Ku Tunggu Kau di Royal Łazienki


Saya mau cerita dulu mengenai asal muasal nama Royal Łazienki ini. Masih ada hubungannya tidak dengan muntah- muntah. Sudah! Tak usah ditanya. Muntah- muntah bagi saya selama hamil sudah lebih dari menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap hari senin. Ingat jaman SD saat bapak guru menerangkan hikayat perihal nama- nama tempat bersejarah seperti candi Prambanan, candi Brobudur, Candi Kalasan, candi Dieng dan candi lainnya.Ini kok nama candi semua yang disebut.

 

Subhanallah mbaaak maas bro nggak usah heran .Ini mau saya jelaskan segera. Tolong perhatiannya dipusatkan. Gaya ibu guru menjelaskan kepada anak- anak polos di tanah air yang mendengar dengan antusias dan kemudian cepat sekali hilang ingatan. Saya tidak ingin kisah yang saya ceritakan berakhir seperti itu. Jadi tolong anda ingat Royal Łazienki ( baca wajienki) itu di Warsawa Polandia. Tepat di pusat kota. Ke arah selatan terhubung dengan Ulica ( jalan ) Wilanöw tempat mesjid Warsawa berada. Saya harus menerangkan kepada anda bukan takut anda salah jalan tapi karena takut anda salah langkah. Melangkah ke mesjid Warsawa saat anda pertama kali ke Polandia , bukan jalan – jalan ke Royal Łazienki menikmati indahnya taman dan candi- candi bersejarah di Polandia.

 

Royal Łazienki ini sangat luas 76 hektar luas lahannya di pusat ibu kota Warsawa.Di desain oleh seorang arsitek keturunan Belanda Tylman Van Gemeren ( jiaaaaaah ! nenek moyang penjajah kita ternyata terkenal juga dalam sejarah Polandia ) .Di bangun atas permintaan putra mahkota Polandia Stanisław Herakliusz Lubomirski. Sang pangeran ini dikenal hobi dengan hal – hal yang berbau artistik, juga seorang politisi dan penulis . Di bangun pada abad ke -17 dan mengalami perubahan berkali- kali berdasarkan peristiwa sejarah di Polandia.

 

Pada tahun 1944 ( beda setahun sama kemerdekaan tanah air beta ) tempat ini mengalami kebakaran yang mengakibatkan kerusakan yang sangat parah dikarenakan terjadi pemberontakan di Warsawa. Itu Mbaak Maaaas bro pertempuran antara pasukan Jerman dan pasukan Polandia pada perang Dunia II.

 

Oya Mbaak Maas bro nama Royal Łazienki itu artinya paviliun pemandian berasal dari kata Łazienki ( ” Tempat Mandi ” ) atau kalau di terjemahkan kasar oleh orang Polandia dibilangnya toilet alias WC . Kalau saya sendiri punya terjemahan khusus ” Jamban Raksasa” . Ini bukan asal comot kata ya. Buktinya banyak sekali burung- burung di taman yang kalau tidak hati- hati kepala anda bisa dijadikan toilet dadakan. Subhanallah Maaaak tolong bersihkan kotoran ini!.Mobil kami sudah menjadi bukti kekurang- ajaran burung- burung itu. Kotoran mereka tepat di depan kaca mobil menghalangi dan merusak pemandangan sang sopir. Siapa lagi kalau bukan Abu Aisha :).

 

Setelah perang Dunia II berakhir ( alhamdulillah ) mulai dilakukan rekonstruksi terhadap taman – taman dan istana. Ini saya uraikan struktur Royal Łazienki biar anda tidak berputar- putar hanya di satu tempat. Ada Palace on the Water, Roman theater, White House, Myślewicki Palace, Old Orangery, New Orangery, Temple of Diana, Egyptian temple, Water tower.Tak lupa bangunan- bangunan bergaya istana yang ada di dalam namanya Belweder, Ujazdów Castle, dan Chopin monument. Sekian informasi yang bisa saya berikan saat ini.

 

Kok tidak diterangkan satu- satu nama tempatnya?. Mbaak Maaaas bro ini kisah perjalanan Aisha Pisarzewska . Memoar namanya. Bukan cerita sejarah yang ingin saya tulis apalagi ingin jadi guide. Untuk selengkapnya Mbak dan Mas bro bisa tanya Om Google kalau masih tidak mengerti kirim ke saya nanti saya tanya Abu Aisha , iya kalau dia mau menerangkan yang ada pasti saya diceremahin. Kalau mau belajar sejarah itu baca kisah sejarah bangsa Arab, Sirah Nabawiyah , kisah para sahabat nabi supaya lebih berbobot”.Gaya Abu Aisha menceramahin saya.

 

 

Subhanallah ini saya nikah sama orang Polandia apa sama orang Arab?. Setiap saya tanya Abu Aisha perihal nama-nama tempat yang kami kunjungi. Jawaban akhirnya sangat mengecewakan “saya tidak tahu” atau lebih kasarnya ” tidak mau tahu ” . Trus saya harus tanya ke siapa. Abu Aisha pasti mengeluarkan kalimat rayuan” makanya kamu belajar bahasa Polandia yang rajin supaya bisa tanya langsung ke babca ( nenek Aisha , ibu mertua )”. Kalau sudah mendapat jawaban seperti ini saya pasti muntah – muntah , berjalan ke toilet dan langsung naik ke ranjang alias tempat paling aman buat sembunyi dari semua keresahan dan gundah – gulana dan bertanya dalam hati ” Mengapa saya tak punya semangat belajar bahasa Polandia semenjak hamil ?. Saya justru lebih bersemangat mendengar ceramah bahasa Arab , walaupun saya sendiri tak bisa bahasa Arab ” . Kalau ber- naam apalagi laaaaaa , sudah setiap hari saya praktekin dengan Abu Aisha .Ya sudahlah mungkin bawaan orok.

 

Ibu mertua sering berkunjung ke apartemen , baik untuk mengantar makanan untuk menantu kesayangannya atau datang menengok. Maka, tercetuslah ide untuk jalan- jalan ke Royal Łazienki pada hari minggu karena cuma hari itu ibu mertua saya libur. Tentu saya harus diajak. Saya kan pemeran utamanya. Alhamdulillah cuaca cerah dan berangkatlah kami berempat , Aisha di perut juga di hitung ya maaaak.

 

Jamban Raksasa itu penuh dengan turis. Tapi kami tidak sampai berdesak- desakan wong tempatnya seluas mata memandang. Saat tiba di depan Jamban . Kok namanya berubah jadi jamban mbak?. Iya sengaja biar lidah saya nggak keseleo ucapin nama tempat ini dalam bahasa asli .Kami berpasasan dengan turis dari Israel dan kemudian duduk berhadapan di dalam taman. Abu Aisha sudah pasang muka batu alias tidak suka apalagi beberapa diantara mereka mencuri- curi pandang ke arah kami. Lengkap sudah kekesalan Abu Aisha ditambah saya juga mulai sedikit berulah alias kebelet pipis , maklum ibu hamil pasti sering mengunjungi toilet. Tapi mana toiletnya ? . Subhanllah Maaaak saya sudah tak tahan lagi.

 

Namanya doang yang Jamban Raksasa. Untuk sampai ke toilet kami bersama ibu mertua harus bertawaf alias putar- putar sampai pusing kepala dan perut untuk bisa menemukan toilet. Akhirnya ibu mertua saya yang pemberani bertanya ke petugas penjaga istana kekaisaran , dimana kami bisa menemukan toilet di Jamban Raksasa . Maka penderitaan saya berbuah manis tibalah kami di sebuah istana .Tempat yang kami tuju adalah toilet disaat orang lain sibuk melihat gambar- gambar dan mengagumi patung- patung yang ada dalam istana. Kami menuju toilet. Abu Aisha keluar dari istana dia memang lebih suka melihat pepohonan nan rimbun dan bungan- bunga yang bermekaran di taman dibandingkan mematut- matut diri di dalam bangunan istana. Mana tahan dia dengan patung- patung manusia yang setengah telanjang atau pose menantang.

 

Sebelum Abu Aisha berlalu terlalu jauh ibu mertua saya mengingatkan ” Ku tunggu kau di Royal Łazienki ” . Khawatir kalau nanti saling mencari di areal Jamban Raksasa. Mbaaaak Maaaas anda sudah tahu kan tipikal toilet di Eropa. Kalau belum tahu sini saya kasih tahu. Ah saya sudah tahu. You wish saya perjelas:).Toilet di Eropa ini tipikal toilet kering alias bebas air trus bersih- bersih tempat privat dengan apa? . Dengan tissue maaaak. Gaya benar euy!. Bukan .Ini tradisi mau gimana lagi terimahlah nasibmu kalau kau tinggal di Eropa .

 

Malang benar nasibku di Jamban Raksasa ini, kerjaannya paling sering minta diantarkan ke toilet kalau bukan membersihkan muntah ya buang air khas wanita hamil. Mana toilet itu kan tempatnya syaitan berkumpul dan bermusyawarah. Masuknya saja harus membaca doa:Bismillaahi Allaahumma Innii A’udzu Bika Minal Khubutsi wal Khabaaits artinya : Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syetan laki-laki dan syetan perempuan.( doa ini didasarkan pada hadist riwayat Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah ).

 

Mana bisa saya tahan berlama- lama di dalam walaupun kondisi di dalamnya bersih mulus. Apalagi kepikiran untuk bertapa mencari ilham atau menghibur diri dengan bernyanyi . Saya hanya ingin segera menyelesaikan urusan saya dan melangkahkan kaki keluar dari jamban istana. Walaupun ini istana tetap yang namanya jamban kalau selesai buang hajat keluar dari ruangan harus melangkakahkan kaki kanan terlebih dahulu dan jangan lupa berdoa ya naaaaak ini ajaran Rasulullah Saw.Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila sudah keluar dari kamar kecil beliau membaca: Ghufraanaka.” (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah).

 

Kami tetap menikmati pemandangan istana. Setelah bosan kami pun beralih ke hutan kecil di dalam taman itu. Beberapa turis Russia yang kami kenal dari bahasa yang mereka gunakan sibuk mengambil gambar. Ada banyak binatang juga disini. Subhanallah saya sampai kegirangan melihat tupai kecil. Tiba- tiba suasana suka cita saya rusak oleh pemandangan yang tak sopan yang dipertontonkan oleh seekor binatang yang kurang di ajar. Tepat di depan mata kami seekor rusa yang muncul mendekat ke arah pohon kecil dan dengan tanpa malu- malu. Mbaaak Maaas e itu binatang kencing di depan kami.Mempertontonkan kekurang- ajarnya . Wajarlah itu kan binatang tak punya akal. Tapi kalau pemabuk yang sudah tak sadar alias hilang akal dan sering melakukan ini. Yuuuk Mbaak Maaaas bro kita tabok rame- rame. Berani anda nabok bule mabuk? . 😛

 

Setelah kita menikmati kejadian demi kejadian . Sampailah kita kepada rasa bosan. Akhirnya kita merindukan kenyamanan rumah. Nilai- nilai kesopanan yang kita jaga dalam interaksi kepada sesama penghuni rumah. Dan yang pasti tempat dimana kita seharusnya kembali. Benarlah kiranya apa yang Allah Swt Tuhan Pemilik Langit Dan Bumi kabarkan dalam firman-Nya .”Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (al-Hadiid: 20).

 

Begitulah saya dan Abu Aisha renungkan . Seindah apapun keindahan yang kita lihat, sesulit apapun masa yang kita alami. Semuanya akan berakhir . Kita pasti merindukan rumah yang kekal. Rumah yang sesungguhnya. Apa yang kita hadapi saat ini bagaikan ke indahan istana- istana yang megah, kebingungan mencari tujuan kecuali kita telah memegang peta dan membayar penunjuk jalan, tentu kita tidak akan tersesat selama- lamanya.

 

Saya berusaha menerima Qadarullah. Agar jangan sampai keluar dari mulut kami kalimat – kalimat kurang ajar yang menghujat Tuhan Yang Maha Esa. Mengapa saya harus mengalami kehamilan seperti ini?,Mengapa saya tidak bisa pulang kampung? . Apakah ini hasil dari pilihan saya menikah dengan laki- laki jauh?. Bahkan cita- cita saya untuk melanjutkan S2 harus saya tenggelamkan jauh – jauh dari pikiran . Saya muslimah Indonesia yang tergolong aktif di kegiatan kampus di jaman kuliah harus merasa terasing di negeri ini? . Tanpa keluarga dekat apalagi teman . Dan masih banyak lagi . Manusia yang mendengarnya saja pasti terbakar marah. Astagfirullah lidah kotor saya harus dilatih untuk lebih bersabar, bersyukur dan semakin meyakini bahwa perjalanan yang kami lalui tidaklah pernah tertukar dengan takdir orang lain.

 

Bukankah keindahan taman- taman buatan ini hanyalah ujian kesenangan?. Kita pasti tidak akan tinggal selamanya semegah apapun terlihat di depan mata. Kita pasti akan memilih rumah untuk kembali. Kami , Abu Aisha dan ibu mertua kembali pulang setelah menikmati kesenangan sementara yang ada di Royal Łazienki . Kembali ke rumah tempat seharusnya kesenangan sejati itu ada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Łazienki

Seat in Roman Theather

Seat in Roman Theather

Little White House

Little White House

Water Tower

Water Tower

Belweder Palace

Belweder Palace

Tampak belakang Belweder

Tampak belakang Belweder

Castle

Castle
Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: