Kantor Imigrasi Dwüga , Saya Siap Diwawancara


Saya hampir lupa menceritakan hal ini pada anda. Kalau anda menikah dengan orang asing atau memang punya banyak sekali urusan ke luar negeri. Maka sudah tentu kantor imigrasi akan jadi tempat favorite anda.Ada sebagian yang mengurus dokumen aman- aman saja bagaikan jalan tol bebas hambatan , banyak juga yang mengeluh kalau mereka yang di tanah air tidaklah mudah membuat dokumen penting . Antrian sudah seperti bermain ular naga yang panjangnya bisa sampai waktu sholat magrib tiba.

 

Bagaimana dengan di Polandia?.Saya tidak tahu kalau yang datang ke Polandia untuk studi atau bekerja tapi bagi yang menikah dengan warga negara Polandia akan melalui jalur khusus. Jalur macam apa itu?. Ini bukan jalur audisi tapi ada miripnya. Abu Aisha di sela- sela kesibukannya merawat saya , telah mengirimkan form aplikasi untuk mendapat kartu izin tinggal setelah semua dokumen saya telah lengkap ( baca kisah dokumen di Catatan Menikah Diantara Dua Musim ) . Tak lupa satu hal yang sudah menjadi rutinitas Abu Aisha yakni menjaga kebersihan rumah.Kalau soal yang satu ini jangan di tanya. Jawabannya , standar kebersihan saya kalah jauh dengan Abu Aisha . Dapur dan WC sering dilakukan investigasi dadakan . Sebelum hamil sering sekali saya diceramahin tapi kalau sekarang dia sudah berdamai dengan keadaan atau dengan kata lain pemakluman . Maklumlah istri lagi hamil ditambah muntah – muntah yang seperti tilawah harian :).Mana berani diceramahin!.Bisa kena semprot Aisha dari dalam perut ( baca muntah – muntah ).

 

Jadi sebelumnya Abu Aisha sudah mengirim aplikasi pengajuan izin tinggal untuk saya . Semacam resident card – lah namanya , di kantor imigrasi Dwüga di Warsawa. Prosesnya memakan waktu kurang lebih satu bulan . Dalam masa itu kami bolak – balik menginap di Warsawa ( baca catatan Menginap Di Warsawa jilid I dan jilid II) . Sampai akhirnya ada komfirmasi melalui telephone kalau kartu izin tinggal saya telah selesai dan masih memerlukan tahap akhir. Wawancara. Tidak bisa di wakilkan saudara- saudara.Subhanallah maaaak , mana saya masih tetap bermuntah- ria. Ya sudahlah terpaksa bawa tas kresek saat tampil di kantor imigrasi.

 

Pagi sekali kami kesana. Jam 9 tepat kami sudah berada di depan kantor imigrasi. Setelah keluar dari mobil saya masih sempat bermuntah- ria. Abu Aisha sibuk menelphone penerjemah yang sudah kami kontak sehari sebelumnya. Saya masih berjalan tertatih- tatih . Jaket yang saya pakai tak bisa menahan angin kencang yang datang saat itu. Saya benar- benar merasa uap dingin masuk ke dalam tulang saya. Dingin tak terkira. Padahal musim dingin telah berakhir. Kini musim semi telah tiba.

 

Abu Aisha memapah tubuh saya masuk ke dalam gedung imigrasi. Terlihat banyak wajah- wajah Asia dan sebagian wajah pria Arab serta pasangan Turki yang duduk mengantri di depan ruangan. Menunggu giliran untuk di wawancara. Kalau yang sudah bisa bahasa Polandia maka selamatlah mereka dari kebingungan. Dan saya masuk golongan yang tidak mampu menjawab pertanyaan dalam bahasa Polandia. Kalau dalam bahasa Indonesia tentu saya sangat lancar. Biasa mbaak maaas e .,… pengalaman melamar kerja selalu di wawancara , yang selalu berakhir dengan penolakan. Tak apalah setidaknya pengalaman ini membuat saya percaya diri saat berada di negeri asing.

 

Saya harus mengakui sebagian orang cina atau asia lainnya. Bukan karena saya tidak mengakui kebangsaan saya tapi selama tinggal di Polandia saya banyak melihat orang cina. Fenomena ini membuat saya berfikir bahwa orang cina memang bangsa yang ulet dan pandai bergaul . Mereka bisa bahasa Polandia walaupun dengan dialek kanton :). Sudah jangan tanya bagaimana jadinya bahasa Polandia ditambah bahasa Kanton alias Cina. Sudah pasti hancur leburlah dunia tata bahasa dan pengucapan . Tapi saya kasih jempol tangan dan kaki buat mereka. Subhanallah pede sekali mereka saat di wawancara.

 

Benarlah bahwa jika kita ingin berdakwah di suatu tempat maka hal pertama yang harus kita perhatikan adalah bahasa setempat. Allah SWT mengutus rasul- rasulNya pun dibekali kemampuan memahami bahasa kaumnya.Bahasa daerah (bahasa sendiri) itu lebih berpengaruh dari pada bahasa lain. Allah berfirman:”Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.”( Q.S. Ibrahim: 4).

 

Saya telah membuktikan selama berada di Bandung. Banyak sekali yang tertipu dengan logat saya kalau saya sudah berbaur dan menggunakan bahasa sunda. Tak banyak yang mengira kalau saya berasal dari Ambon apalagi ditambah wajah saya yang kata teman- teman lebih mirip wajah Sumatera atau Sulawesi. Tidak apa- apa yang penting masih wajah nusantara ini maaaak :).

 

Saat kami duduk menuggu panggilan , saya masih sibuk bermuntah – ria. Tas kresek yang disediakan Abu Aisha kepada saya tidak pernah lepas barang sekejabpun. Ya mau gimana lagi Pani….. Pan sudah bawaan orok dot com ini maaaak.Di menit- menit terakhir giliran saya . Penerjemah yang telah kami kontak itu menelphone , memberitahukan kalau dia tak jadi datang karena salah satu anggota keluarganya meninggal. Astagfirullah Oh tidaaaaaaak !. Bagaimana nasib saya ini maaaaas Pan.

 

Kalau bisa minta izin pulang ke apartemen tentu kami sudah ajukan duluan. Malang tak dapat ditolak , mujur tak dapat diraih. Sudah kepalang basah ya sudah terima nasib. Hati saya galau tak karuan. Ini bukan galau ala ABG . Ini galau tingkat tinggi. Bagaimana nanti saya menjawab pertanyaan si mas Pan ini , kalau bahasa Polandia saya hancur lebur begini. Memperkenalkan nama saja saya sulit. Gimana mau menerangkan yang lain. Semoga saja Aisha di dalam perut mengamuk, teriak dan meraung- raung. Jadi saya bisa dimaklumi dan di wabil khususkan sebagai peserta istimewa. Hasil akhirnya ya di izinkan pulang maaak .

 

Pasti ada yang bertanya. Itu kan ada Abu Aisha , bisa mewakili. Oh anda salah sangka!. Abu Aisha juga harus diwawancara di ruangan yang berbeda dalam waktu yang bersamaan . Semacam jawaban silang. Jawaban Abu Aisha nanti akan di adu dengan jawaban saya atau kata kerennya di konfrontir. Pelik sekali keadaan saya saat itu. Pakai bahasa inggris Pan… Pani insha Allah bisa saya jawab .Beda negara , beda aturan maaaaak.

 

Setelah sedikit diplomasi, akhirnya kami mendapat solusi kalau saya di akhirkan saja sebagai peserta wawancara pada hari itu. Abu Aisha jadi teringat salah satu brother Tunisia yang jago sekali bahasa Polandia. Subhanallah sudah sepuluh tahun beliau di Polandia. Bahasa Polandianya sama persis dengan logat orang lokal. Subhanallah iri diriku padamu brother.Apalagi semenjak hamil, tutup buku semua hal yang berbau Polandia. Bukan saja makanan . Buku yang dibelikan Abu Aisha untuk saya belajar bahasa Polandia , saya simpan dalam lemari sampai sekarang.

 

Subhanallah pertolongan Allah itu nyata. Tak disangka- sangka brother Tunisia itu sudah ada di kantor imigrasi , terlihat berbincang- bincang dengan Abu Aisha. Maka brother inipun kami todong alias kami paksa dia untuk menjadi penerjemah dadakan untuk saya. Alhamdulillah akhirnya keringat dingin saya tak jadi keluar. Saya gagal mati gaya di dalam ruangan.

 

Dan waktu audisipun tiba 🙂 . Abu Aisha menuju ruangan sebelah kanan dan saya didampingi brother Tunisia ini masuk ke dalam ruangan yang posisinya di depan saya. Sebelum masuk brother ini mengucap salam tanpa sedkitpun melihat wajah saya. Ini semacam jaga pandangan. Penghormatan jika kita bisa menilai.

 

Maka sampailah kami di atas pentas wawancara. Di dalam sudah duduk juri imigrasi yang memperlihatkan wajah ketus. Tidak di Indonesia , tidak di Polandia hampir semua wajah orang imigrasi itu ketus atau kecut kaya mangga muda yang belum masak. Aseeeeem benar maaaaaak!.Kecuali di kedutaan Warsawa jujur saya bilang itu pertama kalinya saya merasa di hargai. Bagus sekali pelayanannya. Ini bukan muji , ini cuman testimoni subjektif saya jangan di ambil hati apalagi kebawa pikiran kok saya tidak?.Kalau itu saya tak tahu tolong jangan tanya saya. Sebentar lagi wawancara sudah hampir di mulai.

 

Maka dengan mengucapkan ta’ awudz dalam hati saya siap diwawancara. Anda mau tahu jenis pertanyaannya?.Ini saya kasih bocoran siapa tahu ada yang bernasib sama dengan saya .Asal jangan hamil macam saya ( baca bermuntah- ria).Maka dimulailah sesi wawancara. Yang pesertanya adalah saya sendiri didampingi penerjemah dadakan brother dari Tunisia. Jurinya adalah seorang laki- laki yang terlihat seumuran dengan Abu Aisha. Kalau masalah ketampanan Abu Aisha pemenangnya. Kan yang menilai saya sendiri , sudah pasti saya pilih Abu Aisha suami saya tercinta :).

 

Wawancaranya tidak nampak formal tapi pertanyaannya itu . Ajaib sekali maaaak . Luar dari pada binasa. Salah jawab bisa binasa nanti ” Apa warna ruangan apartemen anda ?” . Apakah anda memiliki meja makan, berapa jumlah kursinya?.Berapa jumlah cermin di dalam ruangan?.Apakah di dalam dapur terdapat mesin cuci piring?. Berapa luas apartemen anda?. ” Sampai disini pertanyaannya . Pan imigrasi alias juri yang terhormat ini berhenti sejenak. Saya bergumam dalam bahasa Indonesia” Ini pertanyaan jenis apa ? Seperti orang mau sewa apartemen ” . Tak ketinggalan jenis pasta gigipun dia tanya . Hampir saja saya mau menyebutkan merek Pepsodent. Karena hanya merek ini yang saya ingat.

 

Saya sampai menoleh ke brother , ingin memastikan apa beliau tidak salah menerjemahkan atau saya hanya pusing memikirkan jawaban . Alhamdulillah Aisha memang anak sholeha. Sebelum jawab sayapun bermuntah- ria , bahagia pula hati ini . Biar ada waktu menerka- nerka jawaban . Subhanallah seumur hidup baru pertama kali saya menghadapi wawancara yang luar biasa punya, di luar dari negara pula. Semua pertanyaan saya jawab dengan benar , kecuali dua pertanyaan yang semakin memperparah hormonal saya. Luas apartemen dan merek pasta gigi. Menekete maaas bro! . Mana saya tahu kalau akan ditanya perihal pertanyaaan luar dari pada kebiasaan ini. Saya kan lagi hamil jadi mana sempat saya memikirkan dan menanyakan pada Abu Aisha. Ya sudahlah tak usah ditangisi. Saya sudah berada di Polandia biarkan saja mereka memberi nilai .

 

Masuk ke sesi pertanyaan serius. ” Dimana anda bertemu suami anda?.Hal apa yang membuat anda jatuh cinta padanya?. Apakah dia ( baca Abu Aisha ) datang ke Indonesia melamar anda?. Apakah kalian menikah di Indonesia? . Berapa jumlah undangan yang datang”. Mengapa setelah menikah kalian menjalani LDR? . Apakah Pani suka dengan suasana Polandia ?. Apakah Pani sedang hami?. Ini wawancara apa mau interogasi ? . Bagi saya sama saja kedudukannya. Sebelum saya jawab , tas kresek dengan logo kaufland yang hampir penuh itu pun menjadi bukti kehamilan saya.

 

Di dalam ruangan wawancara itu, kehadiran saya yang mendominasi. Belum selesai juri bertanya , pasti saya ganggu dengan bunyi khas saya. Belum selesai brother menerjemahkan pasti sudah saya potong dengan suara saya yang unik .Lain kali tolong pertimbangkan wanita hamil dengan gejala unik untuk tidak di undang atau kalau boleh memohon tolong saya dibebaskan saja dari tahap akhir ini . Alias di beri izin tinggal secepatnya keburu muntah lagi ini Maaas bro .

 

Seru sekali panggung wawancara saat itu. Pan juri sudah nampak kesal namun tak bisa marah. Brother Tunisia kadang terlihat senyum atau mungkin menahan tawa.

Mau bagaimana lagi sudah nasib yang mengundang saya. Saya ingin secepatnya di akhiri wawancara ini. Dan gayungpun bersambut Pan Juri sudah tak ada lagi pertanyaan ajaib sudah saya bungkam dengan jawaban ” i love my husband so thats the way i love Poland” nya etah weh jawaban abi. Sekian dan ayo kita bergegas pulang ke apartemen.

 

Dengan mengucap hamdalah saya sendiri menutup sesi wawancara ini. Jazzakallah khoir kepada brother yang sudah dengan ikhlas membantu kami. Semoga Allah membalas kebaikan beliau. Kepada Pan Juri , tolong lain kali kalau mengundang saya pertimbangkan dengan masak- masak emosi wanita hamil biar tidak mencium bau muntah. Abu Aisha mana? . Kok belum keluar- keluar? 🙂

 

Semoga tidak trauma mewawancarai saya di masa yang akan datang. Sekian dan saya ucapkan dziekuje bardzo atas semua pertanyaan yang ajaib ini.Pulanglah kami ke apartemen di Jablonna dengan saling bertanya-tanya.Tadi saya jawabnya cocok tidak dengan jawaban kamu Bang !.Alhamdulillah sudah hampir sampai di apartemen.

 

to be continued….

Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: