Menginap Di Warsawa


  Kalau ada yang bertanya mengapa saya menulis memoar tentang putri saya Aisha Pisarzewska ? . Karena dia putri saya dan kelahirannya menjadi momentum kehidupan saya menuju fase dan kedudukan yang tinggi ” mama “. Kata ini yang selalu di ucapkan Aisha sampai sekarang . Bukankah menulis memoar itu seperti membuka aib dan menguraikan sisi – sisi kehidupan saya bersama Abu Aisha di Polandia ? . Ya . Tapi lebih dari itu Allah mengajarkan saya di setiap langkah , nafas , kesakitan , kesendirian , rindu kepada negeri tercinta Indonesia bahwa ” disetiap kesulitan Allah menjanjikan banyak kemudahan . Mari melangkah bersama saya merasakan ruang – ruang hidup di negeri orang melalui jejak kelahiran putri saya Aisha Pisarzewska .

 

 Setelah saya dinyatakan hamil ada perasaan senang tapi juga khawatir. Khawatir tidak bisa mengurus bayi . Jauh dari keluarga di tanah air memunculkan banyak sekali kekhawatiran maklum masih berjiwa labil ( halah emang ABG 🙂 . Yang ada di kepala saya saat itu , siapa yang membantu saya mengurus bayi ? .Memandikan , mengganti popok , mengurus rumah , memasak ? Kalau bayi sakit dan Abu Aisha masih di tempat kerja nanti saya harus bagaimana ? . Bahasa Folandia saya ( versi sunda ) masih belepotan euy 😉 . Subhanallah ! . Maaakk . ..Kepala saya sakit ( dalam hati neh belum juga lahiran banyak amat ketakutannya ) .

 

Satu kalimat dari Abu Aisha yang mengingatkan saya bahwa saya tidak sendiri .” Allah bersama orang -orang yang sabar ” . Kata – kata ini begitu merasuk ke dalam hati saya .Menyentil harga diri saya sebagai seorang muslimah . Satu – satunya muslimah di kota tempat tinggal kami di Jablonna.Butiran putih salju yang jatuh perlahan – lahan seakan ikut mengajarkan saya bahwa semua kesulitan yang hadir saat ini akan berlalu dan hilang tak berbekas bagaikan butiran salju yang menyelimuti setiap sudut Polandia saat itu dan pada akhirnya semuanya akan tunduk pada sunnatullah .

 

Seperti layaknya ibu hamil ,ada beberapa ibu yang mengalami morning sickness . Hal ini juga yang saya alami bahkan dalam kasus saya cukup rumit . Muntah – muntah sampai melahirkan . Lantas Aisha dalam perut bagaimana ? . Inilah riwayat mengapa saya harus menginap di Rumah Sakit Warsawa 🙂 di musim dingin yang ekstrim .Sendiri . Ditengah tatapan bebera suster Polandia yang terlihat aneh ( saya hampir mau teriak ke suster suster itu 😀 loe…loe … pada belum pernah liat orang pake kerudung ya ? ) . Maklum orang hamil rada sensi . Begitulah riwayat saya kala itu : ) . Gadis mungil berkerudung lengkap dengan abaya putih bercorak bunga , berwajah Arab – Asia terbaring di rumah sakit Warsawa .

 

  Saya dan Abu Aisha biasa belanja keperluan sehari – hari di Kaufland ( sejenis Carefour ) . Letaknya tidak terlalu jauh . Walaupun begitu harus menggunakan bus . Bukan karena malas jalan tapi karena kondisi jalan penuh salju ,dingin sekali dan saya lagi hamil. Di dalam bus sebernanya kepala saya sudah nyut – nyutan alias mulai berbintang – bintang .Saya kuat – kuatin saja ( ini mah sok- sokan weh aslina mah malu kalau pingsan lagi dalam bus ) .

 

Saat tiba di depan Kaufland saya langsung muntah -muntah . Abu Aisha panik sambil nanya “ kochanie … are you ok ? Maybe better we come back to home “. Sambil pura – pura kuat saya bilang gini ” No , Alhamdulillah we already in here so lets shopping and come back Insha Alllah everthing will be ok .its normal ” . ( maaf ya Aisha inilah kronologis mengapa kau dan mama menginap di rumah sakit hehe ) . Kalau ada yang bertanya kenapa tidak tinggal di saja di rumah kan dingin ? . Di Eropa khususnya di Polandia tidak ada cerita musim dingin orang hanya tinggal di rumah . Mau hamil apa gak . Gak ngaruh . Pokoknya keluar !!! ( saya kasih tanda seru supaya pada ngerti kalau ini semacam perintah ) .

 

  Kami berjalan ke arah botol – botol yang berjejeran . Abu Aisha sibuk milih – milih minyak zaitun yang ada di atas rak – rak itu . Memandang keatas saja kepala saya sudah pusing apalagi disuruh ambil . Gak- lah nyerah .! saya kan mungil ( baca pendek ) 🙂 . Jadi Abu Aisha masih sibuk berkomentar tentang minyak zaitun yang dia pegang dan saya sudah mulai kehilangan arah , gelap , sesak nafas dan kekuatan akhir saya habis . Pingsan .

 

 Kalimat terakhir yang saya ingat sebelum pingsan persis di film – film “ sayang kau suka minyak zaitun yang ini ? ” . Tanya Abu Aisha . Sayup -sayup saya hanya dengar Abu Aisha beristigfar , menangis sendu dan kemudian meminta tolong orang untuk memanggil ambulance karena posisi Abu Aisha menggendong saya . Keterangan yang saya dapat dari Abu Aisha bahwa saat saya pingsan dan Abu Aisha menggendong saya tidak ada orang yang datang untuk membantu . Hanya memandang dan berlalu . What the sick sociaty !!! . Astagfirullah .

 

  Saat membuka mata . Ruangan putih . Tangan yang dipenuhi infus dan wajah Abu Aisha dan ayah mertua saya . Ibu mertua saya kerja di Bank . Jadi datang setelah jam kantor selesai . Ya Allah badan saya saat itu terasa lemah sekali . Ternyata saya kena anemia akut dan pengaruh hormonal masa kehamilan . Cuman itu yang saya tahu . Setelah seharian memakai infus , besoknya infus di lepas dan saya dibawakan semacam sandwich ( berisi daging asap , daun selada , dan keju ) plus satu buah apel dan sop dari buah bit yang dagingnya berwarnah merah . Saya bismillah kan saja , sambil bicara sama Aisha di dalam perut untuk kuat biar kita bisa pulang cepat .

 

  Setelah selesai makan. semuanya aman – aman saja . Selang beberapa menit perut saya sudah berontak . Muntah . Aisha ngamuk maunya dikasih bubur sumsum , nasi kuning atau soto banjar he he 🙂 . Nemu dimana nak … , 😦 sudah takdir kita disini . Bersama menerima sunnahtullah . Dari kaca jendela saya memandang salju yang turun dengan lebat . Langit yang berwarna abu – abu pekat . Saya berdoa dalam hati .Semoga Allah menguatkan hati saya , meneguhkan asa saya dan yang terpenting dari semua itu iman dan Islam , agar saya tidak berhenti melangkah sampai disini .Agar saya semakin teguh menyadari disinilah tempat imam saya berada ( baca suami ) .Putus asa dan akhirnya minta pulang kampung ( Indonesia ) kata yang saya kubur dalam-dalam agar jangan sampai terdengar di telinga Abu Aisha.

 

Kami ( saya dan sikecil Aisha dalam perut ) balik lagi ke apartemen kami . di jemput Abu Aisha dan dziadek ( baca zadek ) .Sepanjang perjalanan saya hanya berzikir dalam diam . Dan yang tak ketinggalan yaitu ….. Muntah .Alhamdulillah Abu Aisha sebagai suami siaga sudah menyediakan tas plastik kalau nanti muntah diperjalanan. Bayangkan saya muntah – muntah dari awal duduk sampai ke apartemen kami . Dua tas plastik penuh muntah ( maaf ya …jangan terlalu serius bacanya ya he he ) . Ayah mertua saya sampai di rumah tidak jadi makan karena pas di mobil saya ber – muntah ria 🙂 . Anak mantu gak sopan .Ah …mau gimana lagi bawaan orok ini mah .:)

 

Apakah saya jadi lebih baik setelah tinggal di rumah ? He he justru Abu Aisha semakin menderita karena ulah kami ( saya dan Aisha dalam perut ) benci aroma kopi dan semua penampakannya 🙂 dan Abu Aisha adalah penikmat kopi sejati . Hal yang paling kami ( saya dan Aisha dalam perut ) suka adalah tidur di apartemen mertua .

 

 

To be continue …..

Advertisements
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: