Ketika Mas Gagah Pergi dan Hijab Pertama Sang Anak Pengungsi


 Memoar Sang Anak Pengungsi .Sebab Hidup Adalah Perjalanan 

Mengenang Sang Inspirator

Ketika Mas Gagah Pergi dan Hijab Pertama Sang Anak Pengungsi

***

Ibu Helvy Tiana Rosa , Beta Anak Pengungsi

Beta Anak Pengungsi
Bersuara dalam kata
Memintal harapan dari kaki Gunung Gamalama
Ucap syukur di rumah pengungsi

Ibu Helvy Tiana Rosa
Beta Anak Pengungsi
Biar sudah surat tak sampai
Beta tulis mimpi di kertas
Harap sua bertemu jua

Kenang ibu punya cerita

Beta Anak Pengungsi
Kagum ibu punya aksara
Ketika Mas Gagah Pergi
Kepeng terkumpul dengan susah payah

Ibu Helvy Tiana Rosa
Buku itu berharga kesungguhan
Dari rintik gerimis di sudut Pasar Gamalama
Langkah beta genggam harapan
Biar masa , Tuhan jumpakan ibu dan beta

Gerimis di Tanah Maluku Kie Raha
Ternate , 1999

***
Kerudung panjang hadiah sahabat maya dari Surabaya menghentak memori.Bagaimana tidak , kerudung itu seolah membongkar timbunan peristiwa enam belas tahun silam .Peristiwa-peristiwa tak ubah kepingan teka-teki yang menyatu menjawab rasa .

Memori melintas masa dari ujung senja Maluku sampai di pucuk Aurora Norwegia.Ada lempengan kenangan yang masih berkilau, meninggalkan tanah kelahiran mengingat huru-hara melahirkan mata yang basa.Tangis maluku mengenang senja berwarna merah.Darah.Getir mengurai pilu.

Pada akhirnya masa telah tiba, bahwa kenangan itu tak perlu berlalu tanpa kata.Suaraku patah-patah , tercekat di tenggorokan .Ngilu mengurai rasa perjalanan mengungsi menyeberang batas .Namun , kata-kata akan terus berjalan mengisahkan kenangan tentang sang inspirator, Helvy Tiana Rosa.

Apa pun jenis kerudung , kenangan itu selalu sama.Selalu.Dan bayangan masa lalu pun hadir melukiskan doa yang kini menjelma nyata.Aku selalu yakin bahkan saat masih berada dalam tanah Gamalama enam belas tahun yang lalu , sang inspirator itu akan kukenang saat sayap harapanku telah menjelma jadi kupu-kupu aksara .Aku adalah Sang Anak Pengungsi yang kini mengurai sayap-sayap aksara tentang perjalanan enam belas tahun silam .

Seperti siklus kehidupan kupu-kupu ; telur, ulat, kepompong dan akhirnya bermetamorfosa , menjadi kupu-kupu ! Banyak orang mungkin akan terikat , tapi setidaknya menyadari bahwa kenangan ini adalah nyata .Sang Anak Pengungsi laksana telur , ulat , kepompong yang didik semesta , masanya tiba .Cerita ini mumukul rasa, tetapi menerbangkan inspirasi tentang sebuah majalah bekas yang dibeli dengan susah payah , Annida.

Langkah sang anak pengungsi bagai siklus hidup kupu-kupu yang telah diatur Sang Maha Pencipta .Telur-telur harapan , jejak-jejak kecil si ulat mungil , bersabar dalam kepompong masa.Dan akhirnya kemenangan itu tiba menjelma kupu-kupu terbang memandang semesta.

****

Di sebuah rumah tua , dengan halaman luas bercampur rasa lapang.Aku, ibuku, dan dua adik perempuan mengungsi dari rumah tumpangan dan kembali menjalani hari di ruangan kecil dengan atap yang menampakkan berkas-berkas cahaya dari lubang kecil yang menganga disana-sini.
Sebuah panorama getir dari kaki gunung Gamalama.Membingkai lakon kehidupan anak pengungsi tentang harga diri yang harus dijaga , harapan yang dimulai dari pukul tiga fajar ketika mata-mata penduduk yang lain masih terlelap dalam mimpi.

Ibuku telah sibuk di dapur yang hanya dibatasi dengan lembaran kardus dan seng seadanya.Beliau wanita tangguh yang tak pernah menyerah , sekalipun sesak dada memandang keadaan yang serba tak layak. Rumah yang tak pantas dihuni , tapi harus jadi pilihan.

Seng apa-apa tinggal disini, yang penting jang kas susah orang .” Kata-kata yang keluar dari mulutnya menguatkan cita-cita.

Cum , nanti bantu mama bajual di pasar e .Katong bajalang pagi-pagi supaya orang yang mau minum teh pagi dong bali kue. Suara ibuku membuyarkan kantuk.

Kue sejenis naga sari telah siap dalam bungkusan .Orang Ambon menyebutnya ‘ Babongko ‘ .Kue ini berasal dari sebuah desa di Haruku yang bernama Kailolo . Selepas fajar kami akan berjalan turun dari Skep ke pasar Gamalama.Seakan tak mau kalah dengan para jibu-jibu ( penjual ikan ) sebelum matahari setengah naik mereka telah lantang berjuang demi hidup .Kami akan menjualnya di pasar Gamalama .Wanita itu pantang menyerah pada lelah.Kulit hitam legam bukanlah masalah.

Sebuah jam lama di dinding rumah menunjukkan pukul lima pagi. Aku dan ibuku baru saja selesai berdoa setelah shalat subuh.Dengan sedikit tertatih kami berjalan menuju pasar Gamalama .Menyesuri jalanan Santiong menuju jalan Pahlawan Revolusi, tempat dimana kami akan duduk menggelar dagangan yang hanya berupa kue naga sari.

Pasar Gamalama tak ubahnya wajah- wajah pasar tradisional di Maluku atau umumnya di Indonesia .Kala itu saat jejak langkahku dan ibuku telah mencapai terminal , aku merekam panorama yang mengelilingiku bak ketangguhan Gunung Gamalama yang mengitari Ternate.Menandainya dalam hati .Dan menyimpannya dalam memori.Berjanji kepada hidup, aku akan menggambarkannya kembali supaya orang belajar tentang rasa menghargai .

***
Aku melangkah malu-malu mengikuti ibuku melewati ruko-ruko yang ada di pasar Gamalama.Keramaian telah terlihat.Semua membentuk harmoni hidup dengan ciri khasnya sendiri.Penjual nasi jaha ( nasi yang dimasak di dalam bambu) , Ikan asap , suara angkot , dan kumpulan ibu-ibu penjual berbagai aneka macam bumbu dapur dan sayur mengeluarkan suara yang terdengar bertalu-talu.

Kami melintas lorong kecil yang menghubungkan langkah kami ke sebuah ruko.Aku menangkap pemandangan menyenangkan dari sebuah kios kecil.

Wah ! Ada majalah deng buku-buku.” Gumamku pada diri sendiri ketika kover sebuah majalah yang bertuliskan ” Annida” menggodaku ingin mendekat.Di rak buku atas mataku tertuju pada sebuah buku ” Ketika Mas Gagah Pergi ” .Belum sempat aku berbasa-basi tentang harga kulihat lambaian tangan wanita yang menjinjing kue .Ibuku memberi isyaraf agar aku berjalan cepat .Langkahku kubuat panjang .Mataku terus terpesona dengan kover majalah yang mengusik pikiran.

Tibalah kami di depan sebuah ruko.Belum juga dagangan digelar gerimis telah turun perlahan membasahi tanah Maluku Kie Raha.Aku mengenang gerimis sebagai tanda rahmat dari Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.Pagi itu di pasar Gamalama aku belajar tentang harga diri dan bagaimana perih yang tak dihargai.

****
Ibuku berhenti tepat di sebuah ruko , langkahku pun ikut terhenti disitu.Dan hati penuh harap tangan kuat wanita perkasa itu membuka kue dagangan yang telah lama terperangkap dalam bungkusan.Aku membantu meletakkan kardus untuk melapisi bagian bawah agar tidak langsung mencium lantai plataran ruko yang menghadap ke Swering .

Orang-orang berlalu -lalang namun tak seorang pun menengok pada kami.Perempuan perkasa dan anak pengungsi yang berjuang hidup .Tanah Gamalama menjadi saksi perjalanan yang memompa semangat .
Gerimis telah berhenti.Namun gerimis di hati mulai menghampiri ketika sebuah suara dari dalam ruko menghentakkan harga diri .

Ci , tolong bajual di tampa laeng e, kitorang ada mau kas bersih muka ruko .”

Aku menelan pilu , memandang wajah ibuku.Berharap tak ada kesedihan di mata wanita surga itu.Tak ada.Kudapati adalah sebuah gerakan cekatan merapikan dagangan kue dan langkah kaki dan mata yang mencari-cari sudut ruko yang lain.

Aku mendongak ke atas.Sebelum meninggalkan plataran ruko , aku merekam kembali sudut-sudut jalanan.Menyimpan gerakan manusia yang berlalu -lalang .Dan toko itu akan selalu kukenang .Selamanya.Perjalanan sebagai anak pengungsi yang mengajarkan tentang beragam wajah manusia yang sebenarnya.

Jarum jam telah melewati pukul 11 siang.Belum satu pun kue nagasari yang terjual.Ibuku meminta aku bersiap-siap untuk kembali terlebih dahulu ke rumah tua di jalan Amu Skep.Sekolah siang akan dimulai.

Aku menatap wajah wanita tangguh ini.Tak ada raut wajah malu.Walaupun malu telah datang padaku di masa itu.Kepalaku belum juga ditutupi kerudung.
Sebelum aku melangkah pergi meninggalkan ibuku, seorang wanita berhenti tepat di depan kami .Aku tak mengenalnya .Aku hanya menyaksikan bahwa ia berbicara dengan dialek yang sama dengan kami.Bahasa Ambon .Sesekali satu dua kata yang keluar dari mulutnya bercampur bahasa Ternate.

Barmaeng-barmaeng ka rumah di Santiong kah ! ”

Ia memborong dagangan kami.Dari ibuku aku tahu bahwa wanita itu berasal dari Ambon dan telah lama tinggal di Ternate.Ia bersuamikan lelaki dari Sulawesi Tenggara.Memiliki dua putra .

***
Ibuku menyimpan alamat yang diberikan wanita itu.Ia berharap kami mahu mengunjunginya di Santiong.Setelah merapikan tempat bekas jualan , aku melangkah dengan hati syukur mengucap hamdalah .

Allah Maha Tahu .Dia yang memberi rezeki.Matahari telah setengah naik mengitari gunung Gamalama.Kami melangkah melintas lorong kecil yang menghubungkan ruko diseberang sana dan jalanan ke arah Santiong.

Aku meminta ibuku berhenti sebentar di depan kiost kecil.Mataku mulai liar menelanjangi kover majalah bertuliskan Annida.Aku menanyakan harga .Dan ketika si Mas penjual itu menyebutkan harga , aku mengernyitkan kening.Seakan memahami rasa galauku.Ia menawarkan Annida bekas yang harganya jauh lebih murah .

Kalau ngana mau ini ada Annida edisi lama, dua ribu lima ratus , Annida yang baru lima ribu .”

” Annida yang lama saja Om , satu ! ” Aku merasakan bahagia yang amat sangat ketika menggenggam majalah itu.Hiburan yang sungguh berarti .

***

Hari-hari pun berlalu .Kota Ternate kala itu seperti bayi yang baru lahir.Tahun 1999 menandakan bayi itu berdiri diatas kaki sendiri dengan menyandang status yang baru,Provinsi Maluku Utara.

Jika orang berkata bahwa Ternate memiliki filosofi terlahir kembali .Aku dan keluargaku menandai kota ini sebagai kota kelahiran setelah selamat dari maut .Biar sudah peristiwa itu berlalu.Asal jangan kita mengulang luka yang sama.
Kota ini membuka jalan -jalan hidayah .Mematangkan pikiran .Menguatkan hati .Dan hari itu menjadi awal kerudung pertama Sang Anak Pengungsi.Terinspirasi dari kisah perjalanan hidayah Gita yang memiliki sosok abang yang luar biasa ” Mas Gagah ” .

Kerudung pertamaku adalah kerudung yang istimewa.Setelah dengan susah paya aku membeli buku karangan Helvy Tiana Rosa.Semangatku menggebu.Tak peduli aku dicemoh.Tekadku telah bulat.Berhijab.Rok panjang SMP bekas pemberian tetangga telah kupunya.Kemeja putih bekas yang warnanya boleh dikata kekuning-kuningan aku kenakan dengan percaya diri.Dan kerudung itu selalu membekas di hati.Mukena putih yang kekecilan itu kupakai kesekolah .

2341156

Itu awal perjalanan hijabku yang pertama.Yang semangatnya terispirasi dari sosok Mas Gagah yang telah pergi.Nama penulisnya kutulis di diari , Helvy Tiana Rosa .Siapa mengira enam belas tahun kemudian ruang maya mempertemukan kami dalam jarak benua .Beliau yang disana , Sang Inspirator .Dan aku di tanah Viking , Sang Anak Pengungsi.

Aku kembali membuka labirin-labirin peristiwa .Biar kukenang jejak perjalanan ini dalam kata .Biar orang belajar menghargai luka dengan semangat.Biar sudah ia jadi kenangan .

Aku Sang Anak Pengungsi , sejenak melupakan getir hidup mengungsi dengan menenggelamkan pikiran , menghibur diri dalam cerpen-cerpen Annida.Terkadang ibuku menegur agar uangku jangan kuhabiskan untuk membeli majalah Annida .Aku hanya tersenyum .Tak mengiyakan dan juga tak menjawab ‘ tidak ‘ .

Aku hanya mengingat saat kakiku melangkah pulang membawa buku ” Ketika Mas Gagah Pergi ” .Mataku telah basa .Hatiku diliputi haru.Kenangan yang selalu kusimpan disetiap jejak perjalananku.
Enam belas tahun sudah berlalu , aku mengenang Sang Inspirator dan perjalanan panjang yang menguras peluh namun melahirkan semangat.

***
‪#‎KMGPUbahHidupSaya‬
‪#‎InMemorial‬
‪#‎MemoarSangAnakPe‬ngungsi

Advertisements
Categories: Memoar Sang Anak Pengungsi | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: