Posts Tagged With: eropa

Mualaf ,Sepenggal Kisah Pencarian Kebenaran


Mualaf ,Sepenggal Kisah Pencarian Kebenaran

Oleh : Raidah Athirah

****

Semenjak tinggal di Polandia saya banyak dipertemukan dengan mualaf.Alhamdulillah sebuah nikmat menguatkan hati yang rapuh manakala gelombang fitnah terus menyebar di semua sisi hidup.Allah jua Tuhan Yang Maha Menjaga.

Abu Aisha sendiri adalah seorang mualaf .Terlahir dari sebuah keluarga Katolik di Legionowo ,Polandia di bulan Juni atau jatuh pada bulan Syaban dalam penanggalan hijriyah .

Menyelesaikan pendidikan tehnik di ibukota Warsawa telah membuka pikirannya tentang orang -orang Muslim yang kelak pandangan ini membawanya pada hidayah di negeri Viking ,Norwegia.

Menceritakan sepenggal perjalanan beliau bermaksud agar kita memahami bahwa hidayah Islam itu harus dijaga dengan ilmu dan doa .Gelombang fitnah akhir zaman semakin keras .Bila tak ada pegangan ,perlahan iman bisa terhempas atau bahkan hancur .Naudzubillahmindzalik.

Saya jadi mengingat cerita yang dulu menyebar bahwa karena sayalah beliau menjadi Muslim.Ini adalah kebohongan yang luar biasa .Diawal pernikahan banyak bahkan terlampau melebar menyangsikan keIslaman beliau .Diawal pernikahan pula saya begitu tertekan mendengar ocehan sana sini tentang rupa beliau yang begitu Eropa yang dianggap karena faktor pernikahanlah Islam itu di hati .

Jauh bahkan beberapa tahun sebelum Allah mempertemukan kami ,beliau telah menjadi Muslim .Memilih dipanggil Abdullah dengan tetap mengikat nama keluarganya ,Pisarzewski .

Saya yang perempuan asing ini hanya dikenal kurang lebih tiga bulan .Secepat itukah orang berpindah keyakinan ? Dengan jawaban ini pula kita bisa menjawab .

Ketika hidayah itu datang ,beliau menceritakan dengan penuh rasa haru bagaimana hari ,bulan dan tahun mulai berubah penuh kegembiraan seakan kalimat yang ingin keluar adalah hidayah Islam membuat beliau terlahir sebagai manusia yang mengerti tujuan hidup .

Norwegia .Ya , di tanah Viking ini hidayah ini bermula .Interaksi beliau dengan orang-orang Palestina ,Jordan ,Somalia membawa pengaruh dalam pandangan beliau terhadap orang-orang Muslim.Di waktu yang sama fitnah terhadap rupa Islam begitu memuakkan di Eropa.Meskipun demikian tak ada keraguan meniti jalan hidayah .

Menjawab semua tanya di hati ,tentang tujuan hidup dan konsep tauhid yang benar akhirnya bermuara pada keputusan final kembali kepada Islam .Keputusan ini mendatangkan tanggung jawab yang besar namun hati yang telah dibimbing tak sedikitpun ragu walau kesendirian dan keterasingan datang bertubi-tubi.

Tak pernah terpikir bahwa dari darah Pisarzewski ,Allah memberi hidayah kepada beliau .Dari Serock sampai ke Legionowo tak pernah beliau mengenal Islam .Tak tahu bagaimana rupa orang -orang Muslim .Semuanya tentang Islam tak pernah ada cerita.

Dan ketika beliau menjadi Muslim cerita tentang Islam di keluarga Pisarzewski dimulai .Beliau menceritkan ketika Islamphobia begitu marak bahkan sampai ke sekolah -sekolah .Seorang keponakan laki-laki yang duduk di sekolah setingkat SMU memberikan pembelaan ketika sang guru mengatakan tentang orang -orang Muslim yang barbar dan tidak mengenal peradaban.

Pemuda ini berdiri dan memberikan pembelaan
( semoga Allah menunjukkan jalan kebenaran padanya )

” Apa yang guru katakan tentang orang-orang Muslim adalah karangan kebencian .Paman saya seorang Muslim dan saya pastikan dalam keluarga kami dia seorang yang baik dan penuh sopan santun .”

” Apakah ia seorang Polish ( orang Polandia ) ?

” Ya ,ia berdarah 100 % Polandia .”

Pemuda ini menceritakan peristiwa ini saat kami semua berkumpul di Serock .

Peristiwa-peristiwa yang saya dengar dan saksikan di perjalanan semakin membuat saya berfikir bahwa sungguh Allah Maha Memberi Petunjuk bagi siapa yang Dia kehendaki.

Kisah tentang Ramadhan pertama bagi seorang mualaf selalu mengingatkan saya pada penuturan Abu Aisha .

Beliau bertutur bahwa di tahun pertama beliau menjadi Muslim dan beberapa bulan setelah peristiwa syahadat ,datanglah bulan suci ini .Di Norwegia , dengan waktu puasa paling terpanjang yakni kurang lebih 22 jam ,beliau berteguh hati berpuasa dan tetap bekerja .

Di hari pertama puasa beliau merasakan sakit kepala yang bertubi-tubi .Semacam tubuh memulai perjalanan keikhlasan mengenal Rabb .Saya jadi membuka memori betapa bersyukurnya sebagian kita yang terlahir sebagai Muslim dan kemudian telah dilatih sejak kecil untuk berpuasa .

Ketika hari raya tiba ,kebanyakan dari kita berkumpul dengan keluarga .Beliau memutuskan bersilahtuhrahmi ke satu keluarga Palestina yang sudah lama akrab semenjak beliau menjadi Muslim .Ada kesendirian yang terobati.

Bacaan Qur’an beliau waktu itu belum juga lancar .Beliau bercerita bagaimana cara beliau bisa membaca huruf -huruf Arab itu .Setiap hari di waktu-waktu senggang setelah bekerja yang menguras tenaga ,duduklah beliau berselancar di internet dan Alhamdulillah menemukan cara belajar membaca Al-Quran seperti metode iqra yang biasa kita kenal .Seperti anak -anak, beliau mengeja dan menghapal setiap hari ,menulis dibuku ,mengulang -ngulang video.

Ikhtiar ini membawa hasil .Alhamdulillah beliau tak lagi shalat sambil memegang mushaf Al-Qur’an karena setelah bisa membaca beliau dengan cepat menghapal surat -surat pendek walau tajwid belum begitu lancar .

Hubungan beliau dengan keluarga tak terputus walau beliau telah menjadi Muslim .Alhamdulillah keluarga Pisarzewski adalah keluarga yang terbuka walaupun sempat timbul perasaan terkejut namun menerima keputusan beliau menjadi Muslim .

Generasi yang lahir di tahun 70-80-an di Polandia memasuki gelombang dasyat bernama atheisme .Beberapa juga memilih percaya Tuhan namun tak menganut agama manapun .

Abu Aisha berada dalam gelombang generasi ini percaya kepada Tuhan namun tak menganut agama walau terlahir dari keluarga Katolik sampai cahaya itu hadir dan beliau ridho Islam sebagai agama ,sebagai jalan hidup .Bila semua agama itu benar ,tentu selamanya beliau berpegang kepada konsep Agnostik.Telah jelas pembeda antara yang haq dan batil namun sebagian propaganda pemikiran coba merayu dengan mengatakan semua agama adalah benar .Bagi Abu Aisha pemikiran ini adalah pemikiran orang -orang yang linglung .Beliau menyebutnya dengan orang-orang berakal abu -abu .Hitam tak jelas ,putih pun bukan pilihan .

Bila kita ragu kepada Islam maka sudah saatnya kita belajar ,berikhtiar mencari ilmu agar kita tak pernah merugi diakhir hayat .Di saat sebagian besar orang-orang Eropa berjalan mencari kebenaran , jangan sampai kita yang terlahir sebagai Muslim begitu mudah mencampakkan nikmat ini karena kebodohan kita yang tak memiliki ilmu untuk menjaga hidayah ini.

Mualaf adalah cermin sejati pencarian kebenaran.Perjalanan mereka adalah pelajaran hidup tentang pencarian hakiki sebuah hidayah.Bila hati kita rapuh mendekatlah pada kisah mereka.Kisah yang bukan fantasi pikiran melainkan kisah orang-orang yang diberi petunjuk.Semoga hidayah ini kita genggam sampai akhir di detik nafas kita sudah tak bisa lagi bicara.

Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [Al Qashash/28 : 56]

Advertisements
Categories: Kisah mualaf Eropa | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Salam Dari Dua Negara Eropa Untuk Saudaraku Di Tanah Air


Naskah bersama Relawan Mesjid Indonesia ” Bersama Kesusahan Ada Kemudahan “

By : Raidah Athirah

 

 

Saya tidak tahu harus mulai dari mana menggambarkan perasaan saya, melihat bertubi- tubi bencana yang menimpa saudara- saudari di tanah air. Bersedih tentu saja. Tapi bukankah tak selamanya kita harus bersedih?. Seperti nasihat Syeik Al-Qarni dalm judul bukunya” La Tahzan “. Saya juga ingin berkata kepada saudara” Jangan bersedih Allah bersama orang- orang yang sabar’.

 

Anda pasti mengira saya berkata demikian karena rasa empati. Tidak . Lebih dari itu ini rasa , ungkapan ini adalah bentuk ukhuwah. Lebih kuat dari ikatan darah, lebih besar dari ikatan bangsa. Anda menangis , saya juga menangis. Walau anda dan saya dipisahkan oleh jarak tetapi kita disatukan oleh do’a.Ya do’a kita yang naik kelangit.

 

Kalau ada yang mencibir bahwa saya hanya bisa berkata- kata. Tidak ada bantuan nyata yang saya berikan kepada saudara di tanah air?. Saya tidak akan marah tetapi saya menulis ini supaya sampai generasi berikutnya salam saya bisa dibaca.Bahwa saya bersedih bukan karena rumah- rumah yang hancur, gedung- gedung yang dihantam banjir maupun kebakaran . Atau yang saat ini terjadi adalah semburan asap gunug berapi. Tidak. Saya bersedih jika saudara berputus- asa, apalagi menghujat,meraung menyalahkan Allah Tuhan Semesta Alam.

 

Anda seharusnya jauh lebih bahagia daripada saya yang di Eropa.Anda berada dalam kesusahan materi, saya berada dalam kesusahan ukhuwah.Anda dikelilingi sanak – saudara bahkan teman- teman yang bisa berbagi. Saya disini harus pandai- pandai bergaul .Bahkan kadang merasa terasing.

 

Hidup saya memang jauh lebih muda dengan banyaknya mesin- mesin, yang tinggal tekan tombol semua beres. Tapi hati saya hampa. Saya rindu keramahan tetangga, pengajian yang diadakan tiap pekan. Atau kalau ada rizki bisa dengan mudah bersilahtuhrahmi dengan sanak- saudara di seberang pulau.

 

Anda tak perlu bersusah hati. Dibalik semua kesusahan , airmata yang tumpah, rasa kehilangan yang amat sangat . Semuanya akan diganti oleh Allah Yang Maha Kaya. Ah ! saya mudah mengatakan demikan karena saya tidak mengalami. Anda sungguh salah , hati anda dalam prasangka. Sebelum saya di rizkikan tinggal di Eropa karena mengikuti takdir saya yang bersuamikan muslim Polandia. Saya pernah menjalani hidup bersama keluarga saya sebagai pengungsi, korban konflik SARA tahun 1999 yang terjadi di Ambon ibukota Maluku. Kembali mengungsi untuk kedua kalinya setelah Gunung Gamalama di Ternate Maluku Utara mengeluarkan peringatan . Semburan debu vulkanik menutupi seluruh kota.

 

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. An Nasyr: 5-6).Dan saya meyakini ayat ini dengan kuat. Semuanya telah terbukti diperjalanan kehidupan yang saya jalani. Bahwa janji Allah itu benar. Dibalik satu kesulitan Allah Tuhan Yang Maha Melihat menjanjikan dua kemudahan.Tidakkah ini lebih dari cukup?.

 

Maka ini salam saya, jika sampai tulisan ini ditangan anda tolong jawab salam saya . Berdiri, berwudhu dan bertakbir memuji Allah Yang Maha Besar . Biarkan orang dengan segala keinginan , niat atau bahkan cibiran sekalipun menghampiri anda. Tapi jika anda punya mimpi, anda masih punya iman . Itu berarti anda masih hidup. Dan sudah saatnya anda berhenti menangis. Terima dengan ikhlas dan kemudian bergerak menjalani waktu, hari dan tahun yang merupakan karunia Allah kepada anda sampai tiba waktu saya , anda dan semua yang hidup menghadap Tuhan Yang Maha Adil .

 

Catatan hati ” Musim Dingin di Haugesund 7 Maret 2014″

 
Suka

 
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , | 1 Comment

Baby Blues , Cinta Ibu Yang Di Uji


Dwilogi Memoar Aisha Pisarzewska Putri Sang Perantau

 

Mengenang Masa Aisha Pisarzewska Terlahir Dan Dibesarkan

 

By : Raidah Athirah

 

Setelah pulang dari rumah sakit Szpital Na Solcu , saya dihinggapi perasaan aneh. Saya tidak tahu apakah ini karena faktor ketidakseimbangan hormon pasca melahirkan atau kombinasi atas kelelahan fisik dan mental serta rasa kesendirian saya selama masa hamil di Jablonna. Dan mungkin juga kurangnya saya bersosialisa . Tetapi yang pasti di dalam mobil saya hanya memandang datar pada bayi cantik dengan rambut hitam lebat, bermata biru, dan warna kulit khas Eropa yang telah berpadu dengan lembutnya kulit Asia.

 

Saat tiba di depan apartemen kami di Jablonna.Kaki saya seperti tak bisa bergerak. Duduk diam didalam mobil. Saya merasa takut. Ya. Takut dengan kenyataan . Saya mendapati diri saya seperti orang asing. Suasana di sekeliling saya terasa begitu asing dalam pandangan saya saat itu. Saya seperti tak mengenal apapun . Bahkan muncul perasaan ingin tinggal lebih lama di rumah sakit.

 

Sebagai seorang ibu seharusnya saya bahagia. Apalagi bidadari kecil bermata biru yang berbaring di dalam car seat itu tak kurang satuapapun. Tidur lelap. Wajahnya yang putih seakan bersinar. SubhanAllah dia benar- benar seorang bidadari.Seharusnya saya mendekat. Lebih dekat. Tapi tidak , justru yang terjadi adalah sebuah paradoks. Saya ingin menjauh atau bahkan lari dari kenyataan bahwa kini saya seorang ibu.

 

 

***

 

Abu Aisha memarkir mobil tepat di depan apartemen kami.Hari itu dia begitu tampan . Ayah yang gagah. Dengan baju batik warna biru yang menyala dipadu dengan celana hitam serta tak ketinggalan sepatu dengan warna senada, memperlihatkan suasana suka citanya hari itu. Dia kini adalah seorang ayah. Ayah muslim pertama di Jablonna.

 

Dia turun dari mobil dengan wajah berbinar- binar. Sedangkan saya masih duduk diam didalam mobil. Tidak beranjak sedikitpun . Bahkan saya merasa mulai kehilangan pikiran . Jiwa saya seperti diguncang. Tak paham apa yang datang saat itu. Saya hanya ingin pulang. Kembali ke Indonesia. Hari itu saya sangat merindukan ibu saya di tanah air.

 

Mungkin anda akan mencibir tentang saya atau bahkan menyumpahi betapa saya ibu yang tidak bersyukur. Tapi apakah anda paham perjalanan mengandung yang saya lalui. Saya menulis kisah ini dengan airmata. Membuka file- file memori saya ke masa lalu. Keterasingan, kesendirian , dan peristiwa bertubi- tubi yang datang selama masa saya mengandung di negeri ini, Polandia.

 

Saya menulis catatan ini bukan karena ingin dikasihani tidak juga mengharap ada sanjungan. Wah ! . Hebat sekali wanita itu. Tidak sama sekali. Saya menulisnya karena ini jalan yang Allah berikan kepada saya untuk mengobati luka batin saya. Jika Baby Blues ini semacam penyakit jiwa , sebagai saudara anda harus mengulurkan rasa. Mendekap para ibu yang telah berjuang dengan gagah di medan kelahiran. Saya ceritakan kisah ini agar anda bisa bercermin atau setidaknya jauh lebih peka dan berhentilah menggunjing apalagi mencela.

 

***

 

Abu Aisha membuka pintu mobil meminta saya untuk melangkah keluar . Dia mendekat membantu saya untuk bergerak. Saya menoleh ke arah card seat disamping , tempat Aisha Pisarzewska masih berbaring. Tidur lelap. Wajah suci malaikat terlihat di wajahnya. Bayi cantik itu tersenyum dalam mimpi. Tak tahu bahwa ibunya kini berada dalam pertarungan batin. Tentang rasa kasih atau keterasingan satu sama lain.

 

” Kochanie, we already arrived . Could you move yourself to go out. I would take Aisha with car seat“. Suara Abu Aisha memecah kesunyian . Setelah kalimat ini keluar saya malah semakin tak berdaya. Tangan saya memegang kain kerudung lebar menutupi perut bekas melahirkan satu minggu yang lalu. Saya terhenyak. Beberapa detik kemudian menangis. Bahkan tangisan saya semakin keras walaupun saya coba mendekap wajah saya dengan sapu tangan kecil yang dipakai untuk menghapus keringat.Ini musim gugur. Tetapi tubuh saya malah kepanasan. Atau mungkin ini tanda rasa gugup. Entahlah pikiran saya berada dalam kebingungan.

 

Abu Aisha diam. Mungkin dia menduga bahwa selama seminggu di rumah sakit membuat saya merasa dimanja

( selangkapnya dalam catatan awal dwilogi ” Mengenang Masa Aisha Pisarzewska Terlahir Dan Dibesarkan. Menjemput bidadari bermata biru di Szpital Na Solcu”).Jadi saya merasa asing saat kembali ke rumah. Seharusnya dari awal saya membagi cerita atau setidaknya menggambarkan perasaan saya saat itu. Bahwa ternyata saya mengalami gejala Baby Blues. Kalau anda seorang suami. Tolong berinisiatif- lah sejak awal. Anda seharusnya paham bahwa sebagai istri dan juga ibu di awal tidaklah mudah mengatur emosi. Apalagi sampai anda menambah depresi pikiran . Sungguh anda telah menyakiti rahim bumi. Anda tak berhak bahagia.

 

Apakah saya marah pada Abu Aisha ? . Tidak . Saya hanya menyesal kenapa tidak saya gambarkan perasaan saya pada Abu Aisha di awal tentu dia bisa lebih cepat mengantisipasi. Saya sendiri bingung bagaimana menggambarkan perasaan sedih saya yang datang tiba- tiba. Kadang saat senja menjelang Baby Blues saya semakin parah. Menangis, sedih apalagi di tambah Aisha yang masih bayi menangis ingin menyusu , kepala saya sakit tak terkira. Saya ingin bersembunyi saja dari kenyataan ini. Tetapi dimana?

 

Saya sebagai ibu muda tentu melewati semua masa itu , puting lecet sampai berdarah, demam,anemia akut karena kurang tidur , bayi menangis karena kurang menyusu.( selengkapnya dalam catatan ” ASI Hak Buah Hati , Bukti Cinta Bunda ” ). Kalau muntah ,Subhanallah semuanya hilang tidak berbekas setelah melahirkan. Hari terakhir saya muntah adalah ketika saya melahirkan. Maha Suci Allah Yang Maha Perkasa.

 

***

 

Saya sendiri bingung mengapa saya bisa mengalami Baby Blues . Hal yang tidak pernah saya bayangkan. Bahkan dalam riwayat keluarga saya sekalipun.Baby Blues jauh lebih mengerikan dari pada muntah- muntah saat hamil. Kenapa saya berkata demikian?. Karena kalau tidak ada yang menasihati atau tidak banyak meminta pertolongan Allah , sebagai ibu dan istri orang- orang disamping bisa terluka karena perubahan sikap dan tingkah laku saya. Allah Maha Besar , tidak akan pernah meninggalkan makhluknya yang lemah.

 

Waktu ini , kadang saat saya dan Abu Aisha bercakap- cakap dan kemudian jalur cerita menuju ke masa lalu. Dia dengan spontan berhenti berbicara dan kemudian dengan tatapan tulus mengucap kata ” maaf ” .Kata ini bukan tanpa alasan. Alhamdulillah kami berdua telah melewati masa- masa itu. Kalau dibilang sulit setiap orang punya ukuran yang berbeda. Tapi bagi kami masa awal sebagai orang tua baru tanpa bantuan siapapun ini sebuah tantangan hidup yang besar jika tidak karena pertolongan Allah sungguh kami telah binasa di perjalanan.Kesedihan ini diperjalanan menemukan muara. Saya menulis catatan – catatan kecil yang bisa juga disebut diary. Alhamdulillah dengan cara inilah Allah memberi saya penawar.“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yg paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman”(Q.S.Al-Imran:139)

 

****

 

Baby Blues saya semakin hari semakin parah bahkan sampai pada tingkat depresi. Ah benarkah saya orang yang dikenal sabar dan tegar bisa sehancur itu?. Kenyataannya iya sungguh jika saya tidak banyak mengucap do’ a dan meminta pertolongan kepada Allah Tuhan Yang Maha Memberi Pertolongan , saya dan cita- cita serta mimpi untuk menjadi contoh keluarga muslim pertama di Jablonna bisa hancur atau bahkan runtuh. Hampir saja saya jatuh ke jurang, jika tidak mengingat iman dan identitas saya sebagai muslim. Kini saya semakin paham bahwa kita seharusnya hidup dalam ukhuwah dan tidak boleh sendirian .

 

Ketika saya mengingat masa itu , tak ayal air matapun tumpah. Jika saya ceritakan lebih lebar masa itu, tidakkah anda akan menghakimi saya?.Sungguh saat itu saya boleh dikatakan memiliki penyakit jiwa. Terkadang ketika kesadaran saya muncul, saya akan menggendong Aisha namun ketika kesedihan, perasaan tak bisa menerima datang merasuki pikiran saya. Saya menaruh lagi Aisha di kotak bayi.Saya hanya duduk diam memandang Aisha.Dia bayi yang baik. Jarang menangis. Kalaupun menangis itu karena dia lapar atau mungkin popoknya telah penuh.(selengkapnya dalam catatan ” Kasih Ibu Teruji Di Musim ” ).

 

Bagaimana dengan Abu Aisha?. Alhamdulillah dia ayah yang luar biasa hanya saja dia masih tak paham bahwa saya berada dalam cengkraman Baby Blues. Waktu yang saya cinta saat fadjar menjelang. Selama 40 hari masa nifas, saya selalu rindu waktu ini. Ketika saya merasa sangat bebas, jiwa saya kembali murni, berada dalam fitra kasih sayang seorang ibu. Di waktu ini walaupunn saya dalam masa nifas, saya berusaha sekuat mungkin jika tidak doa dalam bahasa Arab , saya berdoa dengan bahasa ibu , Bukankah Allah Tuhan Yang Maha Pengasih juga Maha Mendengar?. Mendengar rintihan setiap hambanya. Allah Tuhan Yang Maha Melihat. Tempat sebaik- baiknya kita mengaduh dan merintih meminta dikasihani.

 

 

***

 

Saya melakukan pekerjaan rumah seperti biasa. Alhamdulillah sejak muntah – muntah saya hilang tak berbekas. Saya kembali memiliki semangat untuk membersihkan rumah, ke dapur dan berbelanja ke areal pertokoan kecil di kompleks apartemen. Namun saat kesedihan itu datang , saya menunduk. Saat saya kekuar di waktu pagi, saya akan memandang ke langit. Berdoa semoga hidup saya tidak binasa di negeri ini. Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; dan sesungguhnya sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah semata.( Q.S.Al-Baqarah:45)

 

Jika ada film 40 hari mencari cinta. Maka saya berada dalam masa 40 hari bertarung dengan Baby Blues .Masa puncak karena 40 hari belumlah berakhir( selengkapnya dalam catatan ” Kasih Ibu Teruji Di Musim) . Jika anda bertanya berapa lama saya mengalami Baby Blues, sampai kami mengunjungi Ibu saya di tanah air. 6 bulan lamanya saya bagai pasien yang sekarat. Mencari makna hakiki kehidupan . Masa dimana jika saya tak mendekat kepada Allah Tuhan Semesta Alam , maka saya pasti tercabik- cabik bisikan syaitan yang terkutuk.

 

Ibu mertua saya yang penyayang berada dalam dilema. Beliau sendiri bingung tak tahu apa yang bisa beliu bantu. Saya benar- benar menyalahkan diri saya , andai saya bisa berbahasa Polandia tentu saya sudah leluasa berbagi cerita atau berkeluh kesah pada beliau. Abu Aisha tak pernah hilang perhatiannya kepada kami, tetapi dia sedikit tersibukkan dengan studinya yang menumpuk.

 

Ketila Baby Blues saya mencapai puncak . Keluarga Abu Aisha berembuk, bagaimana kalau saya dibawah saja ke rumah sakit. Untuk diterapi. Aisha bisa dikasih susu botol sampai saya benar- benar sembuh.Ini bentuk tanggung jawab mereka kepada saya. Tanda cinta kepada menantu dari negeri asing. Mendengar hal ini saya merasa seakan hendak diseret ke penjara sebagai pesakitan. Saya kemudian berteriak” saya tidak sakit” . Di detik- detik hampir saja jiwa saya mengalami kematian, saya mengucap lirih.HasbunAllah Wa Ni’mal Wakil. Cukuplah Allah sebagai penolong. Dan Allahu Akbar tertolonglah saya.Saya tidak akan binasa dinegeri ini. Saya seorang muslimah. Rahim saya telah berdarah. Allah tidak akan pernah meninggalkan saya.

 

Saya melewati hari demi hari, tiada hari tanpa bertarung , senjata saya adalah doa. Apalagi ketika senja menjelang , dan malam menutupi semua rahasia hidup.Dorongan bisikan, kesedihan serta putus asa yang dimaninkan oleh syaitan yang terkutuk ingin menguasai jiwa saya mengontrol raga saya. Teringatlah saya akan firman Allah ““….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yg kafir.”

 

***

 

Jika saya boleh meminta. Tolong ulurkan kasih pada ibu- ibu muda yang melahirkan . Kalau tidak dengan mendengar keluh kesah mereka setidaknya nasihatilah mereka dengan lembut. Mungkin ini masa dimana kaum ibu haruslah saling mendekat, mendekap, dan berbagi tentang rasa yang mungkin tidak semua kaum ayah paham tentang rasa ini.

 

Saya di Polandia merasa sendiri dalam kelelahan baik jiwa maupun raga. Saya merindukan ibu saya terkasih. Wanita dengan penuh kelembutan yang telah melahirkan 8 anak. Yang telah membuktikan di perjalanan bahwa dia adalah perempuan tangguh dan tegar . Tak ada dalam ingatan sedikitpun batin saya terluka. Semuanya manis penuh kasih. Jikapun salah ada masa dimana beliau menasihati atau jika kesalahan pada mengucap kata- kata yang kotor , maka akibatnya adalah kami harus memakai polesan cabe. Saya sangat merindukananya

 

 

Ketika serangan Baby Blues menyerang batin saya. Saya berdoa kepada Tuhan Semesta Alam, mengingat- ngingat, merangkai potongan- potongan ingatan betapa kasihnya ibu kepada saya. Maka sudah semestinya saya memberi kasih kepada Aisha Pidarzewska , putri yang saya kandung.

 

Aku Dan Ibu Diantara Masa

 

Aku memanggilmu ibu

 

Aku anak perempuanmu dirantau

 

Dipeluk sedih nestapa, berkabung asa

 

Aku mengenang masa

 

 

Kala kasihmu mendekap jiwa

 

Seharusnya aku menyenandungkan kabar bahagia

 

Akan tiba masa aku dipanggil ibu

 

Aku selamanya di masa

 

Memanggilmu ibu penuh cerita

 

 

Seharusnya aku memberi doa

 

Namun ini masa kala doamu kutunggu

 

Aku hampir binasa di negeri yang terasa asing

 

Walau kita berjauhan dalam jarak

 

Namun kasihmu menenangkan gelisah

 

 

Perih ujian yang tersimpan di jiwa

 

Dikenang dalam masa

 

Akankah kita bertemu di masa?.

 

Menyaingi masa yang tiada henti berkejaran dalam setiap peristiwa

 

 

Di sujudlah aku melepas beban

 

Berharap semoga Tuhan Yang Maha Rahim

 

Mempertemukan kita penuh rahim ,di masa

 

Rahim hanya terluka tapi tak akan pernah binasa

 

 

Rinduku bukan seindah rembulan

 

Yang hanya dipandang sebatas pilu

 

Kau ibuku telah tahu dirasa

 

Putrimu akan belajar setegar teladan sahabiyah yang melegenda

 
Suka

 
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: