Posts Tagged With: merantau

Ramadan Di Jablonna


Saya cemburu padamu saudariku ….

 

Musim panas di Eropa itu indah.Sepanjang perjalanan akan kau temui taman bunga dimana – mana.Pohon-pohon besar berdaun hijau berbaris rapi di sepanjang jalan. Dilengkapi dengan kursi panjang kalau hendak melepas lelah.Sepeda sewaan berjajar rapi di pinggiran taman. Seharusnya saya jatuh cinta pada negara ini.Sebelum ke Jablonna ada sungai yang memanjang, ujungnya terlihat di Warsawa.

 

Begitulah mata saya menyaksikan ayat-ayat Allah tergambar jelas. Gambaran fatamorgana dunia yang indah tak bisa disandingkan dengan keindahan surga yang kekal .Saya memohon pada Allah Yang Maha Kuasa agar saya masih diberikan kesempatan beribadah di Ramadan walau saya hanya sendiri di Jablonna.Bukankah surga itu seluas langit dan bumi?.Tak perlu saya bersusah hati.Ayat-ayat Allah ini penguat hati . Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (Al Baqarah: 25).

 

Hati saya sejuk walaupun sakit di tubuh dan kerinduan yang menyesakkan dada , kabar tentang kehidupan nanti yang abadi itu adalah benar.Saya menengadahkan tangan saya ke langit .Saya berdoa agar Ramadan kali ini penuh makna walau saya tidak bisa merasakan nikmat lapar dikala berpuasa tapi saya meminta rahmat berdoa agar kesusahan saya mengandung tercatat sebagai jalan keridhoan Allah pada saya.

 

Seharusnya saya tidak merasa sendiri . Ada amanah yang saat itu Allah titipkan dalam rahim saya .Saya berbicara kepada si kecil Aisha dalam perut dengan bahasa asli tanah leluhur saya , bahasa Ambon saya masih melekat kuat dalam ingatan.Bahwa sebentar lagi tatanya akan pergi ke Norwegia.Menjemput rizki Allah Yang Maha Luas. Aisha bergerak di dalam perut seakan memahami kegundahan hati mamanya.

 

Iman anda akan terguncang dengan pemandangan musim panas di Eropa. Musim dimana hampir semua wanita berlomba -lomba memamerkan sebagian bahkan seluruh tubuh mereka. Para lelaki pun tak ketinggalan. Hanya bercelana pendek bahkan ada sebagian yang berjemur di taman kota . Saya juga ingin menikmati hidup walau kadang saya harus kuat di pandang orang yang berlalu – lalang ( kejadian ini persis ketika Abu Aisha di kampung saya di Ambon he he berasa di planet lain 😀 ). Kalau anda ingin keberkahan , habiskan uang anda untuk umroh dan jangan mengunjungi Eropa di musim panas.( ini cuman saran loh :D) .

 

Musim ini memang panas.Sesuai sekali dengan namanya.Kehamilan saya memasuki tri semester kedua.Dan Ramadan hampir tiba.Lima hari lagi.Persiapan ruhiyah apa yang harus saya persiapkan?.Apalagi Abu Aisha akan berangkat kerja ke Norwegia. Saya sendiri di Jablonna . Jika tiada pembimbing bagi hati , maka duka saya tiada terukur. Ramadan di Jablonna.Kami ( saya dan Aisha dalam perut ) berjuang rasa ,tak ada pilihan.

 

Jangan berharap kalau anda akan dibangunkan oleh suara adzan dikala subuh. Ini bukan Indonesia, yang dengan mudah anda bisa temui mesjid bahkan di kompleks perumahan sempit sekalipun.Ini Polandia. Tidak ada hari libur menyambut Ramadan apalagi Idul Fitri.Semuanya biasa.Musim panas ini membakar dosa.Saya terbakar cemburu pada saudari saya di kampung halaman. Dia pasti sedang sibuk mempersiapkan diri untuk sholat tarawih di mesjid samping rumah . Saya menuju lemari pakaian dan mengambil mukena saya , satu-satunya mukena yang saya bawa dari Indonesia . Hadiah adik perempuan saya .Saya pandang , lipat dan meletakkan lagi .Seakan saya ingin menunjukkan pada Aisha , ini mukena ciri khas perempuan Indonesia ketika menunaikan sholat .Ini pemberian ciocia ( baca coca seperti pada kata caca ) .Kami ( saya dan Aisha dalam perut ) duduk di depan balkon apartemen mencari suara para recitator Qur’an.Suara syeik Mishary yang merdu itu terdengar jelas dari telephone genggam yang diberikan oleh bapak mertua saya .Bukanlah bagaimana kaki saya berpijak. Tapi tentang ruhiyah kami yang minta dikasihani .Bagaimana saya menjalani Ramadan kali ini?. Jiwa saya menangis . Meratap pilu kesendirian di Ramadan. Subhanallah sebentar lagi Abu Aisha akan kembali bekerja. Jablonna Tak ada keluarga yang dekat. Tarawih di mesjid Warsawa itu mustahil dengan kondisi kehamilan saya yang selalu muntah-muntah.Membaca Al-qur’an saya tidak bisa berlama – lama . Takut kenah muntah.Jadi lebih baik saya menyetel murottal.

 

Ramadan ….Saya di Jablonna .Abu Aisha berangkat bekerja ke Norwegia dengan penerbangan jam tujuh pagi waktu Polandia.Semalam saya bertanya kepada Abu Aisha.Apakah awal Ramadan ini saya akan sendiri?.” Insha Allah Mama dan tata yang akan datang tiap hari ke apartemen”. Ujar Abu Aisha.Pecahlah tangis saya.Tidak tahu lagi apa yang harus saya tanyakan. Abu Aisha masih sibuk menyiapkan beberapa kemeja yang sering dia bawah ke tempat kerja. Saya berusaha menyembunyikan tangis saya.Menahan gejolak batin saya. Namun pada akhirnya suara tangis saya terdengar jelas.Ah…., saya perempuan manja, cengeng atau apalah.Tapi kalau anda sudah menikah dan hidup di rantau, sedang hamil dan suami anda pergi bekerja di luar pulau atau luar negeri dengan waktu yang tidak terbilang singkat. Anda pasti paham rasa yang datang pada saya saat itu.Terlalu keraskah Abu Aisha pada saya?.Bukan.Keadaan memaksa kami harus menerima. Ya Allah pada engkau tempat hamba mengadu. Dia berada dalam dilema. Saya sama sekali tak ada pilihan.

 

Abu Aisha terdiam . Memandang ke arah saya.Dia melangkah mendekati saya yang masih duduk di tempat tidur dengan arah tubuh saya yang selalu condong ke baskom plastik yang terletak di samping tempat tidur kami. Itu tempat muntah.Abu Aisha mengajari saya untuk muntah di baskom itu. Agar saat dia bekerja saya bisa sendiri berjalan ke toilet dan membersihkan tempat itu . Bagaimana dengan makanan.Bapa dan ibu mertua saya ini yang selalu datang membawa makanan.

 

Tidak banyak kata – kata malam itu. Abu Aisha duduk disamping saya . Suaranya terdengar serak .Matanya menampakan tangis .Dia memang menangis.Ini kali pertama saya melihat suami saya menangis. Kami memang menangis.Menangisi Ramadan yang hampir tiba namun kami harus tinggal berjarak. Saya di Polandia . Abu Aisha di Norwegia. Dan awal Ramadan ini kami masing – masing harus bersabar.

 

Apakah saya jadi pulang kampung ? . Lantas Abu Aisha bagaimana?

 

To be continued……….

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , | Leave a comment

Anti Aroma Kopi Dan Ingin Pulang


Kalau ditanya bagaimana perasaan saya saat hamil dan sakit di negeri orang ? . Jawabannya sabar dan sabar . Ya . Karena kata inilah yang menggambarkan kejujuran perang batin saya di Polandia . ( berasa di kamp pengungsian semasa hamil Aisha he he ) . Jauh dari keluarga .Memunculkan kerinduan yang membuncah .Candaan teman- teman. Adaptasi terhadap makanan dan cuaca yang paradoks dengan negeri dimana saya lahir dan tumbuh ,semakin membuat hati saya memendam rindu .

 

Saya berujar lirih . Ingin pulang . Di titik nadir terlemah saya sebagai manusia , kata ini akhirnya keluar dari lisan saya kepada Abu Aisha .Tak ada raut wajah marah , hanya terlihat semburat wajah menahan tangis . ( ini bukan cerita cerpen , ini gambaran emosi kami saat itu ) . Abu Aisha hanya berucap pelan tapi terdengar jelas di telinga saya . ” Bukankah Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya ? . Ada banyak saudari – saudari di luar sana yang jauh lebih berat ujiannya ” .Saya tak menjawab , hanya menyibukkan diri menenangkan hati saya yang penuh warna ( udah kaya pelangi neh 🙂 Berdoa dalam hati agar Allah menahan lisan saya selama masa ini . Dan entah kapan akan berhenti ( muntah ) 😦 .

 

Alhamdulillah ibu mertua saya yang baik .Sangat baik . Datang setiap hari ke apartemen kami sebelum berangkat kerja . Bawa soup , buah – buahan dan roti khas Polandia . Saya sangat beruntung dan juga bersyukur .Hal ini yang membuat saya belajar lebih sabar . Tapi pengaruh hormonal kehamilan saya semakin parah .Tidak bisa kemana – mana . Musim dingin . Sekedar duduk di balkon apartemen pun saya tak sanggup . Kan bisa baca buku ? . Browsing ? .Nonton TV ?. Atau baca Qur’an ?. Memang semuanya bisa dilakukan tapi kondisi saya yang sangat lemah tak memungkin untuk duduk atau berjalan karena muntah terus menerus sampai saya harus kembali menginap di Warsawa ( akan saya ceritakan lebih lanjut pada Menginap di Warsawa jilid II ) Lantas ? . Saya hanya berbaring di tempat tidur , makan , muntah . Minum pun muntah . Memang di rumah tidak ada internet ? . Untuk informasi , saat itu kita belum punya jaringan internet . TV sudah di haramkan oleh Abu Aisha .( ini yang namanya hidup di luar negeri ??? ) .Isi apartemen pun masih pabalatakalias berantakan .Jadi saya hanya bisa sabar dan berzikir dalam hati . Memasrahkan keadaan saya kepada Yang Maha Memiliki Hidup ) . Bukankah ini pilihan hidup saya bersama Abu Aisha ? .Jalan yang banyak perempuan – perempuan di tanah air impikan?. Menikah dengan bule dan hidup di luar negeri bagaikan sang putri ?. Saya memang tak pantas mengeluh .Inilah jalan hidup yang harus saya lalui . Jalan yang saya pilih .Bukankah janji Allah itu benar ? . Nikmat mana lagi yang harus saya ingkari ? . Begitulah dialog batin saya .Berusaha meneguhkan hati dalam kesunyian musim dingin .

 

Bagaimana dengan Abu Aisha ? . Justru dia yang paling sibuk ( he he kalau ditanya saat ini gimana perasaanmu Bang ? 🙂 . ” No comment lah … 🙂 ” kata Abu Aisha .Pilu memang menggambarkan suasana hati dikala itu . Goncangannya terlalu kuat dalam pandangan kami.

 

Setelah pulang dari rumah sakit , bukannya membaik justru muntah – muntah saya semakin meng- gila . Ini bukan morning sickness lagi ,all day sickness.Siang , malam , pagi , sore . Sudah lebih dari jadwal minum obat. Masa seh segituh parahnya ?. Gak percaya datang saja ke Rumah Sakit di Warsawa tepatnya Rumah Sakit Brødno . Data identitas saya dengan dua nama keluarga tersimpan rapi di komputer . Pani Marasabessy dan Pani Pisarzewska . Di Polandia kalau sudah menikah , perempuan di panggil berdasarkan nama keluarga suami .Tapi suami saya memegang teguh hadist bahwa saya harus di panggil dengan nama keluarga bapak saya . Jadilah bagian resepsionist rumah sakit dibuat pusing dengan dua identitas saya yang berbeda .

 

Pekerjaan Abu Aisha semakin banyak . Seperti tumpukan salju di area balkon apartemen yang dari menit ke menit semakin menggunung .Nyuci piring ( nyupir mulu he he ) gak ada habisnya . Mesin cuci piring kita belum di instal .Mencuci pakaian harus . Alhamdulillah kita punya mesin cuci kalaun tidak Abu Aisha bisa encok ( baca Encong versi pengucapan Abu Aisha he he ) . Jadi Abu Aisha harus rajin , kalau tidak rumah kami sudah tak berbentuk alias kaya kapal pecah . Masak ?.Tak usah nanya 🙂 . Abu Aisha udah ahli pokonah mah :). Kalau begini semakin sedihlah saya memandang Abu Aisha . Apalah daya . Kata Abu Aisha semua tak masalah yang masalah adalah “ Bang ….. Could you drink your coffe in balcon ” . Haa ??? . What ???” Jawab Abu Aisha . Dan tampa menanti jawaban terdengarlah suara khas saya . Apalagi kalau bukan muntah. Hidung saya benar – benar tidak bisa mentoleril aroma kopi atau semua barang yang terkontaminasi kopi . Gelas yang dia gunakan untuk minum kopi sudah dicuci bersih . Saat saya minta minum .Abu Aisha menyodorkan air hangat dengan gelas kopi yang dia buat itu . Saat sampai di hidung saya ( bukan mulut ) terdengarlah bunyi yang menjadi ciri khas saya saat itu . Muntah…………….:( “Bang did you use this cup for coffe ?”.Tanya saya dengan wajah galak ( seram amat nak kau ini …..he he nyalahin Aisha dalam perut ) .Selama menikah saya belum pernah bicara dengan Abu Aisha dengan intonasi suara yang keras ataupun tinggi . Ini pertama kalinya saya bertanya dengan nada yang keras . Maafkan istrimu ini Bang ……:( udah bawaan orok ini mah . He he alasan dot com .

 

 

Abu Aisha dengan wajah memelas , sedih tampa bisa kompromi ataupun mengeluh , memakai jaket tebal dan menuju balkon apartemen kami sambil membawa kopi . Tak lupa suara dari dalam ruangan kayak gini ” Bang ….tolong tutup pintu ,ditutup rapat ya ” . Suara saya dari dalam ruangan . Di luar suhu udara berada dalam kisaran – 12 sampai -14 . Dingin ? . Tentu saja .Selang beberapa menit masuklah Abu Aisha kembali ke ruangan dengan wajah dan hidung memerah .” Saya akan ke rumah mama , kalau ada apa – apa telp saya ” . Abu Aisha bicara seakan mau kabur . He he .Takut digalakkin istrinya 🙂 . Kalau masalah muntah , dia udah kebal . Saat makan saya juga bermuntah – ria . Subhnallah .Adakah yang mengalami hal yang sama ? . Yang saya ingat si Kate istrinya pangeran William juga sama ya ? 🙂 . Dirawat di rumah sakit karena morning sickness yang parah .Mencoba mencari dukungan kalau saya tidak sendiri 🙂 .

 

Sebelum keluar Abu Aisha menyetel murrotal . Bacaan Qur’an dari suara Syeik Saleh Al-Bukattir menenangkan kami ( saya dan sikecil Aisha dalam perut ) . Hati dan pikiran saya merasakan ketenangan yang amat sangat.Seakan sejenak melupakan perih di hati dan sakit di tubuh yang entah kapan akan berakhir ( saya jadi melankolis saat itu ) .Bukankah Allah Maha Mendengar ? .Saat itu saya memegang kuat – kuat apa yang saya yakini .Melangkah lebih dekat kepada sang Khalik agar saya tidak kehilangan arah di tengah kesendirian saat itu . Alhamdulillah saya bisa memenjamkan mata saya dan tidur dengan pulas selama beberapa jam . Hal yang jarang terjadi semenjak saya dilanda morning sickness , saya ganti jadi all day sickness 🙂

 

Apakah saya tidak sholat ? . Alhamdulillah saya sholat dibantu Abu Aisha .Saya hanya bisa berbaring dengan berat tubuh yang semakin menipis alias kurus ( kalau berat tubuh sekarang jangan ditanya he he over limit 🙂 . Abu Aisha riwayatnya kala itu cuti kerja . Trus saya ngapaian?. . Ya .., ngapain lagi kalau bukan kembali menginap di Rumah Sakit Warsawa .Subhanallah . Maaaaaaaak ….., inilah nasib putrimu .

 

 

To be continue …….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Categories: Uncategorized | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: