Posts Tagged With: pengalaman

Berbagi Sampai Ke Negeri Sang Paulus,Polandia


hum-lomba-blog-1 (1)
Allah Ta’ala berfirman : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji,. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui”. (Q.S.Al Baqarah: 261)
 
 
****
 

          SHARING BRINGS HAPPINESS 

 
Saya, Raidah Athirah .Ini kisah perjalanan hidup  yang ingin saya bagi kepada saudara di tanah air.Kaki saya menapak disini tapi semangat menjadi relawan terlahir pertama kali di ibu pertiwi .Hari ini saya bergabung dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tujuan, berbagi .Ada kegiatan setiap hari minggu untuk membagikan makanan atau pakaian layak pakai di sekitaran Warsawa , ibu kota Polandia.Banyak diantara wajah-wajah itu orang-orang yang mengungsi dari negara tetangga Ukraina akibat kemelut perang,para homeless dan juga  pengemis.
1513409753404
Saya adalah salah satu kaki diantara relawan ini.Bersama teman-teman dari India dan beberapa sahabat orang Polandia setiap hari minggu kami berkumpul di sini , di pusat kota Warsawa.Inilah jalan #MembentangKebaikan .Bagi kami setiap bulan adalah #BulanKemanusiaan.Setiap diri bisa menjadi #HeroJamanNow
1513409552654.jpg
Tiga belas tahun yang lalu  awal takdir mempertemukan saya dengan kaki ringkih yang tumbuh di keramaian jalanan kota kembang, Bandung .Lebih tepatnya anak-anak kuat yang hidup di sepanjang jalan Asia-Afrika ,di bawah jembatan yang menghubungkan sungai Citarum ke Masjid Raya .
Di tahun yang sama ,saya juga bekerja sebagai guru TK dengan bayaran dari mulai Rp 75.000 sampai meningkat menjadi Rp 150.000 .Semua saya niatkan untuk belajar dan menimbah pengalaman.
Sebagai seorang yang pernah hidup dalam pengungsian saya diajarkan akan satu prinsip bahwa berbagi menjadikan hati  kaya dan berarti .Saya percaya hanya orang-orang yang berhati kaya yang mengerti makna berbagi.
Sekalipun hidup serba pas-pasan niat yang ada dalam  diri hanya ingin belajar arti kehidupan dengan  tersambung bersama anak-anak yang besar di keramaian perjalanan.
Saya tinggal di Cimahi ,mengajar TK dari jam tujuh sampai jam sepuluh pagi .Pada pukul satu siang saya akan menaiki kereta ekonomi yang padat menuju Bandung kota .Tak ada yang meminta saya.Tak ada yang menyuruh saya .Saya bergerak karena saya tahu ada hal yang bisa saya berikan bukan hanya  tentang uang  tetapi tentang peradaban yakni mengajarkan mereka baca tulis.
Saya mendudukkan diri saya diantara mereka sebagai seorang kakak.Saya tidak bisa memberi mereka uang karena mereka sendiri telah terbiasa mendapatkan uang di jalanan.
Bukankah berbagi tidak selamanya tentang uang ?
Saya berharap setidaknya dengan  mengajarkan mereka baca tulis ada setitik harapan kepada mereka  memandang dunia dan segala pernak-perniknya.
Setiap datang gajian ,saya akan mampir ke tempat kumuh dengan bau pesing yang menyengat.Memang apa yang saya berikan tak begitu berharga.Hanya buku tulis murah , pulpen,dan pensil disertai buku buku menggambar sisa yang saya bawa dari TK yang sudah dibuang.
Saya berharap kepada Allah ,Tuhan Yang Maha Rahman meridhoi apa yang saya lakukan.Saya merelakan diri sendirian kemudian seorang sahabat saya ikut bergabung untuk mengajar mereka.
Dalam masa kuliah di Pasundan pun saya meluangkan waktu mengunjungi mereka selepas mata kuliah selesai.Tak ada yang mengetahui aktivitas yang saya lakukan . Berbagi tanpa  nama,tanpa dukungan dan tanpa keramaian.Begitu terus sampai nadi saya menyatu dengan kehidupan jalanan yang keras tapi penuh ketulusan.
Di jalanan pula saya belajar banyak hal termasuk membeli buku-buku bekas yang bisa saya baca dan pada akhirnya saya memberanikan diri mengajar bahasa Inggris kepada adik kelas agar bisa menunjang  kehidupan ekonomi saya yang pas-pasan.
” Teteh…,nggak apa-apa beliin kami buku tulis ? Teteh jangan repot-repot ! Teteh ngajarin kami aja udah Alhamdulillah ,” ucap anak jalanan bernama Ima yang sudah memasuki usia SMP.
Saya merindukan mereka ,merindukan adik-adik yang telah menjadi jalan bagi saya  hari ini menjejak di negeri Sang Paulus,Polandia.
Ingatan saya belumlah kering.Pernah datang masa kepada saya dimana seorang adik asuh yatim ingin sekali kembali ke desa menengok neneknya yang sudah sepuh .Ia ingin meminjam uang sebesar seratus ribu rupiah.Bagi saya di masa itu, uang   itu adalah angka yang sangat besar.Saya ingin mewujudkan mimpi itu tapi saya juga sangat terbatas untuk membantu.Saya benar-benar tak memiliki daya.
Dalam gerimis di sepanjang jalan Braga ,hati  mengadu kepada Allah ,Tuhan Yang Maha Kaya. Saya ingin sekali mewujudkan mimpi itu.Air dari langit menjadi saksi doa dalam sunyi yang penuh harap.
Saya menceritakan ini bukan untuk siapa-siapa.Bukan pula dipandang bak pahlawan.Kisah  ini saya  ceritakan  kembali untuk mengingat hati  yang rapuh . Mengingatkan hati saya bahwa betapa banyak nikmat yang saya dapatkan ketika saya berbagi.Sedikit sekali yang saya bagi.Demi Allah, sedikit sekali !
Bulan demi bulan berlalu.Ikhtiar ini biarlah langit yang menilai .Amat  sangat keras. Dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas karena saya juga bekerja untuk membiayai kuliah jadilah saya mencari donatur dengan menggunakan kemampuan saya dalam membuat laporan keuangan .
Saya pernah membuat proposal dan mengajukan ke beberapa instansi kota tapi kenyataan tak semudah dikata ,ada prosedur ,ada masa menunggu tanpa kepastian.Bulan berlalu dan tak ada dana yang cair.
Saya menghapus air mata dalam masa menunggu kereta api saat kembali ke  Cimahi . Bening-bening tanda  ketidak berdayaan . Adik-adik saya tidaklah menuntut tapi saya selalu memegang apa yang saya pernah janjikan.
Berselancarlah saya ke dunia maya.Mengirim random proposal keuangan kepada beberapa email yang saya dapatkan di internet.Hanya berbekal niat berikhtiar .Kepasrahan sudah tertanam dalam hati,harapan ini saya gantungkan ke langit.
Ketika bulan suci Ramadhan tiba ,saya semakin dilanda gelisah.Tidak mudah meyakinkan siapa saja untuk ikut berbagi.Segala puji bagi Allah , satu keluarga Pakistan mengirimkan uang dalam jumlah yang sangat besar untuk ukuran saya saat itu yakni satu juta rupiah .
Ketika saya menerima uang itu saya tersedu-sedu.Saya bergegas menuju alun-alun kota Bandung, memberikan kepada mereka rezeki yang saya dapatkan.Saya semakin yakin bahwa Allah Maha Melihat ,Dia Tuhan Yang Maha Kuasa .Terkadang sebagian teman-teman kuliah  heran dengan langkah saya yang selalu menuju  alun-alun kota.
Tahun berlalu , keadaan ekonomi saya semakin membaik dengan banyaknya panggilan mengajar privat .Tawa adik-adik di jalanan menjadi semangat luar biasa bagi saya untuk belajar dan bekerja.Saya bahkan lupa dengan masalah saya sendiri.
Waktu berqurban datang dan jaminan Allah bahwa  Dia akan menolong orang-orang yang sabar dan yakin, benar adanya.Sebuah email datang kepada saya dari seorang yang sangat jauh.Jauh sekali .Jauh dari angan-angan masa kecil dan mimpi .
Seseorang dari tanah Eropa menghubungi saya .Beliau bersedia menjadi donatur  untuk program Qurban dan berlanjut untuk anak -anak Yatim di Cimahi .
Proposal yang saya kirimkan satu minggu yang lalu ternyata telah sampai kepada beliau.Dalam email balasan itu beliau menginformasikan perihal uang untuk anak-anak jalanan,uang Qurban dan anak-anak yatim.
Sempat muncul rasa khawatir ,mungkin saja ini hanya penipuan..Allah Tala pertemukan dengan jalan kebaikan.
Ketika saya mengecek akun saya di Bank BNI ada perasaan tak percaya ada yang berani mengirimkan uang dalam jumlah yang banyak hanya berdasarkan kepercayaan.Saya mengirimkan email balasan dengan melampirkan laporan keuangan penggunaan dana yang beliau berikan.
Janji saya kepada adik asuh tertunaikan.Saya dengan ikhtiar sederhana mempertemukannya dengan keluarga yang sudah lama tak jumpa.Neneknya yang tinggal di pelosok desa Jawa Barat akhirnya bisa bertemu dengan cucu yang beliau ingat masih berwajah bayi baru lahir.Bahagia apa yang bisa seperti ini ?
****
Dengan jalan demikianlah Allah Yang Maha Memasangkan memperjalankan takdir . Setelah acara Qurban selesai saya dilamar oleh Sang Donatur , seorang mualaf dari keluarga Katolik dan Yahudi di Polandia.Betapa Allah Maha Besar membolak-balikkan keadaan.Di negeri ini pula saya masih menyimpan cita-cita bahwa suatu hari kelak hidup ini berarti bagi negeri .
Hari ini kaki saya menjejak bukanlah atas kebaikan saya melainkan  yakin Allah Ta’ala menjawab doa-doa orang yang tulus.
Apa yang hendak saya ceritakan lagi? Tidak ada ! Saudara harus menyadari ini dan menanamkan dalam diri bahwa berbagilah niscaya hati akan merasakan bahagia.Berbagi tidak perlu menunggu kaya .Berbagi tidak perlu menunggu .Lakukan saja ,niatkan bersama langit bahwa hidup ingin merasakan bahagia.
FB_IMG_1513435351559.jpg
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Kantor Imigrasi Dwüga , Saya Siap Diwawancara


Saya hampir lupa menceritakan hal ini pada anda. Kalau anda menikah dengan orang asing atau memang punya banyak sekali urusan ke luar negeri. Maka sudah tentu kantor imigrasi akan jadi tempat favorite anda.Ada sebagian yang mengurus dokumen aman- aman saja bagaikan jalan tol bebas hambatan , banyak juga yang mengeluh kalau mereka yang di tanah air tidaklah mudah membuat dokumen penting . Antrian sudah seperti bermain ular naga yang panjangnya bisa sampai waktu sholat magrib tiba.

 

Bagaimana dengan di Polandia?.Saya tidak tahu kalau yang datang ke Polandia untuk studi atau bekerja tapi bagi yang menikah dengan warga negara Polandia akan melalui jalur khusus. Jalur macam apa itu?. Ini bukan jalur audisi tapi ada miripnya. Abu Aisha di sela- sela kesibukannya merawat saya , telah mengirimkan form aplikasi untuk mendapat kartu izin tinggal setelah semua dokumen saya telah lengkap ( baca kisah dokumen di Catatan Menikah Diantara Dua Musim ) . Tak lupa satu hal yang sudah menjadi rutinitas Abu Aisha yakni menjaga kebersihan rumah.Kalau soal yang satu ini jangan di tanya. Jawabannya , standar kebersihan saya kalah jauh dengan Abu Aisha . Dapur dan WC sering dilakukan investigasi dadakan . Sebelum hamil sering sekali saya diceramahin tapi kalau sekarang dia sudah berdamai dengan keadaan atau dengan kata lain pemakluman . Maklumlah istri lagi hamil ditambah muntah – muntah yang seperti tilawah harian :).Mana berani diceramahin!.Bisa kena semprot Aisha dari dalam perut ( baca muntah – muntah ).

 

Jadi sebelumnya Abu Aisha sudah mengirim aplikasi pengajuan izin tinggal untuk saya . Semacam resident card – lah namanya , di kantor imigrasi Dwüga di Warsawa. Prosesnya memakan waktu kurang lebih satu bulan . Dalam masa itu kami bolak – balik menginap di Warsawa ( baca catatan Menginap Di Warsawa jilid I dan jilid II) . Sampai akhirnya ada komfirmasi melalui telephone kalau kartu izin tinggal saya telah selesai dan masih memerlukan tahap akhir. Wawancara. Tidak bisa di wakilkan saudara- saudara.Subhanallah maaaak , mana saya masih tetap bermuntah- ria. Ya sudahlah terpaksa bawa tas kresek saat tampil di kantor imigrasi.

 

Pagi sekali kami kesana. Jam 9 tepat kami sudah berada di depan kantor imigrasi. Setelah keluar dari mobil saya masih sempat bermuntah- ria. Abu Aisha sibuk menelphone penerjemah yang sudah kami kontak sehari sebelumnya. Saya masih berjalan tertatih- tatih . Jaket yang saya pakai tak bisa menahan angin kencang yang datang saat itu. Saya benar- benar merasa uap dingin masuk ke dalam tulang saya. Dingin tak terkira. Padahal musim dingin telah berakhir. Kini musim semi telah tiba.

 

Abu Aisha memapah tubuh saya masuk ke dalam gedung imigrasi. Terlihat banyak wajah- wajah Asia dan sebagian wajah pria Arab serta pasangan Turki yang duduk mengantri di depan ruangan. Menunggu giliran untuk di wawancara. Kalau yang sudah bisa bahasa Polandia maka selamatlah mereka dari kebingungan. Dan saya masuk golongan yang tidak mampu menjawab pertanyaan dalam bahasa Polandia. Kalau dalam bahasa Indonesia tentu saya sangat lancar. Biasa mbaak maaas e .,… pengalaman melamar kerja selalu di wawancara , yang selalu berakhir dengan penolakan. Tak apalah setidaknya pengalaman ini membuat saya percaya diri saat berada di negeri asing.

 

Saya harus mengakui sebagian orang cina atau asia lainnya. Bukan karena saya tidak mengakui kebangsaan saya tapi selama tinggal di Polandia saya banyak melihat orang cina. Fenomena ini membuat saya berfikir bahwa orang cina memang bangsa yang ulet dan pandai bergaul . Mereka bisa bahasa Polandia walaupun dengan dialek kanton :). Sudah jangan tanya bagaimana jadinya bahasa Polandia ditambah bahasa Kanton alias Cina. Sudah pasti hancur leburlah dunia tata bahasa dan pengucapan . Tapi saya kasih jempol tangan dan kaki buat mereka. Subhanallah pede sekali mereka saat di wawancara.

 

Benarlah bahwa jika kita ingin berdakwah di suatu tempat maka hal pertama yang harus kita perhatikan adalah bahasa setempat. Allah SWT mengutus rasul- rasulNya pun dibekali kemampuan memahami bahasa kaumnya.Bahasa daerah (bahasa sendiri) itu lebih berpengaruh dari pada bahasa lain. Allah berfirman:”Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.”( Q.S. Ibrahim: 4).

 

Saya telah membuktikan selama berada di Bandung. Banyak sekali yang tertipu dengan logat saya kalau saya sudah berbaur dan menggunakan bahasa sunda. Tak banyak yang mengira kalau saya berasal dari Ambon apalagi ditambah wajah saya yang kata teman- teman lebih mirip wajah Sumatera atau Sulawesi. Tidak apa- apa yang penting masih wajah nusantara ini maaaak :).

 

Saat kami duduk menuggu panggilan , saya masih sibuk bermuntah – ria. Tas kresek yang disediakan Abu Aisha kepada saya tidak pernah lepas barang sekejabpun. Ya mau gimana lagi Pani….. Pan sudah bawaan orok dot com ini maaaak.Di menit- menit terakhir giliran saya . Penerjemah yang telah kami kontak itu menelphone , memberitahukan kalau dia tak jadi datang karena salah satu anggota keluarganya meninggal. Astagfirullah Oh tidaaaaaaak !. Bagaimana nasib saya ini maaaaas Pan.

 

Kalau bisa minta izin pulang ke apartemen tentu kami sudah ajukan duluan. Malang tak dapat ditolak , mujur tak dapat diraih. Sudah kepalang basah ya sudah terima nasib. Hati saya galau tak karuan. Ini bukan galau ala ABG . Ini galau tingkat tinggi. Bagaimana nanti saya menjawab pertanyaan si mas Pan ini , kalau bahasa Polandia saya hancur lebur begini. Memperkenalkan nama saja saya sulit. Gimana mau menerangkan yang lain. Semoga saja Aisha di dalam perut mengamuk, teriak dan meraung- raung. Jadi saya bisa dimaklumi dan di wabil khususkan sebagai peserta istimewa. Hasil akhirnya ya di izinkan pulang maaak .

 

Pasti ada yang bertanya. Itu kan ada Abu Aisha , bisa mewakili. Oh anda salah sangka!. Abu Aisha juga harus diwawancara di ruangan yang berbeda dalam waktu yang bersamaan . Semacam jawaban silang. Jawaban Abu Aisha nanti akan di adu dengan jawaban saya atau kata kerennya di konfrontir. Pelik sekali keadaan saya saat itu. Pakai bahasa inggris Pan… Pani insha Allah bisa saya jawab .Beda negara , beda aturan maaaaak.

 

Setelah sedikit diplomasi, akhirnya kami mendapat solusi kalau saya di akhirkan saja sebagai peserta wawancara pada hari itu. Abu Aisha jadi teringat salah satu brother Tunisia yang jago sekali bahasa Polandia. Subhanallah sudah sepuluh tahun beliau di Polandia. Bahasa Polandianya sama persis dengan logat orang lokal. Subhanallah iri diriku padamu brother.Apalagi semenjak hamil, tutup buku semua hal yang berbau Polandia. Bukan saja makanan . Buku yang dibelikan Abu Aisha untuk saya belajar bahasa Polandia , saya simpan dalam lemari sampai sekarang.

 

Subhanallah pertolongan Allah itu nyata. Tak disangka- sangka brother Tunisia itu sudah ada di kantor imigrasi , terlihat berbincang- bincang dengan Abu Aisha. Maka brother inipun kami todong alias kami paksa dia untuk menjadi penerjemah dadakan untuk saya. Alhamdulillah akhirnya keringat dingin saya tak jadi keluar. Saya gagal mati gaya di dalam ruangan.

 

Dan waktu audisipun tiba 🙂 . Abu Aisha menuju ruangan sebelah kanan dan saya didampingi brother Tunisia ini masuk ke dalam ruangan yang posisinya di depan saya. Sebelum masuk brother ini mengucap salam tanpa sedkitpun melihat wajah saya. Ini semacam jaga pandangan. Penghormatan jika kita bisa menilai.

 

Maka sampailah kami di atas pentas wawancara. Di dalam sudah duduk juri imigrasi yang memperlihatkan wajah ketus. Tidak di Indonesia , tidak di Polandia hampir semua wajah orang imigrasi itu ketus atau kecut kaya mangga muda yang belum masak. Aseeeeem benar maaaaaak!.Kecuali di kedutaan Warsawa jujur saya bilang itu pertama kalinya saya merasa di hargai. Bagus sekali pelayanannya. Ini bukan muji , ini cuman testimoni subjektif saya jangan di ambil hati apalagi kebawa pikiran kok saya tidak?.Kalau itu saya tak tahu tolong jangan tanya saya. Sebentar lagi wawancara sudah hampir di mulai.

 

Maka dengan mengucapkan ta’ awudz dalam hati saya siap diwawancara. Anda mau tahu jenis pertanyaannya?.Ini saya kasih bocoran siapa tahu ada yang bernasib sama dengan saya .Asal jangan hamil macam saya ( baca bermuntah- ria).Maka dimulailah sesi wawancara. Yang pesertanya adalah saya sendiri didampingi penerjemah dadakan brother dari Tunisia. Jurinya adalah seorang laki- laki yang terlihat seumuran dengan Abu Aisha. Kalau masalah ketampanan Abu Aisha pemenangnya. Kan yang menilai saya sendiri , sudah pasti saya pilih Abu Aisha suami saya tercinta :).

 

Wawancaranya tidak nampak formal tapi pertanyaannya itu . Ajaib sekali maaaak . Luar dari pada binasa. Salah jawab bisa binasa nanti ” Apa warna ruangan apartemen anda ?” . Apakah anda memiliki meja makan, berapa jumlah kursinya?.Berapa jumlah cermin di dalam ruangan?.Apakah di dalam dapur terdapat mesin cuci piring?. Berapa luas apartemen anda?. ” Sampai disini pertanyaannya . Pan imigrasi alias juri yang terhormat ini berhenti sejenak. Saya bergumam dalam bahasa Indonesia” Ini pertanyaan jenis apa ? Seperti orang mau sewa apartemen ” . Tak ketinggalan jenis pasta gigipun dia tanya . Hampir saja saya mau menyebutkan merek Pepsodent. Karena hanya merek ini yang saya ingat.

 

Saya sampai menoleh ke brother , ingin memastikan apa beliau tidak salah menerjemahkan atau saya hanya pusing memikirkan jawaban . Alhamdulillah Aisha memang anak sholeha. Sebelum jawab sayapun bermuntah- ria , bahagia pula hati ini . Biar ada waktu menerka- nerka jawaban . Subhanallah seumur hidup baru pertama kali saya menghadapi wawancara yang luar biasa punya, di luar dari negara pula. Semua pertanyaan saya jawab dengan benar , kecuali dua pertanyaan yang semakin memperparah hormonal saya. Luas apartemen dan merek pasta gigi. Menekete maaas bro! . Mana saya tahu kalau akan ditanya perihal pertanyaaan luar dari pada kebiasaan ini. Saya kan lagi hamil jadi mana sempat saya memikirkan dan menanyakan pada Abu Aisha. Ya sudahlah tak usah ditangisi. Saya sudah berada di Polandia biarkan saja mereka memberi nilai .

 

Masuk ke sesi pertanyaan serius. ” Dimana anda bertemu suami anda?.Hal apa yang membuat anda jatuh cinta padanya?. Apakah dia ( baca Abu Aisha ) datang ke Indonesia melamar anda?. Apakah kalian menikah di Indonesia? . Berapa jumlah undangan yang datang”. Mengapa setelah menikah kalian menjalani LDR? . Apakah Pani suka dengan suasana Polandia ?. Apakah Pani sedang hami?. Ini wawancara apa mau interogasi ? . Bagi saya sama saja kedudukannya. Sebelum saya jawab , tas kresek dengan logo kaufland yang hampir penuh itu pun menjadi bukti kehamilan saya.

 

Di dalam ruangan wawancara itu, kehadiran saya yang mendominasi. Belum selesai juri bertanya , pasti saya ganggu dengan bunyi khas saya. Belum selesai brother menerjemahkan pasti sudah saya potong dengan suara saya yang unik .Lain kali tolong pertimbangkan wanita hamil dengan gejala unik untuk tidak di undang atau kalau boleh memohon tolong saya dibebaskan saja dari tahap akhir ini . Alias di beri izin tinggal secepatnya keburu muntah lagi ini Maaas bro .

 

Seru sekali panggung wawancara saat itu. Pan juri sudah nampak kesal namun tak bisa marah. Brother Tunisia kadang terlihat senyum atau mungkin menahan tawa.

Mau bagaimana lagi sudah nasib yang mengundang saya. Saya ingin secepatnya di akhiri wawancara ini. Dan gayungpun bersambut Pan Juri sudah tak ada lagi pertanyaan ajaib sudah saya bungkam dengan jawaban ” i love my husband so thats the way i love Poland” nya etah weh jawaban abi. Sekian dan ayo kita bergegas pulang ke apartemen.

 

Dengan mengucap hamdalah saya sendiri menutup sesi wawancara ini. Jazzakallah khoir kepada brother yang sudah dengan ikhlas membantu kami. Semoga Allah membalas kebaikan beliau. Kepada Pan Juri , tolong lain kali kalau mengundang saya pertimbangkan dengan masak- masak emosi wanita hamil biar tidak mencium bau muntah. Abu Aisha mana? . Kok belum keluar- keluar? 🙂

 

Semoga tidak trauma mewawancarai saya di masa yang akan datang. Sekian dan saya ucapkan dziekuje bardzo atas semua pertanyaan yang ajaib ini.Pulanglah kami ke apartemen di Jablonna dengan saling bertanya-tanya.Tadi saya jawabnya cocok tidak dengan jawaban kamu Bang !.Alhamdulillah sudah hampir sampai di apartemen.

 

to be continued….

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: