Antara Aku dan Pengungsi Suriah Bag IV


Antara Aku dan Pengungsi Suriah Bag IV

 

 

 

Oleh : Raidah Athirah

 

 

 

Kisah seorang ibu dari Damaskus beserta ketiga anaknya yang dideportasi dari Libanon karena masuk secara illegal alias tidak melalui pintu perbatasan melainkan berjalan melalui pegunungan dan tinggal di bawah jembatan di taman ibu kota Beirut membangkitkan lagi memori saya.Kisah ibu Damaskus ini membawa saya terhanyut dalam potret- potret kaum ibu yang menjadi pengungsi.Banyak diantaranya adalah single parent.Perjalanan hidup mereka berubah dalam sekejab begitu pula dengan ibu saya.Ini adalah perang .Dan begini pula perang hidup yang harus dijalani oleh sebagian wanita yang kehilangan suami dan anggota keluarga yang dicintai.

 

 

 

 

 

Saya memilih untuk memperlihatkan potret kaum ibu pengungsi yang lain agar saya bisa dengan mudah menggambarkannya.Menggambarkan tentang ketegaran ibu saya akan membuka saya pada lembaran-lembaran yang lain.Dan saya masih belum siap menuliskannya.Insha Allah saat kesempatan itu datang saya akan menguraikan kepada anda. Sekarang mari mengikuti memori saya tentang potret-potret perjuangan hidup mereka yang telah saya bingkai.Kisah ini tentang perjuangan dan juga harga diri.Bisakah anda mengerti tentang kisah seorang wanita paruh baya yang datang sebagai pengungsi dan berjuang sendirian di kota yang terasa asing untuk mencari nafkah untuk anak-anaknya?.Anak-anak yatim korban perang.Korban arogansi manusia-manusia bedebah.Hati para bedebah ini lebih rendah dari binatang!.

 

 

 

 

 

Ibu malang ini datang ke kota Ternate sebagai pengungsi beserta lima anaknya yang masih kecil.Saya sering melihatnya berbincang-bincang dengan ibu saya.Bincang-bincang mereka bukan tentang gossip artis yang kita tonton di layar kaca.Ini hanyalah bincang-bincang sederhana antara wanita-wanita pengungsi tentang suaminya yang dibantai, tentang cara bagaimana mereka bisa selamat.Dan masalah saat itu,bagaimana bertahan hidup sembari menunggu bantuan?.

 

 

 

 

 

Kalau keseharian beliau ini hanya bisa ” bo kobong ” ( berkebun) . Maka mengungsi ke kota memerlukan adaptasi yang lama.Maka untuk menyambung hidup beliau menawarkan diri untuk mencuci pakaian pada rumah-rumah orang lokal.” Ci…mau pigi bacuci kadara lagi kah?” ( Bi/ ibu mau pergi mencuci ke rumah disana lagi kah?) . Tanya saya kepada beliau saat berpapasan selepas pulang sekolah.Saya sudah terbiasa bertanya untuk sekedar menyapa beliau jika bertemu dijalan.

 

 

 

 

 

Sebenarnya bukan tentang pekerjaan mencuci ini melaikan tuduhan sang tuan rumah tentang sejumlah perhiasannya yang hilang.Ini persis dalam sinetron fiksi yang tampil di layar kaca.Tentang tuduhan, harga diri yang terluka dan juga kesabaran untuk tidak membalas mencaci -maki. Ibu saya yang mendengar ini pun tersulut sedih dan juga marah.” Karena kami pengungsi jadi orang- orang dengan seenak hati memperlakukan kami” . Begitu ibu saya bergumam.Peristiwa ini seperti membuat sebagian kaum ibu untuk berfikir ulang untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga/ pembantu.Tapi saya dapati banyak juga gadis-gadis pengungsi yang bekerja sebagai pembantu di rumah orang-orang lokal.

 

 

 

 

 

Ibu saya sungguh wanita yang perkasa.Menolak ajakan beberapa orang yang meminta saya dan adik perempuan saya untuk bekerja di rumah mereka.Saya bangga dilahirkan dari rahim beliau.Ketika beliau berkata kepada kami ” untuk apa menjadi pembantu di rumah orang, saya masih mampu ,kalau hanya sekedar untuk memberi makan untuk kalian fisik saya masih kuat”.Kalimat ini saya tanam kuat dalam memori .Berjanji sepenuh hati bahwa saya tidak akan pernah menyusahkan beliau.Alhamdulillah saya bersyukur walaupun hidup sebagai (bekas) anak pengungsi ,saya masih bisa membuat mendiang bapak saya tercinta dan ibu saya berdiri tegak untuk mengambil raport SMP saya dengan menyabet juara kelas.Ini bukan tentang bangga diri.Ini adalah penggalan memori yang menjadi kenangan indah seorang ( bekas) anak pengungsi.

 

 

 

 

 

Tapi mari kita berhenti sejenak tentang perjalanan saya bersekolah. Saya ingin menampilkan kepada anda potret suram .Tentang rasa putus asa seorang wanita,ibu dari lima anak lelaki dan satu gadis remaja.Saya telah menghakiminya.Dia telah putus asa.Memilih jalan nista karena alasan ekonomi. Saya akan pinjamkan indra pendengar saya.Agar kalimat yang dia ucapkan bisa anda cerna dengan baik.”Kau jaga saja anak-anak! ,biarkan saya melakukan apa yang bisa saya lakukan!.Wanita ini berteriak kepada suaminya.Entahlah saya juga tak mengerti.Tetapi dalam penghakiman saya suaminya begitu bersikap lemah.

 

 

 

 

 

Potret suram ini menggambarkan luka dan putus asa.Kabar yang mencuat dalam rumah pengungsi .Wanita berumur paruh baya ini tetap terlihat cantik dan elegan walaupun datang sebagai pengungsi.Dia dan keluarganya ternyata adalah pedagang kaya -raya di Tobelo sebelum perang terjadi.Meminjam penilaian ibu saya,wanita yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan jarang mengalami kesulitan ketika mendapati musibah seperti ini banyak yang terguncang.Jika tidak karena takut kepada Allah,tentu banyak yang jatuh ke jurang kenistaan.

 

 

***

 

 

 

Saya takut membayangkan tentang wanita-wanita yang putus asa karena perang.Saya lebih memilih untuk belajar kepada sosok -sosok tegar wanita yang berjuang sebagai ibu.Seperti kabar dari Damaskus diatas.Dia dan anak-anaknya menyambung hidup dengan menjadi peminta-minta di bawah taman jembatan sampai kemudian diciduk polisi dan dideportasi.Segala Puji Bagi Allah Tuhan Yang Maha Penyayang kasus ini kemudian ditangani oleh para relawan IRC yang membebaskan mereka dari tahanan.

 

 

 

 

 

Saya memperlihatkan potret ini kepada anda yang telah saya bingkai dalam tulisan.Bahwa hidup memang harus di syukuri.Terkadang kita memandang iri pada kehidupan orang lain.Dan melupakan karunia yang telah Allah Tuhan Yang Maha Pengasih karuniakan kepada kita.Kabar yang saya dengar lansung dari lisan Abu Aisha bahwa mahar wanita-wanita Suriah sekarang sangat murah bahkan yang penting ada sosok yang bisa melindungi.Hal ini didasarkan pada pertemuan Abu Aisha dengan salah satu brother diHaugesund yang sekarang memiliki satu istri dari Suriah.

 

 

 

 

 

Saya juga mendengar bahwa gadis-gadis Suriah memang cantik dan mempesona.Saya berdo’a semoga mereka senantiasa dilindungi oleh Allah Tuhan Yang Maha Menjaga dari hati-hati penuh nafsu dan serakah.Dipertemukan dengan laki-laki terbaik yang takut kepada Allah dan teguh memegang tanggung-jawab.Beginilah kisah saya dan mereka saling bertaut.Saya akan menarik tangan anda ,mendekatkan anda kepada seorang anak laki-laki pengungsi yang sholeh ,sabar dan penuh dengan adab yang luar biasa.Saya masih mengingatnya.Namanya muslim.Dia benar-benar seorang muslim.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: