Harga Sebuah Kejujuran


Dwilogi Memoar Aisha Pisarzewska, Putri Sang Perantau

Harga Sebuah Kejujuran

Oleh : Raidah Athirah

***

Bingung aku menanggapi persoalan ini .Nampak sepeleh memang .Entah sudah berapa kali Abu Aisha menyebut jumlah uang yang harus aku sediakan selama duduk di bangku taman .Bangku ini terbuat dari kayu , dicat hijau terasa nyaman diduduki.Berjejer rapi layaknya prajurit , bangku-bangku ini memiliki warna senada dengan rumput kering yang mulai terlihat menghijau berpadu padan dalam keheningan taman.Keindahan ini menggantung dalam pikiran yang terus bermain dengan logika selama kami duduk di taman.

Aku tak pernah bosan datang ke taman ini.Bukan juga karena Aisha Pisarzewska senang bermain disini. Ada banyak keindahan yang bisa kulihat atau merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah dalam setiap pergantian musim.Bahkan semak-semak rhododendron di belakang bangku itu pun indah .Terlihat rona ungu dari bunga-bunga yang telah mekar sejak awal musim semi. Bukan saja rona ungu, warna putih pun menambah semarak isi taman.Mungkin karena perdu itu terlindungi dari sinar matahari langsung oleh sederetan pohon , bunga-bunga ungu itu tak cepat menjadi layu. Sebentar lagi musim panas akan tiba. Dan rhododendron akan layu dibakar matahari yang terik. Sungguh aku takjub mendapati kejujuran alam dalam setiap pergantian musim.Maha suci Allah Tuhan Yang Maha Pencipta.

Kolam air di dekat bangku taman itu berwarna jernih , terkadang warna langit yang biru memantul membawa hati sekejab mengingat masa yang pergi. Kesunyian ini kadang terusik manakala orang yang singgah membawa juga anjing yang dimandikan di kolam itu .Tak apalah setidaknya ada keindahan lain dari dedaunan pohon willow yang berderet di salah satu sisi taman yang berdesir ditiup angin sepoi. Piletrær, begitu nama pohon itu dalam bahasa Norwegia. Daun-daunnya yang lembut, berdesir-desir bila ditiup angin, selalu mengingatkanku akan butir-butir air mata dan tubuh yang nampak tak berdaya mengingat masa yang telah lalu. Sungguh kuasa Allah jualah jiwaku tak binasa di negeri Abu Aisha.Kesunyian ini selalu memunculkan suasana melankolis.

Taman ini selalu berubah saat musim berganti.Daun yang berserakan di atas tanah akan berganti baju kala musim dingin tiba.Mengering.Meranggas.Dan batang-batang kecoklatan , kurus dan terlihat tak berdaya dengan tulus diselimuti butiran putih dari langit.Tetapi ini bukanlah akhir sebuah perjalanan.Saat perputaran masa tiba , tanda-tanda kekuasaanNya terlihat jelas dalam tubuh pohon yang meranggas dan kering berganti dengan kehidupan yang baru .Sungguh Allah Tuhan yang Kuasa menghidupkan dan mematikan.

” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari angkasa berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi iru segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (Keesaan dan Kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Q.S. Al-Baqarah: 164)

****

Pertama kali tiba di Haugesund , aku hanya bisa memandang taman ini dari jauh, burung merpati serta kawanan burung gereja yang terbang menyongsong pagi, sapaan hangat penduduk saat bertemu pandang, semuanya adalah keindahan pada pandangan pertama yang terpatri dalam ingatan bersama cinta dari orang-orang Palestina.

Aku duduk di bangku kayu lalu membuka tas kresek yang kuselipkan di dalam keranjang stroller .Ada remah-remah roti yang sengaja kubawa dari apartemen untuk kusebarkan di tengah taman, seperti yang biasa dilakukan beberapa penduduk disini. Lalu kudengarkan sorak Aisha Pisarzewska yang sudah tak betah berada di kereta bayi ketika burung gereja dan merpati satu per satu hinggap ke atas tanah mencucuk remah-remah roti yang sengaja kulemparkan di tengah taman.

Mungkin aku tak sengaja. Atau memang aku tak menyadari langkahku.Saat membuka pintu mobil, tak kuketahui bahwa ujung pintu mobil telah sampai meninggalkan bekas gesekan pada mobil tetangga yang diparkir tepat disamping kanan.Tak ayal tindakan ini mengakibatkan aku dan Abu Aisha sedikit beradu mulut.

” Ainna , tunggu sebentar ! ,” Abu Aisha mencegat langkahku.

Aku menoleh dengan rasa keheranan sambil kedua tangan memegang erat tangan Aisha yang walaupun baru sembuh dari demam , tingkahnya tetap tak bisa dibendung.Ia ingin berlari di pelataran parkir Homelgaten, areal apartemen yang bertetangga dengan air dan rumah-rumah kayu.

” Kenapa Bang ? ” tanyaku singkat.

Abu Aisha menunjuk titik gores pada mobil tetangga , seperti sebuah gesekan pintu yang tak disengaja.

” Lihat Ainna ! , goresan ini sebelumnya tidak ada.Dan cuma mobil kita yang diparkir disamping mobil ini .Berarti goresan ini berasal dari pintu mobil.? ”

” Tidaklah Bang, aku selalu membuka pintu mobil dengan penuh kehati-hatian ” Jawabku membela diri karena tentu hanya diriku satu-satunya yang akan menjadi tertuduh.Aku mencoba merangkai kepingan-kepingan langkah, berusaha mengingat setiap gerakku.

” How can be like that ? , its not me. Its must be done by other ” .

” I didn’t say that its yours fault. But probably one of us did this without realized our mobility.

Kepala terasa pening. Perdebatan singkat antara aku dan Abu Aisha tak urung membuatku mengakui bahwa goresan itu berasal dari arah mobil kami.Sesampai di apartemen , suamiku tetap sibuk mencari tahu siapa pemilik mobil itu.Tak juga ada tanda-tanda sang pemilik mobil mengetuk pintu apartemen.Abu Aisha melangkah mengambil secarik kertas dan kemudian menuliskan nomor telephone genggam .Beberapa saat kemudian ia telah berada di ruangan setelah menaruh kertas itu didepan kaca mobil ‘ tergores’ .

***

Satu minggu sejak peristiwa itu tak ada satupun tetangga yang menghubungi kami.Abu Aisha tetap menyuruhku menyediakan 3.000 kroner atau setara dengan 5 .679.600 rupiah , kurs mata uang yang baru saja kuhitung.

” Ahh …!, masa hanya goresan kecil uang sebanyak ini melayang ! .” Pikirku tak habis pikir .Lagian aku sendiri tak mengingat jika pintu mobil yang kubuka sampai bisa berakibat seperti ini.Dan tak ada satu tetangga pun yang menghubungi kami.Abu Aisha mewanti-wanti agar uang itu tidak dipakai atau dicampur dengan uang belanja bulanan .

Satu minggu berlalu tetapi tak ada tanda-tanda sang pemilik mobil menghubungi kami.Abu Aisha masih tetap dengan pendiriannya dan aku pun masih tetap tak merelakan uang sebanyak itu hilang begitu saja hanya untuk menghilangkan goresan kecil yang aku pun masih tak bisa menerima jika itu adalah perbuatanku.

” Abang , coud we use this money for buy Aisha new stroller ? .” Aku mencoba berbicara dengan nada suara yang paling halus atau mungkin bisa dikatakan merayu.Kupandangi lagi stroller Aisha yang sudah tak nyaman untuknya.Stroller ini cukup kuat, hampir dua tahun semenjak Aisha Pisarzewska dilahirkan tak pernah diganti.Musim gugur sampai ke musim dingin .Musim semi mencapai musim panas ,Aisha selalu didorong di kereta ini.Wajar jika aku berpikir untuk membeli stroller baru dengan sebagian uang itu.

” Ainna, insyah Allah nanti saja ! , uang child benefit akan ditransfer bulan depan .Kita bisa pakai untuk membeli stroller baru ! .” Suara Abu Aisha tak bersahabat.

” Abang, sudah hampir dua minggu dan tak seorangpun menghubungi , mungkin pemiliknya juga tak mempermasalahkan hal ini .Atau mungkin juga lupa ” aku tetap berusaha meyakinkan Abu Aisha untuk menggunakan saja uang itu.

” Ainna ! , sudah berapa kali aku bicara.Taruh saja uang itu sampai sang empunya mobil menghubungi kita.Kita belum tahu berapa banyak uang untuk memperbaiki goresan itu.Uang ini hanya untuk berjaga-jaga mengingat biaya perbaikan mobil terbilang mahal disini.” Suara Abu Aisha kali ini terdengar jelas dan tegas .

” Tapi Bang…. ” Aku mencoba melanjutkan tetapi belum semua kata-kataku keluar dari tenggorokan sebuah kalimat tamparan atau mungkin peringatan telah keluar dari mulut Abu Aisha.

” Ainna , kita ini muslim.Kejujuran harus kita jaga .Kalau uang itu dipakai dan kemudian sang pemilik mobil menelphone dan meminta biaya perbaikan , lantas kita harus bagaimana ?.Tak mungkin kita menyuruhnya menunggu sampai bulan depan.”

Akhir musim semi diwarnai dengan semua peristiwa yang berujung dengan jumlah uang.Baru saja diawal musim semi kami harus membayar denda parkir sebanyak 700 kroner karena Abu Aisha melanggar waktu parkir, kurang lebih sepuluh menit sebuah bomn ( denda ) sudah dijatuhkan di depan kaca mobil yang di parkir disamping Masjid Falah -el Muslimeen .

Sekarang kami harus bersiap-siap jumlah uang diatas melayang.Setiap bunyi telephone berdering kuharap itu bukan sang pemilik mobil.Hatiku sungguh tak rela, selain karena alasan butuh untuk membeli stroller baru, alasan lainnya adalah ” bukan aku yang berbuat demikian “, gerutuku dalam hati.

****

Musim semi telah berlalu.Tak terlihat kuncup malu-malu.Satu bulan sudah sejak kejadian itu namun tak ada tanda-tanda dering telephone dari sang pemilik mobil.Aku masih berteguh hati, masih tak rela dengan uang itu.Sekiranya jika tidak diperuntukkan untuk stroller Aisha , mungkin bisa dikirim saja kepada saudara di tanah air.Lagi-lagi pikiranku bicara mencoba menghasut logikaku.Dan setelah Abu Aisha selesai makan, aku mulai membuka percakapan singkat .

” Abang, could we use this money ?, ” tanyaku hati-hati

” Which money do you mean? ,” Abu Aisha bertanya balik dengan nada curiga.

” Tentu saja uang yang disimpan itu,roda stroller sudah berlari duluan , kau tak mahu kan Aisha berada di stroller dengan hanya tiga roda?.” Aku mulai beraksi melancarkan logikaku.

” Oh kobieta….kobieta ! , sekarang aku paham mengapa pengikut dajjal itu banyak golongan wanita karena memang seperti ini rayuannya ”

” Serem amat kau , Bang ! , ini khan hanya pendapatku saja kok sampai dikaitkan dengan pengikut dajjal segala, lagian mana sumbernya ? .Setahuku hanya ada hadist yang menyatakan bahwa penghuni neraka itu kebanyakan kaum wanita , bukan pengikut dajjal !.” Gerutuku tak menerima dihubung-hubungkan dengan hal ini.

” Kobieta….Kobieta !.Sudah berapa kali aku memintamu membaca kitab-kitab yang berjajar di rak buku.Buka saja kumpulan hadist shahih nanti kamu dapati ada bunyi hadist seperti ini , dalam hadits Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ” “Dajjal akan turun ke Mirqonah (nama sebuah lembah) dan mayoritas pengikutnya adalah kaum wanita, sampai-sampai ada seorang yang pergi ke isterinya, ibunya, putrinya, saudarinya dan bibinya kemudian mengikatnya karena khawatir keluar menuju Dajjal”. (HR. Ahmad 2: 67. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

***

Kali ini aku terdiam .Tak ingin lagi berdebat dengan suamiku.Banyak hal yang kusukai saat kami beradu argumen.Ada taburan nasihat yang muncul dari setiap peristiwa.Dan beginilah peristiwa ini mengantarkanku kepada satu prinsip hidup yang harus ditanam teguh ‘ kejujuran ‘ .

Saat kami menutup pembicaraan yang sedikit dibumbui perdebatan , tiba-tiba terdengar dering telephone genggam milik Abu Aisha.

” Halo ! .Apakah aku sedang berbicara dengan Pisarzewski ? , aku mendapati secarik kertas di depan kaca mobil yang tertera nama dan nomor handphonemu ,” terdengar suara lelaki dari seberang sana dengan dialek khas Norwegia .

” Iya benar.Aku Pisarzewski yang menulis itu .Mohon maaf atas goresan itu.Berapa biaya untuk reparasi , tolong beritahu agar aku bisa mentransfer biaya itu secepat mungkin .” Abu Aisha berbicara dengan nada suara meyakinkan.

Saat mendengar suara Abu Aisha, hatiku ketar-ketir masih membayangkan sebentar lagi uang sebanyak itu akan berpindah ke rekening sang pemilik mobil.” Ahhh…., itu bukan salahku.” Aku membatin seperti tak rela

Nasib….Nasib ! .Astagfirullah ! .Detik-detik percakapan ini menegangkan.Aku berdoa semoga saja sang pemilik mobil berbaik hati dan merelakan ‘ sedikit goresan ‘ menghiasi badan mobil berwarna merah itu tanpa harus ada kegiatan mentransfer uang .

” Tidak apa-apa , tidak usah dipikirkan, hanya sedikit goresan .Aku menelphone untuk memberitahumu bahwa aku sangat menghargai kejujuran anda.Ini pertama kali aku dapati bahwa ada yang sejujur ini. Kebanyakan justru menutupi atau terkesan tak tahu menahu .” Suaranya kali ini menjawab semua ketegangan dan hasutanku.

” Aku muslim.Dan agamaku mengajarkan untuk berlaku jujur.Anda memang tidak melihat, dan aku pikir tak ada siapapun yang melihat bahwa goresan di badan mobil milikmu adalah perbuatanku tetapi keyakinanku mengajarkan bahwa walaupun tak ada seorang pun yang melihat tetapi Allah Tuhan Yang Maha Melihat .Hal ini mendorongku meninggalkan secarik kertas untukmu ” Perlahan dan tegas suara Abu Aisha menutup percakapan itu dengan kalimat yang menghantam, mencerai-berai semua hasutanku.

Kali ini aku mengakui bahwa dalam setiap gerak hidup apapun itu , aku harus meletakkan Dzat Yang Maha Tinggi , Allah Tuhan Yang Maha Melihat diatas logikaku yang kerdil dan hina.

Allahu Akbar ! , Allahu Akbar ! , Allahu Akbar ! .Aku bertakbir membesarkan namaNya .Kami telah menang.Sebuah kemenangan hakiki, walau rasa malu masih terselip dalam hati mengingat betapa gigihnya aku hendak meruntuhkan keyakinan suamiku.Astagfirullah ! , aku terdiam seperti tak ada lagi kata-kata yang bisa terucap.Hari itu aku belajar tentang harga sebuah kejujuran.

Haugeusund, Norwegia di Akhir Musim Semi

Advertisements
Categories: Uncategorized | 9 Comments

Post navigation

9 thoughts on “Harga Sebuah Kejujuran

  1. satu kata yang terucap,,”subhanalloh”
    semoga mbak dan keuarga menjadi role model keluarga muslim di negeri orang,,sungguh dakwah yang luar biasa 🙂

    Like

    • Alhamdulillah 🙂 .Terimah kasih Bunda Aisha sudah mampir dan membaca tulisan saya .Doa yang sama juga untuk Mbak sekeluarga .Salam kenal .Saya menulis ini sebagai pengingat kejadian ini agar semakin yakin keberkahan sebuah kejujuran.

      Like

  2. Mbak benar-benar berada di tempat seperti di Foto atas? Kelihatannya kok was-was banget, tetapi pemandangan dibawahnya bagus

    Like

  3. alhamdulillah… 🙂

    Like

  4. Islam, mutiara yang sedang dipersepsikan dalam wajah seburuk mungkin. Tapi ada orang-orang yang tetap mengenalinya, bersabar bersama kesulitannya, sampai saatnya nanti terbuka.

    Like

  5. Masha Allah . respect

    Like

  6. ika puspitasari

    Subhanallah…..seringkali kita berlaku tidak jujur hanya untuk menutupi kesalahan yg telah kita buat…Astaghfirullah, terima kasih ummu Aisha atas pembelajarannya, salam untuk Abu Aisha..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: