Menikah Di Antara Dua Musim


Menikah di Eropa dengan pergantian musim dingin ke musim semi tentu sangat indah apalagi dengan embel – embel pasangan bule. Oh serasa dunia milik berdua yang lain ngontrak daaaaah 🙂 .Bunga-bunga yang bersemi.Pepohonan yang mulai perlahan menghijau.Kesejukan yang menerpa kala angin berhembus.Subhanalllah pokoknya semuanya indah. Romantis bangat maaaaak :). Tak usah cemburu. Ini sudah takdir.Berjodoh dengan bule itu bukan cita- cita apalagi dengan tujuan memperbaiki keturunan , atau ingin hidup bagaikan sang putri salju dan bisa jalan- jalan keluar dari negara:) . Buang jauh- jauh pikiran kotor anda !.Menikah itu karena Allah , karena satu cita -cita.

 

Subhanallah Maaaak , suruh para gadis- gadis di tanah air itu bertobat. Belajar dulu yang banyak.Semua sikap malas belajar , buang jauh – jauh kalau anda tidak mau dihajar oleh budaya ( baca shock culture ) .Jangan anda harap bibi atau asisten rumah tangga bisa membantu anda. Mahal mbak . Bisa- bisa anda tidak bisa tidur nyenyak . Anda harus siap hidup di suhu yang melebihi suhu kulkas.Belajar bersosialisasi. Bukan untuk arisan besar tapi setidaknya anda bisa sendiri ke pasar berbekal beberapa kata yang anda hapal biar anda bisa pilih makanan halal.Ada nggak mas bakso, mang somay atau warung pecel lele? . Sudah!, anda jangan bermimpi. Bangun dan bergegas ke dapur buat masak sebelum perut anda menyanyikan lagu keroncong 🙂 . Nah itu yang saya lakukan.

 

Banyak calon pasangan yang sengaja merencanakan pernikahan mereka ke Eropa hanya untuk menikmati sensasi empat musim di Eropa.Banyak terpengaruh film sepertinya atau memang ingin ganti suasana.Entahlah . itu pilihan masing-masing yang punya uang.Bagi kami yang penting keberkahan.Menikahlah karena Allah.Yang belum nikah buruan nikah . Ah sok ngenasihatin lagi.Sesama saudara harus saling mengingatkan. Sudah kewajiban saling mengingatkan kepada kebaikan.Ini perintah Allah dalam Al Qur’an . “ Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) ma’ruf dan mencegah dari kemunkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” ( Q.S Ali Imran ayat 104 )

 

Setelah saya dinyatakan hamil .Kami mau tidak mau harus menikah walaupun saya dalam keadaan muntah- muntah. Kok udah hamil baru nikah ?. Gelarnya MBA dong ! Married By Accident ) . Nanti saya ceritakan . Jangan berburuk sangka dulu 🙂 . Beberapa peristiwa – peristiwa yang datang silih berganti ( baca penggalan memoar di awal dan Menginap di Warsawa Jilid I ) menghadapkan kami dengan semua seluk – beluk prosedur pasangan campur. Kami di benturkan dengan urusan administrasi. Asuransi kami di tolak. Mengapa ?.Nama yang tercatat di pasport dan akte kelahiran saya berbeda. Kesalahan kecil merusak semua ijazah saya . Bahkan mempertanyakan buku nikah yang kami bawa dari Indonesia.Subhanallah Maaaaaaak , mengapa saya harus mengalami semua keribetan ini?.Lagi hamil pula.

 

Kami menikah di akhir musim dingin menuju musim semi. Kali ini bukan di Jablonna tapi di Legionowo.Tempat mertua saya tinggal. Yang hadir pun tidak banyak. Hanya ada kedua mertua saya , kakak ipar yang sedang hamil dan suaminya serta kedua anaknya.Satu wanita Polandia yang kami bayar sebagai penerjemah bahasa Polandia ke bahasa Inggris. Dan satu wanita muda berambut agak ke emasan sebagai pembaca sumpah nikah sekaligus pencatat dokumen pernikahan. Kalau di Indonesia tempat ini semacam kantor catatan sipil.

 

Jangan membayangkan suguhan ala prasmanan di Indonesia . Ini Eropa. Apalagi suguhan minum anggur ala Polandia . Kami ini muslim. Walaupun budaya Eropa di setiap acara , parti atau perkumpulan dan lain sebagainya harus ada minuman semacam ini . Alhamdulillah sudah kami nyatakan identitas kami. Kami muslim dan tidak ada tawar menawar. Kami menikah dengan gaya Eropa . Abu Aisha memakai setelan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi dan saya sendiri memakai abaya putih yang saya modifikasi sedemikian rupa agar terlihat seperti gaun ,berkerudung putih yang saya hiasi dengan semacam bando bunga berwarna abu -abu . Semua pakaian saya berwarna putih kecuali sepatu boot saya. Di tambah wajah saya yang pucat ke putih- putihan 🙂 . Saya paksakan untuk memoles sedikit wajah saya . Sedikit pewarna bibir yang lebih terlihat alami . Itu semacam lipgloss yang dipakai ABG . Bedak ?. Maaf saya tidak pakai karena terlanjur muntah – muntah dan sudah telat ke kantor catatan sipil di Legionowo :).

 

Suasana menikah begituh syahdu. Iya syahdu karena cuman segelintir manusia yang hadir. Para undangan sudah saya sebutkan sebelumnya. Luas gedungnya lumayan . Seperti ruangan bioskop BIP di Bandung. Jadi benar – benar syahdu, ditambah suasana pergantian musim dingin ke musim semi. Latar panggung merah putih. Bendera Polandia kan warnanya sama seperti warna bendera Indonesia hanya posisinya terbalik.Saya dan Abu Aisha berdiri di tengah panggung. Alhamdulillah Aisha dalam perut seperti mengerti kondisi kami saat itu .Tidak mau mempermalukan orang tuanya . Terutama saya Muslimah pertama yang menikah di catatan sipil Legionowo Polandia lengkap dengan identitas ke islaman saya .Alhamdulillah Maaaaak , saya tidak muntah -muntah :).

 

Mari saya gambarkan suasana saat kami menikah agar anda juga bisa merasakan apa yang saya rasa:).Kami berdiri di tengah – tengah.Sang penerjemah berdiri di samping saya dan wanita pengkhotbah , maksud saya pencatat nikah berdiri di samping Abu Aisha. Kedua mertua saya duduk sebagai saksi di depan kami.Dan kakak ipar saya serta keluarganya duduk di belakang bagai menonton pertunjukan kisah cinta antar benua 🙂 . Kalau Abu Aisha bilang kata cinta , saya jadi alergi. Masa sih ? . Kan suami sendiri. Maklum awal-awal nikah masih berjiwa polos, kalau sekarang jangan ditanya . Jiwa emak – emak premannya keluar. :)Maklum , mantan aktifis kampus yang sering pasif alias uring- uringan.

 

 

Saya dan Abu Aisha sebelumnya sudah menikah di Indonesia . Kami menjalani LDR selama satu tahun.Berbekal visa schengen kami bersama ke Polandia.Di Jablonna tempat kami menjalani peran sebagai suami -istri. Abu Aisha masih tetap bekerja di Norwegia.Sebelum menikah pun Abu Aisha sudah bekerja di Norwegia. Kenapa tidak pindah saja di Norwegia ?. Ini bukan Indonesia yang berbeda pulau jadi kalau mau pindah ya tinggal angkut koper. Ini Polandia-Norwegia. Beda negara , beda kebijakan .

 

Untuk menikah pun kami diharuskan untuk membawa surat keterangan . Saudara mau tahu apa isi surat keterangan itu ? . Isi surat keterangan ini menyatakan bahwa saya berstatus single alias jomblowati dan tidak ada paksaan menikah dengan Abu Aisha .Subhanallah surat keterangan macam apapula itu maaaaak !.Saya tegaskan kepada Pani / Pan saya berstatus menikah dan sekarang tengah mengandung!.Astagfirullah semua keterangan kami tidaklah diterima. Kami disuruh ke kedutaan Indonesia di Warsawa untuk meminta surat keterangan sudah menikah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Polandia oleh penerjemah dari kedutaan untuk membuktikan bahwa kami telah menikah di Indonesia.

 

Sampailah pada saat pemeriksaan dokumen berupa pasport , KTP , akte kelahiran dan buku nikah. Dan karena satu huruf yang salah ketik rusaklah semua rencana kami. Ternyata nama yang tertera di pasport dan akte kelahiran saya berbeda.Subhanallah Maaaak !. Jangan salahkan saya yang membawa dokumen tapi salahkan petugas di Indonesia yang salah mengetik.Dalam hati saya juga mengaku salah, mengapa saat di Indonesia tidak saya teliti. Semuanya sudah terlambat.Air sudah sampai di tenggorakan. Saya harus minum air di Warsawa.Haus mikirin nasib asuransi saya yang menggantung.Terserah dari kedutaan. Maka di usulkan saja menikah lagi di Polandia. Agar data saya hanya memakai satu sumber yaitu akte kelahiran.Disini dokumen berupa ijazah tidak di akui. Jadi saya sekolah dari SD sampai Universitas tak berarti. Subhanallah Baaaang !. Pulangkan saja saya ke Indonesia.

 

Seorang wanita Polandia yang bekerja di bagian resepsionist memanggil saya untuk menandatangani surat keterangan dan meminta saya menulis surat pernyataan yang menyatakan bahwa saya secara pribadi , tidak ada paksaan menikah dengan Abu Aisha.Ha!. Wanita Polandia ini memanggil saya ” mbak ” . Bahasa Indonesianya saya kasih seluruh jempol saya :). Subhanallah fasih sekali dia bicara bahasa Indonesia yang terdengar di telinga saya seperti logat Jakarta .Ah , saya jadi malu kok saya gak bisa- bisa bicara bahasa Polandia. Jawaban saya ke setiap orang . Maklum new comer.

 

 

Asuransi yang Abu Aisha pakai berasal dari Norwegia bukan Polandia.Karena memang selama ini Abu Aisha sehari-harinya di Norwegia.Kalau calon suami anda warga negara asing pastikan semua dokumen sebelum menikah lengkap tanpa berbeda satu huruf pun. Titik koma harus diperhatikan.Salah sedikit bisa buat anda sengsara di negeri orang.Dan yang paling penting satu keyakinan supaya hati anda damai, tak ada rasa khawitir. Subhanallah maaaaak.Nasi sudah menjadi bubur. Jadi tak bisa lagi anda sesali , ya sudahlah bismillah ayo kita makan bubur ayam. Keburu dingin Bang :).

 

to be continued……

Ini bukan Polandia .Ini Norwegia

Ini bukan Polandia .Ini Norwegia

Ummu Aisha :).

Ummu Aisha :).

musim dingin ke musim semi :)

musim dingin ke musim semi 🙂

Norwegia

Norwegia
Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Menikah Di Antara Dua Musim

  1. asrikusma

    Halo umi nya aisha,salam kenal ya,pertama baca ini blong langsung ga pengen khatamin..keep writing ya

    Like

  2. anita

    assalamu’alaikum. salam kenal, mba… saya anita di batam. lagi kepo sama poland, nih! asik bacanya! 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: