Antara Aku dan Pengungsi Suriah V


Antara Aku dan Pengungsi Suriah V

 

 

 

Oleh : Raidah Athirah

 

 

 

Jika di potret sebelumnya ada kisah tentang kaum ibu.Sekarang saya hendak membuka lembaran-lembaran memori saya tentang potret tegar seorang pemuda. Bila masa SMP telah dapat dianggap pemuda.Maka ini kisah tentang pemuda itu.Namanya muslim.Dan dia benar-benar seorang muslim.Pemuda sabar dan tegar yang bekerja paruh waktu berjualan sayur-sayuran sepulang sekolah.Bagaimana bisa saya mengenalnya?.Dia teman sekelas saya semasa di bangku SMP. Kami sama-sama berstatus sebagai anak pengungsi saat itu.

 

 

 

 

 

Kisahnya mungkin tidak sama dengan Hasan. Pemuda Suriah yang berjuang melindungi adik perempuan dan ibunya yang sudah berumur 50 tahun, sejak ayahnya Hashar tewas dalam serangan bom yang dilakukan oleh penguasa bedebah Suriah saat ini.Tetapi kisah mereka memiliki alur yang sama.Sama-sama pemuda yang berjuang dan bekerja menanggung beban akibat kebiadaban manusia-manusia iblis yang pongah dengan lagak seperti Tuhan.Semoga para penguasa bedebah itu ditenggelamkan seperti Fir’aun!.Agar kisah tentang kepedihan ini tidak lagi terulang.

 

 

 

 

 

Kabar yang saya baca , menceritakan tentang perjuangan Hasan dan keluarganya melarikan diri dari Idlib menuju Turki di tengah hujan deras dan medan berlumpur.Jangan bayangkan mereka memasuki Turki dengan menaiki mobil.Tidak.Mereka berjalan kaki melintasi medan yang sulit.Sesekali berhenti karena ibu pemuda ini tidak sangguh berjalan .Ini hanyalah satu potret kecil dalam kumpulan 2, 5 juta pengungsi Suriah yang menyelamatkan diri menuju negara-negara tetangga sejak konflik meletus pada Maret 2011 lalu.Sementara 3, 5 juta pengungsi Suriah lainnya masih berada di kamp-kamp pengungsi.Kabar yang saya baca sejak konflik meletus tidak kurang dari 140.000 jiwa terenggut oleh perang ini dan pasti bertambah jika perang tidak berhenti.

 

 

 

***

 

Ketika konflik Ambon belum juga reda,daerah lainnya disekitarnya telah mulai tersulut.Saya juga tidak mengerti bagaimana api ini bisa menyebar secepat itu.Tapi yang pasti korban dan jumlah pengungsi semakin bertambah.Pemuda muslim ini adalah potret kecil yang tumbuh di tengah perjuangannya membiayai anggota keluarganya yang lain.Saya akan memberikan kepada anda sepasang sepatu yang telah berbentuk seperti mulut buaya lapar.Anda ingin coba mengenakannya?. Ahh!. Sepatu ini sungguh tak pantas dengan status ekonomi anda.

 

 

 

 

 

Pemuda ini mengenakannya.Saya yakin dia mungkin merasa tak nyaman ,tetapi adakah pilihan yang lebih baik dari sepasang sepatu bermulut buaya lapar?.Tak ada pilihan.Saya pun tak ingin bertanya.Mengapa?.Karena bagi saya dia pemuda yang jujur.Jujur tentang kehidupannya.Kalau ada sebagian oknum yang menanam semboyan busuk dalam dada mereka ” deritamu kesenanganku”.Menahan bantuan bahkan sebagian ikut memakan bantuan pengungsi.Sungguh hati yang kotor!, tindakan yang busuk.!Mereka lupa bahwa mereka sedang memakan bola-bola api di dalam perut dan membagikan di meja makan kepada anggota keluarganya.Sedangkan muslim dan pemuda lainnya berjuang dengan keras hanya untuk menopang tubuh mereka untuk berdiri.

 

 

 

 

 

Sungguh ini sebuah ironi di masyarakat.Tapi sudahlah kita akan lelah kalau hanya duduk dan mengharap.Mari saya pinjamkan mata saya kepada anda untuk menyaksikan jiwa mulia pemuda ini.Di kelas kami banyak terdiri dari anak-anak pengungsi.Sebagian mereka juga ada yang kekurangan termasuk saya saat itu.Tetapi setidaknya saya bersyukur kepada Allah Tuhan Yang Maha Pengasih bahwa saya masih memiliki orang tua.Sedangkan yang lain.Maaf saya tak mampu menggambarkan lagi.

 

 

 

 

 

Pemuda ini setelah kelas telah usai. Dia merapikan meja dan kursi dan membantu membersihkan ruang kelas.Setelah rutunitas ini selesai dia mendekati saya.Memberikan uang yang dibungkus dengan tas kresek.Saya tidak ingat berapa jumlahnya tapi saat itu tentu uang ini sungguh berharga.Tanpa banyak kalimat.” Ini untuk kas kelas.Begitu kalimat pendek yang dia ucapkan saat menyerahkan uang itu kepada saya.Kami biasa mengumpulkan uang kelas yang akan kami gunakan,apabila sewaktu-waktu ada keperluan mendadak atau anggota kelas yang sangat membutuhkan.

 

 

 

 

 

Maka siapa yang lebih butuh belajar lebih tentang empati?. Bukankah muslim telah menunjukkan kepada saya ?.Saya pula telah ceritakan kepada anda.Maka memang kita bangsa yang dikenal ramah harus mulai belajar mengingat lagi jati diri kita yang sebenarnya sebagai orang-orang penuh empati.

 

 

 

 

 

Saya akan menarik perhatian anda tentang kisah orang lokal yang penyayang kepada pengungsi.Tentang guru-guru SMP saya yang luar biasa sabar kepada berbagai permasalahan anak-anak pengungsi.Memberi semangat,menawarkan mimpi dan mengingatkan kembali tentang derajat orang-orang yang diberi ilmu.Agar kami anak-anak pengungsi tidak tenggelam dalam pilunya hati, merasa terasing dan lelah menanggung beban.Hasil dari perang dan konflik arogansi.

 

 

 

 

 

Semoga anak-anak pengungsi dan para pemuda Suriah dijaga dan dibimbing oleh Allah Tuhan Yang Maha Menjaga dari sikap hedonis sebagian anak negeri yang mulai lupa akan empati.Saya bukan sedang menyindir tetapi mengingatkan diri saya dan anda tentang fenomena empati yang mulai terkikis oleh sikap berlebihan terhadap materi dunia dan mulai lupa bahwa betapa indahnya berbagi.Ada anak yatim , anak -anak jalanan atau kalau tidak kita harus mulai belajar lebih bijak dan berhenti mencibir.

 

 

 

Bersambung…….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Abu Aisha dan Aisha dalam memandang pesona alam di Haugesund

Abu Aisha dan Aisha dalam memandang pesona alam di Haugesund

Pesona Haugesund

Pesona Haugesund

 

Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: