Kabar Tak Terduga


Menjelang masa- masa akhir kehamilan tepatnya di bulan ke delapan . Saya dan Abu Aisha kembali mengunjungi dokter Kataryna Stor. Untuk memastikan bahwa kehamilan saya baik- baik saja. Prosedur ini juga berlaku bagi yang lain. Karena sistem di Polandia bisa dikatakan lumayan berbaik hati bagi kaum ibu walaupun kalau di bandingkan dengan negara Eropa lain, Polandia masih perlu berbenah diri.

 

Setiap kunjungan ke dokter tentu ada arsip pembayaran. Nah arsip ini akan dilampirkan saat mengajukan uang tunjangan bagi wanita yang telah melahirkan. Semua biaya selama berkunjung ke dokter akan diganti oleh pemerintah. Alhamdulillah sejak tinggal disini saya juga mulai sedikit belajar tentang keteraturan baik dari Abu Aisha  pribadi maupun dari lingkungan sekeliling.Jablonna kota kecil tempat kami melalui perjalanan ini, dengan identitas  sebagai keluarga muslim  pertama disini.

 

Semua orang tua ingin anaknya terlahir normal. Tidak ada orangtua manapun di dunia yang ingin melihat anak yang dilahirkan terlihat tidak sempurna baik raga maupun jiwa. Defenisi kesempurnaan sendiri tergantung dari cara pandang masing- masing. Setidaknya itu bagi saya secara pribadi ketika bersama Abu Aisha mengunjungi dokter Kataryn Stor.

 

Penjelasan dokter Kataryna Stor yang dibuktikan dengan hasil USG . Seakan menikam hati saya perlahan – lahan. Teriris tipis- tipis. Saya seperti tak sanggup menerima kenyataan bahwa ternyata ada kelainan pada salah satu kaki Aisha . Kehamilan saya yang berat seakan tak berarti. Kabar ini seperti meluluh lantakkan persendian saya. Menggoyahkan iman . Mempertanyakan seberapa kuat saya meyakini Ke Maha Sempurna- Nya . Allah Tuhan Yang Maha Menciptakan makhluk-Nya dalam bentuk yang sebaik- baiknya.Artinya: “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS Al Mukminun : 12-14).

 

Ketika jari- jari dokter Kataryna bergerak ke arah monitor.Menunjuk setiap bagian bentuk tubuh Aisha yang masih di dalam perut. Dengan hati- hati dia menjelaskan kepada kami. ” Saya sudah berusaha mengecek ulang perut Pani , tapi sama sekali tidak bisa melihat salah satu kaki janin. Kaki yang satu pun terlihat agak bengkok. Tapi jangan khawatir saat lahir dokter akan segera mungkin akan melakukan bedah kecil di bagian kaki untuk menimalisir kaki bayi tumbuh secara tidak normal.”

 

Andai saya tidak mengingat identitas saya sebagai seorang muslimah yang berhadapan dengan dokter dengan keyakinan yang berbeda. Saya pasti telah menangis terisak – isak memikirkan betapa sakitnya jiwa dan pikiran saya mendengar kabar ini.

 

Abu Aisha pun tak kalah terkejutnya mendengar kabar ini.Dia terdiam mendengar penjelasan sang dokter sedangkan saya menahan tangis di hati memikirkan piluhnya beban yang akan kami pikul. Sendirian hanya bersama Abu Aisha di Jablonna. Kelemahan saya salah satunya adalah tak bisa berbahasa setempat. Bagaimana saya bertahan dinegeri ini tanpa bisa bersosialisasi atau sekedar ke tempat untuk penanganan anak-anak berkebutuhan khusus.Kami benar- benar dilanda ketakutan yang besar. Kami calon orang tua yang belumlah memiliki pengalaman perihal pengasuhan ditambah dengan kabar yang kami terima sungguh membuat hati dan pikiran kami bagai dihantam derita yang tak henti- henti.

 

Bagaimana kami mengubah kepedihan ini menjadi suka cita menyongsong permata hati?. Yang sebentar lagi takdir Ilahi akan mempertemukan kami bertiga dalam peristiwa kelahiran . Saya seorang ibu. Abu Aisha seorang ayah. Aisha Pisarzewska nama mutiara hati yang diamanahkan kepada kami.

 

Seharusnya hati kami tidak tergetar dengan kabar ini. Sungguh akal dan hati kami tidaklah menduga bahwa kami berdua akan saling bertanya sekuat apa iman kami terhadap hal ini.

 

Keyakinan itu bukti pembuktian. Di perjalananlah semua terlihat. Peristiwa- peristiwa hidup bagaikan soal ujian Ilahi. Dan jawabannya terletak pada aqidah yang kuat. Akhlak yang terjaga dan berharap hanya pada Allah semata. Kami di negeri ini menjalani perjalanan ini saudaraku berharap kelak agar Allah ridho dengan kami.

 

Tapi lagi- lagi bisikan datang kepada hati. Bahwa kami hanyala manusia. Alhamdulillah saya bersyukur disatukan di perjalanan hidup ini bersama Abu Aisha . Kami saling menguatkan, menasihati perih dan melembutkan kesakitan yang datang.Takdir yang Allah tuliskan di Lauful Mahfudz tentang setiap hambanya tak perlu dipertanyakan di perjalanan.

 

Kami keluar dari ruangan dokter Kataryna dengan membawa hasil scan yang membuktikan bahwa kaki Aisha di dalam perut terlihat tidak normal. Laa Haulaa Walaa Quwwata Illah Billah.Saya calon ibu. Rasa saya tentu di uji. Saat tiba di dalam mobil air mata saya tumpah. Saya menangis terisak- isak. Abu Aisha memeluk saya. Menguatkan saya. Menguatkan hatinya sendiri.Bahwa Allah tidak pernah menguji hamba-Nya diluar batas kemampuanya.Dia calon ayah tangguh yang memperlihatkan sikap yang benar. Alhamdulillah saya memang harus banyak belajar darinya. Abdullah Pisarzewski. Beginilah dia dikenal diantara para brothers.Dia mengingatkan saya tentang ayat Allah yang menyejukkan hati , menguatkan asa, dan semakin yakin. Allah Yang Maha Sempurna.“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan ma’afkanlah kami dan ampunilah kami serta kasihanilah kami kerana Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al Baqarah : 287)

 

Kami kembali ke apartemen kami di Jablonna dengan doa penuh harap semoga Allah menguatkan kami di perjalanan yang berikutnya. Sampai raga kami menyatu dengan tanah. Dan cita- cita serta mimpi kami diteruskan oleh genarasi kami yang akan datang. Di negeri ini kelak. Islam akan berjaya.

Langit tak selamanya gelap akan datang masa ketika semua terang menderang oleh cahaya Ilahi yang menjadi Sunnatullah

Langit tak selamanya gelap akan datang masa ketika semua terang menderang oleh cahaya Ilahi yang menjadi Sunnatullah

Jarak pandang . Tergantung bagaimana kita melihat dari sudut hidup setiap yang menjalani

Jarak pandang . Tergantung bagaimana kita melihat dari sudut hidup setiap yang menjalani

 

 
Suka

 
Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: