tak lagi shalat sambil memegang mushaf Al-Qur’an karena setelah bisa membaca beliau dengan cepat menghapal surat -surat pendek walau tajwid belum begitu lancar .

Hubungan beliau dengan keluarga tak terputus walau beliau telah menjadi Muslim .Alhamdulillah keluarga Pisarzewski adalah keluarga yang terbuka walaupun sempat timbul perasaan terkejut namun menerima keputusan beliau menjadi Muslim .

Generasi yang lahir di tahun 70-80-an di Polandia memasuki gelombang dasyat bernama atheisme .Beberapa juga memilih percaya Tuhan namun tak menganut agama manapun .

Abu Aisha berada dalam gelombang generasi ini percaya kepada Tuhan namun tak menganut agama walau terlahir dari keluarga Katolik sampai cahaya itu hadir dan beliau ridho Islam sebagai agama ,sebagai jalan hidup .Bila semua agama itu benar ,tentu selamanya beliau berpegang kepada konsep Agnostik.Telah jelas pembeda antara yang haq dan batil namun sebagian propaganda pemikiran coba merayu dengan mengatakan semua agama adalah benar .Bagi Abu Aisha pemikiran ini adalah pemikiran orang -orang yang linglung .Beliau menyebutnya dengan orang-orang berakal abu -abu .Hitam tak jelas ,putih pun bukan pilihan .

Bila kita ragu kepada Islam maka sudah saatnya kita belajar ,berikhtiar mencari ilmu agar kita tak pernah merugi diakhir hayat .Di saat sebagian besar orang-orang Eropa berjalan mencari kebenaran , jangan sampai kita yang terlahir sebagai Muslim begitu mudah mencampakkan nikmat ini karena kebodohan kita yang tak memiliki ilmu untuk menjaga hidayah ini.

Mualaf adalah cermin sejati pencarian kebenaran.Perjalanan mereka adalah pelajaran hidup tentang pencarian hakiki sebuah hidayah.Bila hati kita rapuh mendekatlah pada kisah mereka.Kisah yang bukan fantasi pikiran melainkan kisah orang-orang yang diberi petunjuk.Semoga hidayah ini kita genggam sampai akhir di detik nafas kita sudah tak bisa lagi bicara.

Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [Al Qashash/28 : 56]

Categories: Kisah mualaf Eropa | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Karen Armstrong dan Tulisan-Tulisannya tentang Islam


Karen Amstrong dan Tulisan-Tulisannya tentang Islam

Oleh : Raidah Athirah

*****

Dipostingan saya yang lalu , ada nama yang saya singgung.Kalau Anda terbiasa membaca buku-buku Karen Amstrong dengan sendirinya Anda akan paham bagaimana hubungan Islam dan Barat yang digambarkan dari masa ke masa .

Dibandingkan Bernard Lewis , tulisan-tulisan Amstrong terasa lebih bijak .Saya pribadi mengenal tulisan Amstrong ketika masih berstatus mahasiswi karena memang saya kerjanya selalu berada di perpustakaan .Senior saya selalu meledek saya dengan istilah ‘ aktifis yang sering kumat jadi pasifis .Kadang-kadang aktif tapi juga banyakan pasif kalau berdiskusi.

Mana ada teman kampus yang bersedia berdiskusi dengan isi bacaan yang berat punya , tulisan Karen Amstrong lagi .Jadi , setelah baca saya simpan sendiri .Alhamdulillah , terimah kasih Pak Hilman Firmansyah yang sudah berkenan meminjamkan buku-buku ‘ berat’ yang perlahan-lahan bisa saya cerna dengan baik.

Salah satu buku Amstrong yang saya baca saat itu berjudul “ Islam , A Short History ” dan ” Muhammad , A Prophet For Our Time “ .Salah satu dari buku ini diterjemahkan oleh Mizan .

Bila orang selesai membaca begitu terpesona , sebaliknya saya justru penasaran dengan penulisnya.Apalagi isi tulisan ini termasuk yang ‘ istimewa’ punya ,Amstrong yang mewakili perspektif Barat dan tulisannya yang mengupas tentang Islam .

Sebenarnya bukan saja Islam yang ia sorot melankan tentang sejarah agama-agama langit.Salah satu bukunya yang kini sedang mencuat dan pas dengan situasi terkini adalah , Fields of Blood: Religion and the History of Violence (London: The Bodley Head, 2014).

Cuma seperti saya kata diawal , buku merupakan buah pikiran manusia yang bisa saja berisi pandangan yang subjektif .Terlepas dari itu Anda perlu mengenal latar belakang seorang Karen Amstrong yang terkenal sebaga satu-satunya pakar yang membahas hubungan agama-agama dengan pendekatan yang lebih simpatik.

Islam menurut Karen Armstrong yang ia jelaskan secara simpatik seperti yang saya sebut diawal tulisan ;

Penulis yang juga seorang feminis ini menyatakan, Islam tidak selayaknya diasosiasikan dengan serangan teroris yang dilakukan oleh orang-orang yang menyebut diri mereka muslim. Karena tindakan orang-orang itu justru sudah melanggar prinsip-prinsip esensial Islam.(1)

Dalam artikelnya yang dimuat harian Inggris terkemuka The Guardian, Armstrong menulis “Kita membutuhkan satu kata yang lebih pas dari sekedar kata ‘teroris Islam’. Al-Qur’an melarang peperangan yang bersifat menyerang, perang dibolehkan hanya untuk kepentingan mempertahankan diri dan nilai-nilai Islam yang benar mengajarkan perdamaian, rekonsiliasi, dan pemberian maaf.

Armstrong juga mengatakan bahwa orang yang melakukan tindakan yang mengerikan, tidak memiliki agama, apakah mereka menyebutnya sebagai Muslim, Kristen, atau Yahudi yang melakukan kejahatan atas nama agama mereka.(2)

Maka, meskipun Muslim, seperti juga Kristiani atau Yahudi, seringkali gagal untuk mengedepankan idealismenya, hal itu bukan karena agamanya. “Kata Armstrong yang dengan menyatakan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian, cinta, dan toleransi serta tidak pernah melakukan paksaan yang berkaitan dengan agama.[3]

Hukum Islam tidak membenarkan perang terhadap Negara yang memberikan kebebasan bagi warga muslimnya untuk beribadah, Islam melarang pembakaran, perusakan bangunan-bangunan dan pembunuhan terhadap warga sipil tak berdosa dalam sebuah kampanye militer. Hal ini sangat kontras jika dilihat dari kenyataan yang ada. Apa yang dilarang oleh Islam justru dilakukan oleh orang-orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai Muslim. Armstrong pun mengungkapkan keheranannya, mengapa pemboman berdarah yang dilakukan oleh tentara Republik Irlandia (IRA) tidak membuat orang serta merta menyamakan Kristen dengan terorisme seperti mereka mengaitkan kasus serupa dengan Islam. Kita jarang, bahkan tidak pernah menyebut pemboman yang dilakukan kelompok ‘Katolik’ IRA sebagai terorisme, karena kita cukup tahu dan menyadari bahwa persoalan ini secara esensi bukan sebuah kampanye keagamaan.[4]

Armstrong, penulis buku ‘Islam, a Short History juga mengkritik stereotype kata ‘Jihad’ yang berasal dari bahasa Arab, semata-mata diartikan dengan perang suci. “Para ekstrimis dan politikus yang tidak bermoral sudah mencuri kata itu untuk tujuan-tujuan mereka sendiri, makna sebenarnya dari jihad bukan hanya ‘perang suci’ tapi ‘perjuangan’ atau ‘ikhtiar’. Umat Islam diperintahkan untuk berjuang sekuat tenaga di berbagai aspek-sosial, ekonomi, intelektualitas, etika, dan spiritual untuk melaksanakan perintah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.[5]

Armstrong mengatakan, jihad merupakan nilai-nilai spiritual yang baik yang bagi kebanyakan umat Islam tidak ada kaitannya dengan kekerasan. Ia menilai sejumlah orang sudah melakukan kesalahan dengan lebih suka menyebut teroris dengan istilah ‘para pelaku jihad’. Ia menekankan kembali bahwa teroris sama sekali tidak mewakili Islam yang sebenarnya.[6]

******

Berikut Wikipedia memuat latar belakang seorang Karen Armstrong ;

Karen Armstrong dilahirkan pada tanggal 14 November 1944 di Wildmoor, Worcestershire, Inggris.Ia adalah seorang pengarang, feminis dan penulis tentang agama-agama Yudaisme, Kristen, Islam dan Buddhisme. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga Irlandia yang setelah kelahiran Karen pindah ke Bromsgrove dan kemudian ke Birmingham.

Dari 1962 hingga 1969, Karen Armstrong menjadi seorang biarawati dari Ordo Society of the Holy Child Jesus. Ini adalah ordo pengajaran, dan setelah ia melewati masa-masa sebagai novisiat dan postulan hingga mengucapkan kaulnya sebagai biarawati, ia dikirim ke St Anne’s College, Universitas Oxford. Di sana ia belajar sastra dan sejarah Inggris. Karen Armstrong meninggalkan ordonya pada waktu studinya. Setelah lulus ia masuk ke program doktoral (tetap di Oxford) tentang Alfred, Lord Tennyson. Ia melanjutkan studinya ini sementara kemudian mengajar di Universitas London, tetapi tesisnya ditolak oleh seorang penguji luar. Akhirnya ia meninggalkan akademia tanpa menyelesaikan studi doktornya.

Pada masa ini kesehatan Armstrong memburuk (Armstrong sejak kecil telah menderita epilepsi, namun pada waktu itu belum didiagnosis, seperti digambarkannya dalam bukunya The Spiral Staircase (2004)) dan setelah penyesuaian dirinya kembali dengan kehidupan di masyarakat luas. Pada 1976, ia menjadi guru bahasa Inggris di sekolah perempuan di Dulwich, tetapi epilepsinya membuat ia terlalu banyak absen, sehingga ia diberhentikan pada 1981.

Armstrong menerbitkan Through the Narrow Gate pada 1982, yang menggambarkan kehidupan yang dibatasi dan sempit yang dialaminya di biara (dan menyebabkan ia banyak dimusuhi oleh orang-orang Katolik Britania). Pada 1984 ia diminta menulis dan menyajikan sebuah dokumenter tentang kehidupan St. Paul. Penelitian untuk dokumenter ini membuat Armstrong kembali menyelidiki agama, meskipun sebelumnya ia telah meninggalkan ibadah keagamaan setelah ia keluar dari biara. Sejak itu ia menjadi penulis yang produktif, banyak dipuji dan dikritik dalam topik-topik yang menyangkut ketiga agama monoteistik. Pada 1999, Pusat Islam California Selatan menghormati Armstrong, atas usahanya “mempromosikan saling pengertian antara agama-agama.”

Jadi ,bagaimana menurut Anda ?

Raidah Athirah

Haugeund ,Norwegia

Nb : 1-6 ( ibid)

Wikipedia Karen Armstrong

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , | 1 Comment

Quotes Raidah Athirah


Setiap langkah pasti ada kenangan dan ada banyak hal yang menjadi hikmah .

Beberapa quotes saya untuk sahabat beserta foto 😀

 ” Berharap pada manusia pasti kecewa .Berharap pada Allah Swt Tuhan Yang Menciptakan manusia tak akan pernah kecewa ” 

Raidah Athirah on Facebook

1546320_680437905397240_4181155199855312650_n

Living in harmony Alhamdulillah Haugesund Norway

Adakala langit berwarna gelap namun langkah tak harus berhenti karena ada harapan dalam setiap perjalanan ” 

Raidah Athirah

250359_680711848703179_4725375904441089789_n

Categories: Quotes | Tags: , , , , , , | 1 Comment

Kuis Buku Memoar Aisha Pisarzewska


Assalamualaikum Warahmatullah

Buku  Memoar AishaPisarzewska akan berbagi dengan sahabat . Mau?  😀 Insyah Allah hadiahnya keren-keren .Souvenir dari Norway ( Kaos, Kartu pos , Boneka , Gantungan kunci ) dan juga Mushaf Al-Burhan yang juga keren .

10726222_666622190112145_1562521493_n

Boneka Viking

10719394_666134920160872_1798123988_n

Beragam kartu pos Norwegia tinggal pilih 😀

Ikutan yuk sobat ! Mumpung kuisnya gampang, dan caranya juga gampang! .Siapa tahu anda termasuk yang beruntung 😀 #provokasi

Tolong disimak caranya ya ! 😀

Cara dan ketentuan kuis :

1. LIKE FANPAGE  https://www.facebook.com/pages/Memoar-AishaPisarzewska/717529611661390?ref=bookmarks

dan https://www.facebook.com/pages/Mushaf-Al-Burhan/383935564954379?fref=ts2.

 2.Follow akun  twitter , instagram , tumblr , Facebook Raidah Athirah

3. Meresensi Buku ala Komen

Contoh :a.Judul Buku : Memoar Aisha Pisarzewska ( komen anda ; judulnya kayak nama Eropa euy 😀 )b.Penulis : Raidah Athirah ( komen , kagak kenal gan sama orangnya 😀 )c.Penerbit : Media Fitrah Rabbani ( komen , baru tahu gue ada penerbit ini :v)d.Tahun terbit : 2014 ( komen , baru aja launching ya)e.ISBN : 978-602 dstnya ( komen , nomor apaan ini ? :v)

4.Sebutkan satu judul penggalan Memoar  Aisha Pisarzewska yang paling kamu sukai  dan jangan lupa screen shoot atau foto bagian tersebut dan pamerin di twitter, Instagram dan updload di FB dengan hastag #Sayasuka #iniMemoarAishaPisarzewska  dengan mention nama Raidah Athirah

5.Tuliskan alasanmu secara singkat, padat, dan bermutu , komen bebas. Mau serius, mau kocak , nyeleneh. Yang penting… jangan sampai memakai bahasa Binatang dan huruf AL4Y 😀

Jawaban ditulis dikolom keterangan foto penggalan memoar yang kamu copy di note Facebook   , lalu tag sana-sini:D , siapa tahu kamu dan temanmu beruntung .Amin.

Ajak teman-temanmu untuk ‘LIKE’ status kamu, karena semakin banyak LIKE yang kamu dapat, semakin besar pula peluang kamu untuk menang! Selain tentu saja poin Resensi  ala komen 😀

Apabila pengumpul LIKE paling banyak di akhir periode kuis ini mendapat LIKE dalam jumlah yang sama, maka penentuan pemenang akan ditentukan dengan cara melihat Resensi ala Komen  yang terbilang unik dan jelas secara fair 😀

Biar ada kesempatan menggalang bala bantuan, kuis ini berlangsung sejak hari ini dan ditutup hari Selasa (16 Desember 2014 ) pukul  24.00 Waktu Haugesund, Norway.Cukup khan waktunya 😀

Keputusan juri (saya dan Mediah Fitrah Rabbani ) tidak dapat diganggu dan digugat 😀 kecuali ada ganguan dari penasihat dalam alias juragan ( Abu Aisha) mau nambah sponsorship 😀

Hadiah

Dua orang peserta dengan jumlah LIKE paling banyak dan Resensi Komen yang Unik dan Jernih ( jujur tapi elegan ) akan dipersilahkan memilih hadiah utama dan – pemenang pertama dan kedua  boleh milih lebih dulu. Pemenang ketiga dipilihkan oleh juri ( saya ) hehehe :D.

Pemenang harapan I, II , III berhak mendapat hadiah kartu pos Norwegia bertanda tangan penulis.

10723356_666621920112172_453386507_n

Mushaf Al-Burhan dari Media Fitrah Rabbani

10728861_666622300112134_1074813715_n

Kaos Viking , Norge /Norwegia

10468050_745203038894047_7458849975359598192_o

Categories: Kuis Memoar Aisha Pisarzewska | Tags: , , , , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: