Memoar Sang Anak Pengungsi , Sebab Hidup Adalah Perjalanan


Memoar Sang Anak Pengungsi , Sebab Hidup Adalah Perjalanan

Ketukan Pintu Menjelang Hari Kemenangan

Oleh : Raidah Athirah

” Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S At-Taubah : 60)

***

Siapa yang mengira jika perjalanan ke masa depan akan mempertemukanku dalam dunia maya tanpa sekat. Orang-orang yang namanya tertera dalam berita, dr Jose Rizal , dalam bait-bait kata tulisan Helvy Tiana Rosa , dalam tinta pena dari Asma Nadia, dalam cerpen-cerpen menggugah Sinta Yudisia.Kukenang Muthmainna dalam majalah Annida yang selalu kuatawar setiap membeli.Siapa mengatakan bahwa masa lalu tak berarti?.

Rumah berdinding semen dengan beberapa lubang di bagian ruangan mulai nampak sunyi senyap. Halaman yang demikian riuh setiap harinya dengan tingkah pola anak-anak pengungsi pun telah sepi.Dedaunan kering tersapu angin bergulung di tanah.Pohon-pohon kamboja disekitaran pekuburan Cina menghadirkan bau harum setelah gerimis sempat menerpa.

Suara takbir dari beberapa masjid di sekitaran Santiong mulai hilang pertanda waktu telah berada di garis malam.Penghuni rumah dengan lobang menganga disana -sini adalah keluarga yang berada dalam status sosial yang sama ‘pengungsi’.Mereka telah lelap dengan urusan masing-masing.

Begitupun dengan kedua anak perempuan yang jauh lebih muda dari umurku.Yang tinggal hanyalah wanita paruh baya berwajah Jawa nan ayu yang ditelan senja.Mengungsi ke Ternate merupakan perjalanan panjang dan berliku.Ia telah menapakinya dari jejak ke jejak.

Setelah berpindah dan terusir dari satu rumah ke rumah yang lain.Kami akhirnya berteduh di rumah pengungsi yang telah disekat menjadi bagian -bagian kecil untuk ditinggali beberapa keluarga.Rumah ini milik keluarga Manado yang telah menyelamatkan diri setelah pecah konflik Tobelo.

Beberapa bagian ruangan masih layak ditinggali .Hanya saja pintu dan jendela sudah tak terlihat.Rumah ini menghadap langsung ke tanah pekuburan Cina yang juga berbatasan dengan pekuburan Islam di Ternate.

Setiap ada yang meninggal, keluarga mayit dan pengantar jenazah selalu melewati rumah ini.Aku selalu mengintip dari celah-celah yang menganga.Lambat laun pemandangan ini menjadi biasa untukku.Bahkan sering ketika aku sedang mencuci pakaian diruang terbuka , orang-orang yang baru saja kembali dari tanah pekuburan kadang mendongak kepala memandangku.

Rasa malu membuatku urung mencuci di siang hari .Pekerjaan mencuci ini akhirnya terbiasa kulakukan di malam hari semata-mata menghindari pandangan pejalan kaki .Ibuku pun kadang turun tangan dan memintaku untuk kembali saja beristirahat. Setiap matahari mulai masuk ke celah-celah lubang dinding yang ditambal sana-sini, menandakan pagi telah menjelang , barulah cucian itu dijemur di atas tanah pekuburan Cina.

Aku masih duduk di bangku kelas tiga SLTP Negeri 7 Ternate saat kami mulai tinggal di tempat pengungsian .Setidaknya ada perasaan lega karena tak lagi ditampung di rumah-rumah penduduk.

Terkadang bahagia datang melihat tingkah pola anak-anak pengungsi yang mencari makanan atau sekedar membunyikan barang-barang yang baru saja ditinggal pelayat di pekuburan Cina.Makam-makam ini sendiri tingginya hampir menyamai atap rumah penduduk.Ada juga beberapa tulisan dengan kata-kata Belanda di beberapa makam yang kutemui kala berjalan hendak salat tarawih ke Masjid Al-Islah yang berada di Skep.

Dan malam itu salat tarawih telah pergi.Aku selalu merindukan malam itu.Entahlah, setiap Ramadhan diujung masa selalu timbul dua rasa.Membelah menjadi tanya.Akankah Ramadhan besok aku masih disini?. Bagaimana besok kurayakan kemenangan?.

Suara ibuku dari ruang kecil yang kami pakai untuk memasak memecah keheningan malam

” Cum, beso ose pigi shalat Eid di masjid toh? , tidur jua supaya bisa bangon tempo .”

” Seng, beta seng pigi shalat, seng ada mukena .”
Jawabanku terdengar tak ada semangat .Bagaimanapun ada sedikit rasa malu untuk keluar dengan menggunakan mukena lusu yang tiap hari kupakai untuk shalat tarawih .

Sesaat kemudian suaraku menimpali tanpa menunggu sedikit ceramah dari ibuku.

” Iyo , insyah Allah besok beta pigi shalat deng langsung bale .” Begitu ucapku menenangkan hati ibuku.( iya, insyah Allah besok aku pergi shalat dan setelah selesai aku akan segera kembali ke rumah )

” Alhamdulillah, mukena untuk salat Ied besok telah kucuci , ” hatiku membatin menenangkan rasa yang muncul.Aku menoleh pada mukena putih yang terletak di atas tumpukan pakaian bersih .Alhamdulillah terlipat rapi.

Suara ibuku kembali hening , hanya terdengar gerakan-gerakan kecil yang berasal dari dapur.Aku memandangnya dengan mata yang berkaca-kaca .Bangga, haru dan tekad yang membatu bercampur jadi satu kala memandang wanita tangguh yang melahirkanku, sebanyak apapun kerikil di jalan beliau tetap teguh melangkah diperjalanan.

Malam berwarna gelap diiringi bisikan langit menutupi rahasia kehidupan .Allah Tuhan Pemilik Langit dan Bumi sungguh tak pernah tidur.Kegalauan hati ibukudijawab di pertengahan malam dengan ketukan pintu yang mengajarkan hikmah bahwa Allah Tuhan yang Maha Pemberi Rezeki.

Setiap peristiwa yang datang selalu kutanam dalam ingatan . Bukan untuk merobek luka.Tetapi mengenangnya untuk tak pernah lupa bersyukur .Setidaknya perjuangan orang tuaku untuk mengungsi demi pendidikan kami telah menemukan muara.Kini , satu persatu semua penggalan perjalanan menjadi bingkai yang indah walau tak sempat bapakku menyaksikan setiap kata yang beliau ucap.

” Awauna e, hidup ini kaya deng tupai, kadang akang loncat kaatas, kadang loncat kabawah, seng usah talalu susah hati .Sakolah bae-bae la dudu batulis .”

” Anakku, hidup ini laksana seekor tupai, terkadang ia meloncat keatas ( hidup senang) terkadang juga ia meloncat kebawah ( hidup yang sulit) , jangan terlalu dirisau hati.Sekolah yang baik supaya kamu bisa menulis.”

Setiap kali menyusuri jalanan Hasseløy di Norwegia, aku selalu teringat perkataan ini.Bahkan saat masa-masa sulit menghampiriku di Polandia .Ingatan tentang kata-kata almarhum bapakku semakin melekat satu sama lain.Benar adanya bahwa perkataan orang tua adalah doa.

Aku masih terlalu polos untuk menafsirkan konflik SARA yang terjadi di tahun 1999 yang membawaku pada perjalanan ke perjalanan.Aku paham semua orang terluka.Luka seharusnya hanya menjadi bekas tetapi ingatan itu selalu membekas.Tetapi sekali lagi kutemukan hikmah bahwa Allah Tuhan Yang Maha Memperjalankan bagi siapapun yang Dia kehendaki.

****

Itulah rumah yang telah menyimpan kenangan tentang potret perjalanan sebagai anak pengungsi.Bagaimana pahit dan sukar perjalanan itu , sedikitpun tak ada penyesalan di hati.Seperti baru kemarin berpamitan untuk kembali ke Ambon setelah menjalani kumpulan tahun di tanah Maluku Kie Raha.

Wajah para tetangga juga masih melekat kuat dalam ingatan.Bagaimana kabar wajah orang-orang yang telah bersama melewati tawa dan tangis ?.Kabar yang kudapat sebagian yang kukenal telah kembali ke haribaaan Allah Tuhan Yang Satu tempat semua mahkluk kembali.

Setelah enam belas tahun aku meninggalkan Santiong, kali ini aku kembali lagi. Ya, ini sebuah memori.Ramadhan selalu membaku kembali.Mengingat kembali perjalanan penuh warna sebagai anak pengungsi.Aku benar-benar ingin melihat kembali negeri kesultanan yang telah membesarkanku.

Perang memang selalu menyisakan kesedihan dan luka.Bagaimanapun luka itu dirasa , dalam setiap perjalanan Allah Tuhan Yang Maha Memperjalankan akan menyembuhkan sakit dan menghapus semua kesedihan. Kini, yang tinggal hanyalah penggalan memori dari jejak-jejak kehidupan yang terserak.

***

Ramadhan di ujung perjalanan.Ruangan kecil yang telah dibagi menjadi dua bagian dengan menyambung sedikit lahan tetangga , menjadi kediamanku bersama keluarga.Tak ada yang istimewa tetapi ada hal berharga yang tak pernah kulupa tentang ketukan pintu menjelang hari nan fitri .

Malam itu ketika banyak keluarga tengah mempersiapkan berbagai makanan menyambut lebaran.Tak lupa baju baru di Hari Raya sebagaimana tradisi orang-orang yang merayakan kemenangan .Aku masih mengingat wajah ibuku yang telah pasrah dengan keadaan .Kami baru saja mengungsi ke Santiong setelah mengembara dari satu tempat ke tempat lain sampai akhirnya menemukan titik berteduh.

Sesekali aku mendengar tangis sesenggukan yang akhirnya reda ditelan lelah.Suara itu berasal dari wanita yang kupanggil ‘ ibu’ .Belum juga ada kabar dari bapakku yang pergi bersama kakak laki-laki yang mencari penghidupan di seberang pulau.

Aku mulai paham rasa yang datang pada wanita tangguh yang telah berjuang melawan putus asa.Tak ada ibu yang rela melihat anak-anaknya tak merasakan kemegahan lebaran walau hanya dengan pakaian yang layak.Saat itu aku telah memasuki masa remaja.Berbagai mimpi dan cita-cita hendak duduk di bangku kuliah kutanam dalam-dalam.Setiap membaca diari kecil itu, aku pasti meneteskan airmata.

Gumpalan mimpi itu masih tetap dalam hati, dan abadi hingga kini. Gumpalan cerita itu seharusnya sudah memudar terurai waktu. Namun yang terjadi tekad ini semakin membara bahwa penggalan memori tak boleh dilupkan begitu saja. Perjalanan dan airmata membuat hati semakin kuat. Dan gumpalan itu semakin menemukan muara, mengeras dan membatu di sudut ruang hati yang terdalam .

.Bayangan seorang gadis mungil hitam manis , dengan kerudung lebar yang menjuntai sampai ke dada selalu muncul dalam cermin .Langkahnya adalah langkahku .Kisahnya adalah penggalan perjalanan yang senantiasa menggoda hatiku itu adalah memori.

***

Aku baru saja hendak merebahkan tubuhku ketika telingaku sayup-sayup mendengar langkah kaki yang mendekat kebagian ruangan yang kami tempati.Semakin dekat.Mendekat.Dan terdengarlah ketukan di depan ruangan yang tertutup pintu darurat seadanya.

” Assalamualaikum .” Suara dari luar terdengar seperti suara laki-laki.

Ibuku melangkah mendekati pintu.Beliau tidak langsung membuka plang kayu yang dibuat untuk mengunci melainkan mengintip dari celah-celah lubang.Siapa pula gerangan yang hendak bertamu tengah malam begini?.Begitu pikir ibuku.

Ruangan tidur , sekat di bagian dapur memang menghadap langsung jalan setapak yang menuju ke pekuburan Islam .Wajar saja sering terdengar bunyi sandal jika ada yang berjalan melewati jalan itu.Tetapi mengetuk pintu tengah malam, suara laki-laki pula , mana bisa ibuku membuka pintu.

Bukan apa-apa , hidup di tempat pengungsian tanpa kehadiran bapakku atau saudara laki-laki bisa saja menimbulkan niat jahat.Itulah mengapa aku selalu dilarang membuka pintu.

Ketukan dan salam kedua masih berlanjut.Sampai yang ketiga, barulah ibuku bersuara keras ke arah pintu.

” Wailaikum salam , ini sapa? , ” tanya ibuku singkat.

” Kitorang dari panitia Masjid, mau kasih zakat ”

Ibuku akhirnya membuka plang pintu.Berdiri tepat di depan pintu dua orang laki-laki paruh baya yang sepertinya terbiasa kulihat di masjid Santiong.Ya, ternyata mereka amir zakat .

Mereka mengatakan bahwa mereka telah melewati rumah pengungsian tetapi kemudian urung untuk berhenti.Namun setelah tiba di masjid , ada sesuatu yang mengganjal begitu yang dikatakan kedua bapak tadi.Beberapa saat kemudian mereka memutuskan kembali dan berhenti tepat di depan ruangan yang kami diami.

Aku masih mengingat isi dua tas kresek hitam yang cukup besar berisi beras serta uang yang diselipkan di dalam amplop.Hati siapa yang tak haru mengingat masa itu.Sungguh Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui.

” Alhamdulillah !. Allahu Akbar ! .Aku bertakbir menyambut hari kemenangan.Menancapkan dalam hati tentang keyakinan bahwa Allah Tuhan Yang Maha Menjaga.Ketukan itu adalah jawaban.Terlihat wajah ibuku membuncah bahagia diliputi keharuan yang amat sangat.

Bersambung…..

Rumah Pengungsi, Tanah Cengkeh dan Pala

Ternate, Menjelang Hari Kemenangan

Nb :
1. ” Cum, besok kamu pergi shalat Eid di masjid kan? , tidurlah supaya kamu bisa bangun lebih awal.”
Cum : panggilan masa kecil diambil dari nama Kulsum
2.Ttidak, aku tidak pergi shalat ke masjid, aku tak punya mukena )
3. Iya, insyah Allah besok aku pergi shalat dan setelah selesai aku akan segera kembali ke rumah

Warsawa Perjalanan awal ditanah Eropa

Warsawa
Perjalanan awal ditanah Eropa

Norwegia Negeri Viking yang membakitkan memori

Norwegia
Negeri Viking yang membakitkan memori

Advertisements
Categories: Uncategorized | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Memoar Sang Anak Pengungsi , Sebab Hidup Adalah Perjalanan

  1. Betapa janji Allahswt itu pasti ya ummu “dan dalam kesulitan itu terdapat kemudahan dan dalam kesulitan itu terdapat kemudahan”

    Like

  2. Iya Mbak Ruru .Setiap ingat momen ini selalu ingat pertolongan Allah kepada saya dan keluarga.Alhamdulillah .Taqoballahu minkum minna waminkum taqobal ya karim buat Mbak Ruru sekeluarga :).Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H ( 😀 maaf telat ngucapinnya )

    Like

  3. Taqabbal yaa karim. Indahnya raya fitri. In shaa allah ketemu lg dg Ramadhan nanti. Di kampung internetnya lambat sekali sptnya saya melewatkan beberapa tulisan ummu 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: