Balada Sepasang Sepatu Bermulut Buaya


” Balada Sepasang Sepatu Bermulut Buaya ”

Serial Memoar Sang Anak Pengungsi. Sebab Hidup Adalah Perjalanan

*****

Langkah kakiku akhirnya menemukan dermaga, kakiku dapat beristirahat di ruang shalat Masjid Al-Kautsar Kalumpang , setelah menanggung beban , melangkah dalam jarak yang cukup membentang . Selepas rutinitas yang terlampau panjang, sepatuku telah payah berjalan mengitari areal Skep sampai di Jalan Takoma .Melintas Santiong sampai ke arah Bastiong.Enam hari dalam seminggu , terkadang kupaksa ia melangkah tujuh hari seperti dalam kalender.

Sejak mengungsi ke Ternate , Aku , keluargaku , sudah harus membopong kesulitan-kesulitan itu ke dalam hidup , dengan sigap belajar menerima keadaan . Aku belajar berdamai dengan caraku sendiri.

Pada tiap langkah , aku selalu meletakkan harapan .
Harapan-harapan hidup layaknya penduduk Maluku yang selalu menautkan harapan pada kisah bulir-bulir cengkeh dan pala.Mengantar kesuksesan , menopang kaki-kaki anak rahim berdiri tegak memetik bunga-bunga ikhtiar yang telah berpeluh asa dalam pengorbanan untuk melihat anak-cucu sukses dalam sekolah.

Saat menginjakkan kaki pertama kali di tanah Maluku Kie Raha ,ada setumpuk harapan yang menarik semangat , menghantarkan angan-angan layaknya yang terjadi pada hidung para petualang Eropa .Langkah menuju surga dari timur .Ya , jika usaha bapakku berhasil dalam berdagang cengkeh dan pala di seberang pulau.Namun nyata yang datang adalah kabar tak kunjung tiba.Dan sepatuku sudah tak bisa diajak melangkah.

Datangnya musim penghujan membuat sepatuku semakin bergumul dengan asa.Kaos kaki putih tak ayal sedikit berubah warna.Sepanjang jalan dari Sklep sampai ke SLTP 7 Negeri Ternate aku bertengkar dengan rasa maluku.Sepatuku terlihat seperti buaya kelaparan .

Sejak mengungsi , aku hampir lupa dengan apa yang orang sebut kenyamanan hidup dalam sandang dan pangan .Tak perlu juga berkhotbah tentang papan.Pengungsi hanya mengenal tempat mengungsi .

Maka bertarung melawan keadaan adalah sikap hidup yang harus dipupuk tak mengenal lelah. Berita konflik yang tak sudi kudengar , tapi selalu saja tiba. Di setiap langkah aku mengingat perjalanan ini dengan airmata yang tak bisa mengering, merekah, retak terbelah-belah.

Ketika sepatuku berlarut-larut tak berujung diperbaiki , aku hampir kehilangan akal dan akhirnya hanya berpaling pada sebaris harapan: Semoga bapakku bergegas datang dan mengobati rasa maluku yang semakin karuan.Butuh sepatu baru .Telegram sudah dikirim dua bulan yang lalu ke seberang pulau , namun masih tak juga ada kabar .

Bagi aku anak pengungsi , sepatu dengan label fashion sebetulnya tak terlalu banyak arti. Bahkan, mimpiku sederhana , jika tak bisa membeli sepatu baru , kiranya dengan segera diambil tindakan operasi ; bawa ke tukang sol dan tambal dagelan mulut buaya yang kelaparan, ia menghadiahiku kerepotan dan rasa malu.
Setiap hari, pergi dari rumah tumpangan ke SLTP Negeri 7 Ternate di seberang sana , aku mesti berjalan terseok-seok dengan sepatuku yang telah berlagak seperti mulut buaya.Membiarkan kaos kakiku terbuka , tak berhijab . Sepatu layak satu-satunya.

Kerepotanku tak usai di situ. Sebelum ke kelas atau ruang guru, aku tentu saja mesti berpura-pura mengikat tali sepatu yang lepas ,mencoba mengambil jeda untuk membungkam mulut buaya .Ah, berlagak manislah sedikit .Jabatanku sebagai ketua kelas tak urung membuatku sibuk berlenggak-lenggok di planataran sekolah dengan model sepatu bermulut buaya.

***
Aku suka sekali mendengar radio milik sang tuan rumah. Hikmah FM Ternate, Orang Ternate Pe Radio. Kalimat terakhir yang paling kuingat.Ya , aku ingat telah berungkali aku bermain dengan kalimat akhir mengingat nasib sepatuku yang telah memberi malu.

” Sepatu Mulut Buaya , Anak Pengungsi Pe Sepatu .Hikmah Mengungsi ke Ternate .”

Bersepatu pergi pulang guna sekolah , menuntut ilmu begitu nasihat orang bijak.Bersakit-sakit ke hulu , bersenang-senang kemudian . Wajah ibuku cukup memberiku penawar , cukup sudah aku menuntut .Saatnya menerima keadaan dan hadapi.

Setiap pulang sekolah aku tak langsung kembali .Ada semacam sesak di dada.Masjid di jalan Pohon Amu Skep , tempatku melepas resah selama di perjalanan sebagai anak pengungsi pasca konflik SARA yang melanda Maluku di tahun 1999.Masjid itu adalah kenangan , saat doaku kupanjatkan semoga susah bapak-ibuku tak sia-sia.Bahwa kesempitan haruslah dilawan dengan hati yang bijaksana , biar kelapangan selalu mengingatkan tentang wajah penuh syukur di ujung senja.

Tentu cerita bisa berbeda jika saja tak mengungsi .Sudah jadi suratan perjalanan haruslah begini .Balada sepasang sepatu bermulut buaya akhirnya mendapat kabar di ujung senja .Tukang sol membawa harapan .Walau masih tak ada kabar dari bapakku di seberang pulau setidaknya kami menyimpan asa bahwa cerita tentang pohon pala dan cengkeh bisa menumbuhkan harap bahwa kami tak harus berlama-lama menumpang di rumah kenalan jika bapakku telah mendapat usaha baru di Halmahera.

” Cum…. , kase sepatu kamari ! .Mama bawa ka ontua tukang sol di pasar ” .

Kalimat ibuku memecah putus asa. Girang tak terkira.

” Besok beta sekolah pagi , mau pigi ka sekolah pake apa? ”

suaraku menyiratkan kebingungan antara memilih kesekolah atau sengaja meliburkan diri .

” Oh , beta pake sandal saja .Kalau ibu guru tanya , beta bilang kaki ada saki .”

Aku menjawab dan menguraikan sendiri pemecahan balada sepatu yang sudah berlagak seperti mulut buaya.Menghardik keadaan .Wanita kuat itu hanya tersenyum dan kemudian kembali menekuni pekerjaan mengupas ketela yang akan dibuat menjadi tape di rumah tumpangan keluarga yang berbaik hati .

****

Enam belas tahun berlalu , aku sang anak pengungsi mengingat kembali kenangan ini saat sepasang sepatu usang tergeletak di jalan Bakarøy , Haugesund Norwegia .

Sepatu usang itu menghanyutkan diri dalam aroma legit bau tanah pengungsian nun jauh disana .Ah, enam belas tahun sudah perjalanan ini berlalu , selalu kurindukan semangat yang tak pernah berlalu.
image

Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: