Kasih Ibu Teruji Di Musim


Penggalan cerita Dwilogi Memoar Aisha Pisarzewska Putri Sang Perantau

 

” Mengenang Masa Aisha Pisarzewska Terlahir Dan Dibesarkan “

 

oleh : Raidah Athirah

 

Musim gugur itu indah dan menawarkan jutaan hikmah serta mempertontonkan kekuasaan Allah Tuhan Yang Maha Pencipta bagaimana sirine alam sambung menyambung tanpa membuat gaduh. Semua yang terjadi di musim ini tergambar dengan indah penuh harmoni.Kala bunga-bunga dan daun berguguran ditambah hawa dingin yang perlahan-lahan datang.Membawa sahdu perasaan saya kala itu.Saya memang mencintai musim ini. Bukan karena dimusim ini Aisha Pisarzewska terlahir tapi karena di musim inilah saya kemudian belajar untuk lebih dekat kepadaNya. Dia-lah Allah Tuhan tempat saya memohon pertolongan.

 

 Meminjam judul buku Sutan Sati” Sengsara Membawa Nikmat . Saya awalnya berfikir demikian , nyatalah  bahwa ini suatu kesengsaraan.Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam diperjalanan saya kemudian menemukan jutaan hikmah yang saya dan Abu sendiri tak henti bersyukur.Bahwa benar apa yang diberitakan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron: 190-191).

 

Seperti halnya musim.Tak selamanya pula kesulitan-kesulitan yang saya dan Abu Aisha hadapi saat itu akan kekal.Akan datang masa kala kesedihan menjadi tawa layaknya musim dingin ke musim semi.Semua kegersangan, kekakuan, ketidak berdayaan akan tergantikan dengan kegembiraan dan juga kebahagiaan.Saya harus banyak belajar pada kekokohan pohon yang hidup di negeri empat musim. Ketegaran dan keteguhan sudah terbukti dilalui disetiap musim. Tak bergeming .Semuanya berbaris rapi tanpa daun di sepanjang hutan Jablonna. Setelah perintah Ilahi bahwa sudah saatnya semuanya jatuh ke tanah , bersujud sampai datang masa di bangkitkan kembali.Kelak akan datang perintah  semuanya Utuh seperti sediakala .Semuanya saya saksikan di musim gugur dan kembali bersyukur di musim semi. Tak ada keluhan ataupun suara menyesal mengapa mereka harus disitu.  (insha Allah selengkapnya dalam penggalan dwilogi Memoar Aisha Pisarzewska Putri Sang Perantau “Senyum Merekah di Musim Semi).

 

Saya bersyukur walau pun Abu Aisha tak paham bahwa saya sedang dicengkram Baby Blues , dia tak segan membantu memandikan Aisha bayi yang baru berumur satu bulan.Saya?. Masih tak berani.Bahkan kalau ditanya saya sebenarnya ketakutan atau kadang-kadang muncul perasaan tidak suka pada Aisha.Terkadang ketika memori saya membuka file kenangan ini. Ada perasaan luka yang tidak bisa hilang sampai saat ini.Tapi saya meyakini bahwa Allah Tuhan Yang Maha Rahim juga Maha Mengampuni.Maka saya akan menguraikan rasa ini lebih dalam bahwa apapun yang datang kepada kita baik kesedihan, luka, airmata , rasa sakit. Ada mutiara-mutiara hikmah andai kita menggali lebih dalam.Dan begitulah saya mendapati diri saya kini.Dan beginilah anda mendapati goresan- goresan cerita yang saya tulis untuk kita saling berbagi.Mengenal lebih dekat, agar prasangka tentang dongeng sang putri yang hidup di negeri salju penuh kebahagiaan tidak menyesatkan anda.

 

Saya dan Abu Aisha benar mimiliki satu keyakinan.Kami muslim. Akan tetapi kami terlahir dari budaya yang berbeda.Di asuh dengan cara yang berbeda pula. Saya pun takkan membandingkan diri saya dengan Corrie atau Abu Aisha dengan Hanafi dalam kisah karangan Abdoel Moeis ” Salah Asuhan”. Tetapi saya dihadapkan pada budaya yang sangat berbeda dengan tanah dimana saya dilahirkan. Andai saya melahirkan di tanah air, ibu saya pasti telah tiap hari merawat saya dan Aisha. Jadi Abu Aisha dapat juga beristirahat. Tapi ini di Polandia. Anda ingin punya anak, maka anda juga harus belajar tentang tanggung jawab. Begitulah kira-kira hikmah yang saya ambil tentang budaya negeri sang Paulus ini.

 

***

 

 Kochanie, could you move yourself ?”. Tanya Abu Aisha sekedar meyakinkan kalau saya sudah bisa bergerak. Ini adalah rutinitas selama satu bulan lamanya. Abu Aisha  menyuntikkan antibiotik ke perut saya setelah dia selesai mengerjakan sholat shubuh. Saya juga tak terlalu paham untuk apa antibiotik ini.Saya hanya mengikuti perintah Abu Aisha. Di masa ini Abu Aisha membuktikan dia seorang ayah yang penuh kasih sedangkan saya masih dihinggap kebingungan karena Baby Blues dan juga terkejut dengan pola asuh dari budaya Polandia.Jika anda bertanya tentang mertua saya. Maka akan saya katakan bahwa kami saling mencintai. Bahkan kasih mereka tak saya ragukan. Tetapi saya hanya ingin anda mengerti bahwa kami berbeda budaya.

 

Orang-orang disekeliling saya tetap terasa asing dalam pandangan.Tidak ada interaksi sosial yang ramah. Semuanya kaku. Setiap berhadapan dengan orang-orang dilingkungan tempat tinggal apartemen, saya pasti merasa gugup. Apalagi setiap memandang wajah Aisha .Khawatir dia menangis.Di umur dua minggu saya sudah harus berjalan keluar dengan Aisha.Bukan saya saja . Bayi-bayi yang seumuran dengan Aisha juga terlihat tidur di stroller.Di akhir musim gugur.Ketika hawa dingin sudah menyelimuti udara di Polandia. Saya benar-benar terkejut dengan budaya ini.

 

Di tanah air bayi-bayi bermandikan uap mentari pagi, maka di Polandia bayi-bayi termasuk Aisha sejak bayi harus diperkenalkan dengan suhu dingin.Saya masih tak bisa menerima ini. Berbagai ketakutan datang kepada saya. Bagaimana kalau Aisha sakit. Kolik yang datang saja sudah membuat saya bingung ditambah dengan penyakit lainnya.Hati saya seperti memberontak. Ingin secepatnya kembali ke tanah air.Menikmati semua kesenangan dan kemanjaan di kampung halaman. Astagfirullah… Saya telah menikah dan kini saya seorang ibu. Saya tak bisa bersikap se-egois itu.Bagaimana saya bisa berfikir untuk meninggalkan orang-orang terkasih yang telah Allah Tuhan Yang Maha Penyanyang telah begitu menyayangi saya dengan memberi karunia ini. Memiliki seorang imam  yang teguh dan putri yang sungguh cantik.

 

Saat itu saya benar-benar tak pandai menguraikan perasaan saya kepada Abu Aisha. Tentang apa yang saya tak suka, mengapa saya tiba-tiba menjadi begitu sensitif.Kalau bisa menggambarkan perasaan kami berdua saat itu, bagaimana pergaulan saya dengan Abu Aisha . Maka saya kemudian berangan-angan tentang hikayat sastra yang ditulis oleh guru kita , pujangga legendaris tanah air Buya Hamka dalam karyanya  berjudul ” Di Bawah Lindungan Kabah”.Tentang lakon dua insan Zainab dan Hamid yang menyimpan perasaan mereka masing-masing sampai dipanggil oleh Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui. Tapi ini kisah tentang Aisha Pisarzewska yang penggalan-penggalan cerita menyatukan kami, mengikat kami semakin kuat, mengajarkan kami hikmah tentang kasih sayang orang tua dan kesyukuran di beri amanah.

 

***

 

Saat bersama Abu Aisha mengunjungi dokter anak di Klinik Medica yang berada di Legionowo untuk melakukan terapi dan juga memastikan kalau kaki Aisha normal, saya dilanda kegugupan yang parah. Panik luar biasa. Membayangkan bagaimana saya menyusui Aisha sedangkan disana belum ada ruang menyusui. Ada ruang kosong tapi itu diperuntukkan untuk pasien dengan kebutuhan khusus.Sebelum berangkat sejak subuh saya sudah memompah asi. Ditaruh di dalam botol agar saat disana saya bisa memberikan asi kepada Aisha tanpa khawatir dipandang orang-orang disamping  karena kerudung yang saya kenakan.

 

Segala Puji Bagi Allah Tuhan Yang Maha Memelihara. Semuanya telah berlalu. Akan tetapi saya tak pernah lupa bagaimana panik dan wajah gugup saya tertunduk saat berada di Klinik Medica. Seakan-akan semua mata memandang ke arah kami.Ya. Tepat ke kerudung saya.Dan bertepatan denga itu Aisha menangis dengan suara yang keras. Saya masih tak paham kalau sebenarnya dia hanya ingin tidur dipelukan saya.Abu Aisha mencoba memberi asi dalam botol kepada Aisha tetapi yang terjadi justru dia semakin menangis. Ah!. Tak terkira perasaan gugup bertambah dengan kepanikan serta rasa malu karena terus dipandang oleh orang-orang disekeliling kami. Wajah Abu Aisha pun terlihat panik.Kami bergegas melangkah ke dalam mobil.

 

Disepanjang jalan dari Legionowo ke Jablonna Aisha terus menangis di car seat.Dan saya saat itu masih sangat polos.Seharusnya saya mengikuti naluri keibuan saya. Mengambilnya dari car seat dan memangkunya di pankuan saya. Itu tidak mungkin, karena jika ada polisi yang melihat maka sudah pasti kami kena mandat ( denda) dan juga harus ke kantor polisi untuk memberikan penjelasan dan hal lainnya.Saya juga belum begitu mahir menyusui di dalam mobil.Saat itu saya sangat lelah. Lelah dengan pikiran dan juga budaya yang belum saya pahami.

 

Hubungan saya dan Abu Aisha juga tidak harmonis, karena Baby Blues saya cepat sekali marah. Tapi tidak saya ungkapkan.Lama kelamaan ini seperti bom waktu. Pernah disuatu malam , saat Aisha menangis dan tidak bisa tenang. Sudah mencoba berbagai cara , ia tetap menangis.Saya menaruhnya di kotak bayi.Saat Abu Aisha kembali dari rumah mertua. Dia mendapati Aisha yang sedang menangis.Dia meminta saya untuk mencoba menenangkan , karena dia baru datang dan harus menuju toilet terlebih dahulu.Saya tetap tak bergerak sedikitpun dari tempat  duduk saya saat itu. Abu Aisha datang menghampiri dan bertanya dengan sedikit nada marah, mengapa saya tidak menggendong Aisha . Tetangga bisa terganggu karena suara tangis Aisha..Hal ini kemudian benar-benar memicu kegilaan saya :(. Saya berteriak histeris ” persetan dengan mereka”.Saya harap anda tak menghakimi karena beginilah saya saat dihinggapi Baby Blues.

 

Kalau anda seorang istri anda harus belajar mengungkapkan perasaan.Bicarakan baik-baik.Bukan karena saya ingin menasihati anda.Saya hanya ingin anda tidak sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak baik kepada orang-orang yang anda kasihi.Begitulah saya belajar dari perjalanan di masa ini kala Aisha Pisarzewska terlahir.

 

Di musim ini. Akhir musim gugur yang sebentar lagi mempersiapkan diri menyambut musim dingin.Saya merasa sedang bertarung dengan semua keadaan. Merasa mungkin ini adalah ujian bagi saya seorang ibu muda untuk belajar mencintai dan mensyukuri amanah yang diberi oleh Sang Khalik. Bukankah saat belum memiliki buah hati, saya berdo’a dengan sungguh-sungguh dengan penuh kekhusuan semoga rahim saya dikarunia amanah mengandung dan melahirkan generasi. Dan saat amanah itu datang .Bukankah sudah seharusnya saya bersyukur dan tak mengeluh?.Mengingat lagi doa yang dulu saya panjatkan dengan sepenuh hati.

 

Saya pasti menyesal menikah dengan Abu Aisha.Tidak sedikitpun.Walaupun kata ini sering saya lontarkan kepada Abu Aisha.” Menyesalkah kau menikah dengan saya?”.Muslimah Indonesia yang tentu sangat berbeda dengan budaya Polandia.Abu Aisha selalu menjawab dengan hati yang riang.”Saya bersyukur disatukan dalam pernikahan denganmu.Dan kata ini tak boleh kau tanyakan lagi”.Saya menolak judul buku karya Nur Sutan Iskandar ” Salah Pilih”. Karena memang kami tak salah pilih.Allah Tuhan Yang Maha Rahman dan Rahim telah menyatukan kami dalam ikatan suci pernikahan.Dan beginilah masa yang harus kami lalui diperjalanan musim ini.

 

Tobe continued……

 

Memandang alam ciptaan Allah Tuhan Yang Maha Esa

Memandang alam ciptaan Allah Tuhan Yang Maha Esa

 

Tak selamanya masa itu gelap

Tak selamanya masa itu gelap

 

 
Suka

 
Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: