Gagal Pulang Kampung Maaaaaaaaaaaaak


Saya membuka beberapa file lama yang tersimpan di komputer .Saya temukan beberapa artikel yang sering saya kirim ke majalah Republika dan Fimadani waktu itu . Tapi semenjak hamil.Saya berhenti total menulis.Tutup buku begitu istilahnya.Semenjak Abu Aisha bekerja ,saya tinggal sendiri di apartemen.Saya berusaha menyibukkan diri sebisa mungkin .Bukan apa- apa .Kadang kesendirian memunculkan khayalan.Angan-angan.Kalau sudah begini saya pasti menangis.Kadang berandai -andai mengapa dulu saya tidak menerima saja tawaran pekerjaan dari kenalan saya di Oman. Pasti sekarang saya sudah punya karir yang bagus .Bisa melalang buana dan dengan mudah bisa pulang kampung.Saya memilih menikah dan beginilah pelik di rasa. Begitu pikir saya.Saya beristigfar.Tidak seharusnya hati saya berkhianat.Saya mengingat -ngingat hadist tentang larangan berandai- andai yang membuka pintu syaitan , yang akan merusak pikiran saya ( yang lupa hadist ini buka catatan ‘ Izin Cuti Telah Selesai) .

 

Tidak tahu dari mana harus saya gambarkan ruhiyah kami yang merana. Abu Aisha bekerja di Norwegia dengan durasi waktu jam 7 sore waktu Norwegia berakhir pada jam 7 pagi. Di sela – sela itu ada sejam dua jam waktu untuk istirahat dalam tiga kali break .Saya paham betapa lelahnya suami saya saat itu. Musim panas di Eropa waktu siangnya sangat panjang dan malam cuman sebentar. Kalau di Indonesia anda begitu termanja . Sahur pada pukul 3 atau 4 dan berbuka di waktu petang pada pukul 17.30 .Aneka makanan sahur dan berbuka yang melimpah. Tidak dengan kami di Polandia. Malam begitu singkat, dan siangnya panjang membakar dahaga. Sahur pada pukul 2 pagi dan berbuka pada pukul 22.30 malam .Gundah hati saya memandang wajah Abu Aisha di kamera komputer . “ Fasting kochanie? Ini lebih bisa diartikan pernyataan dari pada pertanyaan ” .Kami berbicara di Skype di sela – sela waktu istirahat.” Na’am Insha Allah Jamilka” .Begitu jawabnya. Wajahnya menyiratkan kelelahan yang amat sangat. Sakit terasa memandang wajah orang terkasih menanggung beban. Saya berucap singkat ” Semoga Allah merahmatimu sayang” . Dia tersenyum dan kami bahagia.

 

Abu Aisha setiap pagi pasti menelphone saya dari Norwegia.Menanyakan keadan saya.Mengingatkan saya untuk tidak lupa meminum semacam tumbuhan herbal yang telah berbentuk serbuk untuk penderita penyakit asam lambung dan rutin memakai obat pencegah muntah. Tidak lupa mengajari saya untuk mengunci pintu rapat- rapat.Jangan membuka pintu pada orang yang tidak dikenal.Dan bila waktu magrib tiba saya harus membaca tiga surah pendek dalam Alquran , Al-ikhlas,Al-falaq, dan An-Naas. Dan doa yang di ajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam : “Barangsiapa yang membaca kalimat , “A’udzubikalimaatillahit taammaati min syarrimaa khalaqa, “Aku berlindung dengan kalimat yang Maha Sempurna, dari kejahatan makhluk yang Ia ciptakan 3x”. Maka tidak ada sesuatu apapun keburukan yang menimpamu.” (HR. Muslim dan Ibnu Suni).

 

Saya pasti orang yang penakut.Ini kan Ramadan!.Semua syaitan pasti terkunci.Saya juga meyakini itu tapi ini di Polandia. Banyak kasus kriminal yang berawal dari minuman keras. Di sini minuman alkohol dijual seperti menjual air mineral atau minuman bersoda.Apalagi setelah banyak kasus diskriminasi terhadap muslim di beberapa negara Eropa. Terutama tentang kasus muslimah berhijab di Jerman.Abu Aisha khawatir , saya mulai menerima keadaan.Setiap kali menelphone.Dia selalu mengakhirinya dengan kalimat tegas bernada pasrah “ I trust Allah for protec you and our baby “.Ujar Abu Aisha yang masih mendengar bunyi khas saya setiap pagi.Muntah-muntah.Sudah lagu wajib bagi saya semenjak mengandung. Aisha dalam perut setiap kali mendengar suara tatanya dia akan bergerak, menendang dan kemudian diam setelah kami mengakhiri percakapan.

 

Pernyataan dr. Kataryna Stor……….

 

 

Pernyataan Abu Aisha tempo hari tentang pulang kampung membuat jiwa saya dilanda semangat walaupun kondisi kehamilan saya menunjukkan hal yang bertentangan. Ah bahagia tak terkira menghitung hari.Setelah lebaran usai , kami berencana pulang kampung .Agar saya bisa melahirkan di kampung halaman .Ada keluarga besar saya disana.Bahagia tak terkira kala saya membayangkan itu.Saya benar-benar lupa bahwa saya bukan lagi gadis remaja yang kala rindu menerpa, saya akan datang kepelukan hangat ibunda tersayang. Saya rindu mama saya, wanita yang telah ridho melepaskan saya menjalani peran lain dalam kehidupan.Istri dari seorang pria muslim Polandia yang baik.Abu Aisha begitulah panggilannya kini.

 

 

Saya telah menceritakan dalam cerita sebelumnya betapa saya memendam rindu untuk pulang.Biarlah macam suara yang terdengar. Seharusnya saya melahirkan di Polandia.Mengapa saya harus bersusah hati .Bukankah orang tua saya di Polandia bisa merawat saya?.Sungguh sayang mereka tidak akan mampu saya balas.Tapi setiap perempuan yang akan melahirkan pasti merindukan sosok ibunya saat berada dalam pertarungan hidup dan mati ( baca melahirkan . insha Allah akan saya ceritakan lengkap dalam catatan Mendamba syahid di Szpital Na Solcu ) .Ibu saya di Polandia juga bisa menemani saya.Tapi di Polandia berbeda budaya.Setiap orang harus mandiri kalau anda sudah menikah maka anda sudah dewasa memegang tanggung jawab. Saya rindu Indonesia tapi saya adalah seorang istri bersuamikan orang di rantau.Polandia seharusnya menjadi tempat saya menjalani peran sebagai istri .Di Jablonna semua cerita terjadi tentang amanah yang dipercayakan kepada kami . Ini memoar putri kami Aisha Pisarzewska.

 

Saya juga merindukan mama saya ,wanita bersahaja yang tidak pernah menuntut . Beliau di Ambon . Saya sering menelphone , tapi kadang suara kami tak bisa saling menjangkau. Masalah signal Maaak 🙂 .Seharusnya saya mencontohnya bagimana dia berkhidmat pada mendiang ayah saya tercinta .Tapi saya bukan mama saya.Kami berbeda generasi, hanya satu hal yang saya ingat bahwa setelah menikah ridho suami yang utama .Hadist tentang hal itu muncul dalam ingatan bahwasanya Rasulullah Saw bersabda ” Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud ) .Penyesalan menerpa . Saya masih harus banyak belajar pada sosok beliau yang jauh disana . Saya istri sholeha? . Sungguh sangat jauh kriteria itu dalam diri saya .Tapi setidaknya saya tidak berputus asa untuk belajar.Do’akan saya saudariku.

 

Kadang saya tak habis pikir tentang tingkah laku sebagian kaum saya di Indonesia. Berpuluh jutah habis tidak mengapa , yang penting anaknya lahir di luar negeri.Pikiran macam apa itu? . Bukankah seharusnya mereka bahagia.Melahirkan buah hati dikelilingi orang terkasih?. Di tanah yang telah Allah berikan ,Indonesia . Gengsi.Ah…..manusia memang tak akan habis maunya.

 

Saya membaca ulang beberapa tulisan yang sempat saya publish di blog saya international muslim couple. Tempat saya mengarang bebas , tidak seperti waktu kuliah sedikit saja ada penjelasan yang berbeda saya pasti di berikan huruf C ( cukup sudah anda mengarang bebas ) mungkin begitu penjelasannya ^_^. Blog itu sudah lama mati suri 🙂 .Semenjak hamil hilang semua hasrat saya untuk menulis, yang tinggal hanyalah hasrat untuk berbaring dan berjuang menguasai dapur 😀 ( anda pasti mengerti maksud saya he he ) .

 

Hari jumat. Hari yang penuh berkah. Hari yang selalu saya kenang.Ini saya salin ulang sebagian hasil mengarang bebas saya di blog 🙂 . Dan waktu ini persis seperti yang saya tulis sebelum hamil. Subhanallah.Beginilah yang saya rasa kerinduan yang kadang menorehkan duka.

 

Jejak-jejak peradaban itu dimulai dalam jejak-jejak hijrah setiap muslim.Pada setiap pertemuan dan ukhuwah yang terjalin di jumat penuh berkah.Setiap kita adalah perantau , ya kita memang adalah perantau kehidupan .Pada waktunya kelak setiap kita akan kembali ke kampung kehidupan yang kekal .Seperti puisi yang kubuat saat masih sebagai mahasiswa.SubhanAllah goresan pena ini masih terbaca jelas.

 

Menyusuri waktu dalam jejak kehidupan

Tiada henti ku berjalan

Mencari oase di keramaian perjalanan

Berdzikir dalam langkah Mengadu kepada Allah Yang Maha Rahman dan Rahim

Tentang kebahagian dan juga kesedihan Yang terkadang datang menyapa hati

 

 

Sang Khalik mengajariku dalam jejak perjalanan

Burung-burung mengajakku terbang bebas menembus awan

Langit biru pun tersenyum lepas padaku

Memintaku tuk berhenti sejenak melepas lelah

Kuteguhkan langkahku pada butiran salju yang mulai menggumpal

Aku harus melangkah Karena waktu terus berputar

 

 

Bukan pada banyaknya permata

Tidak pula pada intan yang berkilau

Kutambatkan tujuan hakiki di jejak perjalananku

Aku harus terus melangkah

Dan terkadang harus berlari

Banyak pula aku terjatuh

 

Sejenak aku menyapa sepi

Menata jiwaku tuk melangkah

Menangis pada kerinduan

Atau berdiskusi dengan waktu

Di titik mana aku akan berhent

i Pada tujuan hakiki Dalam jejak sang perantau.

 

Abu Aisha masih di tempat kerja . Insha Allah besok malam dia sudah kembali ke Polandia. Dia memang perhatian .Suami saya yang terkasih. Janji untuk mengunjungi dokter Kataryna Stor sudah dibuat.Hari sabtu kami akan kesana. Sudah tak sabar saya menuggu secarik kertas yang akan membawa saya ” siap pulang kampung”.

 

Abu Aisha masih lelah. Ini Ramadan .Tapi dia bersungguh – sungguh . Selama menikah saya belum pernah temui janji yang tidak ditepati.kalau dia sudah berjanji , dia akan bersungguh- sungguh untuk menepatinya. Beginilah saya mengingat -ngingat kebaikan hatinya di kala marah saya memuncak.Dan kamipun menuju klinik dokter Kataryna Stor .

 

Setelah menunggu beberapa menit di luar karena ada beberapa pasien wanita yang juga menuggu. Semua sendirian. Hanya kami yang berpasangan . Abu Aisha dan Ummu Aisha 🙂 .Tibalah giliran kami masuk.Setelah mengucapkan salam ala Polandia . ” Dzien dobry Pani doctor “.Masuklah kami pada inti permasalahan. Surat pernyataan yang mendeskripsikan kalau saya di izinkan pulang kampung alias ibu hamil bisa naik pesawat.Subhanallah……. Maaaaaaaaaak . KAMi GAGAL PULANG KAMPUNG.

 

” its look imposible for her to take flight.special that she has so much throwing all the time . I don’t think that its will be good idea for travel with such thing like this .its danger for you all” . Demikian nasihat dokter Kataryna yang meluluh lantakan semua harapan saya.Wajah saya tertunduk hilang sudah semua harapan saya.

 

Setelah gagal pulang kampung lantas apa yang saya lakukan di Polandia? . Saya akan kembali Menginap di Warsawa Jilid III 🙂 trus Abu Aisha ?. Tentu saja dia harus kembali bolak balik menjenguk saya bedanya alhamdulillah sekarang sudah ada mobil 🙂 .

 

 

To be continued…….

Advertisements
Categories: Uncategorized | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “Gagal Pulang Kampung Maaaaaaaaaaaaak

  1. Rostina

    Subhkanallah…….seneng banget baca tulisan mbak beda sama yang lain.sampai bubur adek gosong hi hi (punya baby 7m) seharusnya kita semua seperti mbak ALLAH SWT selalu ada di pikira lisan dan hati. maaf mbak aku gak skolah bodo gak kaya mbak salam kenal dari Bantul Jogjakarta

    Like

  2. Insyah Allah memoar ini akan segera dibukukan 🙂 https://aisha30warsawa.wordpress.com/my-books/ ini infonya.Salam dari Aisha untuk anak Mbak , oya siapa namanya ? 🙂 # halah sok akrab tapi saya juga kangen Jogja 🙂 , ibu saya asli Solo Mbak cuma besar dan menikah di Ambon sama alm bapak saya asli Maluku

    Like

  3. muthoharun cirebon

    salam kenal…
    beta sekarang domisili di ambon, mbak ambonnya mana?

    Like

  4. Hehehe…..seperti menemukn sosok Raidah yg lain. Raidah yg ini rame n suka becanda :). Nice to read your story mbak Raidah 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: