Musim Semi Di Pembaringan


  • Saya menyukai semua musim di Eropa . Musim dingin yang banyak menyimpan cerita tentang semua rasa.Ada kerinduan yang membuncah yang tidak terhalang oleh musim . Kami harus menjalaninya dengan sabar . Tak bisa memilih . Salju yang terlihat indah di mata haruslah disyukuri . Bukankah saat di tanah air saya ingin sekali menikmati indahnya butiran salju yang jatuh ? . Lalu mengapa saya mengeluh ? . Karena saya hanyalah manusia . Begitulah pembenaran batin saya .Saya memandang ke langit . Sibuk dengan angan – angan saya . Hanya satu warna musim dingin bagi saya . Putih bersih di langit . Dan jatuh kebumi menutupi seluruh noda . Tapi saya ingin melukiskan betapa Maha Suci Allah Yang Maha Mengatur segalanya .

Musim semi telah tiba ( ^_^ jadi ingat lagu Tasya ” Libur Telah Tiba ” ) . Musim ini menunjukkan kehidupan . Bukankah pepohonan yang kering diselimuti salju itu kini telah menghijau?. Maha Suci Allah Yang Maha Menghidupkan. Bunga – bunga di kompleks apartemen kami terlihat bersemi . Mengingatkan saya pada ayat- ayat Allah . “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” ( Q.S .Al Hajj (22) ayat 5 – 7 ) .

Saya memandang dari jendela mobil saat kembali ke apartemen kami di Jablonna . Ranting – ranting pohon yang kaku berwarna coklat tua bercampur hitam sudah terhapus alam diganti dengan hijaunya daun – daun . Tapi saya masih rindu pulang . Kata ini selalu datang menggoda . Selalu ingin pulang . Abu Aisha duduk di samping saya . Memegang tangan saya dengan erat . Kalimat sederhana penuh kasih itu keluar menyejukkan rasa ” Sabr kochanie …. Insha Allah everything will be ok “ .( bacanya tong serius gitu euy he he ^_^ ).

Hormon kehamilan saya mulai membaik .Hanya membaik .Alhamdulillah obat pencegah muntah itu mulai bekerja walau tidak sepenuhnya saya berhenti muntah. Makanan sedikit – sedikit sudah bisa menjadi rizki buat si kecil Aisha dalam perut .Roti kering khas Polandia dan minumnya bukan teh botol sosro tentunya 😀 tapi air mineral asli Polandia Kropla Beskidu ( Insha Allah akan saya ceritakan nanti mengenai Kropla Beskidu dan Piala Euro 2012 ).Selain itu indra pengecap saya mati suri . Abu Aisha sangat sabar . Jadwalnya padat . Setelah kami kembali ke rumah , pekerjaan Abu Aisha semakin tidak terjadwal . Siang menjadi malam . Malam pun tak bisa istirahat dengan baik . Bagaimana mau istirahat kalau harus setiap jam bangun dan mengecek selang infus istrinya ?. . Apakah cairannya mengalir dengan baik ? . Atau saya mau ( maaf ) buang air kecil . Tangan saya pernah membengkak karena saat tidur saya tidak sadar kalau selang infus sudah bergeser . Kok Abu Aisha tahu memasang infus ? .Dia minta diajarin dan langsung praktek di depan perawat, jadi sudah lulus kilat saat itu 😀 . Aje gileeeeeee si Abang Polandia pinter benar . Iyeah teh bakat kupaksa mang he he . Abi mah mau dikumahakan weh pasrah ( saya mau dibagaimanakan pun pasrah ) .

Setelah seminggu lamanya saya berada di Warsawa . Dokter memutuskan saya sudah bisa pulang ke rumah . Bahagia tentunya . Tapi saya masih seperti bayi yang belajar berjalan . Pendek sekali langkah saya , tertatih dan perlahan turun dari tempat tidur di bantu Abu Aisha . Saya dipapah . Subhanallah sudah lama sekali saya tidak melihat dunia luar .Sinar matahari . Saya tak mau bertanya , karena pasti pikiran saya akan terbang ke tanah kelahiran saya . Saya menangis kala mengingat rindu yang hanya bisa dipendam .

Saya sudah mulai perlahan , belajar berjalan di dalam rumah . Tak selamanya saya harus dipapah . Ibu mertua saya datang . Membantu kami yang terlihat lelah . Abu Aisha nampak kurus .Bagaimana saya harus mengurusnya kalau kami ( saya dan Aisha dalam perut ) berpayah dalam langkah . Saya hanya berdoa semoga Allah menguatkannya . Laki – laki walau serajin apapun tak akan sebaik wanita dalam menata rumah . Ini bukan Indonesia yang dengan mudah dan murah membayar jasa asisten rumah tangga ( insha Allah akan saya ceritakan dalam catatan lain mengenai asisten rumah tangga yang bekerja paruh waktu di apartemen kami , sangat cantik dan baik hati 😀 ). Ini Polandia . Negeri sang Paulus ini termasuk negara Eropa Timur yang memiliki kebijakan penggajian yang mirip dengan negara Eropa lain . Mahal sekali . Kami tak sanggup .15 zloty per jam atau kurang lebih 58.500 rupiah . Subhanallah …. Baaaaaaaaang ! kok mahal amat seh 😀

Ah… sebegitu susahnya saya di negeri ini ? . Jawaban itu datang . Allah Maha Memberi rizki.Ukhuwah dan juga materi datang beriringan. Alhamdulillah Abu Aisha sudah membeli mobil bukan dengan kredit tapi hasil tabungan ditambah sumbangan mertua dan transfer uang pengganti dari perusahaan tempat Abu Aisha bekerja dulu . Hari itu juga kami dikunjungi oleh pasangan campur Pakistan – Polandia ( Brother Aftab Khan dan sister Nina Khan ) . Allahu Akbar . Semuanya bersemi. Ukhuwah yang hilang dan semangat yang kini mulai tumbuh . Nikmat mana lagi yang harus saya dustai? . Musim semi ini tidak akan berlalu tanpa makna . Hari – hari yang hilang itu tidak akan sia – sia. Kami terus belajar dalam perjalanan ini bagaikan sang perantau bahwa pasti ada tempat untuk kembali. Saya tidak membenci musim dingin . Karena di waktu itu saya dan Abu Aisha belajar memupuk kasih , mengingat ikrar suci pernikahan bahwa Sakinah Mawadah itu butuh proses . Bunga – bunga penuh warna itu butuh waktu untuk bersemi . Setidaknya saya paham bahwa bangunan – bangunan indah yang tertata rapi di Warsawa itu tidak dibangun dalam semalam .

Setelah muntah saya bisa di ajak kompromi , dengan prinsip kehati- hatian saya mulai berpetualang mencari makan . He he ( mau balas dendam… itu rujak dan batagor mana ? 😉 .” Mang……., sini saya mau pesan batagor sambalnya yang banyak plus kua kacangnya ya jangan lupa ” . Subhnallah……..Maaaaaaaak . Ini cuman mimpi nak :(. Ayo kita pesan kebab di seberang jalan sana . Ulica Akademyna itu jalan ke arah apartemen kami di Jablonna ya mang kebab : D . Memang bisa makan kebab gituh ? . Iya Aisha dalam perut seleranya kebab , makanan Arab dan sejenisnya . Ditambah teh khas Tunisia . Walau nanti muntah juga dikit gak apa – apalah yang penting udah makan kebab . Trus Abu Aisha bisa buat kebab ? . Tidak bisa 🙂 . Jadi mari kita bermemoria dengan Kebab dan makanan Arab . Colek saudari – saudari kita yang tinggal di Turki 🙂 . Ada calon mantu nih Aisha penikmat nasi kuning ala Turki . He he

 

to be continued………

Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: