Posts Tagged With: Islam di Eropa

Mualaf ,Sepenggal Kisah Pencarian Kebenaran


Mualaf ,Sepenggal Kisah Pencarian Kebenaran

Oleh : Raidah Athirah

****

Semenjak tinggal di Polandia saya banyak dipertemukan dengan mualaf.Alhamdulillah sebuah nikmat menguatkan hati yang rapuh manakala gelombang fitnah terus menyebar di semua sisi hidup.Allah jua Tuhan Yang Maha Menjaga.

Abu Aisha sendiri adalah seorang mualaf .Terlahir dari sebuah keluarga Katolik di Legionowo ,Polandia di bulan Juni atau jatuh pada bulan Syaban dalam penanggalan hijriyah .

Menyelesaikan pendidikan tehnik di ibukota Warsawa telah membuka pikirannya tentang orang -orang Muslim yang kelak pandangan ini membawanya pada hidayah di negeri Viking ,Norwegia.

Menceritakan sepenggal perjalanan beliau bermaksud agar kita memahami bahwa hidayah Islam itu harus dijaga dengan ilmu dan doa .Gelombang fitnah akhir zaman semakin keras .Bila tak ada pegangan ,perlahan iman bisa terhempas atau bahkan hancur .Naudzubillahmindzalik.

Saya jadi mengingat cerita yang dulu menyebar bahwa karena sayalah beliau menjadi Muslim.Ini adalah kebohongan yang luar biasa .Diawal pernikahan banyak bahkan terlampau melebar menyangsikan keIslaman beliau .Diawal pernikahan pula saya begitu tertekan mendengar ocehan sana sini tentang rupa beliau yang begitu Eropa yang dianggap karena faktor pernikahanlah Islam itu di hati .

Jauh bahkan beberapa tahun sebelum Allah mempertemukan kami ,beliau telah menjadi Muslim .Memilih dipanggil Abdullah dengan tetap mengikat nama keluarganya ,Pisarzewski .

Saya yang perempuan asing ini hanya dikenal kurang lebih tiga bulan .Secepat itukah orang berpindah keyakinan ? Dengan jawaban ini pula kita bisa menjawab .

Ketika hidayah itu datang ,beliau menceritakan dengan penuh rasa haru bagaimana hari ,bulan dan tahun mulai berubah penuh kegembiraan seakan kalimat yang ingin keluar adalah hidayah Islam membuat beliau terlahir sebagai manusia yang mengerti tujuan hidup .

Norwegia .Ya , di tanah Viking ini hidayah ini bermula .Interaksi beliau dengan orang-orang Palestina ,Jordan ,Somalia membawa pengaruh dalam pandangan beliau terhadap orang-orang Muslim.Di waktu yang sama fitnah terhadap rupa Islam begitu memuakkan di Eropa.Meskipun demikian tak ada keraguan meniti jalan hidayah .

Menjawab semua tanya di hati ,tentang tujuan hidup dan konsep tauhid yang benar akhirnya bermuara pada keputusan final kembali kepada Islam .Keputusan ini mendatangkan tanggung jawab yang besar namun hati yang telah dibimbing tak sedikitpun ragu walau kesendirian dan keterasingan datang bertubi-tubi.

Tak pernah terpikir bahwa dari darah Pisarzewski ,Allah memberi hidayah kepada beliau .Dari Serock sampai ke Legionowo tak pernah beliau mengenal Islam .Tak tahu bagaimana rupa orang -orang Muslim .Semuanya tentang Islam tak pernah ada cerita.

Dan ketika beliau menjadi Muslim cerita tentang Islam di keluarga Pisarzewski dimulai .Beliau menceritkan ketika Islamphobia begitu marak bahkan sampai ke sekolah -sekolah .Seorang keponakan laki-laki yang duduk di sekolah setingkat SMU memberikan pembelaan ketika sang guru mengatakan tentang orang -orang Muslim yang barbar dan tidak mengenal peradaban.

Pemuda ini berdiri dan memberikan pembelaan
( semoga Allah menunjukkan jalan kebenaran padanya )

” Apa yang guru katakan tentang orang-orang Muslim adalah karangan kebencian .Paman saya seorang Muslim dan saya pastikan dalam keluarga kami dia seorang yang baik dan penuh sopan santun .”

” Apakah ia seorang Polish ( orang Polandia ) ?

” Ya ,ia berdarah 100 % Polandia .”

Pemuda ini menceritakan peristiwa ini saat kami semua berkumpul di Serock .

Peristiwa-peristiwa yang saya dengar dan saksikan di perjalanan semakin membuat saya berfikir bahwa sungguh Allah Maha Memberi Petunjuk bagi siapa yang Dia kehendaki.

Kisah tentang Ramadhan pertama bagi seorang mualaf selalu mengingatkan saya pada penuturan Abu Aisha .

Beliau bertutur bahwa di tahun pertama beliau menjadi Muslim dan beberapa bulan setelah peristiwa syahadat ,datanglah bulan suci ini .Di Norwegia , dengan waktu puasa paling terpanjang yakni kurang lebih 22 jam ,beliau berteguh hati berpuasa dan tetap bekerja .

Di hari pertama puasa beliau merasakan sakit kepala yang bertubi-tubi .Semacam tubuh memulai perjalanan keikhlasan mengenal Rabb .Saya jadi membuka memori betapa bersyukurnya sebagian kita yang terlahir sebagai Muslim dan kemudian telah dilatih sejak kecil untuk berpuasa .

Ketika hari raya tiba ,kebanyakan dari kita berkumpul dengan keluarga .Beliau memutuskan bersilahtuhrahmi ke satu keluarga Palestina yang sudah lama akrab semenjak beliau menjadi Muslim .Ada kesendirian yang terobati.

Bacaan Qur’an beliau waktu itu belum juga lancar .Beliau bercerita bagaimana cara beliau bisa membaca huruf -huruf Arab itu .Setiap hari di waktu-waktu senggang setelah bekerja yang menguras tenaga ,duduklah beliau berselancar di internet dan Alhamdulillah menemukan cara belajar membaca Al-Quran seperti metode iqra yang biasa kita kenal .Seperti anak -anak, beliau mengeja dan menghapal setiap hari ,menulis dibuku ,mengulang -ngulang video.

Ikhtiar ini membawa hasil .Alhamdulillah beliau tak lagi shalat sambil memegang mushaf Al-Qur’an karena setelah bisa membaca beliau dengan cepat menghapal surat -surat pendek walau tajwid belum begitu lancar .

Hubungan beliau dengan keluarga tak terputus walau beliau telah menjadi Muslim .Alhamdulillah keluarga Pisarzewski adalah keluarga yang terbuka walaupun sempat timbul perasaan terkejut namun menerima keputusan beliau menjadi Muslim .

Generasi yang lahir di tahun 70-80-an di Polandia memasuki gelombang dasyat bernama atheisme .Beberapa juga memilih percaya Tuhan namun tak menganut agama manapun .

Abu Aisha berada dalam gelombang generasi ini percaya kepada Tuhan namun tak menganut agama walau terlahir dari keluarga Katolik sampai cahaya itu hadir dan beliau ridho Islam sebagai agama ,sebagai jalan hidup .Bila semua agama itu benar ,tentu selamanya beliau berpegang kepada konsep Agnostik.Telah jelas pembeda antara yang haq dan batil namun sebagian propaganda pemikiran coba merayu dengan mengatakan semua agama adalah benar .Bagi Abu Aisha pemikiran ini adalah pemikiran orang -orang yang linglung .Beliau menyebutnya dengan orang-orang berakal abu -abu .Hitam tak jelas ,putih pun bukan pilihan .

Bila kita ragu kepada Islam maka sudah saatnya kita belajar ,berikhtiar mencari ilmu agar kita tak pernah merugi diakhir hayat .Di saat sebagian besar orang-orang Eropa berjalan mencari kebenaran , jangan sampai kita yang terlahir sebagai Muslim begitu mudah mencampakkan nikmat ini karena kebodohan kita yang tak memiliki ilmu untuk menjaga hidayah ini.

Mualaf adalah cermin sejati pencarian kebenaran.Perjalanan mereka adalah pelajaran hidup tentang pencarian hakiki sebuah hidayah.Bila hati kita rapuh mendekatlah pada kisah mereka.Kisah yang bukan fantasi pikiran melainkan kisah orang-orang yang diberi petunjuk.Semoga hidayah ini kita genggam sampai akhir di detik nafas kita sudah tak bisa lagi bicara.

Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [Al Qashash/28 : 56]

Categories: Kisah mualaf Eropa | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: