Posts Tagged With: orientalis

Karen Armstrong dan Tulisan-Tulisannya tentang Islam


Karen Amstrong dan Tulisan-Tulisannya tentang Islam

Oleh : Raidah Athirah

*****

Dipostingan saya yang lalu , ada nama yang saya singgung.Kalau Anda terbiasa membaca buku-buku Karen Amstrong dengan sendirinya Anda akan paham bagaimana hubungan Islam dan Barat yang digambarkan dari masa ke masa .

Dibandingkan Bernard Lewis , tulisan-tulisan Amstrong terasa lebih bijak .Saya pribadi mengenal tulisan Amstrong ketika masih berstatus mahasiswi karena memang saya kerjanya selalu berada di perpustakaan .Senior saya selalu meledek saya dengan istilah ‘ aktifis yang sering kumat jadi pasifis .Kadang-kadang aktif tapi juga banyakan pasif kalau berdiskusi.

Mana ada teman kampus yang bersedia berdiskusi dengan isi bacaan yang berat punya , tulisan Karen Amstrong lagi .Jadi , setelah baca saya simpan sendiri .Alhamdulillah , terimah kasih Pak Hilman Firmansyah yang sudah berkenan meminjamkan buku-buku ‘ berat’ yang perlahan-lahan bisa saya cerna dengan baik.

Salah satu buku Amstrong yang saya baca saat itu berjudul “ Islam , A Short History ” dan ” Muhammad , A Prophet For Our Time “ .Salah satu dari buku ini diterjemahkan oleh Mizan .

Bila orang selesai membaca begitu terpesona , sebaliknya saya justru penasaran dengan penulisnya.Apalagi isi tulisan ini termasuk yang ‘ istimewa’ punya ,Amstrong yang mewakili perspektif Barat dan tulisannya yang mengupas tentang Islam .

Sebenarnya bukan saja Islam yang ia sorot melankan tentang sejarah agama-agama langit.Salah satu bukunya yang kini sedang mencuat dan pas dengan situasi terkini adalah , Fields of Blood: Religion and the History of Violence (London: The Bodley Head, 2014).

Cuma seperti saya kata diawal , buku merupakan buah pikiran manusia yang bisa saja berisi pandangan yang subjektif .Terlepas dari itu Anda perlu mengenal latar belakang seorang Karen Amstrong yang terkenal sebaga satu-satunya pakar yang membahas hubungan agama-agama dengan pendekatan yang lebih simpatik.

Islam menurut Karen Armstrong yang ia jelaskan secara simpatik seperti yang saya sebut diawal tulisan ;

Penulis yang juga seorang feminis ini menyatakan, Islam tidak selayaknya diasosiasikan dengan serangan teroris yang dilakukan oleh orang-orang yang menyebut diri mereka muslim. Karena tindakan orang-orang itu justru sudah melanggar prinsip-prinsip esensial Islam.(1)

Dalam artikelnya yang dimuat harian Inggris terkemuka The Guardian, Armstrong menulis “Kita membutuhkan satu kata yang lebih pas dari sekedar kata ‘teroris Islam’. Al-Qur’an melarang peperangan yang bersifat menyerang, perang dibolehkan hanya untuk kepentingan mempertahankan diri dan nilai-nilai Islam yang benar mengajarkan perdamaian, rekonsiliasi, dan pemberian maaf.

Armstrong juga mengatakan bahwa orang yang melakukan tindakan yang mengerikan, tidak memiliki agama, apakah mereka menyebutnya sebagai Muslim, Kristen, atau Yahudi yang melakukan kejahatan atas nama agama mereka.(2)

Maka, meskipun Muslim, seperti juga Kristiani atau Yahudi, seringkali gagal untuk mengedepankan idealismenya, hal itu bukan karena agamanya. “Kata Armstrong yang dengan menyatakan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian, cinta, dan toleransi serta tidak pernah melakukan paksaan yang berkaitan dengan agama.[3]

Hukum Islam tidak membenarkan perang terhadap Negara yang memberikan kebebasan bagi warga muslimnya untuk beribadah, Islam melarang pembakaran, perusakan bangunan-bangunan dan pembunuhan terhadap warga sipil tak berdosa dalam sebuah kampanye militer. Hal ini sangat kontras jika dilihat dari kenyataan yang ada. Apa yang dilarang oleh Islam justru dilakukan oleh orang-orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai Muslim. Armstrong pun mengungkapkan keheranannya, mengapa pemboman berdarah yang dilakukan oleh tentara Republik Irlandia (IRA) tidak membuat orang serta merta menyamakan Kristen dengan terorisme seperti mereka mengaitkan kasus serupa dengan Islam. Kita jarang, bahkan tidak pernah menyebut pemboman yang dilakukan kelompok ‘Katolik’ IRA sebagai terorisme, karena kita cukup tahu dan menyadari bahwa persoalan ini secara esensi bukan sebuah kampanye keagamaan.[4]

Armstrong, penulis buku ‘Islam, a Short History juga mengkritik stereotype kata ‘Jihad’ yang berasal dari bahasa Arab, semata-mata diartikan dengan perang suci. “Para ekstrimis dan politikus yang tidak bermoral sudah mencuri kata itu untuk tujuan-tujuan mereka sendiri, makna sebenarnya dari jihad bukan hanya ‘perang suci’ tapi ‘perjuangan’ atau ‘ikhtiar’. Umat Islam diperintahkan untuk berjuang sekuat tenaga di berbagai aspek-sosial, ekonomi, intelektualitas, etika, dan spiritual untuk melaksanakan perintah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.[5]

Armstrong mengatakan, jihad merupakan nilai-nilai spiritual yang baik yang bagi kebanyakan umat Islam tidak ada kaitannya dengan kekerasan. Ia menilai sejumlah orang sudah melakukan kesalahan dengan lebih suka menyebut teroris dengan istilah ‘para pelaku jihad’. Ia menekankan kembali bahwa teroris sama sekali tidak mewakili Islam yang sebenarnya.[6]

******

Berikut Wikipedia memuat latar belakang seorang Karen Armstrong ;

Karen Armstrong dilahirkan pada tanggal 14 November 1944 di Wildmoor, Worcestershire, Inggris.Ia adalah seorang pengarang, feminis dan penulis tentang agama-agama Yudaisme, Kristen, Islam dan Buddhisme. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga Irlandia yang setelah kelahiran Karen pindah ke Bromsgrove dan kemudian ke Birmingham.

Dari 1962 hingga 1969, Karen Armstrong menjadi seorang biarawati dari Ordo Society of the Holy Child Jesus. Ini adalah ordo pengajaran, dan setelah ia melewati masa-masa sebagai novisiat dan postulan hingga mengucapkan kaulnya sebagai biarawati, ia dikirim ke St Anne’s College, Universitas Oxford. Di sana ia belajar sastra dan sejarah Inggris. Karen Armstrong meninggalkan ordonya pada waktu studinya. Setelah lulus ia masuk ke program doktoral (tetap di Oxford) tentang Alfred, Lord Tennyson. Ia melanjutkan studinya ini sementara kemudian mengajar di Universitas London, tetapi tesisnya ditolak oleh seorang penguji luar. Akhirnya ia meninggalkan akademia tanpa menyelesaikan studi doktornya.

Pada masa ini kesehatan Armstrong memburuk (Armstrong sejak kecil telah menderita epilepsi, namun pada waktu itu belum didiagnosis, seperti digambarkannya dalam bukunya The Spiral Staircase (2004)) dan setelah penyesuaian dirinya kembali dengan kehidupan di masyarakat luas. Pada 1976, ia menjadi guru bahasa Inggris di sekolah perempuan di Dulwich, tetapi epilepsinya membuat ia terlalu banyak absen, sehingga ia diberhentikan pada 1981.

Armstrong menerbitkan Through the Narrow Gate pada 1982, yang menggambarkan kehidupan yang dibatasi dan sempit yang dialaminya di biara (dan menyebabkan ia banyak dimusuhi oleh orang-orang Katolik Britania). Pada 1984 ia diminta menulis dan menyajikan sebuah dokumenter tentang kehidupan St. Paul. Penelitian untuk dokumenter ini membuat Armstrong kembali menyelidiki agama, meskipun sebelumnya ia telah meninggalkan ibadah keagamaan setelah ia keluar dari biara. Sejak itu ia menjadi penulis yang produktif, banyak dipuji dan dikritik dalam topik-topik yang menyangkut ketiga agama monoteistik. Pada 1999, Pusat Islam California Selatan menghormati Armstrong, atas usahanya “mempromosikan saling pengertian antara agama-agama.”

Jadi ,bagaimana menurut Anda ?

Raidah Athirah

Haugeund ,Norwegia

Nb : 1-6 ( ibid)

Wikipedia Karen Armstrong

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: