ASI Hak Buah Hati . Bukti Cinta Bunda


Berdialog tentang yang pro Asi dan yang tidak memunculkan banyak sekali pendapat bahkan saling berdebat. Saya tidak ingin masuk dalam polemik itu. Saya hanya ingin menguraikan kisah saya. Bahwa Allah Tuhan Yang Maha Rahim dan Maha Mengetahui segala kebutuhan makhluk-Nya telah menciptakan dengan begitu sempurna. Bahkan untuk bayi mungil tak berdayapun Allah telah menyediakan rezekinya. Tapi biarlah , setiap orang punya pilihan dan alasan masing- masing untuk memberi cinta kepada buah hati.

 

Dan ini kisah tentang saya. Ibu muda , ibu muslimah pertama di Jablonna yang berjuang sendirian untuk keluar dari cengkraman Baby Blues.Tentang iman , tentang cita- cita dan juga perjalanan panjang untuk menjadi sebenar- benarnya ibu. Setiap ibu punya cerita. Cerita yang akan selalu dikenang sepanjang hayatnya tentang cinta yang diberi kepada buah hati. Tentang perjuangan untuk saling mengenal dan mendekat . Bahwa pada akhirnya hanya ada satu keinginan. Berupa do’a yang disenandungkan setiap waktu .Semoga kelak sang buah hati berbahagia di dunia dan hari akhirnya.

 

Setiap ibu pasti bisa melalui sebuah proses yang namanya ‘ melahirkan’ . Entah itu secara alami maupun dengan jalan operasi. Tak ada yang perlu disalahkan apalagi mencibir. Semua proses ini sama , rasa sakit dan kelelahan.ketika sang buah hati telah hadir, maka hadir pula serangkain tanggung- jawab yang saling terhubung satu -sama lain. Kesabaran, keteguhan , dan air mata para ibu yang ikhlas merawat, menjaga dan terjaga di setiap malam adalah bukti bahwa rahimnya telah memiliki kasih. Jauh sebelum sang buah hati hadir di bumi. Para kaum ibu telah dengan perkasa mengandung. Perjalanan panjang nan melelahkan itu pun sampai di dermaga kelahiran.

 

Kalau tugas ibu adalah menjaga generasi. Mendidik dan tidak sekedar membesarkan, maka saya tentu sangat cemburu pada sebagian wanita yang dengan begitu bebas meninggalkan buah hati mereka kepada orang lain. Lain cerita jika sang ibu memang tak kuasa karena berbagai alasan.

 

Sebagai pribadi saya tentu juga memiliki kesenangan. Bahkan kalau mengikuti kata egoisme , saya punya berbagai keinginan.Semuanya terpinggirkan bahkan lenyap saat kesibukan mengurus buah hati tiba.Tidakkah ini juga sebuah bentuk kasih sayang seorang ibu?.

 

Maka sungguh hebat hikayat tentang seorang sahabiyah, yang dengan gagah berani tak mengenal lemahnya jiwa sebagai anggapan kaum perempuan masa kini yang telah mendefenisikan berbeda kata ini. Sudah!.Mari saya ingatkan anda tentang kisah luar biasa ini. Semoga setiap kaum wanita memahami bahwa pekerjaan sebagai ibu adalah pekerjaan suci yang sebagian wanita bahkan tak bisa merasai dalam sebuah pernikahan walaupun mereka telah lama berada dalam bahtera rumah tangga. Bahwa menjadi wanita adalah sebuah anugerah. Ribuan hikayat, sastra ,puisi bahkan legenda telah memberi kabar kepada generasi tentang ketokohan kaum ibu.

 

Dialah Asma Binti Yazid Al- Anshariyah Radiyallahu Anha. Beliau RA dipercaya oleh kaum muslimah sebagai wakil mereka untuk berbicara kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tentang persoalan kaum wanita dan kerisauan hati kaum ibu. Maka suatu ketika Asma’ mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah yang di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sebagaiamana aku berpendapat. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudiaan kami beriman kepada anda dan memba’iat anda. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi, kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan salat Jumat, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

 

Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menoleh kepada para sahabat dan bersabda, “Pernahkan kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang dien ( agama) yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”. Kemudian Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Kembalilah wahai Asma` dan beritahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, dan meminta keridhaan suaminya, mengikuti (patuh terhadap) apa yang ia disetujuinya, itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki”.

 

 

Sungguh dalam masa ini saya perlu menggali, membuka lembaran- lembaran ingatakan saya tentang kisah heroik para sahabiyah nabi. Karena mereka memang patut diteladani. Mereka para ibu luar biasa. Kita dan mereka berbeda generasi dan prestasi. Kalau ini tak cukup untuk ingatan saya. Maka, saya akan mengingat- ngingat kasih ibu saya. Yang air susu sucinya telah mengalir membesarkan saya. Membangun mimpi- mimpi saya dengan segenap kasih . Maka ini waktu saya, menduplikasi kasih itu bahkan harus jauh lebih baik dari apa yang kedua ibu saya lakukan.

 

 

***

 

Minggu- minggu pertama setelah pulang dari rumah sakit, saya terkejut mendapati isi ruangan apartemen yang sedikit berbeda.Ternyata Abu Aisha telah merubah beberapa bagian apartemen dan tak lupa menghiasi tempat tidur Aisha dengan berbagai pernak- pernik lucu berwarna merah muda .Ada juga beberapa hadiah pemberian kakak ipar perempuan yang terletak di ranjang bayi.Kedua mertua sayapun telah membeli beberapa baju musim dingin lengkap dengan selimut tebal.Semuanya bahagia. Tapi mengapa hati saya terasa hampa?. Tatapan saya kosong.

 

Dalam hati saya mulai mengeluhkan keberadaan bayi cantik yang kami jemput di Szipital Na Solcu.Seharusnya saya berada dalam suka cita. Dikarunia bayi cantik penuh pesona. Bahkan beberapa perawat di rumah sakit pun sering melontarkan kata ” super piekna ” ( sungguh sangat cantik). Tapi saat itu saya benar- benar tak bisa merasai . Tak menyadari bahwa keberadaannya adalah sebuah anugerah. Memahami bahwa ia adalah titipan bukan milik saya. Bukankah ia berasal dari surga yang diturunkan ke bumi melalui kelahiran?. Rahim saya telah dipilih untuk memberi cinta, menyemai kasih dan menjadi ikatan kokoh sebuah pernikahan bersama Abu Aisha.

 

Sejak di Rumah Sakit Szipital Na Solcu , saya pikir Baby Blues ini telah mendatangi saya. Terbukti dengan terjaganya saya setiap malam. Tidak tidur hanya menangis . Sampai- sampai seorang wanita Polandia yang juga melahirkan satu hari lebih dulu dari saya, memberitahu Abu Aisha kala datang menjenguk. Bahwa saya hanya menangis sendu setiap malam. Entahlah apakah dia merasa terganggu atau memang merasa iba. Seorang ibu muda dari negeri asing melahirkan di negaranya Polandia.Selengkapnya dalam catatan awal ” Menjemput bidadari bermata biru di Szpital Na Solcu”.

 

Apalagi saat waktu menyusui datang. Saya merasa seperti ditekan. Tubuh yang kelelahan, rasa sakit bekas melahirkan ditambah masa- masa awal adalah masa penyusaian antara seorang ibu dan sang buah hati. Mencoba menemukan keseimbangan. Andai tak sabar menjalani masa ini, saya sungguh telah merampas hak seorang bayi untuk merasakan kedamain pelukan . Melindunginya dalam kehangatan bahkan memutuskan haknya untuk mendapatkan kehidupan awal yang lebih baik.Bukankah Asi adalah pemberian terbaik dari Allah Tuhan Yang Maha Penyayang?.

 

Anda dan saya telah sepakat untuk tidak saling menghakimi dan mencibir. Jadi, mari saya uraikan lebih lebar, lebih dalam tentang perjalanan masa Aisha Pisarzewska terlahir dan dibesarkan. Bukan karena saya dan ia begitu istimewa, tapi karena jalan kami, cerita tentang kami bisa saling menguatkan para ibu yang tengah berjuang. Mendekap lebih dalam buah hati mereka. Agar sisi- sisi buruk dari kemanusiaannya yang terlemah bisa tertutupi bahkan hilang ditelan kuatnya iman dan rasa cinta.

 

 

***

 

Sebagai ibu muda. Apalagi ini anak pertama kami. Banyak sekali kejutan- kejutan yang terjadi, menghentakkan mimpi, keluar dari angan- angan. Saya masih ingat perkataan Abu Aisha saat di benar- benar lelah dengan kami berdua.” Saya pikir pekerjaan bayi adalah menyusu, tidur, dan ( maaf) pup alias kencing dan berak. Ternyata tangisan mereka bisa membuat kepala saya sakit dan juga bingung. Nih bayi sebenarnya maunya apa sih?”. Begitu celoteh Abu Aisha saat itu.

 

Masa- masa awal menyusui sungguh membuat seluruh saraf saya dalam tekanan. Kalau orang lain begitu menikmati momen- momen ini dengan sang buah hati. Saya sungguh dalam depresi. Setiap waktu saat Aisha hendak menyusu saya pasti merasakan sakit luar biasa. Entahlah karena sakit bekas melahirkan, kelelahan atau merasakan syaraf- syaraf saya ditarik- tarik. Kepala saya seperti ingin dibenturkan saja di dinding . Apalagi setelah ultimatum dari dokter sebelum kami kembali ke apartemen. Bahwa jika puting saya berdarah, saya harus berhenti sementara menyusui Aisha.Ini karena saya dalam pengawasan untuk perawatan Hepatitis. SubhanAllah Allahu Akbar di perjalanan nanti saya kemudian menemukan bahwa Allah Tuhan Yang Maha Melihat telah melihat betapa saya berjuang menunaikan hak itu. Memberi Asi dengan penuh kasih. Hasil laboratorium di Rumah Sakit Warsawa membuktikan bahwa darah saya hanya 000, 001 % mengandung Hepatitis.

 

Saat puting saya berdarah . Maka pekerjaan memompah sudah rutin bagi saya.Jika tidak saya lakukan , tubuh saya akan memberi tanda pasti berupa demam.Jika sudah begini. Semakin sakitlah jiwa dan raga saya. Tanpa bantuan siapapun kecuali Abu Aisha , saya harus menguatkan cita- cita ini.Menangis sudah tak lagi menjadi jawaban. Air mata sudah mengalir tak terbendung.

 

Saat demam hinggap dalam tubuh saya. Maka Abu Aisha akan membantu memberi Asi melalui botol kepada Aisha.Sungguh ini bukan yang saya mau. Tapi kami tak ada pilihan. Hati saya tidak pernah menyalahkan Abu Aisha karena dia juga telah berjuang.Tapi bagaimanapun dia adalah seorang laki- laki ,cara dia mengurai kasih tidak sedalam seorang wanita.Tidak setelaten seorang ibu.

 

Keadaan ini diperparah dengan kolik yang Aisha alami dan kami belum memiliki pengalaman. Sering bahkan terus menerus dia muntah. Baik setelah saya susui maupun melalui botol yang diberi Abu Aisha. Berat badannya turun drastis. Aisha lahir dengan berat 4 kg dan memiliki panjang 57cm.Saat ia dirumah beratnya menjadi 3,5 kg.Hati ibu mana yang tenang melihat ini?.

 

Hari- hari di apartemen di minggu awal setelah melahirkan tak ada yang terlewati tanpa airmata . Anda pasti mencibir. Ah !dia wanita yang sungguh manja. Itu hal yang biasa bagi seorang ibu. Tak perlu diceritakan.Tapi saya telah bertekad bahwa saya akan terus menulis. Menceritakan tentang ini agar luka saya tak akan dialami oleh kaum ibu muda yang lain. Jika kini mereka berada dalam situasi yang sama , yang telah saya lewati. Saya berdo’a semoga mereka dikuatkan, didekap oleh orang terdekat dan lebih diperhatikan oleh masyarakat kita yang masih menganggap tabu untuk sekedar berbagi cerita.

 

***

 

Dibulan awal kelahiran Aisha Pisarzewska . Saya dan Abu Aisha seperti mengalami Jetlag waktu. Siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Itu sudah biasa.Kami melalui malam- malam dengan penuh ketakutan. Takut jika tangis Aisha yang keras bisa mengganggu kenyamanan tetangga.Sering dan bahkan tiap malam saya akan menghabiskan waktu menyandarkan tubuh saya di dinding tempat tidur dan kemudian bergerak ke kotak bayi untuk mengambil Aisha. Mendekapnya. Mengayun- ayunkan ia di pangkuan , menyusui dan kemudian duduk bersandar di dinding apartemen.

 

Sering keluar dari bibir saya semacam doa semoga Allah menolong kami keluar dari keadaan ini. Saya sungguh tak bisa bernafas.Setiap mendengar tangis Aisha ingin menyusu saya pasti berada dalam kebingungan. Tak tahu apa yang harus saya lakukan. Setiap kali Aisha mendekat ingin menyusu, dia pasti menangis dengan suara keras.Saya tak paham apakah karena pelekatan yang salah atau ia merasakan sakitnya jiwa saya.

 

Saya sungguh hampir putus asa. Pernah dalam beberapa malam , karena begitu depresinya . Saya hanya duduk menggendong Aisha sampai warna langit berubah menjadi biru dan kegelapan hilang di telan putaran waktu. Menaruhnya di kotak bayi berarti tanda bahwa saya siap di tanya oleh tetangga perihal tangisnya yang melengking setiap malam.

 

Mertua saya selalu ingin menolong. Beliau menyarankan kami memperkenalkan saja susu kaleng untuk Aisha supaya saya bisa lebih istirahat.Beliau sungguh sangat kasih kepada saya menatunya dari negeri yang bernama Indonesia.Sayapun tak menolak ide ini, karena sangat merasa sakit. Apalagi dengan Baby Blues yang dari hari ke hari semakin mencengkram kuat jiwa. Saya khawatir Aisha akan terluka dengan perilaku saya ( selengkapnya dalam catatan Kasih Ibu Teruji Di musim).

 

Saat jiwa saya yang murni penuh kasih berada dalam raga, maka saya akan menggendong Aisha dengan penuh hati- hati serta rasa cinta. Dan jika jiwa kesedihan dan tak bisa menerima keadaan datang. Saya akan menaruhnya di kotak bayi. Sendirian menangis. Dan saya hanya memandangnya dengan air mata yang tumpah. Beberapa menit kemudian mengambilnya . Berusaha menyusuinya dengan susah payah.Dan kemudian menyerah. Ia menangis di kotak bayi sendirian, sampai datang Abu Aisha menggendongnya.Apakah setegah itu saya kepada Aisha ?. Iya. Saya sendiri tak paham perasaan gila macam apa itu yang menghinggapi saya saat itu. Saat mengingat- ngingat masa itu , tak ayal saya merasa terluka. Jiwa saya sungguh terluka . Bagaimana seorang ibu memiliki perasaan seperti itu?.

 

Bayang- bayang ibu tercinta yang jauh di salah satu desa di kepulauan Haruku sana, selalu datang kepada saya. Seakan beliau di tanah air merasakan sakit jiwa putrinya di tanah rantau. Selengkapnya dalam catatan ” Kebersamaan Dalam Duka “.Maha Suci Allah Yang Maha Rahim. Saat kami mengunjungi tanah air untuk mengenalkan Aisha kepada keluarga di kampung halaman, saya kemudian tahu dari cerita salah satu adik perempuan saya bahwa ibu saya pun sering bermimpi tentang keadaan saya.Bahwa beliau melihat saya duduk dan menangis. Dan memang seperti itulah keadaan saya kala itu.

 

Andai saya tak mengingat cerita ibu saya. Nasihat bijak dari wanita sederhana yang luar biasa teguh . Saya telah sangat berputus asa dengan cita- cita untuk menyusui Aisha.” Biar saja dia minum susu sapi!, toh ini bukan racun”. Gumam saya kala itu. Menyusui memang butuh kesabaran apalagi untuk masa- masa awal tak ayal mengundang jutaan syaraf menerjemahkan kata sakit, luka dan kelelahan.Tapi semuanya terkalahkan oleh semangat cinta , kasih yang terus dirangkai bersama buah hati. Bahwa pada akhirnya bukti cinta seorang ibu akan terus mengikuti buah hatinya di sepanjang hayat. Benarlah kata pepatah bahwa kasih seorang ibu sepanjang hayat.

 

 

***

 

Setiap dua jam sekali Abu Aisha akan mengingatkan saya untuk menyusui Aisha. Ketika mendengar suara Abu Aisha. Otak saya menerjemahkan kata ini sebagai perintah.Rasa sakit pun muncul. Dan dalam waktu yang bersamaan nasihat ibu saya yang tercinta pun datang memeluk jiwa saya yang rapuh.” Menyusui itu hak bayi. Saya menyusui kalian semua supaya kelak di Yaumil Qiyamah ( Hari Kiamat ) saya tidak akan diminta pertanggung jawaban oleh anak- anak yang saya lahirkan mengapa mereka tidak disusui, dengan alasan apa saya tidak memberi hak mereka?”. Itulah nasihat ibu saya yang tercinta. Yang telah membuktikan kasihnya diperjalanan selama menyusui kedelapan anaknya.

 

 

Jika ini masih tak cukup. Maka otak saya dengan cepat mencari, menerobos jutaan sel memori berusaha menemukan rangkaian- rangkain kasih ibunda tercinta, penjelasan, nasihat bahkan peringatan untuk jiwa saya yang sungguh rapuh di cengkram Baby Blues bahwa menyusui telah dijelaskan dalam Kitab Suci ,Al-Qur’an . Allah SWT Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berfirman: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [QS Al-Baqarah : 233]

 

 

 

Saya akhirnya berdamai dengan rasa sakit. Menerima keadaan. Sampai semuanya menjadi biasa bagi saya dan Aisha.Kami belajar menemukan ritme, senandung kasih seorang ibu dan hak buah hati tercinta Aisha Pisarzewska. Beginilah cara saya mengenang masa kala Aisha Pisarzewska terlahir di Warsawa. Dan dibesarkan di Jablonna. Selanjutnya kami mengikuti hijrah bersama Abu Aisha ke Norwegia

Maha Suci Allah Tuhan Yang Maha Menciptakan

Maha Suci Allah Tuhan Yang Maha Menciptakan

 
Suka

 
Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: