Menginap Di Warsawa Jilid II


Musim dingin akan segera berlalu .Saya tetap menyimpan harap.Bahwasanya pengaruh hormonal masa kehamilan saya segera berlalu seperti salju yang telah mencair . Menemukan muara tempat mengalir .Damai dan patuh mengikuti sunnahtullah .Harapan itu mengkristal di hati .Berdamai dengan tubuh yang semakin lemah di pembaringan ( ingat ! :D…ini bukan novel .Ini cara saya mengurai rasa ) .

 

Setelah berjuang selama sebulan di tempat tidur .Tubuh saya akhirnya mengalah . Saya dibawa kembali ke Rumah Sakit di Warsawa. Abu Aisha bebas pekerjaan rumah ? . Oh tidak . Sebaliknya kali ini dia yang terguncang . Saya paham bahwa setiap orang punya batas kesabaran ,tetapi saat itu Allah ingin kami berdua paham bahwa sabar itu tak berbatas .Sabar itu seluas hati yang bisa memahami . Saya jadi ingat perkataan Imam Ibnul Qayyim : “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia dibawah sinar matahari. Dan inipun hanya kira-kira, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini”.

 

Begitulah saya menggali hikmah.Menghimpun ilmu yang selama ini hanya bagai angin menerpa dahan pohon .Daunnya berserakan dan terbang entah kemana . Saya tidak ingin berakhir seperti ini . Di negeri yang dijuluki negeri Sang Paulus . Tubuh saya hanya berbaring tapi saya berdoa semoga iman dan Islam saya tidak ikut lemah berbaring bersama tubuh saya . “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ”. (QS. Al-Baqaroh : 155-157).

 

 

Apakah saya tidak di beri obat saat itu ?. Di Polandia jarang dokter memberi obat ,apalagi dalam keadaan saya yang lagi hamil. Saya cuman di kasih vitamin dan obat penambah darah yang tidak pernah berhasil sampai ke dalam perut ( Aisha dalam perut anti obat- obatan kimia kali yeah : D ) . Makanan dan minuman tak usah ditanya .Setiap kali saya di bawakan makanan saya seperti dipaksa menelan racun . Ah masa sampai segituhnya ?. Saya dibantu Abu Aisha duduk .Ibu mertua saya yang dengan sabar bantu menyuapi saya . Dan kejadian tak sopan pun terjadi .Baju ibu mertua saya penuh muntah. Ya Allah …. Kata ini yang selalu saya ucapkan . Putus asakah saya ? .Saya hanya memandang Abu Aisha yang berada dalam kebingunan . Sebagai calon ayah , dia bertarung rasa . Pedih melihat istrinya yang hanya berbaring di tempat tidur dan kekhawatiran pada calon bayi kami ( mungkin inilah alasan mengapa Aisha lebih mirip bapaknya di banding saya he he ) .

 

 

Sisa musim dingin masih terasa . Alhamdulillah hati saya sudah mulai berdamai dengan keadaan . Memasrahkan diri pada takdir yang telah digariskan . Bertafakur . Mengingat kembali hadist yang sering saya dengar semasa di tanah air , bahwasanya Rasulullah Saw bersabda ““Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”. ( HR. Bukhari dan Muslim ).Saya berbaring di ruangan yang sama hanya berbeda tempat tidur .Sendiri . Saya rindu pulang . Rindu mama saya . Tetapi saya kemudian tersadar bukankah rumah saya sekarang di Polandia bersama Abu Aisha ? . Ibu mertua saya yang baik dan penuh perhatian juga ibu saya ? . Bukankah masa ini akan berlalu ?. Saya memandang keluar jendela melihat kuasa Ilahi . Pohon yang gersang itu sudah mulai menampakan kehidupan . Daunnya hijau kembali seakan mengatakan kepada tubuh saya yang terbaring lemah bahwa masa ini akan berlalu dan Allah Yang Maha Kuasa berkuasa mengembalikan seperti sedia kala bahkan menggantikan dengan yang lebih baik.

 

Dokter Tampan itu……….

 

Rumah Sakit di Polandia punya aturan besuk dan sampai pukul berapa boleh bersama pasien di dalam ruangan . Selama seminggu Abu Aisha bolak -balik Warsawa Jablonna . Berbus – ria dengan membawa perlengkapan saya . Abaya dan kerudung .sikat gigi tak ketinggalan .Memang bisa sikat gigi gituh ? 😀 . Yeah iyalah dibantu Abu Aisha .Lebih tepatnya Abu Aisha menggosok gigi saya 🙂 . Romantis banget maaaaaaak …..:D. Sudah bakat kupaksa iyeah mah , kumaha deuy ( orang sunda pasti ngerti he he ) .

 

Sudah menjadi jadwal rutin setiap pukul 8 pagi dokter akan datang memeriksa keadaan pasien yang sebelumnya di dahului perawat dengan mengecek suhu tubuh . Abu Aisha masih di luar ruangan hanya boleh masuk setelah jam periksa selesai.Beberapa dokter muda terlihat berlalu lalang . Diikuti beberapa perawat yang berambut pirang . Dan sampailah ke ruangan saya satu dokter laki – laki dan satu dokter perempuan ditemani satu perawat perempuan yang kalau di Indonesia bisa jadi artis ini 😀 cantik dan fashionablewalau dengan baju perawat . Subhanallah justru saat kedatangan mereka apalagi setelah memandang perawat itu , saya langsung muntah . Bukan karena perawat itu tidak ramah justru saya melihat dia tersenyum . ” Jak sie czujest Pani ? ” . Tak lupa menanyakan kabar . Hampir saya mau bilang , ” bisa meninggalkan saya sendirian ? 😀 . Aneh memang . Tapi ya begitulah .Lagi – lagi hormon kehamilan saya menjadi alasan .Tibalah saat saya diperiksa ( berasa kaya mau di interogasi petugas imigrasi 😀 . Nanti saya ceritakan kisah saat kartu izin tinggal saya habis masa berlaku dan saya masih bermuntah – ria ) .

 

Mendekatlah dokter laki -laki itu ke arah saya . Loh …..kok yang mendekat dokter si tampan ini ? 🙂 .Dengan bahasa Polandia yang terbata -bata alias seadanya saya Pani Pisarzewska Menolak diperiksa . Haa ! ? . Yang benar ? .iya pokoknya saya menolak . Berani sekali . Bukan berani tapi lebih tepatnya izzah / harga diri saya sebagai seorang muslimah menolak hal itu jika ada pilihan . Dan mulailah saya dengan nafas terbata – bata , suara yang dipaksakan keras , bernegosiasi untuk minta diperiksa oleh dokter perempuan . Abu Aisha masih diluar dan saya tidak punya kesempatan untuk berkonsultasi dengannya . Alhamdulillah pada akhirnya mereka mau menerima wabil khusus untuk sang dokter tampan itu :). Kata Aisha dalam perut ” . Jangan sentuh mama saya , kau bukan muhrim titik ! “.

 

Akhirnya giliran saya diperiksa di akhirkan . Dengan kursi roda saya dibawa ke ruangan khusus dokter perempuan walaupun saya dipaksa harus menuggu tapi saya tersenyum menang . Alhamdulillah ….. Allahu Akbar . Pertolongan Allah itu nyata . Saat Abu Aisha masuk ruangan saya sudah ada di tempat tidur , ditemani secarik kertas hasil tes darah saya pagi tadi . Abu Aisha tersenyum bangga . Terharu bahwa dalam lemah tubuh istrinya masih tersimpan izzah seorang muslimah . Lagi – lagi tes darah saya menginformasikan hal yang membuat saya khawatir sekaligus bertawakal . Darah saya positif kena Hepatitis dan asam lambung saya semakin parah ( berita macam apa pula ini Bang ?!! ) . Astagfirullah .

 

Setelah seminggu di Warsawa kami akhirnya di izinkan pulang . Rawat jalan . Menikmati musim semi di Jablonna 🙂 .Ngapain aja saya dirumah ? . Biasa . Apalagi kalau bukan tidur – tiduran dan muntah – muntahan he he . Abu Aisha ngapain ? . Dia jadi perawat . Masang infus . Bolak – balik apotek beli obat khusus pencegah muntah . Memang ada ? . Iya ada .Masuknya bukan lewat mulut tapi ( maaf ) anus .

 

 

To be continued ……………

Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: