Anti Aroma Kopi Dan Ingin Pulang


Kalau ditanya bagaimana perasaan saya saat hamil dan sakit di negeri orang ? . Jawabannya sabar dan sabar . Ya . Karena kata inilah yang menggambarkan kejujuran perang batin saya di Polandia . ( berasa di kamp pengungsian semasa hamil Aisha he he ) . Jauh dari keluarga .Memunculkan kerinduan yang membuncah .Candaan teman- teman. Adaptasi terhadap makanan dan cuaca yang paradoks dengan negeri dimana saya lahir dan tumbuh ,semakin membuat hati saya memendam rindu .

 

Saya berujar lirih . Ingin pulang . Di titik nadir terlemah saya sebagai manusia , kata ini akhirnya keluar dari lisan saya kepada Abu Aisha .Tak ada raut wajah marah , hanya terlihat semburat wajah menahan tangis . ( ini bukan cerita cerpen , ini gambaran emosi kami saat itu ) . Abu Aisha hanya berucap pelan tapi terdengar jelas di telinga saya . ” Bukankah Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya ? . Ada banyak saudari – saudari di luar sana yang jauh lebih berat ujiannya ” .Saya tak menjawab , hanya menyibukkan diri menenangkan hati saya yang penuh warna ( udah kaya pelangi neh 🙂 Berdoa dalam hati agar Allah menahan lisan saya selama masa ini . Dan entah kapan akan berhenti ( muntah ) 😦 .

 

Alhamdulillah ibu mertua saya yang baik .Sangat baik . Datang setiap hari ke apartemen kami sebelum berangkat kerja . Bawa soup , buah – buahan dan roti khas Polandia . Saya sangat beruntung dan juga bersyukur .Hal ini yang membuat saya belajar lebih sabar . Tapi pengaruh hormonal kehamilan saya semakin parah .Tidak bisa kemana – mana . Musim dingin . Sekedar duduk di balkon apartemen pun saya tak sanggup . Kan bisa baca buku ? . Browsing ? .Nonton TV ?. Atau baca Qur’an ?. Memang semuanya bisa dilakukan tapi kondisi saya yang sangat lemah tak memungkin untuk duduk atau berjalan karena muntah terus menerus sampai saya harus kembali menginap di Warsawa ( akan saya ceritakan lebih lanjut pada Menginap di Warsawa jilid II ) Lantas ? . Saya hanya berbaring di tempat tidur , makan , muntah . Minum pun muntah . Memang di rumah tidak ada internet ? . Untuk informasi , saat itu kita belum punya jaringan internet . TV sudah di haramkan oleh Abu Aisha .( ini yang namanya hidup di luar negeri ??? ) .Isi apartemen pun masih pabalatakalias berantakan .Jadi saya hanya bisa sabar dan berzikir dalam hati . Memasrahkan keadaan saya kepada Yang Maha Memiliki Hidup ) . Bukankah ini pilihan hidup saya bersama Abu Aisha ? .Jalan yang banyak perempuan – perempuan di tanah air impikan?. Menikah dengan bule dan hidup di luar negeri bagaikan sang putri ?. Saya memang tak pantas mengeluh .Inilah jalan hidup yang harus saya lalui . Jalan yang saya pilih .Bukankah janji Allah itu benar ? . Nikmat mana lagi yang harus saya ingkari ? . Begitulah dialog batin saya .Berusaha meneguhkan hati dalam kesunyian musim dingin .

 

Bagaimana dengan Abu Aisha ? . Justru dia yang paling sibuk ( he he kalau ditanya saat ini gimana perasaanmu Bang ? 🙂 . ” No comment lah … 🙂 ” kata Abu Aisha .Pilu memang menggambarkan suasana hati dikala itu . Goncangannya terlalu kuat dalam pandangan kami.

 

Setelah pulang dari rumah sakit , bukannya membaik justru muntah – muntah saya semakin meng- gila . Ini bukan morning sickness lagi ,all day sickness.Siang , malam , pagi , sore . Sudah lebih dari jadwal minum obat. Masa seh segituh parahnya ?. Gak percaya datang saja ke Rumah Sakit di Warsawa tepatnya Rumah Sakit Brødno . Data identitas saya dengan dua nama keluarga tersimpan rapi di komputer . Pani Marasabessy dan Pani Pisarzewska . Di Polandia kalau sudah menikah , perempuan di panggil berdasarkan nama keluarga suami .Tapi suami saya memegang teguh hadist bahwa saya harus di panggil dengan nama keluarga bapak saya . Jadilah bagian resepsionist rumah sakit dibuat pusing dengan dua identitas saya yang berbeda .

 

Pekerjaan Abu Aisha semakin banyak . Seperti tumpukan salju di area balkon apartemen yang dari menit ke menit semakin menggunung .Nyuci piring ( nyupir mulu he he ) gak ada habisnya . Mesin cuci piring kita belum di instal .Mencuci pakaian harus . Alhamdulillah kita punya mesin cuci kalaun tidak Abu Aisha bisa encok ( baca Encong versi pengucapan Abu Aisha he he ) . Jadi Abu Aisha harus rajin , kalau tidak rumah kami sudah tak berbentuk alias kaya kapal pecah . Masak ?.Tak usah nanya 🙂 . Abu Aisha udah ahli pokonah mah :). Kalau begini semakin sedihlah saya memandang Abu Aisha . Apalah daya . Kata Abu Aisha semua tak masalah yang masalah adalah “ Bang ….. Could you drink your coffe in balcon ” . Haa ??? . What ???” Jawab Abu Aisha . Dan tampa menanti jawaban terdengarlah suara khas saya . Apalagi kalau bukan muntah. Hidung saya benar – benar tidak bisa mentoleril aroma kopi atau semua barang yang terkontaminasi kopi . Gelas yang dia gunakan untuk minum kopi sudah dicuci bersih . Saat saya minta minum .Abu Aisha menyodorkan air hangat dengan gelas kopi yang dia buat itu . Saat sampai di hidung saya ( bukan mulut ) terdengarlah bunyi yang menjadi ciri khas saya saat itu . Muntah…………….:( “Bang did you use this cup for coffe ?”.Tanya saya dengan wajah galak ( seram amat nak kau ini …..he he nyalahin Aisha dalam perut ) .Selama menikah saya belum pernah bicara dengan Abu Aisha dengan intonasi suara yang keras ataupun tinggi . Ini pertama kalinya saya bertanya dengan nada yang keras . Maafkan istrimu ini Bang ……:( udah bawaan orok ini mah . He he alasan dot com .

 

 

Abu Aisha dengan wajah memelas , sedih tampa bisa kompromi ataupun mengeluh , memakai jaket tebal dan menuju balkon apartemen kami sambil membawa kopi . Tak lupa suara dari dalam ruangan kayak gini ” Bang ….tolong tutup pintu ,ditutup rapat ya ” . Suara saya dari dalam ruangan . Di luar suhu udara berada dalam kisaran – 12 sampai -14 . Dingin ? . Tentu saja .Selang beberapa menit masuklah Abu Aisha kembali ke ruangan dengan wajah dan hidung memerah .” Saya akan ke rumah mama , kalau ada apa – apa telp saya ” . Abu Aisha bicara seakan mau kabur . He he .Takut digalakkin istrinya 🙂 . Kalau masalah muntah , dia udah kebal . Saat makan saya juga bermuntah – ria . Subhnallah .Adakah yang mengalami hal yang sama ? . Yang saya ingat si Kate istrinya pangeran William juga sama ya ? 🙂 . Dirawat di rumah sakit karena morning sickness yang parah .Mencoba mencari dukungan kalau saya tidak sendiri 🙂 .

 

Sebelum keluar Abu Aisha menyetel murrotal . Bacaan Qur’an dari suara Syeik Saleh Al-Bukattir menenangkan kami ( saya dan sikecil Aisha dalam perut ) . Hati dan pikiran saya merasakan ketenangan yang amat sangat.Seakan sejenak melupakan perih di hati dan sakit di tubuh yang entah kapan akan berakhir ( saya jadi melankolis saat itu ) .Bukankah Allah Maha Mendengar ? .Saat itu saya memegang kuat – kuat apa yang saya yakini .Melangkah lebih dekat kepada sang Khalik agar saya tidak kehilangan arah di tengah kesendirian saat itu . Alhamdulillah saya bisa memenjamkan mata saya dan tidur dengan pulas selama beberapa jam . Hal yang jarang terjadi semenjak saya dilanda morning sickness , saya ganti jadi all day sickness 🙂

 

Apakah saya tidak sholat ? . Alhamdulillah saya sholat dibantu Abu Aisha .Saya hanya bisa berbaring dengan berat tubuh yang semakin menipis alias kurus ( kalau berat tubuh sekarang jangan ditanya he he over limit 🙂 . Abu Aisha riwayatnya kala itu cuti kerja . Trus saya ngapaian?. . Ya .., ngapain lagi kalau bukan kembali menginap di Rumah Sakit Warsawa .Subhanallah . Maaaaaaaak ….., inilah nasib putrimu .

 

 

To be continue …….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements
Categories: Uncategorized | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: