Posts Tagged With: Polandia

Mualaf ,Sepenggal Kisah Pencarian Kebenaran


Mualaf ,Sepenggal Kisah Pencarian Kebenaran

Oleh : Raidah Athirah

****

Semenjak tinggal di Polandia saya banyak dipertemukan dengan mualaf.Alhamdulillah sebuah nikmat menguatkan hati yang rapuh manakala gelombang fitnah terus menyebar di semua sisi hidup.Allah jua Tuhan Yang Maha Menjaga.

Abu Aisha sendiri adalah seorang mualaf .Terlahir dari sebuah keluarga Katolik di Legionowo ,Polandia di bulan Juni atau jatuh pada bulan Syaban dalam penanggalan hijriyah .

Menyelesaikan pendidikan tehnik di ibukota Warsawa telah membuka pikirannya tentang orang -orang Muslim yang kelak pandangan ini membawanya pada hidayah di negeri Viking ,Norwegia.

Menceritakan sepenggal perjalanan beliau bermaksud agar kita memahami bahwa hidayah Islam itu harus dijaga dengan ilmu dan doa .Gelombang fitnah akhir zaman semakin keras .Bila tak ada pegangan ,perlahan iman bisa terhempas atau bahkan hancur .Naudzubillahmindzalik.

Saya jadi mengingat cerita yang dulu menyebar bahwa karena sayalah beliau menjadi Muslim.Ini adalah kebohongan yang luar biasa .Diawal pernikahan banyak bahkan terlampau melebar menyangsikan keIslaman beliau .Diawal pernikahan pula saya begitu tertekan mendengar ocehan sana sini tentang rupa beliau yang begitu Eropa yang dianggap karena faktor pernikahanlah Islam itu di hati .

Jauh bahkan beberapa tahun sebelum Allah mempertemukan kami ,beliau telah menjadi Muslim .Memilih dipanggil Abdullah dengan tetap mengikat nama keluarganya ,Pisarzewski .

Saya yang perempuan asing ini hanya dikenal kurang lebih tiga bulan .Secepat itukah orang berpindah keyakinan ? Dengan jawaban ini pula kita bisa menjawab .

Ketika hidayah itu datang ,beliau menceritakan dengan penuh rasa haru bagaimana hari ,bulan dan tahun mulai berubah penuh kegembiraan seakan kalimat yang ingin keluar adalah hidayah Islam membuat beliau terlahir sebagai manusia yang mengerti tujuan hidup .

Norwegia .Ya , di tanah Viking ini hidayah ini bermula .Interaksi beliau dengan orang-orang Palestina ,Jordan ,Somalia membawa pengaruh dalam pandangan beliau terhadap orang-orang Muslim.Di waktu yang sama fitnah terhadap rupa Islam begitu memuakkan di Eropa.Meskipun demikian tak ada keraguan meniti jalan hidayah .

Menjawab semua tanya di hati ,tentang tujuan hidup dan konsep tauhid yang benar akhirnya bermuara pada keputusan final kembali kepada Islam .Keputusan ini mendatangkan tanggung jawab yang besar namun hati yang telah dibimbing tak sedikitpun ragu walau kesendirian dan keterasingan datang bertubi-tubi.

Tak pernah terpikir bahwa dari darah Pisarzewski ,Allah memberi hidayah kepada beliau .Dari Serock sampai ke Legionowo tak pernah beliau mengenal Islam .Tak tahu bagaimana rupa orang -orang Muslim .Semuanya tentang Islam tak pernah ada cerita.

Dan ketika beliau menjadi Muslim cerita tentang Islam di keluarga Pisarzewski dimulai .Beliau menceritkan ketika Islamphobia begitu marak bahkan sampai ke sekolah -sekolah .Seorang keponakan laki-laki yang duduk di sekolah setingkat SMU memberikan pembelaan ketika sang guru mengatakan tentang orang -orang Muslim yang barbar dan tidak mengenal peradaban.

Pemuda ini berdiri dan memberikan pembelaan
( semoga Allah menunjukkan jalan kebenaran padanya )

” Apa yang guru katakan tentang orang-orang Muslim adalah karangan kebencian .Paman saya seorang Muslim dan saya pastikan dalam keluarga kami dia seorang yang baik dan penuh sopan santun .”

” Apakah ia seorang Polish ( orang Polandia ) ?

” Ya ,ia berdarah 100 % Polandia .”

Pemuda ini menceritakan peristiwa ini saat kami semua berkumpul di Serock .

Peristiwa-peristiwa yang saya dengar dan saksikan di perjalanan semakin membuat saya berfikir bahwa sungguh Allah Maha Memberi Petunjuk bagi siapa yang Dia kehendaki.

Kisah tentang Ramadhan pertama bagi seorang mualaf selalu mengingatkan saya pada penuturan Abu Aisha .

Beliau bertutur bahwa di tahun pertama beliau menjadi Muslim dan beberapa bulan setelah peristiwa syahadat ,datanglah bulan suci ini .Di Norwegia , dengan waktu puasa paling terpanjang yakni kurang lebih 22 jam ,beliau berteguh hati berpuasa dan tetap bekerja .

Di hari pertama puasa beliau merasakan sakit kepala yang bertubi-tubi .Semacam tubuh memulai perjalanan keikhlasan mengenal Rabb .Saya jadi membuka memori betapa bersyukurnya sebagian kita yang terlahir sebagai Muslim dan kemudian telah dilatih sejak kecil untuk berpuasa .

Ketika hari raya tiba ,kebanyakan dari kita berkumpul dengan keluarga .Beliau memutuskan bersilahtuhrahmi ke satu keluarga Palestina yang sudah lama akrab semenjak beliau menjadi Muslim .Ada kesendirian yang terobati.

Bacaan Qur’an beliau waktu itu belum juga lancar .Beliau bercerita bagaimana cara beliau bisa membaca huruf -huruf Arab itu .Setiap hari di waktu-waktu senggang setelah bekerja yang menguras tenaga ,duduklah beliau berselancar di internet dan Alhamdulillah menemukan cara belajar membaca Al-Quran seperti metode iqra yang biasa kita kenal .Seperti anak -anak, beliau mengeja dan menghapal setiap hari ,menulis dibuku ,mengulang -ngulang video.

Ikhtiar ini membawa hasil .Alhamdulillah beliau tak lagi shalat sambil memegang mushaf Al-Qur’an karena setelah bisa membaca beliau dengan cepat menghapal surat -surat pendek walau tajwid belum begitu lancar .

Hubungan beliau dengan keluarga tak terputus walau beliau telah menjadi Muslim .Alhamdulillah keluarga Pisarzewski adalah keluarga yang terbuka walaupun sempat timbul perasaan terkejut namun menerima keputusan beliau menjadi Muslim .

Generasi yang lahir di tahun 70-80-an di Polandia memasuki gelombang dasyat bernama atheisme .Beberapa juga memilih percaya Tuhan namun tak menganut agama manapun .

Abu Aisha berada dalam gelombang generasi ini percaya kepada Tuhan namun tak menganut agama walau terlahir dari keluarga Katolik sampai cahaya itu hadir dan beliau ridho Islam sebagai agama ,sebagai jalan hidup .Bila semua agama itu benar ,tentu selamanya beliau berpegang kepada konsep Agnostik.Telah jelas pembeda antara yang haq dan batil namun sebagian propaganda pemikiran coba merayu dengan mengatakan semua agama adalah benar .Bagi Abu Aisha pemikiran ini adalah pemikiran orang -orang yang linglung .Beliau menyebutnya dengan orang-orang berakal abu -abu .Hitam tak jelas ,putih pun bukan pilihan .

Bila kita ragu kepada Islam maka sudah saatnya kita belajar ,berikhtiar mencari ilmu agar kita tak pernah merugi diakhir hayat .Di saat sebagian besar orang-orang Eropa berjalan mencari kebenaran , jangan sampai kita yang terlahir sebagai Muslim begitu mudah mencampakkan nikmat ini karena kebodohan kita yang tak memiliki ilmu untuk menjaga hidayah ini.

Mualaf adalah cermin sejati pencarian kebenaran.Perjalanan mereka adalah pelajaran hidup tentang pencarian hakiki sebuah hidayah.Bila hati kita rapuh mendekatlah pada kisah mereka.Kisah yang bukan fantasi pikiran melainkan kisah orang-orang yang diberi petunjuk.Semoga hidayah ini kita genggam sampai akhir di detik nafas kita sudah tak bisa lagi bicara.

Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [Al Qashash/28 : 56]

Categories: Kisah mualaf Eropa | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Empat Musim di Apartemen Mertua


Memoar Aisha Pisarzewska Putri Sang Perantau

 

Empat Musim di Apartemen Mertua

 

Oleh : Raidah Athirah

 

Mertua dan empat musim bagaikan dua pigura yang menyatu sempurna dalam perjalanan mengandung Aisha Pisarzewska.Tentang kesunyian musim dingin yang diselimuti cerita.Keindahan musim semi yang menyuguhkan harapan, ada keyakinan yang ditunjukkan oleh kekokohan pohon-pohon gundul yang kini telah menghijau.

 

Perjalanan mengandung telah memberi pelangi rasa.Melewati putaran waktu .Mengenalkan saya pada sosok kedua mertua yang tercinta.Ada hal luar biasa dalam cerita .Ini kisah empat musim penuh cinta tentang menantu muslimah dari negeri tropis nan pesona.

 

Banyak cerita jika mertua dan menantu tak pernah akur.Saya dan mertua adalah figura indah yang menyuguhkan cerita yang berbeda.Maha suci Allah yang memperjalankan , kami melewati empat musim dalam banyak cerita.Dalam dekapan penuh kasih walau bahasa seringkali tak saling dimengerti.

 

Apartemen mertua di Ulica Maja ,Legionowo telah menjadi tempat indah penuh kenangan kasih sayang kepada dua generasi.Aisha Pisarzewska dan ayahnya , Abdullah Pisarzewski telah mengecap masa disini.Menikmati empat musim dalam perjalanan mengikuti garis takdir.Saya berada dalam titik pusaran yang menghubungkan antara rahim dan cinta yang telah melintas batas benua.

 

Saya ingin mengenalkan sosok mertua.Tentang bagaimana kehidupan cinta antara menantu dan mertua telah melintas batas ras, mengajarkan bagaimana mengurai kasih ditengah perbedaan keyakinan yang kami anut.Tak ada yang harus dipaksakan, semuanya mengalir indah.Di apartemen mertua semua cerita terangkum.

 

  • Musim Dingin di Legionowo

 

Sebelum saya ajak kaki anda menyusuri jalan setapak menuju apartemen mertua, mari saya kenalkan kepada anda tentang Legionowo.Kota kecil penuh sejarah bukan saja untuk Abu Aisha , saya , serta Aisha Pisarzewska tetapi untuk masyarakat Polandia saat masih berada dalam pengaruh Rusia.

 

Di kota ini ada barak tentara Rusia( Carskie Koszary) yang dibangun di dekat stasiun kereta api (Obóz Hurki) di awal Perang Dunia I, ketika daerah ini ingin diduduki oleh pasukan Jerman.

 

Menyusuri kota Legionowo seperti menyesuri jejak masyarakat Polandia yang ber-identitas Katolik.Hal ini terlihat pada kubah emas Gereja Kosciol Sw.Ducha dan Gereja St Josep Church yang berdiri megah dengan arsitektur gaya bangunan Rusia tempo dulu .Sebelum mengandung ,saya sering melewati tempat ini saat ingin mengunjungi mertua di Legionowo.

 

Kota kecil ini juga dijadikan resor musim panas bagi masyarakat Warsawa di era tahun 1925-an saat hutan Legionowo belum tercemar aktivitas manusia. Ingatan saya juga kembali saat mengenang kota ini dalam perhelatan kompetisi Piala Euro 2012 saat Legionowo menjadi tuan rumah untuk tim sepakbola dari Yunani.

 

Apa yang belum saya ceritakan tentang kota kecil ini kepada anda?.Kota ini tempat Abu Aisha terlahir dan menghabiskan masa kanak-kanak,remaja dan kemudian berhijrah ke Norwegia,negara dimana ia menjemput hidayah cahaya Islam yang menerangi perjalanannya sebelum kemudian dipertemukan di titik takdir beristri muslimah Indonesia dari tanah Maluku .

 

Kini,negara ini tempat kami berhijrah bersama .Mengobati luka, mengikat ukhuwah dan segala puji bagi Allah Tuhan Yang Maha Pengasih kami dipertemukan dengan saudara yang saling menguatkan , bersama ukhuwah keluarga Indonesia di Haugesund kami mengenal senyum.Nikmat mana lagi yang harus saya dustakan?

 

***

 

 

Saya tak ingin membayangkan tentang dunia tanpa musim.Jika hanya ada satu musim yang ingin diulang, saya hanya ingin memandang kedua ibu yang telah melahirkan , bertemu dan bercerita dalam satu sajadah sujud di musim semi. Musim saat cinta mulai mekar dan taman bumi dihiasi kuncup-kuncup bunga penuh warna.

 

Kami telah semampunya menyampaikan pesan langit tentang Allah Tuhan Yang Esa selama empat musim .Cahaya putih bagaikan butiran salju yang jatuh masih dipandang biasa.Hidayah hanya hak Allah Tuhan Yang Maha Rahman.Kami tak pernah tahu di musim mana hati akan bertaut dalam satu keyakinan.Tak ada putus asa, hanya do’a semoga kelak sebelum mata tak mampu lagi memandang empat musim, menggenggam pelangi rasa , hati kedua mertua telah terbuka menerima ajaran fitrah, satu keyakinan , satu pesan langit tentang Allah Tuhan Yang Satu.

 

Orang tua saya dan mertua memang tak pernah bertemu ,akan tetapi kedua anaknya telah bersatu dalam ikatan keyakinan bersama di perjalanan pernikahan.Di musim dingin Allah Tuhan Yang Satu menyatukan darah, mengokohkan ikatan dan mengikat cita-cita pada rahim saat mengandung Aisha Pisarzewska.Perjalanan mengandung telah melewati empat musim.Ini jejak langkah pertama di musim dingin.Ujung ranting-ranting pohon yang menggigil kedinginan dipeluk, didekap semesta , dikuatkan.Adakah harapan agar ia tak patah.?

 

 

Mari saya kenalkan anda kepada ibu mertua saya terlebih dahulu.Beliau adalah sosok wanita paruh baya yang bukan saja cantik tetapi berkharisma.Seperti layaknya wanita-wanita Eropa yang lahir di era tahun 1950-an.Beliau lahir di zaman ketika sisa-sisa perang di Polandia masih ada. Saat itu ,Polandia masih berada dalam pengawasan pemerintahan Uni Soviet dan pengaruh Nazi Jerman.

 

Saya tidak sedang mengajarkan sejarah.Ini penggalan kisah yang menghubungkan kepingan-kepingan memori tentang perjalanan mengandung Aisha Pisarzewska. Seperti yang beliau kisahkan kepada kami tentang satu boneka yang bergantian dimainkan oleh empat saudari perempuan .Saya kembali menyentuh boneka bersejarah itu saat hari terakhir mengunjungi apartemen mertua ,sebelum akhirnya harus beristirahat di apartemen di Jablonna dan rumah sakit Warsawa karena pengaruh morning sickness yang parah.

 

Abdullah Pisarzewski terlahir dari rahim wanita cantik ini.Beliau menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja di Serock, kota kecil dengan jumlah umat Yahudi terbanyak di Polandia sebelum Perang Dunia II berlangsung.Kini, tak ada lagi umat Yahudi disini , kota ini hanya dikenang sebagai kota Yahudi di Polandia.( Selengkapnya dalam penggalan memoar ” Serock in Memorial ” ).Generasi Serock saat ini hanya sedikit yang memiliki darah Yahudi, kebanyakan adalah penganut Katolik.Saat Aisha Pisarzewska masih dalam kandungan , saya pernah menginjakkan kaki selama 3 x disini di akhir musim panas.

 

***

 

Garis-garis kecantikan khas wanita Eropa Timur masih terlukis indah di wajah wanita ini.Bola mata dengan warna biru zamrud bagaikan lukisan maha karya nan elok .Rambut keemasan tergerai dipundak.Coat warna merah dipadu syal hitam bercorak bunga terlihat elegan saat derap langkah dari sepatu boot terdengar mendekat ke arah pintu apartemen kami di Jablonna.Ibu mertua mengunjungi saya yang tengah terbaring dengan tubuh yang semakin menipis di tempat tidur.

 

Beliau selalu mengunjungi saya 2x dalam sehari.Pagi , tepat jarum jam di angka 9 beliau sudah di depan pintu apartemen membawakan beberapa buah-buahan dan pakaian musim dingin yang dibeli kemarin selepas pulang kerja.Saat butiran salju turun dengan deras di sore hari , saya lebih suka menyebutnya malam.Beliau telah memencet bel apartemen.”Ainna to jest Mama .” Begitu suara yang terdengar dari telephone apartemen yang terpasang di dinding dekat dengan pintu menuju kamar mandi.

 

Abu Aisha membuka pintu apartemen.Memeluk wanita cantik paruh baya itu.Beliau melangkah mendekati tempat tidur, tempat saya berbaring dengan wajah layu pengaruh morning sickness yang parah.Ada guratan kekhawatiran yang tergambar di raut wajah ibu mertua saya yang tersayang.Saya tak berkata-kata.Saat itu , saya terlalu sibuk dengan diri saya sendiri.Muntah dan muntah.Itu keadaan saya di apartemen di Jablonna, di musim dingin yang diselimuti salju tebal.

 

Sayup-sayup saya hanya mendengar dialog dua orang terkasih.“Myślę, że powinniśmy zabrać ją do szpitala, jej stan pogorszył się .“suara ibu mertua saya terdengar seperti memelas.Menunggu jawaban Abu Aisha.Ia mengiyakan perkataan ibunya “Myślę, że to samo, martwiłem się walka them.już trwało długo ona zawsze rzuca.“.Begitu dialog singkat antara sang putra terkasih dan ibunda tersayang tentang menantunya yang terbaring lemah di tempat tidur.

 

Itu adalah awal perjalanan musim dingin , dengan pertolongan Allah saya dibawa kembali ke rumah sakit Warsawa.Menikmati awal perjalanan mengandung yang tak biasa.Sendiri di Warsawa.Menatap sayu pada langit yang berwarna abu-abu di bumi Polandia. Pelangi rasa pada musim dingin penuh cerita.Ini kisah tentang perjalanan mengandung Aisha Pisarzewska.

 

 

 

Maha Suci Allah Tuhan Yang Maha Pencipta, diperjalanan yang tak biasa.Saya muslimah Indonesia dari negeri yang bermandikan mentari belajar tentang mengenal manusia dari ras yang berbeda , dari sejarah bangsa terdahulu tentang peninggalan bangunan megah yang kini hanya berupa jejak.Masih adakah yang merasa rendah diri kepada bangsa yang lain ?.

 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengena.l(QS al-Hujurat [49]: 13).

 

 

Bersambung…..

Abu Aisha di Norwegia

Abu Aisha di Norwegia

Catatan sipil Legionowo, tempat saya dan Abu Aisha menikah di Polandia

Catatan sipil Legionowo, tempat saya dan Abu Aisha menikah di Polandia

nisan kuburan Yahudi di Serock ( sumber Google)

nisan kuburan Yahudi di Serock ( sumber Google)

Sinagog di Serock ( sumber Google )

Sinagog di Serock ( sumber Google )

 

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

Kasih Ibu Teruji Di Musim


Penggalan cerita Dwilogi Memoar Aisha Pisarzewska Putri Sang Perantau

 

” Mengenang Masa Aisha Pisarzewska Terlahir Dan Dibesarkan “

 

oleh : Raidah Athirah

 

Musim gugur itu indah dan menawarkan jutaan hikmah serta mempertontonkan kekuasaan Allah Tuhan Yang Maha Pencipta bagaimana sirine alam sambung menyambung tanpa membuat gaduh. Semua yang terjadi di musim ini tergambar dengan indah penuh harmoni.Kala bunga-bunga dan daun berguguran ditambah hawa dingin yang perlahan-lahan datang.Membawa sahdu perasaan saya kala itu.Saya memang mencintai musim ini. Bukan karena dimusim ini Aisha Pisarzewska terlahir tapi karena di musim inilah saya kemudian belajar untuk lebih dekat kepadaNya. Dia-lah Allah Tuhan tempat saya memohon pertolongan.

 

 Meminjam judul buku Sutan Sati” Sengsara Membawa Nikmat . Saya awalnya berfikir demikian , nyatalah  bahwa ini suatu kesengsaraan.Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam diperjalanan saya kemudian menemukan jutaan hikmah yang saya dan Abu sendiri tak henti bersyukur.Bahwa benar apa yang diberitakan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron: 190-191).

 

Seperti halnya musim.Tak selamanya pula kesulitan-kesulitan yang saya dan Abu Aisha hadapi saat itu akan kekal.Akan datang masa kala kesedihan menjadi tawa layaknya musim dingin ke musim semi.Semua kegersangan, kekakuan, ketidak berdayaan akan tergantikan dengan kegembiraan dan juga kebahagiaan.Saya harus banyak belajar pada kekokohan pohon yang hidup di negeri empat musim. Ketegaran dan keteguhan sudah terbukti dilalui disetiap musim. Tak bergeming .Semuanya berbaris rapi tanpa daun di sepanjang hutan Jablonna. Setelah perintah Ilahi bahwa sudah saatnya semuanya jatuh ke tanah , bersujud sampai datang masa di bangkitkan kembali.Kelak akan datang perintah  semuanya Utuh seperti sediakala .Semuanya saya saksikan di musim gugur dan kembali bersyukur di musim semi. Tak ada keluhan ataupun suara menyesal mengapa mereka harus disitu.  (insha Allah selengkapnya dalam penggalan dwilogi Memoar Aisha Pisarzewska Putri Sang Perantau “Senyum Merekah di Musim Semi).

 

Saya bersyukur walau pun Abu Aisha tak paham bahwa saya sedang dicengkram Baby Blues , dia tak segan membantu memandikan Aisha bayi yang baru berumur satu bulan.Saya?. Masih tak berani.Bahkan kalau ditanya saya sebenarnya ketakutan atau kadang-kadang muncul perasaan tidak suka pada Aisha.Terkadang ketika memori saya membuka file kenangan ini. Ada perasaan luka yang tidak bisa hilang sampai saat ini.Tapi saya meyakini bahwa Allah Tuhan Yang Maha Rahim juga Maha Mengampuni.Maka saya akan menguraikan rasa ini lebih dalam bahwa apapun yang datang kepada kita baik kesedihan, luka, airmata , rasa sakit. Ada mutiara-mutiara hikmah andai kita menggali lebih dalam.Dan begitulah saya mendapati diri saya kini.Dan beginilah anda mendapati goresan- goresan cerita yang saya tulis untuk kita saling berbagi.Mengenal lebih dekat, agar prasangka tentang dongeng sang putri yang hidup di negeri salju penuh kebahagiaan tidak menyesatkan anda.

 

Saya dan Abu Aisha benar mimiliki satu keyakinan.Kami muslim. Akan tetapi kami terlahir dari budaya yang berbeda.Di asuh dengan cara yang berbeda pula. Saya pun takkan membandingkan diri saya dengan Corrie atau Abu Aisha dengan Hanafi dalam kisah karangan Abdoel Moeis ” Salah Asuhan”. Tetapi saya dihadapkan pada budaya yang sangat berbeda dengan tanah dimana saya dilahirkan. Andai saya melahirkan di tanah air, ibu saya pasti telah tiap hari merawat saya dan Aisha. Jadi Abu Aisha dapat juga beristirahat. Tapi ini di Polandia. Anda ingin punya anak, maka anda juga harus belajar tentang tanggung jawab. Begitulah kira-kira hikmah yang saya ambil tentang budaya negeri sang Paulus ini.

 

***

 

 Kochanie, could you move yourself ?”. Tanya Abu Aisha sekedar meyakinkan kalau saya sudah bisa bergerak. Ini adalah rutinitas selama satu bulan lamanya. Abu Aisha  menyuntikkan antibiotik ke perut saya setelah dia selesai mengerjakan sholat shubuh. Saya juga tak terlalu paham untuk apa antibiotik ini.Saya hanya mengikuti perintah Abu Aisha. Di masa ini Abu Aisha membuktikan dia seorang ayah yang penuh kasih sedangkan saya masih dihinggap kebingungan karena Baby Blues dan juga terkejut dengan pola asuh dari budaya Polandia.Jika anda bertanya tentang mertua saya. Maka akan saya katakan bahwa kami saling mencintai. Bahkan kasih mereka tak saya ragukan. Tetapi saya hanya ingin anda mengerti bahwa kami berbeda budaya.

 

Orang-orang disekeliling saya tetap terasa asing dalam pandangan.Tidak ada interaksi sosial yang ramah. Semuanya kaku. Setiap berhadapan dengan orang-orang dilingkungan tempat tinggal apartemen, saya pasti merasa gugup. Apalagi setiap memandang wajah Aisha .Khawatir dia menangis.Di umur dua minggu saya sudah harus berjalan keluar dengan Aisha.Bukan saya saja . Bayi-bayi yang seumuran dengan Aisha juga terlihat tidur di stroller.Di akhir musim gugur.Ketika hawa dingin sudah menyelimuti udara di Polandia. Saya benar-benar terkejut dengan budaya ini.

 

Di tanah air bayi-bayi bermandikan uap mentari pagi, maka di Polandia bayi-bayi termasuk Aisha sejak bayi harus diperkenalkan dengan suhu dingin.Saya masih tak bisa menerima ini. Berbagai ketakutan datang kepada saya. Bagaimana kalau Aisha sakit. Kolik yang datang saja sudah membuat saya bingung ditambah dengan penyakit lainnya.Hati saya seperti memberontak. Ingin secepatnya kembali ke tanah air.Menikmati semua kesenangan dan kemanjaan di kampung halaman. Astagfirullah… Saya telah menikah dan kini saya seorang ibu. Saya tak bisa bersikap se-egois itu.Bagaimana saya bisa berfikir untuk meninggalkan orang-orang terkasih yang telah Allah Tuhan Yang Maha Penyanyang telah begitu menyayangi saya dengan memberi karunia ini. Memiliki seorang imam  yang teguh dan putri yang sungguh cantik.

 

Saat itu saya benar-benar tak pandai menguraikan perasaan saya kepada Abu Aisha. Tentang apa yang saya tak suka, mengapa saya tiba-tiba menjadi begitu sensitif.Kalau bisa menggambarkan perasaan kami berdua saat itu, bagaimana pergaulan saya dengan Abu Aisha . Maka saya kemudian berangan-angan tentang hikayat sastra yang ditulis oleh guru kita , pujangga legendaris tanah air Buya Hamka dalam karyanya  berjudul ” Di Bawah Lindungan Kabah”.Tentang lakon dua insan Zainab dan Hamid yang menyimpan perasaan mereka masing-masing sampai dipanggil oleh Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui. Tapi ini kisah tentang Aisha Pisarzewska yang penggalan-penggalan cerita menyatukan kami, mengikat kami semakin kuat, mengajarkan kami hikmah tentang kasih sayang orang tua dan kesyukuran di beri amanah.

 

***

 

Saat bersama Abu Aisha mengunjungi dokter anak di Klinik Medica yang berada di Legionowo untuk melakukan terapi dan juga memastikan kalau kaki Aisha normal, saya dilanda kegugupan yang parah. Panik luar biasa. Membayangkan bagaimana saya menyusui Aisha sedangkan disana belum ada ruang menyusui. Ada ruang kosong tapi itu diperuntukkan untuk pasien dengan kebutuhan khusus.Sebelum berangkat sejak subuh saya sudah memompah asi. Ditaruh di dalam botol agar saat disana saya bisa memberikan asi kepada Aisha tanpa khawatir dipandang orang-orang disamping  karena kerudung yang saya kenakan.

 

Segala Puji Bagi Allah Tuhan Yang Maha Memelihara. Semuanya telah berlalu. Akan tetapi saya tak pernah lupa bagaimana panik dan wajah gugup saya tertunduk saat berada di Klinik Medica. Seakan-akan semua mata memandang ke arah kami.Ya. Tepat ke kerudung saya.Dan bertepatan denga itu Aisha menangis dengan suara yang keras. Saya masih tak paham kalau sebenarnya dia hanya ingin tidur dipelukan saya.Abu Aisha mencoba memberi asi dalam botol kepada Aisha tetapi yang terjadi justru dia semakin menangis. Ah!. Tak terkira perasaan gugup bertambah dengan kepanikan serta rasa malu karena terus dipandang oleh orang-orang disekeliling kami. Wajah Abu Aisha pun terlihat panik.Kami bergegas melangkah ke dalam mobil.

 

Disepanjang jalan dari Legionowo ke Jablonna Aisha terus menangis di car seat.Dan saya saat itu masih sangat polos.Seharusnya saya mengikuti naluri keibuan saya. Mengambilnya dari car seat dan memangkunya di pankuan saya. Itu tidak mungkin, karena jika ada polisi yang melihat maka sudah pasti kami kena mandat ( denda) dan juga harus ke kantor polisi untuk memberikan penjelasan dan hal lainnya.Saya juga belum begitu mahir menyusui di dalam mobil.Saat itu saya sangat lelah. Lelah dengan pikiran dan juga budaya yang belum saya pahami.

 

Hubungan saya dan Abu Aisha juga tidak harmonis, karena Baby Blues saya cepat sekali marah. Tapi tidak saya ungkapkan.Lama kelamaan ini seperti bom waktu. Pernah disuatu malam , saat Aisha menangis dan tidak bisa tenang. Sudah mencoba berbagai cara , ia tetap menangis.Saya menaruhnya di kotak bayi.Saat Abu Aisha kembali dari rumah mertua. Dia mendapati Aisha yang sedang menangis.Dia meminta saya untuk mencoba menenangkan , karena dia baru datang dan harus menuju toilet terlebih dahulu.Saya tetap tak bergerak sedikitpun dari tempat  duduk saya saat itu. Abu Aisha datang menghampiri dan bertanya dengan sedikit nada marah, mengapa saya tidak menggendong Aisha . Tetangga bisa terganggu karena suara tangis Aisha..Hal ini kemudian benar-benar memicu kegilaan saya :(. Saya berteriak histeris ” persetan dengan mereka”.Saya harap anda tak menghakimi karena beginilah saya saat dihinggapi Baby Blues.

 

Kalau anda seorang istri anda harus belajar mengungkapkan perasaan.Bicarakan baik-baik.Bukan karena saya ingin menasihati anda.Saya hanya ingin anda tidak sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak baik kepada orang-orang yang anda kasihi.Begitulah saya belajar dari perjalanan di masa ini kala Aisha Pisarzewska terlahir.

 

Di musim ini. Akhir musim gugur yang sebentar lagi mempersiapkan diri menyambut musim dingin.Saya merasa sedang bertarung dengan semua keadaan. Merasa mungkin ini adalah ujian bagi saya seorang ibu muda untuk belajar mencintai dan mensyukuri amanah yang diberi oleh Sang Khalik. Bukankah saat belum memiliki buah hati, saya berdo’a dengan sungguh-sungguh dengan penuh kekhusuan semoga rahim saya dikarunia amanah mengandung dan melahirkan generasi. Dan saat amanah itu datang .Bukankah sudah seharusnya saya bersyukur dan tak mengeluh?.Mengingat lagi doa yang dulu saya panjatkan dengan sepenuh hati.

 

Saya pasti menyesal menikah dengan Abu Aisha.Tidak sedikitpun.Walaupun kata ini sering saya lontarkan kepada Abu Aisha.” Menyesalkah kau menikah dengan saya?”.Muslimah Indonesia yang tentu sangat berbeda dengan budaya Polandia.Abu Aisha selalu menjawab dengan hati yang riang.”Saya bersyukur disatukan dalam pernikahan denganmu.Dan kata ini tak boleh kau tanyakan lagi”.Saya menolak judul buku karya Nur Sutan Iskandar ” Salah Pilih”. Karena memang kami tak salah pilih.Allah Tuhan Yang Maha Rahman dan Rahim telah menyatukan kami dalam ikatan suci pernikahan.Dan beginilah masa yang harus kami lalui diperjalanan musim ini.

 

Tobe continued……

 

Memandang alam ciptaan Allah Tuhan Yang Maha Esa

Memandang alam ciptaan Allah Tuhan Yang Maha Esa

 

Tak selamanya masa itu gelap

Tak selamanya masa itu gelap

 

 
Suka

 
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Ku Tunggu Kau di Royal Łazienki


Saya mau cerita dulu mengenai asal muasal nama Royal Łazienki ini. Masih ada hubungannya tidak dengan muntah- muntah. Sudah! Tak usah ditanya. Muntah- muntah bagi saya selama hamil sudah lebih dari menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap hari senin. Ingat jaman SD saat bapak guru menerangkan hikayat perihal nama- nama tempat bersejarah seperti candi Prambanan, candi Brobudur, Candi Kalasan, candi Dieng dan candi lainnya.Ini kok nama candi semua yang disebut.

 

Subhanallah mbaaak maas bro nggak usah heran .Ini mau saya jelaskan segera. Tolong perhatiannya dipusatkan. Gaya ibu guru menjelaskan kepada anak- anak polos di tanah air yang mendengar dengan antusias dan kemudian cepat sekali hilang ingatan. Saya tidak ingin kisah yang saya ceritakan berakhir seperti itu. Jadi tolong anda ingat Royal Łazienki ( baca wajienki) itu di Warsawa Polandia. Tepat di pusat kota. Ke arah selatan terhubung dengan Ulica ( jalan ) Wilanöw tempat mesjid Warsawa berada. Saya harus menerangkan kepada anda bukan takut anda salah jalan tapi karena takut anda salah langkah. Melangkah ke mesjid Warsawa saat anda pertama kali ke Polandia , bukan jalan – jalan ke Royal Łazienki menikmati indahnya taman dan candi- candi bersejarah di Polandia.

 

Royal Łazienki ini sangat luas 76 hektar luas lahannya di pusat ibu kota Warsawa.Di desain oleh seorang arsitek keturunan Belanda Tylman Van Gemeren ( jiaaaaaah ! nenek moyang penjajah kita ternyata terkenal juga dalam sejarah Polandia ) .Di bangun atas permintaan putra mahkota Polandia Stanisław Herakliusz Lubomirski. Sang pangeran ini dikenal hobi dengan hal – hal yang berbau artistik, juga seorang politisi dan penulis . Di bangun pada abad ke -17 dan mengalami perubahan berkali- kali berdasarkan peristiwa sejarah di Polandia.

 

Pada tahun 1944 ( beda setahun sama kemerdekaan tanah air beta ) tempat ini mengalami kebakaran yang mengakibatkan kerusakan yang sangat parah dikarenakan terjadi pemberontakan di Warsawa. Itu Mbaak Maaaas bro pertempuran antara pasukan Jerman dan pasukan Polandia pada perang Dunia II.

 

Oya Mbaak Maas bro nama Royal Łazienki itu artinya paviliun pemandian berasal dari kata Łazienki ( ” Tempat Mandi ” ) atau kalau di terjemahkan kasar oleh orang Polandia dibilangnya toilet alias WC . Kalau saya sendiri punya terjemahan khusus ” Jamban Raksasa” . Ini bukan asal comot kata ya. Buktinya banyak sekali burung- burung di taman yang kalau tidak hati- hati kepala anda bisa dijadikan toilet dadakan. Subhanallah Maaaak tolong bersihkan kotoran ini!.Mobil kami sudah menjadi bukti kekurang- ajaran burung- burung itu. Kotoran mereka tepat di depan kaca mobil menghalangi dan merusak pemandangan sang sopir. Siapa lagi kalau bukan Abu Aisha :).

 

Setelah perang Dunia II berakhir ( alhamdulillah ) mulai dilakukan rekonstruksi terhadap taman – taman dan istana. Ini saya uraikan struktur Royal Łazienki biar anda tidak berputar- putar hanya di satu tempat. Ada Palace on the Water, Roman theater, White House, Myślewicki Palace, Old Orangery, New Orangery, Temple of Diana, Egyptian temple, Water tower.Tak lupa bangunan- bangunan bergaya istana yang ada di dalam namanya Belweder, Ujazdów Castle, dan Chopin monument. Sekian informasi yang bisa saya berikan saat ini.

 

Kok tidak diterangkan satu- satu nama tempatnya?. Mbaak Maaaas bro ini kisah perjalanan Aisha Pisarzewska . Memoar namanya. Bukan cerita sejarah yang ingin saya tulis apalagi ingin jadi guide. Untuk selengkapnya Mbak dan Mas bro bisa tanya Om Google kalau masih tidak mengerti kirim ke saya nanti saya tanya Abu Aisha , iya kalau dia mau menerangkan yang ada pasti saya diceremahin. Kalau mau belajar sejarah itu baca kisah sejarah bangsa Arab, Sirah Nabawiyah , kisah para sahabat nabi supaya lebih berbobot”.Gaya Abu Aisha menceramahin saya.

 

 

Subhanallah ini saya nikah sama orang Polandia apa sama orang Arab?. Setiap saya tanya Abu Aisha perihal nama-nama tempat yang kami kunjungi. Jawaban akhirnya sangat mengecewakan “saya tidak tahu” atau lebih kasarnya ” tidak mau tahu ” . Trus saya harus tanya ke siapa. Abu Aisha pasti mengeluarkan kalimat rayuan” makanya kamu belajar bahasa Polandia yang rajin supaya bisa tanya langsung ke babca ( nenek Aisha , ibu mertua )”. Kalau sudah mendapat jawaban seperti ini saya pasti muntah – muntah , berjalan ke toilet dan langsung naik ke ranjang alias tempat paling aman buat sembunyi dari semua keresahan dan gundah – gulana dan bertanya dalam hati ” Mengapa saya tak punya semangat belajar bahasa Polandia semenjak hamil ?. Saya justru lebih bersemangat mendengar ceramah bahasa Arab , walaupun saya sendiri tak bisa bahasa Arab ” . Kalau ber- naam apalagi laaaaaa , sudah setiap hari saya praktekin dengan Abu Aisha .Ya sudahlah mungkin bawaan orok.

 

Ibu mertua sering berkunjung ke apartemen , baik untuk mengantar makanan untuk menantu kesayangannya atau datang menengok. Maka, tercetuslah ide untuk jalan- jalan ke Royal Łazienki pada hari minggu karena cuma hari itu ibu mertua saya libur. Tentu saya harus diajak. Saya kan pemeran utamanya. Alhamdulillah cuaca cerah dan berangkatlah kami berempat , Aisha di perut juga di hitung ya maaaak.

 

Jamban Raksasa itu penuh dengan turis. Tapi kami tidak sampai berdesak- desakan wong tempatnya seluas mata memandang. Saat tiba di depan Jamban . Kok namanya berubah jadi jamban mbak?. Iya sengaja biar lidah saya nggak keseleo ucapin nama tempat ini dalam bahasa asli .Kami berpasasan dengan turis dari Israel dan kemudian duduk berhadapan di dalam taman. Abu Aisha sudah pasang muka batu alias tidak suka apalagi beberapa diantara mereka mencuri- curi pandang ke arah kami. Lengkap sudah kekesalan Abu Aisha ditambah saya juga mulai sedikit berulah alias kebelet pipis , maklum ibu hamil pasti sering mengunjungi toilet. Tapi mana toiletnya ? . Subhanllah Maaaak saya sudah tak tahan lagi.

 

Namanya doang yang Jamban Raksasa. Untuk sampai ke toilet kami bersama ibu mertua harus bertawaf alias putar- putar sampai pusing kepala dan perut untuk bisa menemukan toilet. Akhirnya ibu mertua saya yang pemberani bertanya ke petugas penjaga istana kekaisaran , dimana kami bisa menemukan toilet di Jamban Raksasa . Maka penderitaan saya berbuah manis tibalah kami di sebuah istana .Tempat yang kami tuju adalah toilet disaat orang lain sibuk melihat gambar- gambar dan mengagumi patung- patung yang ada dalam istana. Kami menuju toilet. Abu Aisha keluar dari istana dia memang lebih suka melihat pepohonan nan rimbun dan bungan- bunga yang bermekaran di taman dibandingkan mematut- matut diri di dalam bangunan istana. Mana tahan dia dengan patung- patung manusia yang setengah telanjang atau pose menantang.

 

Sebelum Abu Aisha berlalu terlalu jauh ibu mertua saya mengingatkan ” Ku tunggu kau di Royal Łazienki ” . Khawatir kalau nanti saling mencari di areal Jamban Raksasa. Mbaaaak Maaaas anda sudah tahu kan tipikal toilet di Eropa. Kalau belum tahu sini saya kasih tahu. Ah saya sudah tahu. You wish saya perjelas:).Toilet di Eropa ini tipikal toilet kering alias bebas air trus bersih- bersih tempat privat dengan apa? . Dengan tissue maaaak. Gaya benar euy!. Bukan .Ini tradisi mau gimana lagi terimahlah nasibmu kalau kau tinggal di Eropa .

 

Malang benar nasibku di Jamban Raksasa ini, kerjaannya paling sering minta diantarkan ke toilet kalau bukan membersihkan muntah ya buang air khas wanita hamil. Mana toilet itu kan tempatnya syaitan berkumpul dan bermusyawarah. Masuknya saja harus membaca doa:Bismillaahi Allaahumma Innii A’udzu Bika Minal Khubutsi wal Khabaaits artinya : Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syetan laki-laki dan syetan perempuan.( doa ini didasarkan pada hadist riwayat Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah ).

 

Mana bisa saya tahan berlama- lama di dalam walaupun kondisi di dalamnya bersih mulus. Apalagi kepikiran untuk bertapa mencari ilham atau menghibur diri dengan bernyanyi . Saya hanya ingin segera menyelesaikan urusan saya dan melangkahkan kaki keluar dari jamban istana. Walaupun ini istana tetap yang namanya jamban kalau selesai buang hajat keluar dari ruangan harus melangkakahkan kaki kanan terlebih dahulu dan jangan lupa berdoa ya naaaaak ini ajaran Rasulullah Saw.Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila sudah keluar dari kamar kecil beliau membaca: Ghufraanaka.” (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah).

 

Kami tetap menikmati pemandangan istana. Setelah bosan kami pun beralih ke hutan kecil di dalam taman itu. Beberapa turis Russia yang kami kenal dari bahasa yang mereka gunakan sibuk mengambil gambar. Ada banyak binatang juga disini. Subhanallah saya sampai kegirangan melihat tupai kecil. Tiba- tiba suasana suka cita saya rusak oleh pemandangan yang tak sopan yang dipertontonkan oleh seekor binatang yang kurang di ajar. Tepat di depan mata kami seekor rusa yang muncul mendekat ke arah pohon kecil dan dengan tanpa malu- malu. Mbaaak Maaas e itu binatang kencing di depan kami.Mempertontonkan kekurang- ajarnya . Wajarlah itu kan binatang tak punya akal. Tapi kalau pemabuk yang sudah tak sadar alias hilang akal dan sering melakukan ini. Yuuuk Mbaak Maaaas bro kita tabok rame- rame. Berani anda nabok bule mabuk? . 😛

 

Setelah kita menikmati kejadian demi kejadian . Sampailah kita kepada rasa bosan. Akhirnya kita merindukan kenyamanan rumah. Nilai- nilai kesopanan yang kita jaga dalam interaksi kepada sesama penghuni rumah. Dan yang pasti tempat dimana kita seharusnya kembali. Benarlah kiranya apa yang Allah Swt Tuhan Pemilik Langit Dan Bumi kabarkan dalam firman-Nya .”Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (al-Hadiid: 20).

 

Begitulah saya dan Abu Aisha renungkan . Seindah apapun keindahan yang kita lihat, sesulit apapun masa yang kita alami. Semuanya akan berakhir . Kita pasti merindukan rumah yang kekal. Rumah yang sesungguhnya. Apa yang kita hadapi saat ini bagaikan ke indahan istana- istana yang megah, kebingungan mencari tujuan kecuali kita telah memegang peta dan membayar penunjuk jalan, tentu kita tidak akan tersesat selama- lamanya.

 

Saya berusaha menerima Qadarullah. Agar jangan sampai keluar dari mulut kami kalimat – kalimat kurang ajar yang menghujat Tuhan Yang Maha Esa. Mengapa saya harus mengalami kehamilan seperti ini?,Mengapa saya tidak bisa pulang kampung? . Apakah ini hasil dari pilihan saya menikah dengan laki- laki jauh?. Bahkan cita- cita saya untuk melanjutkan S2 harus saya tenggelamkan jauh – jauh dari pikiran . Saya muslimah Indonesia yang tergolong aktif di kegiatan kampus di jaman kuliah harus merasa terasing di negeri ini? . Tanpa keluarga dekat apalagi teman . Dan masih banyak lagi . Manusia yang mendengarnya saja pasti terbakar marah. Astagfirullah lidah kotor saya harus dilatih untuk lebih bersabar, bersyukur dan semakin meyakini bahwa perjalanan yang kami lalui tidaklah pernah tertukar dengan takdir orang lain.

 

Bukankah keindahan taman- taman buatan ini hanyalah ujian kesenangan?. Kita pasti tidak akan tinggal selamanya semegah apapun terlihat di depan mata. Kita pasti akan memilih rumah untuk kembali. Kami , Abu Aisha dan ibu mertua kembali pulang setelah menikmati kesenangan sementara yang ada di Royal Łazienki . Kembali ke rumah tempat seharusnya kesenangan sejati itu ada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Łazienki

Seat in Roman Theather

Seat in Roman Theather

Little White House

Little White House

Water Tower

Water Tower

Belweder Palace

Belweder Palace

Tampak belakang Belweder

Tampak belakang Belweder

Castle

Castle
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

Menikah Di Antara Dua Musim


Menikah di Eropa dengan pergantian musim dingin ke musim semi tentu sangat indah apalagi dengan embel – embel pasangan bule. Oh serasa dunia milik berdua yang lain ngontrak daaaaah 🙂 .Bunga-bunga yang bersemi.Pepohonan yang mulai perlahan menghijau.Kesejukan yang menerpa kala angin berhembus.Subhanalllah pokoknya semuanya indah. Romantis bangat maaaaak :). Tak usah cemburu. Ini sudah takdir.Berjodoh dengan bule itu bukan cita- cita apalagi dengan tujuan memperbaiki keturunan , atau ingin hidup bagaikan sang putri salju dan bisa jalan- jalan keluar dari negara:) . Buang jauh- jauh pikiran kotor anda !.Menikah itu karena Allah , karena satu cita -cita.

 

Subhanallah Maaaak , suruh para gadis- gadis di tanah air itu bertobat. Belajar dulu yang banyak.Semua sikap malas belajar , buang jauh – jauh kalau anda tidak mau dihajar oleh budaya ( baca shock culture ) .Jangan anda harap bibi atau asisten rumah tangga bisa membantu anda. Mahal mbak . Bisa- bisa anda tidak bisa tidur nyenyak . Anda harus siap hidup di suhu yang melebihi suhu kulkas.Belajar bersosialisasi. Bukan untuk arisan besar tapi setidaknya anda bisa sendiri ke pasar berbekal beberapa kata yang anda hapal biar anda bisa pilih makanan halal.Ada nggak mas bakso, mang somay atau warung pecel lele? . Sudah!, anda jangan bermimpi. Bangun dan bergegas ke dapur buat masak sebelum perut anda menyanyikan lagu keroncong 🙂 . Nah itu yang saya lakukan.

 

Banyak calon pasangan yang sengaja merencanakan pernikahan mereka ke Eropa hanya untuk menikmati sensasi empat musim di Eropa.Banyak terpengaruh film sepertinya atau memang ingin ganti suasana.Entahlah . itu pilihan masing-masing yang punya uang.Bagi kami yang penting keberkahan.Menikahlah karena Allah.Yang belum nikah buruan nikah . Ah sok ngenasihatin lagi.Sesama saudara harus saling mengingatkan. Sudah kewajiban saling mengingatkan kepada kebaikan.Ini perintah Allah dalam Al Qur’an . “ Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) ma’ruf dan mencegah dari kemunkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” ( Q.S Ali Imran ayat 104 )

 

Setelah saya dinyatakan hamil .Kami mau tidak mau harus menikah walaupun saya dalam keadaan muntah- muntah. Kok udah hamil baru nikah ?. Gelarnya MBA dong ! Married By Accident ) . Nanti saya ceritakan . Jangan berburuk sangka dulu 🙂 . Beberapa peristiwa – peristiwa yang datang silih berganti ( baca penggalan memoar di awal dan Menginap di Warsawa Jilid I ) menghadapkan kami dengan semua seluk – beluk prosedur pasangan campur. Kami di benturkan dengan urusan administrasi. Asuransi kami di tolak. Mengapa ?.Nama yang tercatat di pasport dan akte kelahiran saya berbeda. Kesalahan kecil merusak semua ijazah saya . Bahkan mempertanyakan buku nikah yang kami bawa dari Indonesia.Subhanallah Maaaaaaak , mengapa saya harus mengalami semua keribetan ini?.Lagi hamil pula.

 

Kami menikah di akhir musim dingin menuju musim semi. Kali ini bukan di Jablonna tapi di Legionowo.Tempat mertua saya tinggal. Yang hadir pun tidak banyak. Hanya ada kedua mertua saya , kakak ipar yang sedang hamil dan suaminya serta kedua anaknya.Satu wanita Polandia yang kami bayar sebagai penerjemah bahasa Polandia ke bahasa Inggris. Dan satu wanita muda berambut agak ke emasan sebagai pembaca sumpah nikah sekaligus pencatat dokumen pernikahan. Kalau di Indonesia tempat ini semacam kantor catatan sipil.

 

Jangan membayangkan suguhan ala prasmanan di Indonesia . Ini Eropa. Apalagi suguhan minum anggur ala Polandia . Kami ini muslim. Walaupun budaya Eropa di setiap acara , parti atau perkumpulan dan lain sebagainya harus ada minuman semacam ini . Alhamdulillah sudah kami nyatakan identitas kami. Kami muslim dan tidak ada tawar menawar. Kami menikah dengan gaya Eropa . Abu Aisha memakai setelan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi dan saya sendiri memakai abaya putih yang saya modifikasi sedemikian rupa agar terlihat seperti gaun ,berkerudung putih yang saya hiasi dengan semacam bando bunga berwarna abu -abu . Semua pakaian saya berwarna putih kecuali sepatu boot saya. Di tambah wajah saya yang pucat ke putih- putihan 🙂 . Saya paksakan untuk memoles sedikit wajah saya . Sedikit pewarna bibir yang lebih terlihat alami . Itu semacam lipgloss yang dipakai ABG . Bedak ?. Maaf saya tidak pakai karena terlanjur muntah – muntah dan sudah telat ke kantor catatan sipil di Legionowo :).

 

Suasana menikah begituh syahdu. Iya syahdu karena cuman segelintir manusia yang hadir. Para undangan sudah saya sebutkan sebelumnya. Luas gedungnya lumayan . Seperti ruangan bioskop BIP di Bandung. Jadi benar – benar syahdu, ditambah suasana pergantian musim dingin ke musim semi. Latar panggung merah putih. Bendera Polandia kan warnanya sama seperti warna bendera Indonesia hanya posisinya terbalik.Saya dan Abu Aisha berdiri di tengah panggung. Alhamdulillah Aisha dalam perut seperti mengerti kondisi kami saat itu .Tidak mau mempermalukan orang tuanya . Terutama saya Muslimah pertama yang menikah di catatan sipil Legionowo Polandia lengkap dengan identitas ke islaman saya .Alhamdulillah Maaaaak , saya tidak muntah -muntah :).

 

Mari saya gambarkan suasana saat kami menikah agar anda juga bisa merasakan apa yang saya rasa:).Kami berdiri di tengah – tengah.Sang penerjemah berdiri di samping saya dan wanita pengkhotbah , maksud saya pencatat nikah berdiri di samping Abu Aisha. Kedua mertua saya duduk sebagai saksi di depan kami.Dan kakak ipar saya serta keluarganya duduk di belakang bagai menonton pertunjukan kisah cinta antar benua 🙂 . Kalau Abu Aisha bilang kata cinta , saya jadi alergi. Masa sih ? . Kan suami sendiri. Maklum awal-awal nikah masih berjiwa polos, kalau sekarang jangan ditanya . Jiwa emak – emak premannya keluar. :)Maklum , mantan aktifis kampus yang sering pasif alias uring- uringan.

 

 

Saya dan Abu Aisha sebelumnya sudah menikah di Indonesia . Kami menjalani LDR selama satu tahun.Berbekal visa schengen kami bersama ke Polandia.Di Jablonna tempat kami menjalani peran sebagai suami -istri. Abu Aisha masih tetap bekerja di Norwegia.Sebelum menikah pun Abu Aisha sudah bekerja di Norwegia. Kenapa tidak pindah saja di Norwegia ?. Ini bukan Indonesia yang berbeda pulau jadi kalau mau pindah ya tinggal angkut koper. Ini Polandia-Norwegia. Beda negara , beda kebijakan .

 

Untuk menikah pun kami diharuskan untuk membawa surat keterangan . Saudara mau tahu apa isi surat keterangan itu ? . Isi surat keterangan ini menyatakan bahwa saya berstatus single alias jomblowati dan tidak ada paksaan menikah dengan Abu Aisha .Subhanallah surat keterangan macam apapula itu maaaaak !.Saya tegaskan kepada Pani / Pan saya berstatus menikah dan sekarang tengah mengandung!.Astagfirullah semua keterangan kami tidaklah diterima. Kami disuruh ke kedutaan Indonesia di Warsawa untuk meminta surat keterangan sudah menikah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Polandia oleh penerjemah dari kedutaan untuk membuktikan bahwa kami telah menikah di Indonesia.

 

Sampailah pada saat pemeriksaan dokumen berupa pasport , KTP , akte kelahiran dan buku nikah. Dan karena satu huruf yang salah ketik rusaklah semua rencana kami. Ternyata nama yang tertera di pasport dan akte kelahiran saya berbeda.Subhanallah Maaaak !. Jangan salahkan saya yang membawa dokumen tapi salahkan petugas di Indonesia yang salah mengetik.Dalam hati saya juga mengaku salah, mengapa saat di Indonesia tidak saya teliti. Semuanya sudah terlambat.Air sudah sampai di tenggorakan. Saya harus minum air di Warsawa.Haus mikirin nasib asuransi saya yang menggantung.Terserah dari kedutaan. Maka di usulkan saja menikah lagi di Polandia. Agar data saya hanya memakai satu sumber yaitu akte kelahiran.Disini dokumen berupa ijazah tidak di akui. Jadi saya sekolah dari SD sampai Universitas tak berarti. Subhanallah Baaaang !. Pulangkan saja saya ke Indonesia.

 

Seorang wanita Polandia yang bekerja di bagian resepsionist memanggil saya untuk menandatangani surat keterangan dan meminta saya menulis surat pernyataan yang menyatakan bahwa saya secara pribadi , tidak ada paksaan menikah dengan Abu Aisha.Ha!. Wanita Polandia ini memanggil saya ” mbak ” . Bahasa Indonesianya saya kasih seluruh jempol saya :). Subhanallah fasih sekali dia bicara bahasa Indonesia yang terdengar di telinga saya seperti logat Jakarta .Ah , saya jadi malu kok saya gak bisa- bisa bicara bahasa Polandia. Jawaban saya ke setiap orang . Maklum new comer.

 

 

Asuransi yang Abu Aisha pakai berasal dari Norwegia bukan Polandia.Karena memang selama ini Abu Aisha sehari-harinya di Norwegia.Kalau calon suami anda warga negara asing pastikan semua dokumen sebelum menikah lengkap tanpa berbeda satu huruf pun. Titik koma harus diperhatikan.Salah sedikit bisa buat anda sengsara di negeri orang.Dan yang paling penting satu keyakinan supaya hati anda damai, tak ada rasa khawitir. Subhanallah maaaaak.Nasi sudah menjadi bubur. Jadi tak bisa lagi anda sesali , ya sudahlah bismillah ayo kita makan bubur ayam. Keburu dingin Bang :).

 

to be continued……

Ini bukan Polandia .Ini Norwegia

Ini bukan Polandia .Ini Norwegia

Ummu Aisha :).

Ummu Aisha :).

musim dingin ke musim semi :)

musim dingin ke musim semi 🙂

Norwegia

Norwegia
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , | 2 Comments


Mesjid Warsawa tempat kami melepas rindu

 

Mesjid Warsawa terletak di Wilanów ulicy Wiertniczej 103 Warsawa. Dulunya adalah villa yang kemudian dibeli dan direnovasi serta di ubah fungsi menjadi mesjid ( lihat foto ). Catatlah alamat ini dengan jelas karena kau tidak pernah tahu kapan mimpi menguatkanmu dan doamu di terima di langit .Kala takdir membawa langkahmu ke Eropa . Kau harus datang ke Warsawa. Ke Mesjid ini . Tempat yang paling baik yang harus kau kunjungi sebelum matamu terpesona dengan keindahan Warsawa.

 

Warsawa mungkin tidak sepopuler Istambul di Turki , Paris di Prancis , Roma di Itali, kota London di Inggris atau sefamiliar Oslo di Norwegia dan beberapa kota terkenal di Eropa yang menjadi tujuan para turis.Tapi bagi saya Warsawa punya cerita, punya sejarah yang tidak akan pernah saya lupa dari ingatan. ( baca kisah lengkap dalam catatan ” Menginap di Warsawa Jilid I , II, dan Jilid III ) .

 

Warsawa itu ibu kota Polandia. Iya benar. Tapi anda tak bisa membandingkan Warsawa dengan ibu kota negara kita Jakarta. Sedikit memiliki persamaan tapi sangat jauh berbeda. Warsawa memiliki bangunan – bangunan besar bergaya arsitektur jaman dulu , ada juga gedung – gedung besar seperti di Jakarta tapi tidak se-arogan Jakarta.Tertata rapi disepanjang pemandangan khas ibu kota. Saya dan Abu Aisha sering ke Warsawa. Seperti kunjungan rutin 🙂 . Beli beras dan bahan makanan ala Indonesia ada di Warsawa, urusan izin tinggal harus ke Warsawa ( insha Allah selengkapnya dalam catatan ” Kantor Imigrasi Dwüga , Saya Siap Di Wawancara ” ), mengunjungi kedutaan Indonesia kaki kami haruslah melangkah ke Warsawa . Jika ingin melepas rindu dengan sesama warga Indonesia di Polandia kami tak boleh lupa Warsawa ( Insha Allah tergambar dalam catatan ” Idul Fitri Tampa Ketupat” ) .

 

Warsawa bagai gadis cantik yang menggoda iman.Warsawa memang cantik , tidak di polespun kota ini telah mempesona.Merayu setiap yang datang agar berlama-lama duduk di taman kota , kala bunga -bunga penuh warna menggoda ingin mendekat ( lihat pada gambar bunga-bunga di Szkolka Krzewöw Ozdobbnych ) .Ingin anda tinggal selamanya.Tapi anda harus ingat bahwa anda hanya sebentar disini.Seindah apapun Warsawa anda harus pulang ke rumah , atau kala anda bingung di perjalanan datanglah ke mesjid Warsawa.Agar anda dapat bertemu dengan berbagai saudara seiman yang bisa menasihatimu saat kau terlena dengan keindahan yang fana.

 

Kalau anda menyusuri Warsawa, di Centrum ada trambway ( semacam bus listrik ) , saat anda turun dari trambway mata anda akan menoleh pada seorang pemuda tampan bermata biru yang memainkan biolanya dengan sepenuh hati mengharap setiap recehan zloty.Ini sedikit gambaran di musim panas. Saya tak perlu menggambarkan bagaimana gadis – gadis Polandia berambut pirang berumur belasan tahun dengan penuh aksesoris tertawa riang di sepanjang jalan.Subhanallah……, kalau anda belum menikah saya khawatir anda tergoda di Warsawa kala anda datang sendiri.

 

Sebelum kakimu melangkah ke mesjid di kala musim gugur datang , maka di sepanjang jalan yang kau lewati akan kau saksikan lukisan alam yang tidak pernah berubah di sepanjang musim gugur .Daun-daun yang berubah menjadi kekuningan, sebagian bahkan berwarna orange, dan merah yang teduh . Semuanya serempak tunduk pada hukum Allah .Berguguran .Jatuh ke tanah sebagaimana tempat terbaik makhluk harus kembali.Tidak ada kesedihan , tidak juga rasa kecewa bahwa pemandangan ini akan selamanya di sini .Nanti akan tiba masa di mana seluruh daun-daun yang berserakan di tanah tidak akan dibiarkan sendiri. Salju akan turun menyelimutinya .Begitulah hikmah yang saya ambil di setiap perjalanan ke mesjidWarsawa.Tidakkah kau ingat akan firman Allah SWT : ” Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. al-An’aam [6] : 59)

 

Saya tidak akan selamanya muntah -muntah.Begitulah saya menghibur diri di sepanjangan perjalanan. Di musim ini Aisha Pisarzewska Putri Sang Perantau terlahir .Musim gugur yang bersejarah.Musim yang Allah pilih untuk saya menjalani peran sebagai seorang ibu. Sekolah pertama tempat anak-anak seharusnya di didik.Jalan ini tidak mudah tapi Allah Tuhan Semesta Alam tak akan membiarkan hambanya tersesat kala doa selalu di panjatkan .Bukankah sugar itu di telapak kaki ibu ? . Iya , tapi sebelum kita menjadi benar – benar seorang ibu ada proses yang bernama kehidupan . Tempat kita di uji , di didik , dilatih dan pada akhirnya kita harus berserah diri kepada Yang Maha Memiliki . Agar kau memahami rahim yang luka tidaklah sia -sia.

 

Saya sudah menceritakan tentang dua musim yang terlewati.Musim dingin berwarna putih suci dan langit yang berwarna abu -abu. Dan musim semi yang mengulurkan harapan bahwa kesedihan akan berubah menjadi tawa , kesabaran akan berbuah pahala dan mimpi – mimpi akan menjadi kenyataan . Begitulah yang terlihat pada pepohonan yang menghijau, tanah -tanah yang basah oleh rahmat dari langit. Hujan telah membasahi bumi . Di Warsawa semuanya telah terlukis dengan baik.

 

Kalau anda tidak suka dengan keramain kota Warsawa . Mari saya ajak anda menyusuri sisi – sisi Warsawa .Beginilah saya dan Abu Aisha menghibur diri , kami tidak hendak menghapus luka . Karena kami tidak pernah terluka, kami hanya sedikit lelah di perjalanan . Sebagai suami -istri dengan perbedaan budaya yang cukup jauh kadang kami tak sepaham , tapi kami belajar bahwa Allah telah menyatukan kami untuk menyusuri perjalanan hidup bersama.

 

Ketika salah satu diantara kami hendak menyerah, ada tangan yang siap merangkul. Ketika gelas jatuh dan pecah . Tidak seharusnya kita menjadi marah . Kita bisa membeli yang baru atau membuangnya di tempat sampah . Tapi saat lisan kita saling menghujat. Subhanallah kala itu hati kita akan menjauh .Ruangan rumah akan terasa sempit. Dan kata cinta yang sering kita puja lenyap tak terbukti . Kami meletakkan Allah di hati kami . Tempat seharusnya cinta sejati di beri.Bukankah jantung kita hanya satu ?.Kepada Allah Tuhan Yang Maha Memiliki Hidup Dan Mati . Setiap helaan nafas yang terhembus di perjalanan kehidupan harus kau syukuri.Beginilah cara saya dan Abu Aisha memandang cinta.

 

Anda harus menikah. Saat takdir membawa anda bersama ke Warsawa . Lupakan tentang Centrum barang sejenak .Ada keindahan lain di Warsawa.Ogröd Botaniczny tempat semua bunga alam berada.Jika anda bosan berjalanlah beberapa langkah akan terlihat dengan jelas papan nama dengan tulisan “ Royal Łazienki” . Disini akan kau temui museum yang di penuhi dengan lukisan bergambar raja -raja Polandia, patung-patung besar di setiap bangunan kastil. Kami tidak mengagumi ini . Ada taman indah yang ditengahnya miniatur air terjun di bangun. Burung-burung yang mendekat tampa ketakutan.Sesekali saya melempar beberapa roti kering ke arah angsa putih , melupakan kegugupan saya dan mulai bersyukur.Abu Aisha memandang bahagia. Sudah lama memang saya tidak seceria , tersenyum lepas , dan bersemangat seperti di awal tahun pertama kami menikah.

 

Mengapa saya melukiskan Warsawa pada anda ? . Agar anda tidak sepolos saya saat pertama kali berada di Warsawa. Agar anda tahu tempat pertama yang harus anda tuju kala berada di Warsawa. Saya sudah pernah menyarankan pada anda jangan datang di Polandia pada musim panas. Kalau anda ingin damai di hati datanglah pada awal musim gugur ( insha Allah akan saya ceritakan dalam catatan ” Musim gugur di akhir perjalanan ” ).

 

Mesjid Warsawa memanglah kecil , tapi mesjid ini menjadi sejarah awal perjalanan para mualaf Polandia dimulai. Bersyahadat dan kemudian mengawali perjalanan hidup sebagai seorang muslim.

 

 

To be continued……..

Tampak samping mesjid

Tampak samping mesjid

Tampak dalam mesjid Warsawa

Tampak dalam mesjid Warsawa

Szkolka Krzewøw Ozdobbnych( dalam taman ) gak bisa ambil foto karena saya sudah muntah - muntah maaaak :)

Szkolka Krzewøw Ozdobbnych( dalam taman ) gak bisa ambil foto karena saya sudah muntah – muntah maaaak 🙂

Tampak depan mesjid

Tampak depan mesjid

Ummu Aisha dan Aisha di dalam mesjid Warsawa

Ummu Aisha dan Aisha di dalam mesjid Warsawa

Tampak depan Royal Wajienki

Tampak depan Royal Wajienki

Syeik Nizzar . Imam mesjid Warsawa

Syeik Nizzar . Imam mesjid Warsawa
 
Categories: Uncategorized | Tags: , , , | Leave a comment

Izin Cuti Telah Selesai


Mimpi saya tentang keinginan pulang selalu menggoda di angan .Ingin saya paksakan hasrat saya ini kepada Abu Aisha .Apalagi izin cuti Abu Aisha sudah berakhir . Syaitan hendak menipu saya dengan angan – angan bahwa jika saya pulang dan melahirkan di kampung halaman semuanya akan baik -baik saja.Alhamdulillah betapa pentingnya memiliki ilmu .Walau sedikit yang diingat namun akan menjadi cahaya untuk meneguhkan iman kita di perjalanan kehidupan. Bukankah Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllahu wa maa syaa’a fa’ala, Allah telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim).

 

Mengapa saya tidak mengingat cinta ?. Kata ini terlalu manis untuk disandingkan dengan realita yang hadir di antara kami. Saya tetap ingin pulang. Dari hari ke hari keinginan ini semakin tak terbendung. Apalagi setelah cuti Abu Aisha berakhir. Saya semakin dilanda kekhawatiran. Saya belum benar – benar sembuh.Berjalan pun saya masih tertatih . Siapa yang akan membantu saya kalau ada hal yang tak terduga terjadi . Pada siapa saya hendak meminta tolong. Mertua saya tinggal agak jauh dari apartemen kami . Jaraknya seperti dari Depok ke Jakarta.Perlu waktu untuk sampai ke apartemen kami.Saat Abu Aisha pulang dari sholat jumat saya sudah menyiapkan kalimat – kalimat penjelasan untuk meyakinkan Abu Aisha bahwa sebaiknya saya melahirkan saja di Indonesia .Dan waktu itu pun tiba.

 

Dengan air mata yang hampir tumpah.Saya duduk di samping Abu Aisha hendak menyatakan angan-angan saya.Suara saya mendadak hilang .Keberanian saya runtuh. Kalimat -kalimat panjang yang sudah saya persiapkan dari tadi buyar entah kemana.Saya terkejut dengan pernyataan Abu Aisha. ” Insha Allah saya bekerja di musim panas ini buat tabungan supaya kita bisa ke Indonesia, tapi kita harus berkonsultasi dulu dengan dokter Kataryna , kau dibolehkan terbang dengan kondisi kehamilan seperti ini atau tidak ( muntah-muntah ) “, Ujar Abu Aisha . Ini bukan novel saudara ! Ini kisah perjalanan kami.

 

 

Mengapa saya selalu menyebut kata ini disetiap cerita.Ingin pulang. Kalau ada yang pernah tinggal jauh dari keluarga . Pergi merantau , baik karena studi maupun ikut suami ataupun alasan pekerjaan . Tentu sudah bisa menggambarkan rasa, sekuat apa mereka bisa bertahan di negeri orang.Terlepas dari perjalanan merantau itu akan memberikan warna, pada akhirnya akan mengajarkan tanggung jawab sekaligus kemandirian yang tidak bisa di dapat oleh orang – orang yang menyukai kenyamanan rumah di tanah air.Takdir membawa saya kesini .Di negeri yang banyak orang dari negeri saya terkagum – kagum. Subhanallah begitulah sifat manusia. Rumput tetangga memang terlihat jauh lebih hijau.

 

Musim semi telah berlalu diganti dengan musim panas yang selalu dinanti. Bunga – bunga yang mekar , bersanding asri dan bersih di taman kota Jablonna.Beberapa pohon apel di perumahan warga Polandia sudah berbuah lebat. Jatuh berhamburan tak ada yang peduli. Ah…,alangkah mubajir ! .Ujar saya dalam hati. Kalau di kampung halaman mungkin sudah tak tersisa. Ingatan saya melangkah ke masa kanak – kanak saya di Maluku . Beta rindu pulang …..Ucapan hati saya dalam dialeg Ambon . Pantai Natsepa , pulau Pombo ( pulau kecil yang terpisah dan terapung di laut kepulaun Haruku tepatnya berada di desa Kailolo ) dan semua keindahan surga tanah kelahiran saya tergambar di mata . Pasir putih terhampar luas dan tawa riang masyarakat yang bebas , lepas . Mata saya berkaca – kaca .Bagaimana saya melepas rindu ?.

 

Alangkah indahnya Polandia . Bangunan ber asistektur unik dan bersejarah.Taman – taman kota yang tertata apik mempesona.Gereja – gereja tua yang berkuba seperti layaknya banyak mesjid di Indonesia. Tapi ini Polandia. Negeri dengan jumlah penduduk penganut katolik terbanyak.Dibandingkan dengan negara Eropa lainnya Polandia adalah negara Eropa dengan statistik jumlah muslim yang sedikit.( insha Allah akan saya ceritakan dalam catatan Ramadan di Jablonna ) .

 

Mengapa saya tidak melupakan saja kerinduan saya dan hidup bahagia ?. Indonesia itu negeri saya .Selamanya terpatri di hati . Mengalir dalam darah .Kini saya memendam rindu setelah jauh dirantau . Begitulah manusia .Saat ada tidak disyukuri ketika telah menjauh ,hanya kepedihan yang tersisa di kalbu.Akan saya ceritakan pada calon anak kami . Agar dia tidak lupa dari mana mamanya berasal. Aisha Pisarzewska inilah putri kami.muslimah kecil dengan dua perpaduan darah dan benua , tapi menyatu dalam satu keyakinan orang tuanya.Kami satu-satunya keluarga muslim kecil di Jablonna .

 

 

Saya sudah bisa berjalan tapi belum berani keluar rumah.Memasak saya belum bisa. Lagi – lagi indra penciuman saya bekerja lebih dari batas normal. Saya tidak bisa mencium bau kopi ( yang belum baca kembali ke catatan sebelumnya ^_^ tentang Anti Aroma kopi ).Bau dari dapur pun saya hindari.Jika saya berani ke dapur maka tamatlah kenyamanan hidup saya hari ini .Subhanallah…. Maaaaak , hamil macam apa ini ? 😀 Kata Abu Aisha saya punya dua hidung. Tak ayal Abu Aisha pernah kena marah saat berbaring di dekat saya .” Abang….., kau belum mandi ya ?” . Tanya saya pada Abu Aisha .Suami saya sudah banyak sekali jadi korban praduga saya 😀 . Lagi – lagi alasannya bawaan orok ini mah .

 

Alhamdulillah satu persatu fasilitas di rumah kami mulai terpasang.Mesin cuci piring sudah diinstal. Abu Aisha sudah bosan nyupir alias nyuci piring :D. Saya masih tetap nyonya rumah.Walaupun begitu saya harus bersiap -siap ditinggal karena izin cuti Abu Aisha selesai. Jaringan internet sudah dipasang.Alhamdulillah akhirnya saya bisa kembali ke dunia 🙂 . Memang selama ini kemana aja nona manis? 🙂 .Rumah sakit di Warsawa dan apartemen di Jablona. Itu tempat saya .

 

Dua hari sebelum Abu Aisha berangkat kerja ke Norwegia.Saya diajak jalan- jalan kelilingJablonna dan singgah di apartemen mertua saya di Legionowo. Kami duduk di taman kota yang sudah mulai direnovasi menyambut Piala Euro 2012.Saya sedikit gugup melihat orang yang berlalu lalang. Sesekali mereka menoleh ke arah kami .Anak-anak remaja memandang saya ketika melewati taman itu.Mungkin karena sudah lama saya tidak melihat keramaian atau karena pengaruh lamanya saya terisolasi di rumah sakit dan apartemen.Wah berarti Pani Pisarzewska sudah tidak muntah ya?.Oh , jangan salah. Tas kresek teman setia menemani . Letaknya tersembunyi di samping tempat duduk kami :). Mata kami serempak menangkap sosok sepasang remaja Polandia di depan kami. Tanpa malu – malu ataupun risih , mereka berciuman . Astagfirullah 😦 . Pemandangan macam apa ini?.Ya beginilah Eropa. Negeri yang di puja-puji oleh orang – orang di tanah air.

 

Musim panas ini indah tapi mata saya masih tidak sanggup melihat realita. Saya berada di Eropa. Ini di Polandia.Gadis-gadis cantik dengan pakaian minim bahkan ada yang hanya ( maaf ) memaki bra saja terlihat berlalu -lalang di depan kami.Abu Aisha mengingatkan saya agar jangan memandang ataupun menoleh ke arah mereka.Fitnah itu di depan mata. Ya Allah……Bumi yang mana tempat kami memupuk iman dan Islam? . Ramadan sudah di mata . Saya masih di Jablonna . Abu Aisha kembali bekerja.

 

To be continued….,,,,,,,

 

Categories: Uncategorized | Tags: , , , | Leave a comment

Mengenang Masa ” Memoar Aisha Pisarzewska Putri Sang Perantau “


  Alhamdulillah Aisha sudah tidur pulas setelah seharian membantu saya belajar baking ditemani salju hari ini yang turun dengan deras:).Jadi mari kita lanjutan mendongeng sebelum tidur :).

  Saat berada di dalam Ambulance kesadaran saya perlahan-lahan mulai muncul .Malu juga kalau kelamaan pingsannya :).Di dalam ambulance , saya yang terbaring tak berdaya dengan seragam lengkap khas musim dingin ;jaket tebal, sepatu boot ,sarung tangan, dan tak lupa syal walaupun sudah memakai kerudung ,kalau suhu minus syal adalah alat bantu fashion yang berguna.Dalam ambulance ada satu wanita Polandia, dua pria Polandia ( salah satunya Abu Aisha ) dan saya yang masih berbaring dengan sekujur tubuh penuh memar.Saat mata saya berhadapan dengan wanita Polandia itu pertanyaan yang muncul adalah “Pani mowie po polsku ? saya jawab ” Nie tyilko angielsku ” .Gimana mau bahasa Polandia kalau pas awal-awal belajar saya sebagai new comer ( alasan mode on 🙂 diprotes terus mengenai pengucapan huruf z, w,o yang pakai aksesoris.Baiklah mari kita lanjutkan kepada topik ini saja .

  Petugas ambulance terlihat bercakap-cakap dengan Abu Aisha .Walaupun saya belum lancar berbicara bahasa Polandia tapi alhamdulillah saya sudah bisa paham percakapan sehari-hari ( prinsip insting alam , kalau mau survive di negeri orang harus bisa memahami bahasa setempat nah prinsip ini yang saya tanamkan dalam diri saya sebagai orang perantau ).Percakapan mereka adalah seputar tanya jawab yang kalau diterjemahin bebas kurang lebih seperti ini;

 Wanita Polandia : ini istrimu ? ( pertanyaan macam apa ini 😐 ,ya iyalah saya istrinya masa adik                                                      apalagi teman gak ada miripnya )

 Abu Aisha : iya istri saya ( sambil wajah menampakan wajah tenang tapi ada rasa khawatir .Istrinya hamil tapi gak tahu. status kami saat itu masih sama-sama berjiwa muda hehe )

Wanita Polandia : istri anda sudah hamil berapa minggu? sebaiknya jangan di ajak jalan-jalan saat cuaca dingin seperti ini khawatirnya dia belum bisa beradaptasi dengan iklim Polandia ( sambil senyum-senyum ke arah saya ),apakah dia berasal dari Libya ?

  Haa?,masa wajah saya yang ke-Indonesian ini di kira berasal dari Libya .Tidak apa-apa mungkin karena saya memakai kerudung panjang dan saat itu lagi hangat-hangatnya berita tentang Libya.

  Saya terkejut sekaligus bingung .Terkejut karena dibilang hamil ( masih tidak sadar .SubhanAllah saya tidak ada feeling ataupun pemahaman mengenai gejala wanita hamil) dan bingung karena dikira berasal dari Libya.Abu Aisha yang memberi penjelasan kalau saya berasal dari Indonesia itupun masih tidak tahu letak Indonesia (Alhamdulillah dalam hati ,saya bangga juga sebagai produk pendidikan Indonesia 🙂 pelajaran geografinya masih nyangkut kuat dalam otak).Abu Aisha dengan semangat memperkenalkan negeri istrinya Indonesia tercinta sampai nanya balik,kau tahu letak Malaysia? nah itu negara tetangga Indonesia “.Setelah percakapan diatas ( cuman ini yang saya ingat jadi saya tulis 😀 ) saya minta sama Abu Aisha kalau saya dipulangkan saja ke apartmen kami di Jablonna dan tidak mau menginap di Rumah Sakit di Warsawa.

 Setelah kejadian jatuh dari Bus.Alhamdulillah ada hikmanya juga.Abu Aisha jadi lebih mawas diri tapi tetap kami berdua masih BELUM SADAR kalau saya sudah HAMIL.Jadi Percakapan kami ialah mendiskusikan untuk memilih dokter keluarga ( di Polandia sejak awal sudah harus memilih dokter keluarga karena nantinya dari dokter keluarga akan diberi rujukan seandainya butuh penanganan perawatan medis yang lain ).Alhamdulillah hari telah tiba untuk mengunjungi dokter dan kebetulan dekat rumah mertua ( babcia-nya Aisha ) .Saat bertemu dokter saya tidak di USG karena memang bukan dokter Ginekolog.Saya cuman ditanya dan di raba ( dokternya perempuan ya ) mengenai siklus menstruasi dan lain-lain.Saya di kasih vitamin dan Abu Aisha diminta membawa saya ke Ginekolog untuk memastikan apakah saya hamil atau karena adaptasi dengan suhu dingin di Polandia.

   Kami singgah di rumah mertua, karena melihat tingkah saya yang rada aneh plus tangan saya ada luka goresan bekas insiden kemarin dan jalan agak pincang akhirnya Abu Aisha diwancacarai dan sekaligus diceramahin karena tidak menjaga saya dengan baik 😦 .Saya sedih bukan karena jatuh tapi cuman khawatir kalau benar-benar hamil mudah-mudahan Allah senantiasa menjaga calon anak kami.Alhamdulillah tidak berhenti bersyukur saat memandang wajah Aisha saat ini yang lagi tidur .Saya dan Abu Aisha kadang kalau melihat Aisha hanya bisa mengucapkan Laa Haula Wala Quata Illah Billah.

 Klinik Ginekolog yang dokter rekomendasikan buat kami jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal kami .Untuk kesana ya harus ber-Bus ria lagi ditengah tumpukan salju yang turun dengan deras.Bus yang kami ambil ternyata tidak berhenti di klinik jadi harus jalan beberapa kilo meter lagi.Ya Allah tulang-tulang sudah menggigil kedinginan saat itu suhu udara – 15 sampai-17 .Lengkap sudah perjuangan kami.Kami berdua saat itu seperti anak hilang yang mencoba menemukan arah jalan.Dan ternyata……….kliniknya sudah dilewati akhirnya balik lagi :(Ya Allah sambil berpegangan dan berjalan dengan penuh kehati-hatian ( takut nyungsep dalam tumpukan salju ) akhirnya sampailah kami ke………” Klinik Ginekolog dr.Kataryna Stor”.Setelah pemeriksaan akhirnya keluarlah hasil pasti Alhamdulillah   S.. .A…Y…A.. H.A.M.I.L

  Apakah saya hamil? Alhamdulillah saya hamil dengan riwayat menginap di Rumah Sakit 3 kali,rawat jalan sampai umur kandungan 4 bulan ,muntah terus menerus sampai hari lahir,apakah ada informasi lanjutan? insha Allah nanti saya ceritakan kisah saya menginap di Rumah Sakit Polandia 🙂

To be continue…..

Catatan :

Pani mowie po polsku ? ( baca Pani muvi po polsku ) ibu,nyonya,madam bisa bicara bahasa Polandia ? “

Babcia ( baca babca ) nenek dalam bahasa Polandia.

Categories: Uncategorized | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: