Antara Aku dan Pengungsi Suriah


Antara Aku dan Pengungsi Suriah

 

Oleh Raidah Athirah

 

Anda pasti bertanya membaca judul diatas. Memang apa hubungannya antara saya dan pengungsi Suriah?.Pertama, mereka saudara saya se-iman dan yang kedua, status sebagai pengungsi yang akan saya uraikan.Status sebagai pengungsi ini mengingatkan saya pada konflik SARA yang terjadi pada tahun 1999 di ibukota Maluku.Ambon Manise begitu kota ini dijuluki.

 

Saya hanya ingin menguraikan status pengungsi ini dari subjektifitas saya sebagai pengungsi akibat perang saat itu.Akibat konflik yang terjadi pada tahun 1999.Saat itu saya masih baru mau duduk di bangku kelas satu SMP.Saya bahkan masih ingat dengan jelas saat malam terjadinya konflik.Itu malam Idul Fitri.Tetapi pembahasan tentang mengapa dan apa yang menimbulkan konflik tidak akan saya uraikan .Saya sama sekali belum terlalu mengerti.Namun status sebagai pengungsi ini yang membangkitkan memori saya sebagai pengungsi akibat konflik Maluku.

 

Perang memang tidak menghasilkan apa-apa.Wanita dan anak-anak lah yang menjadi korban.Semua orang tidak menginginkan perang akan tetapi kalau anda diserang tidakkah anda membela diri?. Saya tidak bermaksud menimbulkan SARA.Saya yang saat itu belum terlalu paham tentang betapa perihnya menyandang status pengungsi.Hanya ingin menguraikan dari sisi polos seorang ( bekas ) anak pengungsi.

 

Setelah pecah konflik di malam idul fitri .Saya dan ibu serta kedua saudari perempuan ditambah istri paman dan kedua anaknya yang masih kecil berusaha menyelamatkan diri karena bom sudah dimana-mana.Ini persis seperti dalam film perang.Tapi ini memang perang kehidupan.Kalau anda bertanya dimana bapak dan saudara laki-laki serta paman saya?. Saya tidak tahu.Allah Yang Maha Besar , saya ingat kami bertemu lagi di tempat pengungsian di asrama TNI 733 Ambon setelah mereka menghilang selama tiga hari. Jangan anda tanya bagaimana suasana pertemuan saat itu.Ibu dan istri paman saya sudah menangis, jika sampai seminggu bapak dan paman saya tidak ditemukan maka kami harus pasrah menerima Qodarullah.Mereka pasti dibunuh ( setiap mengingat kata ini menimbulkan ketakutan tersendiri bagi saya seorang anak ).

 

Maka kondisi pengungsu Suriah saat ini yang kekurangan baik mengalami krisis makanan , air bersih dan obat-obatan serta pakaian semuanya juga saya dan pengungsi lainnya rasakan.Bantuan kemanusiaan saat itu belum bisa masuk.Bahkan bantuan makanan dari TNI saat itu juga tidak cukup.Sekarang saya paham mengapa sebagian pedagang Cina di Ambon yang saya dengar dari ibu saya ada yang sampai gila karena keadaan konflik saat itu.Toko-toko Cina banyak yang dijarah terutama yang berisi bahan makanan.Saya pikir ini naluri alam untuk  mempertahankan diri.Tidak ada manusia yang ingin mati perlahan-lahan dengan kondisi saat itu.

 

Maka mulai hari itu saya dan warga muslim  Ambon serta sebagian warga kristen juga menyandang status pengungsi. Saya tidak akan membahas terlalu jauh mengenai pengungsi muslim dan pengungsi kristen tapi saya akan gambarkan bagaimana perasaan saya sebagai anak dengan label pengungsi.Dan mungkin juga anak-anak lainnya.

 

Menjadi pengungsi itu benar- benar harus dikasihani terlepas nantinya ada yang memanfaatkan status ini sebagai mata pencaharian ( peminta-minta ) dan tindakan kriminal lainnya yang menyeret nama semua pengungsi menjadi buruk.Tapi saya ingin anda lebih berempati dan bertanya bagaimana kalau anda berada dalam posisi mereka saat ini?.

 

Kenyamanan tidur anda diganti dengan suara bising  dan gaduh bunyi tembakan dan bom dimana-mana.Nikmat air bersih dan pakaian yang harum serta tempat tidur yang empuk berganti suasana menjadi hiruk pikuk keributan ditenda dan kesibukan menanti bantuan kemanusiaan.Bahkan karena perang banyak anak menjadi yatim. Sehingga mereka dicarikan orang tua asuh. Kalau ini juga tidak cukup menyadarkan anda untuk lebih berempati saya akan ingatkan anda tentang satu indomie yang harus kami makan bersama di tempat pengungsian sampai tiba bantuan makanan dari TNI.Melalui tulisan ini juga saya ingin mengucapkan rasa terimah kasih saya kepada TNI.Bukan supaya saya dipandang bersikap nasionalis.Tetapi ini rasa bersyukur kepada Allah karena diselamatkan dari konflik SARA saat mengungsi ke asrama TNI 733 Ambon.

 

Sedangkan pengungsi Suriah saat ini yang berada di kamp Bab Al-Hawa mengalami hal yang sama.Belum lagi sebagian yang tersebar di propinsi Idlib yang dekat dengan perbatasan Turki bahkan berita yang tersabar saat ini memberitahukan sudah banyak pengungsi Suriah yang menyebrang perbatasan.Penduduk dari Hamah dan pinggiran Lattakia bahkan telah menumpuk di tempat ini di tenda-tenda pengungsian .

 

Kalau ini masalah kemanusiaan, maka saya juga ingin membahasnya dari sisi saya sebagai ( bekas) anak pengungsi.Saat kami mengungsi ke asrama 733 Ambon sudah ada juga pengungsi lainnya. Menumpuk disitu bahkan saya masih ingat saat mengantri mengambil bubur yang disediakan TNI.Beberapa wajah Cina juga mengantri disitu bersama saya.Dari informasi ibu saya. Saya kemudian tahu kalau mereka adalah pemilik toko Cina yang berada di pertokoan Mardika Ambon.

 

Jangan tanyakan tentang sekolah. Karena kegilaan saya kepada pendidikan hampir saja saya tinggal nama ( mati ). Saat berada di tempat pengungsian , saya yang saat itu masih sangat polos. Jiwa anak-anak yang ingin tetap sekolah keluar dari asrama ( masih  dalam keadaan konflik), menuju gedung sekolah. Maka sungguh ini kejadian yang tidak akan pernah saya lupa sepanjang hidup saya. Beberapa anak sekolah juga ada yang datang . Tiba-tiba bunyi bom dan kami semua lari keluar berusaha menyelamatkan diri masing-masing.Dan peristiwa paling tragis pun terjadi. Ada seorang anak yang di tembak oleh sniper di jalan.Meninggal , bersimbah darah. Ini bukan akal-akalan saya. Ini peristiwa hidup. Dan saya menyaksikan semua itu.Mengingat ini saya pasti menangis.Ya.Ini adalah perang.Tak ada nurani disana.

 

Karena peristiwa ini saya mengalami insomia ( tidak bisa tidur setiap malam) .Para pengungsi yang lain pun sama.Apalagi terdengar desas-desus kalau asrama TNI juga akan di bom.Bahkan pernah kami j sudah bersiap-siap lari entah kemana.Pokoknya bersiap-siap setelah kabar ini menyebar.Ambon saat hari-hari pertama setelah pecah konflik bagaikan kota mati, terisolasi.Allah Yang Maha Rahman dan Rahim mengetahui luka dan sakit saat itu.

 

Sekali lagi perang memang hanya meninggalkan luka.Karena terisolasi seperti ini. Tak ada aktivitas yang bisa kami lakukan.Mendiang bapak saya pun dirundung duka.Kami tidak mungkin selamanya menjadi pengungsi dan tinggal di asrama TNI.Apalagi dari hari ke hari pengungsi semakin bertambah.Sanitasi pun menjadi masalah baru.Bertumpuknya jumlah pengungsi dalam satu rumah. saat itu kami mengungsi di rumah kosong yang sementara ditinggal penghuninya mudik ke kampung.Sekarang saya bertanya kepada anda, masih tidakkah anda berempati?.

 

Gelombang pengungsi yang bertambah banyak dan perang yang semakin membara mengilhami mendiang bapak saya untuk beriniasiatif melakukan hijrah. Menyebrang ke daerah lain yang dianggap masih aman. Kami menunggu sampai kota Ambon benar-benar aman dan status darurat sudah dibuka. Maka saya sebagai( bekas) anak pengungsi bertanya kepada anda.Tidakkah mulai dari sekarang anda belajar lebih berempati dan memberikan solusi dibanding anda harus mencibir dan tidak mau berfikir. Ah ! , itu bukan urusan saya.

 

Bersambung ke bagian II

 

 

negeri dimana saya kini

negeri dimana saya kini

 

 
Suka

 
Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: