Mengingat Gaza, Mengingat Cinta Orang-Orang Palestina


Dwilogi Memoar Aisha Pisarzewska, Putri Sang Perantau.

Terlahir & Dibesarkan

Oleh : Raidah Athirah

***

Mengingat Gaza, Mengingat Cinta Orang-Orang Palestina

” Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara .” ( Q.S.Al-Hujarat : 10).

” Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit , dengan tidak bisa tidur dan demam”.( HR.Bukhari & Muslim)

****

Perjalanan udara dari Warsawa dengan maskapai bertuliskan Norwegian Airlines tak memakan waktu lama.Setelah tiga jam berada dalam kumpulan awan berwajah abu-abu pucat .Segala puji bagi Allah Tuhan yang memperjalankan kami mendarat dengan selamat di tanah Viking, Norwegia.

Kelelahan menyerang tubuhku saat jejakku menepih di Sola,Stavanger Airport .Perjalanan darat dari Stavanger menuju Haugesund menggunakan mobil membuat ragaku serasa remuk.Aisha Pisarzweska yang telah berumur 13 bulan duduk di car seat, mulutnya tak berhenti menguyah-nguyah kukuruzi .Bahagia melambai tapi ketidakpastian menyergap.Apakah lukaku akan sembuh di negeri ini? .

Seperti biasanya, kami berhenti sejenak di salah satu mall karena Aisha yang terus -menerus muntah .Saat pertama kali ke Norwegia ,pikiran-pikiran buruk masih mengikutiku dalam angan .Aku masih terbawa dalam masa bahwa negeri ini tak berbeda dengan negeri yang baru saja aku tinggalkan .Aku tak ingin menaruh harap terlalu banyak pada negeri yang baru saja kudatangi.Biarlah Allah Tuhan Yang Maha Pembimbing membimbing setiap langkah untuk menemukan remah-remah hikmah yang berserakan di perjalanan.

Perjalanan ini seharusnya bisa ditempuh selama dua jam , namun karena sering berhenti mengisi bensin , menenangkan Aisha yang kadang menangis di car seat , menyusuinya di dalam mobil dan meletakkannya kembali di car seat atau sekedar mengganjal perut dengan perbekalan yang kami bawa dari Polandia , tak urung kurang lebih empat jam langkah kaki kami berakhir di Haugesund , di rumah keluarga Palestina.

***

Ketika tapak kaki menjejak di negeri Viking , aku merasakan suhu udara dingin yang menusuk.Saat itu pemandangan yang terlihat hanya berupa air , bebatuan besar yang telah takluk dan hembusan angin yang dapat membuat badan menggigil. Tak terlihat rumput hijau ataupun bunga warna -warni.Musim ini seperti musim kesunyian, nampak pohon yang meranggas dan jejeran batu besar di sepanjang perjalanan.Semuanya bergerak dalam diam .Membisu.Laut yang terlihat samar- samar sama sekali tak menarik perhatian.

” Negeri ini sama sekali tak ada bedanya dengan Polandia “.Aku membatin selama di perjalanan saat memandang sekeliling yang hanya terlihat gelap dan langit yang berwarna sendu.Rumah-rumah diatas bukit dengan kerlap-kerlip lampu menyala sepintas hanya seperti hiasan lampion.

Aku tak bisa tak peduli pada musim .Setiap musim punya kenangan yang akan selalu kuingat .Hari ini musim dingin atau musim panas ?.Musim semi atau musim gugur? .Mana yang harus dipercaya?.Penglihatan atau perasaan?.Segalanya begitu cepat bertukar rupa dan tak ada yang peduli.Namun aku peduli.Perjalanan setiap insan tak pernah tertukar, begitupun musim.

Keramaian manusia tak nampak .Yang ada hanyalah zikir alam nan syahdu.Bayangan tentang negeri dongeng layaknya siluit angan-angan .Terbelah antara harapan dan kecewa.Kelak, saat musim berganti semuanya terjawab.Perjalanan ini telah membawaku mengenal Gaza.Mengenal cinta orang-orang Palestina yang berada di tanah Viking , Haugesund.

Mobil melaju memecah lorong-lorong gelap.Terowongan berdinding batu seakan membawaku pada rentetan memori.Apa yang bisa kutemukan dari negeri ini ?.Aku sama sekali belum melihat cahaya.Namun, harapan itu telah kurasa.Harapan yang membunuh putus asa.Tak layak aku membawa sedih yang lama .Aku harus mengingat janji Allah Tuhan Yang Maha Baik bahwa dalam satu kesukaran Dia TuhanYang Pemurah menjanjikan dua kemudahan.Tidakkah ini lebih dari cukup?.

Gelap dalam terowongan ini hanyalah sekejab saja.Ia pasti berujung.Gelap yang kadang tak berujung terletak dalam hati.Akan tetapi Allah Tuhan Yang Maha Pembimbing akan menuntun tergantung seberapa kuat janji dalam jiwa untuk bergerak melawan gelapnya pikiran .

Setelah menangis , Aisha Pisarzewska akhirnya tertidur di car seat.Aku memandang putriku .Pandanganku jatuh pada tubuhnya yang terlihat lelah.Wajahnya mengingatkanku tentang air mata yang tumpah di taman Sziptal Bielanski.Sebuah kenangan tentang do’a dan pertarungan di ujung maut . ( dalam penggalan dwilogi Memoar Aisha Pisarzewska , Airmata yang tumpah di taman Szpital Bielanski) .

Aku terdiam.Mataku melirik Abu Aisha yang sedari tadi matanya tetap berpusat pada lorong gelap di depan mata.Semua indranya tertuju pada jalanan.Aku memandang sekeliling, cahaya dari lampu mobil membuatku menangkap sebuah papan lalu lintas bertulis ‘ SOS’.

” Ini pasti bukan sebuah kebetulan ” aku berkata kepada diri setelah melihat tulisan tiga huruf yang melangkah ke masa lalu.

Aku, Abu Aisha , dan Aisha Pisarzewska masih di dalam mobil .Bergerak kedepan menyongsong kehidupan baru.Aku tersadar bahwa perjalanan ini bagaikan sebuah cermin kehidupan .Mobil yang terus melaju laksana roda-roda perjalanan.Pemiliknya yang memilih antara mengayuh menyongsong masa depan atau terperangkap dalam ingatan masa lalu.Begitulah aku dapati diriku dalam labirin pikiran.Aku memilih melawan sakit.

Aku tak tahu apa yang suamiku pikirkan. Bila, kata orang sebijak-bijaknya, jodoh merupakan salah satu tulang rusuk yang tercerabut. Tidak bagiku. Ia adalah kedua mataku. Yang kugunakan untuk mengenal dunia.Aku tak akan mampu membalas semua perhatiannya yang tercurah kepada kami.Ia membawaku dan Aisha Pisarzewska ke negeri ini guna menyembuhkanku.Kesedihan , jiwa yang rapuh terlalu lama tinggal dalam ingatan semasa masih di Jablonna.Kepindahan ini membawa harapan.

Aku memohon,menghiba dalam diam penuh harap bahwa cahaya dari Allah Tuhan Yang Maha Memberi Pertolongan akan segera muncul .Seperti gerakan mobil yang terus melaju menyongsong terang yang telah dibalut warna langit.Aku mengingat senjata apa yang kupunya untuk melawan semua ini.Doa.Ya, berdoa itu yang kupunya.

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu.” [QS Al-Baqarah : 186]

Ini saatnya aku berdoa.Berjanji .Perjanjian antara diriku dan pikiranku.Aku telah bergerak.Berpindah.Ini masanya untuk melupakan warna gelap yang telah lalu.

Jika aku berusaha sekuat tenaga memegang janjiku untuk yang lain.Sudah sepantasnya aku memegang janji pada diriku sendiri.Sebuah perjanjian yang diucapkan dari hati.Dicatat oleh makhluk cahaya pencatat segala urusan insan di bumi .Janji ini telah didengar dan diketahui oleh Allah Tuhan Yang Maha Mengabulkan doa makhlukNya.

” Bismillah aku bisa ” suaraku membatu dalam hati diikuti gerakan tangan mengepal .Jika di belahan bumi yang lain ada saudaraku yang berjuang dengan darah dan air mata, sungguh aku perempuan manja bila memilih menyerah .Aku menyongsong cahaya.

Mobil melaju memecah lorong-lorong gelap.Cahaya sudah nampak.Rumah-rumah sudah mulai mendekat.Pohon-pohon yang berjejer semuanya berwajah sama.Kering tanpa dedaunan.Butiran putih yang menjadi icon musim ini pun belum muncul.Ah, ini baru November.

” Ainna , soon insha Allah we will reach Haugesund ” .Suara Abu Aisha membelah kesunyian .

” Alhamdulillah.Apartemen far from town ? ”

” No , Alhamdulillah , i already found one apartemen which very close to the town and very important it also near with masjid. Soon you will see insha Allah.”

Percakapan singkat antara aku dan Abu Aisha semakin menguatkan harapan. Masjid, negeri ini , dan janjiku.Ketiga kata ini terikat.Mengikat satu sama lain dalam benak.Hatiku diliputi haru , hampir sekian tahun hidup di Jablonna hampir-hampir bangunan masjid menjadi asing bagiku.Tak penting besar, masjid kecil pun telah menjadi bongkahan semangat yang kini menyala-nyala.

” Bismillah,” aku berkata kepada diri.Entah apa yang bisa kuingat dari negeri ini.Yang pasti janjiku telah membatu.Masjid yang kurindukan telah muncul melewati pengharapan.Daun yang gugur meninggalkan pohon kehidupan.Ia bisa gugur kapan saja.Begitupun manusia , ia bisa mati kapan saja.Ada orang mati yang raganya telah menyatu dengan tanah namun ruhnya tetap hidup dalam lisan makhluk di bumi.

Aku bisa mati kapan saja.Alangkah perjalananku sia-sia bila tak ada sepatah dua-kata yang kutulis.Siapa yang akan mengingat Aisha Pisarzewska jika ia adalah putri dari rahimku?. Catatan-catatan itu tak boleh hanya terpendam dalam file komputer.

Rangkaian kalimat dari lisan kadang diingat, kadang terlupakan.Namun bila kata-kata telah tertulis dalam lembaran kertas, siapa yang menolak untuk membaca? ..Bahasa lisan hanya punya satu saksi.Berapa banyak perjanjian lisan yang tak bisa dipercaya, namun jika tertulis kekuatannya melebihi ribuan ucapan.

Lagi-lagi aku berjanji.Tulisanku yang terserak akan kusatukan kembali.Perjalanan ini tak boleh berlalu tanpa kenangan .Siapalah aku hendak ingin dikenang?.Aku hanyalah muslimah biasa yang merantau mengikuti jalur takdir .Tetapi pilihanku, menuliskannya.Menulis perjalanan ini.Bagaimana sukar sebuah perjalanan, pasti ada masa temukan jalan kemudahan.

” Batu ”

” Semangat ”

” Perjanjian”

Ah, sebuah perjanjian.Muncul dalam memoriku nama ibukota negeri ini. Aku mengingat sebuah cerita .Cerita tentang perjanjian yang terjadi di ibukota .Perjanjian yang mendukung perjuangan anak-anak pemberani penggenggam batu.Bebatuan di sepanjang perjalanan dari Stavanger-Haugesund telah membangkitkan memoriku tentang sosok anak laki -laki pemberani dari tanah para nabi , Faris Audah.

Ia dan batu telah menjadi saksi kisah perjuangan yang tak akan berhenti walau darah telah jatuh ke tanah , merahnya menyatu dengan bumi , namanya dikenang, diingat dan keberaniannya diwariskan kepada anak-anak Al-Quds yang lain.Ruhnya hidup disisi Allah Tuhan Pemilik Langit dan Bumi.

” Faris Audah ”

” Batu ”

” Perjanjian Gaza-Jericho, Perjanjian Oslo I ”

Aku mengingat -ngingat negeri ini dengan membuka rentetan memori .Bebatuan telah membangkitkan memoriku tentang kisah-kisah heroik yang dikenang dalam sejarah umat manusia .Perjanjian yang mendukung perjuangan bangsa Palestina .Aku tak ingin bercerita .Cerita tentang perjanjian yang terjadi di ibukota negeri ini telah tercatat dalam tinta sejarah .Namanya perjanjian Oslo I .Orang- orang menyebutnya dengan sebutan perjanjian Gaza-Jericho .Atau adakah yang masih mengingat Perjanjian Oslo II ?.

Aku masih mengingat perjalanan itu , perjalanan pertama kali yang akan mempertemukanku dengan orang-orang Palestina.Maha Suci Allah Tuhan Yang Maha Rahman dan Rahim, kami orang asing satu sama lain tetapi jalinan ukhuwah yang terjalin dalam kumpulan minggu membuatku belajar bahwa bumi Allah luas, dan beginilah cinta orang-orang Palestina yang ditunjukkan kepada saudaranya, kami pasangan asing yang baru saja tiba di Haugesund.

****

Abu Aisha berhenti tepat di sebuah apartemen kecil yang terletak tidak jauh dari areal masjid kecil yang merupakan masjid kedua di Haugesund.Terlihat seorang laki-laki paruh baya dengan wajah Arab memakai jaket tebal menunggu di depan pintu masuk .

Ia melambai tangan ke arah kami.Abu Aisha turun dari mobil dan memeluk tubuh laki-laki paruh baya itu.Layaknya seorang anak memeluk bapaknya dengan rasa rindu setiba dari perjalanan ,begitulah pemandangan yang saya saksikan.

Beberapa saat kemudian , Abu Aisha melangkah mendekati mobil.Ia membantu saya menggendong Aisha .Kami berjalan mendekati apartemen disertai angin kencang di Haugesund .Saat kaki perlahan -lahan memasuki apartemen , terlihat seorang ibu cantik berwajah khas wanita timur tengah dengan sedikit guratan di bagian wajah menandakan umur beliau yang hampir sama dengan lelaki paruh baya yang baru saja memeluk Abu Aisha.

Ia mengenakan abaya warna hitam dipadu dengan kerudung warna senada.Senyumnya seperti senyum ibuku nun jauh di Maluku.Ramah dan keibuan.Aku merasakan kehangatan yang tulus.

” Assalamu’alaikum ,” suara kami berdua serempak mengucap salam saat melangkah memasuki ruangan kecil yang lantainya menyatu dengan suhu udara musim itu.

Suami-istri itu menjawab salam dan mempersilahkan kami duduk.Istrinya berjalan mendekatiku hendak menggendong Aisha Pisarzewska .Masha Allah ! , putriku tak menolak.Ini kali pertama putriku digendong orang yang baru dikenal.

Apartemen ini kecil tetapi aku merasakan hati yang luas . Berada dalam apartemen ini seperti berada di rumah orang tuaku. Tak ada rasa kaku sebagaimana orang asing yang baru bertemu.Kehangatan yang terjalin mengusir dinginnya udara yang mengintip dari celah-celah jendela.

” Habibi , persilahkan mereka makan ! , ” suara ibu itu terdengar begitu lembut walau diucap dengan bahasa Arab yang khas.Aku memang tak fasih berbahasa Arab tetapi beberapa kata dan ungkapan sudah terbiasa di telinga.Kalimat yang terdengar membuat mataku tertuju pada hidangan yang tertata rapi di atas meja.Berbagai aneka makanan khas Arab.Salah satu makanan yang kulihat mirip sekali dengan nasi kuning yang biasa di masak ibuku ketika kami berkunjung ke Maluku.

Aku menoleh pada ibu itu, ia sedang asyik bermain dengan Aisha.Suaminya Haji Abdalah, begitu laki-laki paruh baya ini dipanggil oleh Abu Aisha telah duduk berdampingan dengan suamiku menghadap meja yang telah penuh dengan hidangan.Suamiku telah mengenal orang tua ini sejak awal perjalanannya menjadi muslim.Mereka terlihat mulai menyantap hidangan .Aku sedikit bingung tak tahu apa yang harus kulakukan terlebih dahulu.Tak enak rasanya mulai duduk walau telah dipersilahkan.

” Jamila… , duduk di samping Abdullah ,makanlah bersama mereka .”Suara wanita ini terdengar seperti suara ibuku.Beliau masih menggendong Aisha yang kadang mulai bertingkah layaknya anak-anak yang ingin menjelajahi tempat yang baru .Bahagia datang tiba-tiba.

” Naam Ummi ,” jawabku singkat dan bergerak duduk di samping Abu Aisha.

Makan malam selesai.Kami tak langsung pulang karena Haji Abdalah meminta kami duduk barang sebentar sambil menyantap beberapa kue buatan Hajah Muna.SubhanAllah ! , aku tak berhenti memperhatikan gerak-gerik Hajah Muna.Walau telah berusia paruh baya , beliau tetap terlihat cantik dengan wajah putih bersinar.Ada mutiara yang selalu kuingat dari ibu Palestina ini, tutur kata yang lembut kepada suami, kehangatannya melayani tamu dan cintanya layaknya seorang ‘Ummi’.

***

Selepas penyambutan hangat dari keluarga Palestina , Abu Aisha menyetir mobil membelah jembatan Bakarøy membawa kami ke apartemen yang baru.Kelelahanku tak terasa setelah perjumpaan dengan kedua orang tua itu.Aku memasuki apartemen dengan hati gembira , dengan semangat yang baru bahwa Allah Tuhan Yang Maha Penyanyang menjawab satu persatu doaku.

Hari-hari berikutnya kami saling berkunjung.Dari cerita Abu Aisha , aku kemudian tahu bahwa permohonan izin tinggal mereka tidak dikabulkan oleh pemerintah negeri ini.Mereka harus kembali ke Palestina, ke Gaza tanah suci tempat mereka lahir dan dibesarkan.Aku pun tak tahu alasan pasti dibalik penolakan .Haji Abdalah telah tinggal lama di Haugesund.Beliau datang dengan status sebagai pengungsi dari Gaza.Ya, terusir dari tanahnya sendiri.

Ketika Abu Aisha memberitahuku bahwa sebentar lagi mereka akan kembali ke Gaza, hatiku seketika dicekam sedih.Tak berani menerima jika wanita yang kupanggil ‘ Ummi’ ini akan segera kembali ke Gaza.Kehilangan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.Tak tahu kapan waktu akan mempertemukan kami kembali.Atau mungkin tak akan pernah.

Sepekan sebelum kembali ke Gaza, kedua orang tua itu memberikan kepada kami semua isi apartemen yang mereka punya.Bahkan Haja Muna membeli dua baju untu Aisha .Memberiku satu kerudung dan satu mukena.Maha suci Allah ! , aku tak berhenti bersyukur atas pertemuan singkat dengan penduduk tanah para anbiya.Kedermawan, kehangatan, dan cinta yang tulus sebagai saudara dalam Islam telah kusaksikan dengan nyata.Setiap orang memiliki perjalanan.Dan beginilah warna perjalanan yang kupunya.

Kebersamaan kami dalam hitungan minggu telah memberi banyak warna.Kedua orang tua itu menunjukkan kepada kami tempat-tempat hidup di Haugesund.Dan tempat yang selalu hidup adalah di hati.Cinta dan kehangatan yang tak pernah hilang ditelan masa.Aku mengingat Gaza, aku mengingat cinta orang-orang Palestina.

****
Nb : kukuruzi ; snack dari jagung yang khusus dibuat untuk bayi
Negeri Viking , penuh bebatuan yang telah berganti wajah di musim panasNegeri Viking , penuh bebatuan yang telah berganti wajah di musim panasGaza yang sedang terluka

Advertisements
Categories: Uncategorized | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Mengingat Gaza, Mengingat Cinta Orang-Orang Palestina

  1. assalamualaikum ummu, bagaimana puasanya disana? apa keputusan majelis? apakah mengikuti waktu yang berlaku panjang itu? atau mengikuti waktu puasa dg negara yg terdekat/ makkah? semoga ummu dan kluarga bisa melewatai Ramadhan dengan baik. Saya sering bertukar cerita dengan teman-teman baik saya disini tentang palestina dan perjuangan mereka, Subhanallah. Saat ke Norway kawan baik saya dan suaminya mengajak saya ke Drammen sebuah kota, disana mereka mentraktir saya makanan khas India, managernya seorang keturunan India (mungkin pemilik? karena sepertinya restaurant ini semacam waralaba) mengobrol sedikit dengan saya dan teman baik saya karena si pemilik mengaku tidak berbahasa Inggris dengan baik, sehingga lebih banyak ngobrol dengan suami teman saya dalam Norsk. Di dampingi asistennya yang cantik kami mengobrol dan saling bertukar senyum. ternyata asistennya yang catik saya kira awal 20-an ” Iam Palestian ” subhanallah Ummu itu kali pertama saya bertemu dengan seorang palestinian langsung. cantik, dengan rambut keriting yang hitam legam. mungkin saya berlebihan, tapi sebenernya sejak pertemuan itu sepanjang hari saya berpikir bisa jadi mbak palestinian ini seorang immigrant? jauh sekali mencari tanah harapan agar punya kehidupan lebih baik di tengah konflik yang berkepanjangan, saya berdoa in shaa allah mbak asisten restaurant itu dimudahkan jalannya oleh Allah swt siapapun dia. Membaca cerita haji Abdallah dan hajjah Muna itu, saya berpikir bagaimana status mbak pelayanan/asisten restaurant di drammen itu ya? atau palestinian yang lain? karena Norway juga menerima banyak immigrant timur tengah/ afrika lainnya. In shaa allah Allah swt senantiasa melindungi orang-orang Palestina itu. In shaa allah Allah melindungi Haji Abdallah dan hajah Muna.

    Like

  2. Wailaikum salam warahmatullah Mbak Ruru :), Alhamdulillah untuk puasa Ramadhan kali ini terbilang unik karena ada dua madzab 😀 fatwa yang dikeluarkan oleh ulama Palestina dan Saudi berdasarkan rekomendasi Islamic Council of Europe bahwa buka puasa bisa dilakukan lebih awal yakni pukul 21.08 merujuk waktu Monaco 😀 .Nah, yang terjadi dilapangan justru lebih unik lagi sebagian berbuka puasa berdasarkan waktu negaranya misal Turki :D.Sedangkan yang lain mengikuti waktu normal pergerakan matahari yakni pukul 23.05 .

    Masha Allah mbak Ruru pernah di Oslo ya .Saya belum kesana ^_^ .Iya bisa saya katakan negara ini sungguh baik menerima imigran dari berbagai negara termasuk saya :P. Tetapi sekarang aturan diperketat terkait imigrasi mungkin karena imgrant yang masuk semakin bnyak dan tentu saja memunculkan permasalahan baru.Jadi mungkin beberapa imgrant tidak diberi izin tinggal yang lama.Wallahu’alam.Semoga jalan mbak asisten Palestinian itu dimudahkan.Amin YRA. Di Haugesund sendiri banyak dokter2 Arab dari Palesrina, Iraq , juga ada dari Pakistan.

    Klo saya pribadi yang pernah hidup sebagai pengungsi bisa merasakan perjuangan mbak Palestina dan yang lainnya hidup di luar tanah air untuk mencari kehidupan yang lebih baik bukan hal yang mudah but always Allah knows the best .Selamat berpuasa untuk Mbak. Ruru sekeluarga

    Like

  3. Masya Allah, persaudaraan yang indah. Semoga keberkahan-Nya atas kalian semua.

    Like

    • Amin Ya Rabb .Jazzkillah khoir atas doanya.Alhamdulillah sudah dapat kabar dari Gaza, kalau beliau dan keluarga selamat walau ada yang juga luka-luka 😦

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: