Posts Tagged With: Perjalanan

Berbagi Sampai Ke Negeri Sang Paulus,Polandia


hum-lomba-blog-1 (1)
Allah Ta’ala berfirman : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji,. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui”. (Q.S.Al Baqarah: 261)
 
 
****
 

          SHARING BRINGS HAPPINESS 

 
Saya, Raidah Athirah .Ini kisah perjalanan hidup  yang ingin saya bagi kepada saudara di tanah air.Kaki saya menapak disini tapi semangat menjadi relawan terlahir pertama kali di ibu pertiwi .Hari ini saya bergabung dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tujuan, berbagi .Ada kegiatan setiap hari minggu untuk membagikan makanan atau pakaian layak pakai di sekitaran Warsawa , ibu kota Polandia.Banyak diantara wajah-wajah itu orang-orang yang mengungsi dari negara tetangga Ukraina akibat kemelut perang,para homeless dan juga  pengemis.
1513409753404
Saya adalah salah satu kaki diantara relawan ini.Bersama teman-teman dari India dan beberapa sahabat orang Polandia setiap hari minggu kami berkumpul di sini , di pusat kota Warsawa.Inilah jalan #MembentangKebaikan .Bagi kami setiap bulan adalah #BulanKemanusiaan.Setiap diri bisa menjadi #HeroJamanNow
1513409552654.jpg
Tiga belas tahun yang lalu  awal takdir mempertemukan saya dengan kaki ringkih yang tumbuh di keramaian jalanan kota kembang, Bandung .Lebih tepatnya anak-anak kuat yang hidup di sepanjang jalan Asia-Afrika ,di bawah jembatan yang menghubungkan sungai Citarum ke Masjid Raya .
Di tahun yang sama ,saya juga bekerja sebagai guru TK dengan bayaran dari mulai Rp 75.000 sampai meningkat menjadi Rp 150.000 .Semua saya niatkan untuk belajar dan menimbah pengalaman.
Sebagai seorang yang pernah hidup dalam pengungsian saya diajarkan akan satu prinsip bahwa berbagi menjadikan hati  kaya dan berarti .Saya percaya hanya orang-orang yang berhati kaya yang mengerti makna berbagi.
Sekalipun hidup serba pas-pasan niat yang ada dalam  diri hanya ingin belajar arti kehidupan dengan  tersambung bersama anak-anak yang besar di keramaian perjalanan.
Saya tinggal di Cimahi ,mengajar TK dari jam tujuh sampai jam sepuluh pagi .Pada pukul satu siang saya akan menaiki kereta ekonomi yang padat menuju Bandung kota .Tak ada yang meminta saya.Tak ada yang menyuruh saya .Saya bergerak karena saya tahu ada hal yang bisa saya berikan bukan hanya  tentang uang  tetapi tentang peradaban yakni mengajarkan mereka baca tulis.
Saya mendudukkan diri saya diantara mereka sebagai seorang kakak.Saya tidak bisa memberi mereka uang karena mereka sendiri telah terbiasa mendapatkan uang di jalanan.
Bukankah berbagi tidak selamanya tentang uang ?
Saya berharap setidaknya dengan  mengajarkan mereka baca tulis ada setitik harapan kepada mereka  memandang dunia dan segala pernak-perniknya.
Setiap datang gajian ,saya akan mampir ke tempat kumuh dengan bau pesing yang menyengat.Memang apa yang saya berikan tak begitu berharga.Hanya buku tulis murah , pulpen,dan pensil disertai buku buku menggambar sisa yang saya bawa dari TK yang sudah dibuang.
Saya berharap kepada Allah ,Tuhan Yang Maha Rahman meridhoi apa yang saya lakukan.Saya merelakan diri sendirian kemudian seorang sahabat saya ikut bergabung untuk mengajar mereka.
Dalam masa kuliah di Pasundan pun saya meluangkan waktu mengunjungi mereka selepas mata kuliah selesai.Tak ada yang mengetahui aktivitas yang saya lakukan . Berbagi tanpa  nama,tanpa dukungan dan tanpa keramaian.Begitu terus sampai nadi saya menyatu dengan kehidupan jalanan yang keras tapi penuh ketulusan.
Di jalanan pula saya belajar banyak hal termasuk membeli buku-buku bekas yang bisa saya baca dan pada akhirnya saya memberanikan diri mengajar bahasa Inggris kepada adik kelas agar bisa menunjang  kehidupan ekonomi saya yang pas-pasan.
” Teteh…,nggak apa-apa beliin kami buku tulis ? Teteh jangan repot-repot ! Teteh ngajarin kami aja udah Alhamdulillah ,” ucap anak jalanan bernama Ima yang sudah memasuki usia SMP.
Saya merindukan mereka ,merindukan adik-adik yang telah menjadi jalan bagi saya  hari ini menjejak di negeri Sang Paulus,Polandia.
Ingatan saya belumlah kering.Pernah datang masa kepada saya dimana seorang adik asuh yatim ingin sekali kembali ke desa menengok neneknya yang sudah sepuh .Ia ingin meminjam uang sebesar seratus ribu rupiah.Bagi saya di masa itu, uang   itu adalah angka yang sangat besar.Saya ingin mewujudkan mimpi itu tapi saya juga sangat terbatas untuk membantu.Saya benar-benar tak memiliki daya.
Dalam gerimis di sepanjang jalan Braga ,hati  mengadu kepada Allah ,Tuhan Yang Maha Kaya. Saya ingin sekali mewujudkan mimpi itu.Air dari langit menjadi saksi doa dalam sunyi yang penuh harap.
Saya menceritakan ini bukan untuk siapa-siapa.Bukan pula dipandang bak pahlawan.Kisah  ini saya  ceritakan  kembali untuk mengingat hati  yang rapuh . Mengingatkan hati saya bahwa betapa banyak nikmat yang saya dapatkan ketika saya berbagi.Sedikit sekali yang saya bagi.Demi Allah, sedikit sekali !
Bulan demi bulan berlalu.Ikhtiar ini biarlah langit yang menilai .Amat  sangat keras. Dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas karena saya juga bekerja untuk membiayai kuliah jadilah saya mencari donatur dengan menggunakan kemampuan saya dalam membuat laporan keuangan .
Saya pernah membuat proposal dan mengajukan ke beberapa instansi kota tapi kenyataan tak semudah dikata ,ada prosedur ,ada masa menunggu tanpa kepastian.Bulan berlalu dan tak ada dana yang cair.
Saya menghapus air mata dalam masa menunggu kereta api saat kembali ke  Cimahi . Bening-bening tanda  ketidak berdayaan . Adik-adik saya tidaklah menuntut tapi saya selalu memegang apa yang saya pernah janjikan.
Berselancarlah saya ke dunia maya.Mengirim random proposal keuangan kepada beberapa email yang saya dapatkan di internet.Hanya berbekal niat berikhtiar .Kepasrahan sudah tertanam dalam hati,harapan ini saya gantungkan ke langit.
Ketika bulan suci Ramadhan tiba ,saya semakin dilanda gelisah.Tidak mudah meyakinkan siapa saja untuk ikut berbagi.Segala puji bagi Allah , satu keluarga Pakistan mengirimkan uang dalam jumlah yang sangat besar untuk ukuran saya saat itu yakni satu juta rupiah .
Ketika saya menerima uang itu saya tersedu-sedu.Saya bergegas menuju alun-alun kota Bandung, memberikan kepada mereka rezeki yang saya dapatkan.Saya semakin yakin bahwa Allah Maha Melihat ,Dia Tuhan Yang Maha Kuasa .Terkadang sebagian teman-teman kuliah  heran dengan langkah saya yang selalu menuju  alun-alun kota.
Tahun berlalu , keadaan ekonomi saya semakin membaik dengan banyaknya panggilan mengajar privat .Tawa adik-adik di jalanan menjadi semangat luar biasa bagi saya untuk belajar dan bekerja.Saya bahkan lupa dengan masalah saya sendiri.
Waktu berqurban datang dan jaminan Allah bahwa  Dia akan menolong orang-orang yang sabar dan yakin, benar adanya.Sebuah email datang kepada saya dari seorang yang sangat jauh.Jauh sekali .Jauh dari angan-angan masa kecil dan mimpi .
Seseorang dari tanah Eropa menghubungi saya .Beliau bersedia menjadi donatur  untuk program Qurban dan berlanjut untuk anak -anak Yatim di Cimahi .
Proposal yang saya kirimkan satu minggu yang lalu ternyata telah sampai kepada beliau.Dalam email balasan itu beliau menginformasikan perihal uang untuk anak-anak jalanan,uang Qurban dan anak-anak yatim.
Sempat muncul rasa khawatir ,mungkin saja ini hanya penipuan..Allah Tala pertemukan dengan jalan kebaikan.
Ketika saya mengecek akun saya di Bank BNI ada perasaan tak percaya ada yang berani mengirimkan uang dalam jumlah yang banyak hanya berdasarkan kepercayaan.Saya mengirimkan email balasan dengan melampirkan laporan keuangan penggunaan dana yang beliau berikan.
Janji saya kepada adik asuh tertunaikan.Saya dengan ikhtiar sederhana mempertemukannya dengan keluarga yang sudah lama tak jumpa.Neneknya yang tinggal di pelosok desa Jawa Barat akhirnya bisa bertemu dengan cucu yang beliau ingat masih berwajah bayi baru lahir.Bahagia apa yang bisa seperti ini ?
****
Dengan jalan demikianlah Allah Yang Maha Memasangkan memperjalankan takdir . Setelah acara Qurban selesai saya dilamar oleh Sang Donatur , seorang mualaf dari keluarga Katolik dan Yahudi di Polandia.Betapa Allah Maha Besar membolak-balikkan keadaan.Di negeri ini pula saya masih menyimpan cita-cita bahwa suatu hari kelak hidup ini berarti bagi negeri .
Hari ini kaki saya menjejak bukanlah atas kebaikan saya melainkan  yakin Allah Ta’ala menjawab doa-doa orang yang tulus.
Apa yang hendak saya ceritakan lagi? Tidak ada ! Saudara harus menyadari ini dan menanamkan dalam diri bahwa berbagilah niscaya hati akan merasakan bahagia.Berbagi tidak perlu menunggu kaya .Berbagi tidak perlu menunggu .Lakukan saja ,niatkan bersama langit bahwa hidup ingin merasakan bahagia.
FB_IMG_1513435351559.jpg
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Sepiring Nasi Bernilai Kesopanan


Sepiring Nasi Bernilai Kesopanan

Oleh : Raidah Athirah

Serial Memoar Sang Anak Pengungsi .Sebab Hidup Adalah Perjalanan

***
Selalu setiap saat , manakala aku menyiapkan sepiring nasi kepada Abu Aisha , kenangan peristiwa silam selalu datang.Nasi yang menjadi saksi tentang perjalanan melintas masa dari ujung senja Maluku , melalui pelangi rasa di negeri Sang Paulus , Polandia sampai berada di pucuk Aurora Norwegia .

10419047_650102731764091_8856231213293978674_n

Air laut selalu mengingatkan kepada tanah lahir Cengkeh dan Pala , Maluku

Warna-warni perjalanan yang tak bisa berlalu begitu saja.Dari waktu ke waktu kenangan itu mengendap melahirkan mata yang beranak sungai , ia perlu kukenang agar perjalanan ini selalu penuh syukur .

Selepas sekolah aku mulai dengan kebiasaanku , menyusuri jalanan dari Takoma menuju Ngidi.Atau sebaliknya.Selepas fajar aku melangkah meninggalkan rumah megah tempat kami menumpang.Pemilik rumah itu masih terhitung kerabat bapakku.Entahlah aku tak tahu.Aku hanya tahu bahwa perjalanan ini telah menjadi tak biasa.

10444006_651047215002976_9155954901988406038_n

Perjalanan bersama Abu Aisha , sebuah karunia yang luar biasa dari Allah Swt

10516600_723289457718349_643795934028980203_n

Di pucuk Aurora Norwegia , mengenang perjalanan yang tak biasa

Sesusah apapun , berada di rumah sendiri adalah harapan hidup semua orang.Konflik, huru-hara , dan perang melahirkan rasa terbuang , terkadang putus asa pun hinggap manakala tak lagi ada iman.

Aku menangkap raut wajah penuh kesusahan pada wajah wanita yang kupanggil ‘ Mama ‘.Menumpang hidup bukanlah pilihan .Apalagi membawa serta anak-anak yang masih kecil.Tak bisa dikata aku adalah gadis kecil di masa itu.Seragam sekolahku memiliki bawahan biru, tepatnya biru tua.

Ada yang berkata bahwa warna biru tua melambangkan komunikasi dan kepercayaan.Warna ini memberi arti bahwa setiap siswa dapat berkomunikasi dengan baik dan penuh percaya diri.Klise memang, nyata yang datang adalah aku dan ribuan anak-anak pengungsi harus belajar berjalan tegak setelah perang yang memporak-porandakan kehidupan.
Kini, harga diri harus berperang dengan penuh percaya diri.Percaya bahwa harga diri harus dijaga , sesulit apapun kebutuhan memaksa masuk, muruah itu tak boleh lenyap.

****
Dalam ruangan berubin putih , aku duduk dengan hati bimbang.Seragam putih dengan rok berwarna biru tua telah kukenakan.Ini seragam pemberian ibu kepala sekolah SMP Negeri 7 Ternate kepada aku sang anak pengungsi.Tak terlihat kerudung di kepala .Ada semacam berat untuk kuungkapkan bahwa aku perlu mengganjal perut sebelum berjalan menyusuri jalanan Ngidi sampai di areal Taman Siswa .

Ibuku telah mengajarkan dengan tegas tentang nilai yang harus dijaga , kesopanan.Apalagi status kami adalah menumpang di rumah orang.Tak bisa seenak hati berperilaku layaknya di rumah sendiri.

Perutku memang tak mengenal kesopanan , ia terus menyanyikan lagu keroncong atau bisa kukata ia berteriak minta diisi.Apa daya hidup menumpang.Aku tak bisa makan lebih awal sebelum tuan rumah menyendok nasi terlebih dahulu di piring kaca.

nasiputih

Sumber gambar : Google.Sepiring nasi

” Mama, beta pigi bajalan sekolah jua e , supaya bisa bajalang palang -palang .” Aku bersuara pelan atau mungkin terdengar seperti berbisik ke arah ibuku yang masih sibuk di dapur.

Dapurnya luas.Semua perabot tertata rapi.Piring dan gelas kaca berjejer rapi .Nasi telah ditanak.Tak lupa ikan asap dibuat rica-rica .Dua ikat kangkung pun telah ditumis.Harumnya tak terkira.Semua tersaji diatas meja , ditutup saji.Tetapi ini bukan dapur ibuku.Aku hanya menatap lirih dari tangga yang menghubungkan ruang tamu dan areal dapur .

Ibuku berhenti mencuci bekas periuk dan beberapa alat dapur yang baru saja dipakai untuk memasak.Beliau menoleh kearahku setelah mendengar bunyi langkah kaki gontai dan suara yang terdengar samar-samar.

” Cum…., maso ka kamar dolo ! ” Suara ibuku bernada perintah.

Ibu memintaku melangkah kembali ke kamar .Ada rasa penasaran .Biar sudah aku tak bicara tentang perutku yang meraung tak karuan.Beliau telah cukup menanggung beban hidup yang berat setelah bapak dan abangku berlayar ke Halmahera mencari hidup yang lebih layak.

Tak pantas rasanya lelaki juga ikut hidup menumpang.Begitu kata bapakku kepada kami.Dan tinggallah kami berempat perempuan yang menumpang hidup di rumah yang berada dekat di kaki gunung Gamalama.Menanggung rasa tak ada pilihan.

Aku melangkah ke kamar , melepas sepatu dan meletakan tas pikul lusuh di atas tempat tidur.Dan duduk menunggu ibuku .Sepuluh menit kemudian terdengar langkah ibu menuju kamar .Beliau membawa sepiring nasi yang berisi potongan kecil ikan asap rica-rica dan sedikit tumisan kangkung.

Makang capat-capat , la mama cuci piring itu lai.Jang bajalang deng poro kosong ! ” Suaranya terdengar sedikit gugup.

Aku paham tentang rasa itu.Walaupun tak banyak kata-kata , beliau tak sampai hati membiarkanku berjalan dengan perut kosong ke sekolah dengan jarak yang cukup menantang.Menanti tuan rumah makan terlebih dahulu tentu membuatku terlambat ke sekolah.

Ibuku mengunci ruangan kamar tempat kami berada . Aku mengucap bismillah dan mulai menguyah makanan itu dengan cepat.Memang tak baik makan tergesa-gesa. Tetapi perutku sudah tak mengenal rasa itu , rasa malu karena sudah tak sopan di rumah orang.

Aku tak tahu harus berkata apa. Sebuah gelisah merebak di antara kami
Pemandangan yang sungguh melahirkan pilu . Aku makan dengan rasa haru , beliau entah berfikir apa.Hanya terdengar gerakan desahan nafas.Kami berada di titik rasa yang sulit diurai kata.Sampai beberapa menit kemudian , adik bungsuku yang telah lelah bermain mengetuk pintu kamar.

Mama , beta su lapar.Hampir saja beta makan rumpu-rumpu diluar .” Kata-katanya membuyarkan keheningan , melahirkan senyum .

Ibuku akhirnya merelakan kesopanannya tergadai agar kami tak menahan lapar terlalu lama.

Tunggu disini. Nanti makang di bakas Kaka Cum pung piring

Wajah adikku penuh sumringah .Aku mencium tangan ibuku dan mengikat erat tali sepatu.Langkahku kini tegap , semangatku menyala dan hatiku diliputi harapan .Doaku di sepanjang perjalanan dari Ngidi sampai Takoma agar susah ibuku tak sia-sia.

Siang itu di rumah tumpangan .Aku menghabiskan sepiring nasi yang bernilai kesopanan.Aku berharap ini hanya sepenggal rasa , mungkin karena aku merindukan kenyamanan dari rumah Pela yang hancur lebur dimakan rusuh. Ambon Manise tentang gerimis hati mengingat senja merah di tanggal 19 Januari .Namun aku paham, selalu ada rasa Gandong yang jelas terekam , bagaimana masa kanak-kanak penuh jernih mengenang petikan bulir-bulir cengkeh dan pala di pucuk kokoh tanah Maluku.

****
Di bawah kaki Gunung Gamalama
Ternate , 1999

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , | 1 Comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: