Antara Aku dan Pengungsi Suriah Bag II


Antara Aku dan Pengungsi Suriah Bag II

 

Oleh : Raidah Athirah

 

Setelah pemerintah pusat memberikan perintah tembak mati ditempat bagi siapa pun yang membuat rusuh.Perlahan Ambon mulai bisa terkendali tapi tetap perang berkecamuk.Bantuan kemanusiaan pun mulai berdatangan.status saya dan warga lainnya tetap sebagai pengungsi.Aktivitas kami hanya berkisar disekitaran asrama.

 

Bantuan dari TNI sudah mulai berdatangan.Saya tidak akan menceritakan tentang bantuan dari Laskar Jihad yang masuk ke Ambon karena saat itu kami sudah mengungsi ke daerah lain yang lebih dekat yakni Ternate .Alasan kuat bapak dan ibu saya memilih berhijrah ke Maluku Utara karena memang lebih dekat dan saya serta saudari-saudari saya bisa melanjutkan pendidikan.Saya mendengar kabar bahwa banyak teman seumuran saya menikah dini.

 

Ada satu kejadian yang saya anggap lucu tapi juga mengerikan.Saat keaadan sudah sedikit terkendali .Geliat ekonomi mulai bangun tapi tak terbayang harga-harga bahan makanan yang naik .Pengungsi Suriah juga mengalami hal yang sama dan saya pikir di semua tempat ketika perang terjadi ekonomi menjadi porak-poranda.

 

Saya dan saudara laki-laki saya menuju pasar terdekat setelah kami mendengar kabar bahwa ada semacam pembagian indomie dan juga bekas toko Cina yang terbakar yang sudah dijarah habis.Kakak saya membantu saya menaiki benteng tua bekas peninggalan kolonial Belanda .Kami menuju pasar terdekat.Dan lagi bunyi bom tepat di tengah pasar.Saat itu saya sedang berusaha menemukan harga sayur yang sedikit bersahabat dengan kantong . Kakak saya berada di toko Cina yang terbakar dan habis dijarah itu.Ketika bom meledak saya lari menyembunyikan diri di bekas-bekas reruntuhan gedung.Mata saya masih menangkap sosok ibu tua yang memasrahkan dirinya mati di tengah kota.Dia tak bisa lari.Uang kertas dan sandal berhamburan dimana-mana.

 

Ketika suasana sudah redah saya keluar dari persembunyian layaknya anak kucing yang takut diserang anjing.Waspada kiri-kanan.Setiap mengingat ini saya pasti tertawa.Walaupun nantinya saya dan kakak saya diceramahin habis-habisan oleh ibu saya untuk tidak pernah keluar asrama.Jiwa anak-anak memang selalu menemukan cara untuk membuat mereka bahagia.Begitulah saya dan kakak saya .Begitulah yang terjadi dengan anak-anak Suriah dan anak-anak yang menjadi pengungsi baik akibat konflik,perang saudara maupun arogansi penguasa dan fanatisme suatu golongan.

 

Kami bertemu lagi di dinding benteng tua peninggalan kolonial Belanda yang dekat dengan asrama TNI.Mata kami berkaca-kaca.Bahagia bisa bertemu kembali.Sejak saat itu saya tidak pernah keluar asrama dan hanya sesekali suka mencari kesempatan untuk mendekat ke arah pintu masuk asrama jadi bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi.Saya masih mengingat dengan jelas konvoi dari orang-orang gila ( saya memakai sebutan ini untuk mewakili jiwa polos anak-anak).Saya tidak mahu menggambarkan kepada anda tapi saya pikir ini harus saya gambarkan agar kita bisa melihat bagaimana pandangan anak-anak yang menyaksikan kekerasan dan tindakan buruk lainnya( pembunuhan).

 

Beberapa mobil melakukan konvoi dengan membawa tubuh mati dan kepala yang sudah dipenggal ( saya menyaksikan dengan mata saya). Berikat kepala merah , dan meneriakkan yel-yel tertentu.Beberapa anggota TNI hanya menonton.Kata paman saya mereka tidak bisa bertindak sebelum ada perintah dari pusat (Jakarta). Nah bisa anda bayangkan hidup seperti apa itu kalau tiap hari anak-anak menyaksikan hal yang demikian?.Segala Puji bagi Allah Tuhan Yang Maha Melindungi jiwa saya tidak sampai terluka walaupun potret sedih ini banyak mengakibatkan jiwa anak-anak yang kehilangan orang tuanya mengalami luka yang mendalam.Kami bertemu dengan seorang anak laki-laki berumur kira-kira 14 tahun berteriak histeris,sesekali diam dan kemudian menangis lagi di depan asrama .Kata ibu saya orangtuanya meninggal dalam kerusuhan di hari Idul Fitri.

 

Kejadian ini membangkitkan pertanyaan dalam hati .Bagaimana kondisi anak-anak Suriah akibat perang?.Bagaimana jiwa anak-anak yang menjadi pengungsi akibat konflik maupun perang?. Jangan anda tanyakan mengenai gedung sekolah.Banyak anak-anak yang putus sekolah sedangkan yang beruntung masih memiliki keluarga lengkap seperti saya memilih untuk berpindah ke daerah lain yang masih dekat tetapi aman.Banyak juga yang kembali ke tanah kelahiran seperti beberapa suku Jawa dan Sulawesi serta orang Padang yang sudah lama menetap di Maluku.

 

Keluarga yang masih sempat menyelamatkan harta benda dan memiliki tabungan yang cukup mungkin akan memulai hidup lebih baik di tempat baru tetapi bagi sebagian yang hanya menyelamatkan jiwa dan membawa pakaian di badan harus belajar lebih sabar dan tabah menerima keadaan.Saya sebagai ( bekas) anak pengungsi dan anak-anak pengungsi di seluruh belahan dunia tidak menginginkan hal yang banyak tetapi pendidikan adalah jalan dan cara terbaik untuk bangkit.Saya bersyukur diberi kesempatan itu walaupun terkadang sedih membayangkan teman seumuran saya yang banyak telah menjadi ibu di usia dini.Mereka tidak memiliki kesempatan untuk melihat bumi Allah yang lain.Tetapi saya berdoa semoga anak-anak pengungsi Suriah dan semua anak pengungsi di seluruh belahan dunia dilindungi oleh Allah dan tetap diperhatikan hak mereka untuk mendapat pendidikan.

 

***

Kami berpindah ke Ternate ketika jalur lalu lintas laut sudah dibuka.Saat itu konflik juga telah menyebar di Maluku Utara.Sejarah mencatat peristiwa kemanusiaan terbesar yang terjadi di Tobelo nantinya.Jangan anda tanyakan bagaimana perasaan saya dan keluarga datang ke kota ini dengan status pengungsi.Ada perasaan terasing dan juga rendah diri ,banyak juga warga lokal yang menaruh kasihan tak ayal memunculkan juga masalah sosial di tengah masyarakat.Tetapi saya bersyukur di kota inilah saya menemukan diri saya. , mengenal teman-teman yang luar biasa.SLTP Negeri 7 Ternate tempat saya mulai bersekolah dan melanjutkan ke SMU Negeri 1 Ternate (sebagian teman-teman SMU saya alhamdulillah masih terhubung dengan saya sampai saat ini melalui Facebook ).

 

Kami menempati rumah kosong yang disediakan seorang warga yang telah berbaik hati memberi kami tumpangan.Saya sama sekali tidak malu menceritakan hal ini.Karena saya sebagai (bekas) anak pengungsi tidak melakukan kesalahan .Kami adalah korban matinya nurani sebagian manusia , arogansi serta fanatisme brutal golongan dan penguasa.

 

Status sebagai pengungsi dan memulai hidup baru ditengah masyarakat bukan hal yang mudah.Saya mengagumi ibu saya yang luar biasa menjaga harga diri ditengah cibiran sana-sini.Mengapa saya menulis seperti ini, karena ada satu penggalan kejadian yang saya simpan kuat dalam ingatan.Melecut diri saya untuk belajar lebih giat dan menolak dihinakan.Ada seorang warga sekitar yang sangat berbaik hati, mengantar beberapa pakaian bekas yang dia anggap layak pakai.Dengan penuh bangga diri dia memanggil ibu saya dan memberikan satu kantong cukup besar pakaian yang dia anggap ” layak pakai”.

 

Ketika kantong itu berpindah ke tangan ibu saya.Beliau dengan halus menolak” mungkin bisa diberikan kepada pengungsi lain yang lebih butuh”.Serta -merta marahlah sang ibu dermawan ini dan mengeluarkan kata-kata yang tersimpan dengan kuat dalam memori saya.”Jadi pengungsi kok sombong bangat “.Kalimat ini di ucapkan dengan dialek lokal yang kental.Ibu saya terdiam tetapi saya menolak dihinakan.”Kami memang pengungsi tapi bukan tempat penampung pakaian yang tak layak”. Saya mengucapkan kalimat ini dengan dialek Ambon.Tak ada rasa malu hanya ada perasaan pelecut semangat bahwa saya dan keluarga tak selamanya akan menjadi pengungsi.Seperti nasihat mendiang bapak saya” roda kehidupan berputar , tak ada yang abadi.Hari ini kita disini,belum tentu hari esok kita tetap disini”. Perkataan mendiang bapak saya yang tercinta kini perlahan terbukti bagaikan do’a orang tua yang mustajab.Saya berada di negeri ini Norwegia mengikuti garis takdir saya bersuamikan lelaki muslim Polandia.

 

Bukan saya ingin memprovokasi anda.Saya hanya ingin anda belajar menghargai ,memandang,bergaul dengan sesama dengan rasa hormat yang sama dan tak memandang status sosial seseorang.Karena anda tidak pernah tahu bahwa Allah Tuhan Yang Maha Rahim telah menuliskan perjalanan setiap makhluknya di Lauhful Mahfuz.Tidakkah anda berfikir bahwa mungkin ada diantara anak-anak pengungsi itu yang kelak akan menjadi pemimpin?. Saya menyaksikannya seorang teman sesama pengungsi ,kabar terakhir yang saya dapat dia kini menjabat sebagai kepala dinas di Kepulauan Buru.

 

Saya sebagai muslim meyakini hadist Rasul Saw yang mengabarkan kepada kita bahwa kelak akan muncul dari negeri Syam ( Suriah ) pemimpin terbaik untuk ummat. Kita semua tak pernah tahu kapan .Tetapi mulai dari sekarang anda harus mengubah cara pandang anda terhadap anak-anak pengungsi.Kalau anda tak bisa berempati ,sekali lagi saya katakan anda harus berhenti mencibir.

 

Bersambung ke bagian III

 

negeri dimana saya kini

negeri dimana saya kini

 

 
Suka

 
Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Antara Aku dan Pengungsi Suriah Bag II

  1. Ikutan sedih membacanya Mba… Mungkin karena mba udaj ngalamin langsung jadinya apa yang ditulis berasa banget bagi yang baca ya Mba…

    Like

    • Iya saya juga setiap menulis ini sedih sendiri, ingat anak-anak pengungsi yang lain karena saya sendiri( bekas) anak pengungsi

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: